Betawi Kita Membahas MH Thamrin, sang Elang Betawi

1
1049

Thamrin adalah tokoh revolusioner Betawi yang pertama kali memikirkan kemajuan kaum Betawi. Untuk memperingati hari lahirnya pada 16 Februari, komunitas Betawi Kita mengadakan diskusi bertajuk “M.H. Thamrin, Orang Betawi, dan Kemiskinan” di Komunitas Bambu, Beji Timur, Depok, Minggu, 18 Februari 2017.

Hadir sebagai pembicara Rachmad Sadeli, pendiri Majalah Betawi dan Pustaka Betawi, serta Roni Adi Tenabang, founder Betawi Kita yang juga Ketua Sikumbang Tenabang. Keduanya menyoroti kepedulian Thamrin kepada rakyat kecil di kampung becek meskipun sebenarnya dia lahir dari keluarga kaya dan terpandang.

Muhammad Husni Thamrin lahir dari pasangan Thamrin Muhammad Thabri dan Nurhamah di Jakarta pada 16 Februari 1894. Kakeknya adalah Tuan Ort, pemilik Hotel Ort di Molenvliet West (Jalan Gajah Mada) di kawasan Petojo, yang menikah dengan Nuraini, gadis setempat.

Jejak tentang Tuan Ort tak dapat ditemukan lagi setelah dia meninggal saat Thamrin Muhammad Thabri berusia 10 tahun. Kemudian ayahnya Thamrin ini diangkat anak oleh pamannya.

Saat Thamrin lahir, Muhammad Thabri sudah memiliki kedudukan yang terpandang. Dia berpangkat ajun jaksa kepala di Pengadilan Distrik Batavia. Pada 1908 dia diangkat menjadi wedana Distrik Batavia, yang dibawahi dua kawedanan dan di kemudian hari dibagi menjadi onderdistrik dengan beberapa kampung yang disebut wijk (weik) yang dipimpin oleh kapitein.

Keluarga Thamrin menjadi bagian dari sistem kelas kolonial yang menempatkan kaum Eropa sebagai yang terunggul. Setelahnya barulah kaum indo, peranakan, Tionghoa, Arab, sementara pribumi ada di lapis terakhir.

Sebagai kaum elite Betawi dan ayahnya merupakan pegawai pemerintah, Thamrin disekolahkan di tempat yang baik. Pada masa itu tak semua kalangan berhak memperoleh pendidikan Belanda. Namun kebijakan yang berubah serta adanya politik balas budi memungkinkan Thamrin memasuki Bijbelschool Pasar Baru, semacam sekolah kanak-kanak Kristen. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Koning Willem Drie (KW III) yang berbahasa pengantar Belanda.

Meski di sekolah Thamrin memiliki nama belanda Jacob, di kampungnya ia dipanggil Matseni. JJ Rizal menyebut, barangkali berkat pengaruh dari keluarga ibunya ditambah pergaulan yang akrab dengan orang kampung, jiwa sosial Matseni mulai tumbuh. Thamrin tidak canggung bergaul dan main hujan bersama teman-temannya yang anak kampung.

Arus politik yang berubah di Belanda serta berkembangnya paham liberalisasi membuat dibentuklah Volksraad (Dewan Kota) untuk mengawasi kinerja pemerintah. Thamrin pun segera ambil bagian. Ia meninggalkan pekerjaannya yang bergaji besar di KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), sebuah perusahaan pelayaran milik Kerajaan Belanda. Pada 1919, Thamrin terpilih menjadi anggota Volksraad.

Muhammad Husni Thamrin si Elang Betawi

Dalam paparannya, Rachmad Sadeli menyebut di Volksraad M.H. Thamrin menjadi singa podium yang tangguh. Ia berbicara lantang, “Sejak kecil, walau saya anak wedana, saya bergaul dengan anak-anak jelata. Sejak kecil saya dihadapkan pada kenyataan pahit kehidupan saya. Banjir menimbulkan kemelaratan dan penyakit. Saya melihat sendiri betapa becek kampung dan jalan tempat saya bermain. Betapa gelap pada malam hari karena tidak ada penerangan.”

