Senyum Nyai Itih

0
558
Pementasan Nyai Ontosoroh, koleksi Liputan6.com.

 

Frank memandang Itih, perempuan usia 19 tahun yang berdiri di hadapannya. Suara orang ramai di belakangnya, saling berteriak dan mengejek. Beberapa sudah menenggak arak yang memabukkan. James, temannya, sudah sejak tadi memangku seorang gadis dan menciuminya sambil memegang buah dadanya. Sebentar kemudian mereka menghilang ke bilik kecil yang disediakan pengelola rumah minum. Sebagian lain masih asyik main kartu.

“Itih namamu?” tanya Frank.

“Ya, Tuan,” jawab Itih lirih.

“Sini, temani aku bicara,” ujar Frank.

Frank tak hendak bercumbu saat itu. Ia terlalu lelah. Ia baru saja pulang berpesta semalam dengan Gubernur Jenderal. Seharusnya ia tak minum arak lagi. Tapi Frank sungguh sedang rungsing. Ia harus menyogok sejumlah uang untuk mengamankan lahan perkebunan kopinya di tanah Priangan. Belum lagi saling sikut yang dilakukan para pegawai muda untuk merebut posisinya sungguh menjijikkan. Frank tak akan membiarkan orang-orang malas itu menelikung dirinya. Ia sudah lama bekerja keras untuk mencapai kemakmuran di Hindia.

Demi mengusir gundah gulananya, Frank pun mengiyakan ajakan James untuk ke Cimahi. Di sana James langsung asyik dan lupa betul-betul padanya. Sialan James! Lagipula ini kan kedai serdadu. Tingkah orang-orang buangan itu saat mabuk sungguh menganggu. Frank hampir saja marah, tapi akhirnya tak tega pada James yang barangkali butuh hiburan.

Saat memandang berkeliling itulah, pandangan matanya tertumbuk pada seorang perempuan muda yang sedang berdiri di belakang meja penyaji minuman. Perempuan itu Itih.

Kesan pertama Frank terhadap Itih sungguh ganjil. Itih cukup sedap dipandang. Lehernya jenjang dan kepalanya terlihat begitu besar. Namun mungkin itu lantaran sosoknya terganggu oleh deretan-deretan stoples yang ada di depannya. Dipanggilnya Itih dengan suatu kode, diajaknya ke hadapannya untuk diamati lebih jelas. Dimintanya Itih tersenyum dan perempuan itu memperlihatkan seulas senyum tipis yang tampak seperti menyeringai. Frank merasa puas. Ia mengangguk-angguk seperti baru membuat sang Gubernur Jenderal tertawa.

Sebulan berikutnya, hampir setiap hari Frank datang ke kedai itu—yang ternyata milik Paman Itih. Dan hampir setiap hari pula saat Frank datang, Itih selalu bersembunyi di belakang meja berisi deretan stoples. Frank menyadari Itih senang bersembunyi di sana dan bisa saja sedang tersenyum kala memandang ke jalanan entah oleh apa. Kadang senyumnya membentuk lekukan ujung bibir ke bawah, seolah sedang mengejek. Frank menyukai sikapnya. Dua bulan kemudian, Frank mengirimkan sejumlah uang supaya Itih datang ke tempatnya. Pada Mei 1916, Itih muncul di kediaman Frank di Sukajadi.

Mengambil nyai bukan perkara baru bagi orang Belanda di Hindia. Para pekerja yang tak memiliki uang untuk mendatangkan seorang gadis Belanda totok bisa dengan mudah menerima kehadiran seorang perempuan pribumi sebagai teman tidur. Jarak yang jauh membuat tak banyak gadis baik-baik mau datang menempuh perjalanan yang berbahaya. Pernah Gubernur Jenderal mendatangkan para gadis dari panti asuhan untuk mengatasi masalah ini, tapi rupanya mereka lebih senang bertingkah asusila.

Frank sendiri sejak kedatangannya di Batavia pada usia 25 tahun, 10 tahun yang lalu, belum pernah punya seorang nyai. Beberapa kali atasannya menawarkan diri untuk membawakan seorang gadis pribumi, tapi Frank hanya menggeleng. Saat itu ia tengah fokus membangun kariernya di perusahaan dagang Hindia Belanda. Hari-hari luangnya dimanfaatkan untuk membangun relasi dari pesta-pesta, menunggang kuda, atau bermain kartu. Namun rupanya sebuah guling tak cukup memuaskannya di malam hari.

