Rebutan Dandang dan Tradisi Palang Pintu di Depok

2
3296

Tradisi palang pintu dengan silat Betawi sudah menjadi ciri khas dalam rangkaian upacara pernikahan adat Betawi. Seturut tradisi, calon mempelai laki-laki harus mempertunjukkan keahliannya dalam hal silat dan mengaji agar dapat mempersunting mempelai perempuan.

Salah satu kekhasan lainnya dalam iring-iringan lamaran adalah adanya roti buaya dan musik gambang kromong. Bagi orang Betawi, buaya menjadi pelambang kesetiaan karena buaya diketahui hanya menikah dengan satu pasangan dalam satu waktu.

Roti buaya merupakan hantaran wajib dalam upacara pernikahan adat Betawi.

Orang Betawi menganggap proses pernikahan sebagai sesuatu yang tidak main-main. Pernikahan merupakan suatu proses penyatuan dua orang yang berlainan jenis untuk mengayuh hidup berumah tangga bersama-sama sampai akhir hayat. Karena itu, urutan tradisi dalam proses pernikahan diperhatikan betul lantaran ini adalah hal yang sangat sakral bagi masyarakat Betawi.

Pada Januari lalu, saya mengantarkan saudara sepupu dari pihak suami untuk melaksanakan akad nikah dengan tunangannya yang berdomisili di Depok. Tentu hantaran makanan khas Betawi tak ketinggalan, juga sepasang roti buaya. Rombongan raja muda (mempelai laki-laki) berjalan diapit kedua orangtuanya dengan iring-iringan lagu gambang kromong asli yang dimainkan oleh pemusik anak-anak.

Kelompok gambang kromong Sinar Muda mengiringi upacara palang pintu.

Bang Adan  “Obet” dari Sanggar Seni Budaya Betawi Sinar Muda yang bermarkas di Kampung Tugu mengatakan, lagu-lagu yang dipakai untuk mengarak pengantin merupakan lagu-lagu yang bernada ceria dan riang. “Contohnya ondel-ondel dan jali-jali,” ujarnya.

Ia mengatakan dalam iring-iringan ini dipakai musik asli dari alat musik komponen gambang kromong, seperti teh yan dan gendang. Suaranya pun bisa menggema keras berkat sound system mini yang didorong oleh salah seorang anggota sanggar di atas gerobak mini.

“Kami tidak pakai kaset. Bahkan ondel-ondelnya pun harus sepasang, laki dan perempuan,” ucapnya menegaskan.

Sekitar 100 meter berjalan dengan iringan musik yang indah mendayu-dayu, rombongan mempelai laki-laki dicegat oleh palang pintu. Ini adalah perwakilan tuan rumah alias mempelai perempuan yang hendak menguji kesungguhan dan kemampuan pihak mempelai laki-laki.

Biasanya kedua jawara dari masing-masing pihak mengenakan pakaian yang berbeda. Dalam pawai yang saya ikuti, satu memakai pakaian merah dan satu memakai pakaian biru. Pihak palang pintu pun melontarkan pantun khas Betawi untuk mencegat rombongan. Kira-kira seperti ini pantunnya (saya sarikan dari setubabakan.wordpress.com).

Jawara pihak perempuan: Eh, Bang-bang berenti Bang. Pada budeg apa luh. Eh, Bang ini ape maksudnye nih… nyelonong di kampung orang. Emangnya elu kagak tahu ni kampung ade yang punye.

Eh, Bang… rumah gedongan rumah Belande. Pagarnya kawat tiangnya besi. Gue kagak mao tahu nih rombongan mau ke mane, tapi lewat kampung gue kudu permisi.