“Saya ingin semuanya itu berubah . Jalan-jalan menjadi aspal. Air minum hendaknya air bersih, kesehatan hendaknya dipelihara, dan jalan mendapat lampu penerangan. Saya hanya mengharapkan agar cita-cita saya itu dapat menjadi kenyataan” (Pidato MH Thamrin di depan Dewan Kota, 27 Oktober 1919, sumber buku Matahari Jakarta karya Soekanto MA).

Thamrin menyoroti perbedaan yang kontras antara kota-kota bergaya Eropa seperti Noordwijk dan Risjwik, serta permukiman baru Menteng dengan kampung-kampung yang becek dan kumuh. Hal-hal yang oleh anggota Dewan Kotapraja Batavia diabaikan, seperti kehidupan dan penghidupan penarik gerobak, kusir, sopir penjaja makanan, pengemis dan gelandangan serta sekolah bagi rakyat melarat, oleh Muhammad Husni Thamrin ditampilkan ke permukaan, baik dalam forum Dewan maupun di luar Forum Dewan.

Hal inilah, yang menurut Roni Adi Tenabang, tak tampak dari pemimpin masa kini. “Seharusnya kemiskinan dihilangkan, tapi yang ada justru orang miskin dihilangkan,” ujarnya.

Selain itu, dia juga menyoroti angka kemiskinan yang besar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, tempat banyak nelayan tinggal dan bertahan di tengah proyek reklamasi. “Ditambah koefisien gini alias ketimpangan antara orang kaya dan miskin di Jakarta semakin lebar,” dia menegaskan.

Karena itulah, publik Jakarta kini merindukan sosok Muhammad Husni Thamrin. Thamrin adalah anggota Dewan yang menganggap bahwa mandat untuk membela kepentingan penduduk pribumi kota merupakan di atas segalanya.

Thamrin menekankan di kampung-kampung di Batavia tinggal ratusan ribu penduduk yang sehari-hari dalam bahaya karena lingkungan yang jorok, sanitasi yang buruk, dan kurangnya pembuangan sampah. Thamrin-lah yang mendesak pemerintah menyediakan 100.000 gulden bagi perbaikan umum dan kebersihan umum.

Thamrin kemudian bergerak semakin nasional memperjuangkan kaum Betawi dengan mendirikan Perhimpunan atau Perukunan Kaum Betawi, yang disingkat menjadi Kaum Betawi. Anggotanya termasuk Mohammad Masserie, Mohammad Aryani, Mohammad Jaelani, dr. Muhammad Yusuf dan A.B Effendi. Kegiatannya dimulai pada 11 Juli 1924, enam bulan lebih awal daripada yang dilakukan Soetomo.

Demikianlah Thamrin melalui jalan kooperatif bebas terbuka mengutarakan pendapatnya memperjuangkan kaum miskin di Betawi dan kemudian berkembang menjadi perjuangan Indonesia merdeka. Kompetensi Muhammad Husni Thamrin dalam bidang diplomasi sangat mengagumkan serta membuat lawan takluk, sampai-sampai Gubernur Jenderal De Jonge berkomentar bahwa perjuangan MH Thamrin adalah perjuangan yang memakai otak.

Bahkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, dengan gemas pernah mengatakan bahwa orang paling berbahaya pada saat itu sebenarnya adalah Thamrin. Makanya sang Gubernur Jenderal ingin sekali menjebloskan Thamrin dalam penjara. Namun, demokrasi formal yang masih berlaku membuatnya sulit untuk menangkap Thamrin.

Walaupun pada akhirnya, Thamrin pun wafat di tangan penguasa kolonial Belanda sebagai tahanan politik.

Majalah Betawi menyebut pada hari Sabtu, 11 Januari 1941, panas badan Thamrin meninggi. Beberapa kali, ia muntah. Lalu, pagi buta, Thamrim meninggal dunia. Minggu pagi, seluruh Jakarta dan Indonesia berkabung. Penduduk Betawi mengibarkan bendera setengah tiang. Lebih dari 100 karangan bunga memenuhi halaman rumah di jalan Sawah Besar No. 32. Tak kurang dari 200 telegram duka cita diterima. Iring-iringan janazah sepanjang 7 km melalui Sawah Besar, Harmoni, Tanah Abang, dan berakhir di Karet Bivak.

 

Penulis: Fadjriah Nurdiarsih