Frank menyukai Itih. Sikap perempuan itu yang sangat pendiam dan penurut membuatnya sangat gemas. Itih selalu siap sedia menyediakan segala kebutuhannya. Cerutu-cerutunya diatur rapi dalam toples di lemari kaca. Meja yang bertaplak kembang-kembang. Kue dan makanan yang selalu tersedia di meja. Itih adalah perempuan idaman. Ia penuh rasa hormat, siap sedia, dan patuh. Baginya hanya ada satu tujuan, yakni merawat pasangannya dengan penuh kasih sayang.

James hanya tertawa ketika Frank bercerita perihal betapa beruntungnya dia memiliki Itih. “Kau jangan lupa, kawan, mereka itu sangat pencemburu. Kau harus hati-hati dengan pil nomor sebelas,” ujarnya.

Lalu James menceritakan dongeng lain, tentang tetangganya yang seorang jaksa di pengadilan Hindia Belanda. Jaksa ini menarik seorang pembantunya menjadi gundiknya dan menidurinya setiap malam. Begitulah hingga akhirnya hubungan mereka membuahkan tiga orang anak. Saat anak pertamanya berusia 5 tahun, sang jaksa hendak mengambil seorang gadis Belanda tulen menjadi istrinya. Ini kisah yang umum, kata James. Sang jaksa hendak menggunakan perkawinan untuk menaikkan statusnya karena calon istrinya adalah anak orang yang berpengaruh. Si nyai, yang diperlakukannya dengan penuh kasih sayang saat dia tengah berahi, ditendangnya kembali sebagai pembantu. Sepertinya tidak apa-apa dan nyai itu menerima saja. Namun, saat sang Nyonya datang ke rumah itu dan bermalam untuk pertama kalinya, nyai yang dibuang ini menaruh pil nomor sebelas dalam semangkuk sup. Kau tahu Frank, ujar James, itu racun yang sangat kuat. Besoknya sang Nyonya dan Tuan itu ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Sungguh mengerikan.

Peringatan James menguap dalam sekejap begitu ia bertemu Itih. Sore itu sepulang bekerja, ia menjumpai Itih dalam penampilan yang sangat memesona. Rambutnya ditata istimewa, hitam mengkilat dan disisir rapi. Dalam kondenya yang ia gelung, terselip sekuntum kamboja. Kebaya putih itu pun tampak ketat dan pas dalam lekuk tubuh Itih yang menawan. Dan lehernya berbau harum saat ia menciumnya. Dalam usapan Itih di seluruh tubuhnya dan kepalanya, Frank tertidur di pangkuan perempuan itu.

“Ah, Itih,” Frank berseru melankolis saat mendengar nyainya menyanyikan lagu berbahasa Melayu yang menenteramkan hatinya.

Delapan tahun berlalu dan mereka sudah memiliki dua orang anak. Maria Aprilia, putri yang pertama. Kulitnya putih, tapi matanya bulat bagaikan boneka. Bibirnya penuh dan menawan. Ia sungguh lucu dengan rambut yang lebat dan ikal. Kemudian ada juga George yang berusia 5 tahun, berselisih 2 tahun dari kakaknya. Keduanya mendapatkan nama belakang Frank, yakni Verney. Frank mengakui kedua orang itu sebagai buah hatinya. Ia mencintai mereka dengan segenap hatinya, sama seperti ia mencintai Itih.

Kebahagiaan lengkap dirasakan keluarga itu, terutama saat sepulang kerja Frank mendapati kedua buah hatinya berlari menyambutnya begitu ia turun dari dokar. Maria dengan rambutnya yang selalu dikuncir dua dan gaun yang mengembang. Atau George yang memiliki pipi yang sangat tembam dan air muka yang selalu gembira. Kemudian Itih yang menunggu di ujung tangga rumah dengan batik bercorak bunga dan kebaya berwarna putih. Di kakinya ia memakai selop yang bagus, sedangkan di tangan dan lehernya tergantung perhiasan dari emas. Frank hanya mempercayakan kepenguruan dua anaknya kepada Itih. Emas-emas yang diberikannya itu dianggapnya sebagai hadiah, meski memang Itih tak pernah—atau tak berani—memintanya. Hanya sekali Itih meminta uang agak besar. Frank ingat Itih hendak membantu pamannya yang bangkrut akibat kedai minumnya dipaksa tutup. Konon, para serdadu tangsi kena wabah sipilis setelah salah seorang dari serdadu itu bermain cinta di kedai tersebut.

Selain itu, asal-usul Itih gelap. Itih hanya tersenyum saja ketika diminta bercerita tentang keluarganya. Delapan tahun hidup bersama, dunia batin Itih sama gelapnya seperti ketika mereka pertama kali bertemu.