Jawara pihak laki-laki: Oh, jadi lewat kampung sini kudu permisi, Bang

Jawara pihak perempuan : Iya, emangnya lu kate nih tegalan

Lalu, balas-balasan pantun pun dilakukan dan maksud diutarakan. Perwakilan rombongan akan mengatakan bahwa tuan raja muda (julukan untuk mempelai laki-laki) datang untuk melamar si nona yang tercantik di seluruh kampung. Kemudian pihak perempuan akan menantang si tuan raja muda untuk mempertontonkan keahliannya bermain silat dan mengaji lagu sike. Hal ini sesuai dengan moto hidup orang Betawi, yakni: turun ke latar main pukulan, duduk bersila di langgar baca Alquran.

Maka, pertunjukan palang pintu pun digelar. Dewasa ini upacara palang pintu sudah menjadi atraksi budaya yang menarik perhatian dan menjadi hiburan bagi warga sekitar yang menyaksikannya. Sejak petasan panjang bersuara keras dar-der-dor dibunyikan sebagai lambang datangnya mempelai laki-laki, warga kampung akan berhamburan ke luar untuk menyaksikan penampilan kedua jawara yang sangat menarik. Tak jarang tawa keras terdengar dari penonton yang mendengarkan balas-berbalas pantun yang seringkali sangat lucu itu.

Namun yang unik, Depok ternyata memiliki tradisi rebutan dandang. Jawara dari pihak perempuan akan melakukan adu main pukulan sambil menggendong sebuah dandang untuk menanak nasi yang diikatkan di badannya dengan sehelai selendang. Jika jawara pihak laki-laki berhasil merebutnya, itu merupakan perlambang mempelai laki-laki siap bertanggung jawab lahir batin dan memenuhi kewajiban untuk menafkahi keluarga.

Rebutan dandang merupakan tradisi meminang khas Depok.

Adu jurus pun tak terelakkan. Kedua jawara dari perguruan silat Jalak Putih Gombel Depok tak segan-segan mengadu dan memutar golok mereka. Akibatnya, para penonton yang terlalu mendekat terpaksa harus menjauh dari arena apabila salah seorang terjatuh atau terempas akibat jurus lawannya. Untunglah akhirnya dandang berhasil direbut oleh jawara mempelai laki-laki. Kalau tidak, tentulah rombongan harus pulang dan gigit jari akibat niat untuk bersatu di pelaminan gagal.

Bang Mardi dari Silat Gombel Pitara mengatakan tradisi rebutan dandang ini merupakan khas Depok dan saat ini hampir punah. “Tidak ada di daerah lain rebutan dandang ini, hanya di Depok saja,” tuturnya.

Personel silat jalak putih Gombel, Depok.

Namun hal ini dibantah oleh Gusman Natawidjaja, penulis buku Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi. Dia mengatakan, “Kalau dibilang Palang Pintu dengan model Berebut Dandang tidak ada di daerah lain, hanya di Depok saja saya sih kurang sependapat. Karena di Jakarta Timur, Bekasi sampai perbatasan Karawang masih sering ditemukan. Hemat saya kesenian ini berdasar maping antropologinya melingkupi geo budaya Betawi wilayah Timur hingga Tenggara/Selatan. Ditengarai ada influens seni-budaya dari Priangan Barat dskt. Di Bogor, Purwakarta, dan Karawang sendiri ada bentuk kesenian yang menyerupai bernama Adu Jaten Parebut Se’eng (Adu Kejantanan Berebut Dandang.”

Barangkali sekarang tidak banyak yang tahu lagi mengenai upacara rebutan dandang ini karena hanya berkembang di wilayah Depok dan pinggir Jakarta. Karena itulah diperlukan peran dan kepedulian instansti terkait agar tradisi rebutan dandang ini tetap lestari.

2 Komentar

  1. parabut seeng (berebut dandang) Aslinya mmg berasal dari daerah priangan/Sunda/Bogor/Sukambumi. beberapa daerah tsb bogor/sukabumi, masih bisa ditemukan. nah jika di Betawi ada palang pintu, maka di Depok ada Parabut Seeng (berebut dandang). Depok tentu mengadopsi parabut dandang, karena scr goegrafis Depok masuk dan dekat ke wilayah Bogor.

Kirim Tanggapan