Kisah Bang Toing Dipeluk Raja Jin

0
1584
tepi sungai Pesanggarahan yang melewati Lebak Bulus.

Alkisah pada zaman dahulu kala di tanah Betawi, hiduplah seorang laki-laki dewasa bernama Muhammad Tohir. Namun, penduduk sekitar menyapanya dengan nama panggilan “Toing”.

Orang Betawi zaman dulu suka sekali memberi julukan yang lucu-lucu terkait keadaan fisik seseorang. Misalnya, ada yang dijuluki si pengkor lantaran kakinya pincang atau si panjul lantaran kepalanya yang besar. Nah, Bang Toing memiliki nama poyokan (nama julukan) Toing Bongkok lantaran punggungnya yang bungkuk.

Penyakit yang diderita Bang Toing ini merupakan bawaan sejak lahir. Selain badannya yang bungkuk, kakinya pun agak pincang. Maka ketika berjalan seolah-olah terlihat Bang Toing seperti sedang menari karena bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri.

Kampung Lebak Bulus yang didiami Bang Toing pada masa itu masih berupa daerah pinggiran yang ditumbuhi pepohonan besar-besar dan berawa-rawa. Menurut kisah turun-temurun, nama Lebak Bulus diambil dari sifat kontur tanah dan fauna. Lebak berarti ‘lembah’ dan bulus adalah kura-kura yang hidup di darat dan air tawar dengan nama latin Amyda cartilaginea. Ditambah lagi di daerah ini mengalir Kali Pesanggrahan dan Kali Grogol.

Pada suatu malam, sehabis pulang menghadiri kenduri dari kampung sebelah, Bang Toing pulang kemalaman. Karena waktu itu tidak ada penerangan, maka suasana kampung gelap gulita. Sementara untuk menuju rumahnya, Bang Toing harus menyusuri pinggir sungai.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di daerah pinggir sungai di malam hari merupakan daerah yang penuh dengan kaum jin. Banyak cerita dan mitos tentang penghuni sungai yang sudah didengar Bang Toing, dari buaya buntung hingga makhluk jadi-jadian berupa macan yang harus diberi ancak tujuh rupa pada malam-malam tertentu. Namun apa boleh buat, Bang Toing tetap saja harus melewati jalan tersebut.

“Duh, mudah-mudahan enggak kenape-kenape nih,” gumam Bang Toing waswas.

Namun, malang bagi Bang Toing rupanya saat itu kaum jin sedang bergembira. Mereka sedang menari-nari dan tertawa-tertawa di atas pohon sengon besar yang tumbuh di pinggir sungai.

Ketika para jin melihat Bang Toing melintas dengan jalannya yang bergoyang-goyang, para jin itu menyangka Bang Toing mengajak bercanda karena juga sedang bergembira. Tiba-tiba sepasang jin, laki dan perempuan, meluncur turun ke bawah dan menari bersama Bang Toing. Satu jin perempuan menarik tangan Bang Toing, sementara jin yang laki-laki–yang merupakan raja jin–mendekap Bang Toing dan menepuk-nepuk punggungnya. Ajaib, tiba-tiba saja punggung Bang Toing menjadi lurus dan kakinya pun tak pincang lagi. Lalu, ketika Bang Toing pergi dari sarang jin itu, dalam sakunya mendadak sontak ada segepok uang yang dimasukkan oleh raja jin tersebut.

Keesokan harinya, para tetangga terheran-heran melihat tubuh Bang Toing yang sudah tidak bungkuk dan tidak pincang lagi, ditambah dia mempunyai banyak uang. Setiap anak kecil yang datang ke rumahnya, diberinya satu sen. Dan kepada yang bertanya perihal kondisinya, Bang Toing dengan jujur menceritakan pengalaman yang dialaminya semalam dengan para jin tersebut.

“Sumpah ente kagak bohong,” ucap Bang Jalil, tetangganya yang tamak.

“Demi Allah, kemaren ane emang lewat itu sarang jin. Habis ane diajak menari, tiba-tiba kaki yang pincang dan punggung bungkuk hilang,” ucap Bang Toing sumringah.

Ia menyodorkan segelas teh kental dan kue sengkulun buatan Mpok Mumun, istrinya, kepada Bang Jalil untuk dicicipi. Namun demikian, Bang Jalil tak lama bertamu. Ia buru-buru pamit dengan dalih ada keperluan lain. Dalam otaknya, diam-diam Bang Jalil menyusun rencana.

Bang Jalil adalah seorang yang kaya raya. Namun, kekayaannya itu merupakan warisan dari bapaknya yang mempunyai sawah terbesar di daerah situ. Karakter aslinya Bang Jalil adalah seorang pendengki dan pemalas. Dia seringkali merasa iri dengan keberuntungan yang didapatkan orang lain. Diam-diam, nanti malam Bang Jalil berencana akan melewati daerah sarang jin itu. Karena itulah dia bertamu ke rumah Bang Toing agar ditunjuki dan dijelaskan secara terperinci di mana lokasi tempat para jin itu.

Begitulah, seperti yang sudah direncanakan, pada malam harinya Bang Jalil pergi ke sarang para jin berkumpul. Dalam hatinya ia gembira, membayangkan keuntungan berlipat-lipat yang akan diperolehnya.

Ketika melintas di depan jin yang berwajah putih, dia bernyanyi-nyanyi sambil menari kegirangan. Pendeknya, dia berusaha menampilkan kegembiraan yang berlebih-lebihan. Namun, para jin bukan sedang bergembira, melainkan sebaliknya. Seorang jin yang tengah bersedih mendekatinya, lalu memukul punggung Bang Jalil. Seketika saja akibat pukulan itu punggung Bang Jalil menjadi bungkuk dan kakinya yang lurus malahan menjadi pincang.

Para jin yang kesal melihat tingkah Bang Jalil segera menyuruhnya pergi. Rupanya saat itu para jin sedang berduka lantaran ada keluarga mereka yang meninggal dunia.

Demikianlah nasib apes yang diterima Bang Jalil. Bukannya untung, dia justru harus rela menerima kesialan berupa kaki pincang dan punggung yang bungkuk. Sejak itu, Bang Jalil dijuluki sebagai “Jalil bungkuk”.

 

 

Kirim Tanggapan