“Tuanku, buat apa tahu tentang keluargaku. Mereka sudah tidak mengkehendaki aku kembali,” kata Itih setelah didesak Frank.

Beberapa kali Frank goyah dan hendak mengawini Itih secara resmi di hadapan hukum. Namun setiap kali ia melontarkan idenya, James mencelanya.

“Kawanku, pernikahan itu harus dengan yang sederajat. Kau tahu tujuan pernikahan itu untuk apa? Apa kau kira tujuan murni pernikahan akan tercapai dengan mengawini seorang pribumi? Jangan terlalu lemah, kawan. Mereka itu licik,” ujar James.

***

Frank mengkhawatirkan Itih. Sekarang Itih kerap kali bergaul dengan para nyai yang lain. Setiap kali mereka pergi bersama-sama ke Pasar Sukajadi, Itih akan pulang dengan membawa gulungan-gulungan kain. Memang ia akan menjahitkan gaun yang bagus untuk dirinya sendiri dan Maria. Tapi tetap saja. Dan yang paling merisaukannya, Itih ternyata buta huruf. Itih tak bisa baca tulis dan tampaknya tak tertarik untuk belajar. Itih lebih suka menjahit atau menyulam, sementara urusan memasak dan bersih-bersih rumah diserahkannya kepada para bujang. Masalahnya, beberapa kali Frank memergoki para bujang itu melontarkan tatapan tak pantas pada Itih. Sungguh kurang ajar mereka!

Ditambah lagi, tawaran yang sulit ditolak datang kepadanya. Anak seorang hakim wilayah di Bandung, seorang campuran bernama Sara, dijodohkan dengannya. Tentu ini bagus untuk memperkuat pengaruh dan melanggengkan kekuasaan. Pernikahan seorang kepala perkebunan kopi dan anak seorang hakim. Coba bayangkan! Niat Frank untuk memperluas perkebunan kopi tentu akan mudah terwujud.

Namun, jika akhirnya ia menikah, bagaimana nasib Maria dan George? Ia tentu tak tega menjadikan mereka anak-anak kampung berambut pirang. Ia tak ingin Maria menjadi anak yatim yang malang, yang ketika dewasa dijual kepada seorang Tionghoa untuk dijadikan nyai.

Untuk itu Frank terpaksa mengambil keputusan yang sulit. Pada suatu sore, dipanggilnya Itih–yang datang sambil menundukkan kepalanya. Muka Itih tampak pucat, seolah sudah tahu bahwa sore itu nasib buruk akan jatuh menimpanya.

“Saya akan menikah, Itih,” ujarnya terus terang dan langsung. Itih masih terdiam dan tak mengangkat muka.

“Saya tahu ini mungkin berat dan sulit bagimu, tapi ini yang terbaik. Ini kebiasaan bangsa kami. Maria dan George akan saya kirimkan pada ibu saya di Belanda. Di sana mereka akan mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kau boleh menemani mereka naik kapal sampai di sana, setelah itu kembali lagi ke sini.”

Frank menghela napas. Itih masih diam dan tak bicara. Kepalanya masih ia tundukkan.

“Untukmu, aku siapkan sebuah rumah sederhana. Dan sejumlah uang juga. Itu cukup untuk hidupmu bertahun-tahun kemudian,” ujar Frank sambil menyerahkan dua lembar akta pengakuan.

Itih memandang dua lembar dokumen yang tertera di hadapannya dengan hati mencelos. Ia tahu sekali ia memberikan cap jempolnya, ia tak akan berjumpa lagi dengan kedua anaknya, yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri.

Itih menegarkan hati. Tanpa suara dibiarkannya Frank membimbing dia membubuhkan cap jempolnya. Setelah itu ia beringsut dan menunduk kembali.

Delapan tahun hidup dan tidur bersama, hubungan dia dan Frank tetap renggang bagaikan pohon kelapa dan akasia. Selalu ada jarak di antara mereka yang sulit didekatkan. Namun sore ini tembok tebal telah dibangun sebagai pembatas jarak.

“Itih,” Frank memanggil dengan halus.

Itih mengangkat kepala. Ada air mata yang turun membasahi pipinya. Hilang sudah senyum dari wajahnya. Frank tercekat dan tak berkata-kata lagi. Itih berbalik dan berjalan menuju kamar anak-anaknya. Perpisahan akan terjadi dengan cepat.

Frank tercenung. Di luar, Bandung masih hujan.

Kirim Tanggapan