Kisah Ariah Si Manis Jembatan Ancol dan Oey Tambahsia

0
562
foto dari google

Di daerah Jakarta pada abad ke-18, hiduplah seorang perempuan manis bernama Ariah. Ia hidup bersama ibunya, Mak Emper, dan kakaknya dalam sebuah gubuk yang beratapkan rumbia dan berdinding bambu. Kehidupan keluarga ini sangat miskin. Meski demikian, Ariah dan ibunya tidak pernah mengeluh.

Dinamakan Mak Emper karena rumah itu berada di emperan sebuah rumah gedung yang sangat bagus bercat bagus di Kali Besar. Berkat kemurahan hati pemilik rumah itu, seorang majikan kaya, maka Mak Semper dan kedua anaknya bisa menumpang dari teriknya matahari dan hujan yang turun.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ariah membantu majikannya bekerja di sawah. Ia menandur dan menumbuk gabah hingga menjadi butiran padi yang bersih. Kadang-kadang ia juga mencari kayu bakar, sayur-mayur atau telur ayam hingga ke Ancol.

Untuk mengisi kesepiannya, Ariah sering bersenandung. Ia mempunyai suara yang cukup merdu, yang bisa menghibur hati siapa pun yang mendengarnya. Kadang-kadang ia memetik teh yan tua milik almarhum ayahnya sambil menyanyikan lagu-lagu keroncong berbahasa Belanda bernuansa melankolia yang sering didengarnya.

Ya, dari rumah gubuk Ariah yang memang menempel di belakang vila besar kepunyaan majikannya, Ariah sering melihat pesta dansa yang diadakan di rumah itu. Tawa besar para tamu yang datang menjadi hiburan baginya yang tak pernah merasakan mengenakan pakaian bagus ataupun hadir di sebuah pesta.

“Mak, aku ingin sekali suatu saat bisa bernyanyi di hadapan tamu-tamu terhormat, yang akan memuji suaraku yang bagus,” ujar Ariah suatu ketika di kebun.

Mak Emper, yang sedang membuat bubur jagung, berhenti bekerja lalu menoleh. Dalam hatinya ia merasa iba dengan keadaan anaknya semata wayang itu.

“Tentu saja bisa. Suatu hari nanti pasti keinginan Ariah terkabul,” ucap Mak Emper mencoba membesarkan hati anaknya.

Ariah tersenyum mendengar penghiburan orangtuanya itu. Namun kakaknya yang lebih tua lima tahunnya darinya menukas sambil berkata, “Ah, mimpi saja kamu Ariah. Sekali dilahirkan miskin, seumur hidup kita akan jadi orang miskin. Jangan mimpi!” ucapnya kasar.

Ariah kaget mendengar ucapan kakaknya itu. Memang kakak Ariah lebih pemurung dibandingkan adiknya itu. Mungkin karena dia anak pertama yang merasakan betul susah payahnya keluarga, terutama setelah sang ayah meninggal. Saat itu mereka diusir dari rumah lantaran tak mampu melunasi utang-utang. Itulah sebabnya kakaknya bersikap lebih pemberontak dibanding Ariah dalam menerima keadaan mereka sekarang.

Hari-hari pun berjalan biasa bagi Mak Emper dan putri-putrinya. Namun suatu siang, kala baru saja hendak masuk ke dalam rumahnya, Ariah kaget mendapati seorang tauke memanggilnya. Dia adalah tamu si majikan yang memang sering bolak-balik ke rumah Babah Liem, majikan Ariah. Sang tauke bernama Oey Tambahsia. Kekayaannya sudah terkenal ke seantero Batavia. Oey Tambahsia adalah pemegang bisnis monopoli candu di Batavia. Namun sebagian warisannya juga didapat dari warisan.

Ariah terkejut demi melihat sang tauke. Oey Tambahsia sudah lama dikenal berperilaku buruk dan senang main perempuan. Beberapa bulan setelah pesta pernikahannya digelar dengan mewah dan besar-besaran, Oey Tambahsia sudah mengambil kembali seorang gundik yang merupakan seorang pesinden asal Pekalongan, bernama Guncing.

Karena itulah, Ariah memutuskan untuk tidak mengindahkan panggilan itu. Dia langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Kepada ibunya yang bertanya kenapa mengunci pintu siang-siang, Ariah mengaku sakit kepala.

Dibanding kakaknya, Ariah memang lebih cantik. Alisnya bak semut beriring, rambutnya bak mayang terurai, dan wajahnya bagaikan rembulan yang bersinar terang, sehingga menarik hati siapa pun yang melihatnya.

“Ariah, kenapakah tidur?” ujar kakaknya tak senang melihat Ariah membaringkan badannya di kasur.

“Seperti putri Belanda saja sikapmu siang-siang begini tidur. Tak kau lihatkah cucian piring yang bertumpuk?” ucapnya.

Ariah buru-buru bangun, lalu berbisik kecil sambil mencium kakaknya. “Mpok yang manis, jangan marah-marah saja nanti mukanya akan menjadi jelek, lo. Apakah Mpok tidak tahu di muka rumah kita ada Oey Tambahsia. Mpok tahu kan siapa dia? Maka itu aku buru-buru masuk agar dia tak melihat mukaku dengan jelas. Sebab kalau tidak, bisa jadi aku dibawanya ke Vila Bintang Mas untuk dijadikan gundiknya,” tutur Ariah halus.

“Kenapa tidak? Bukankah tidak apa-apa menjadi gundik seorang kaya asalkan semua kebutuhan terpenuhi?” ujar kakaknya Ariah lagi.

“Aduhai Mpok tersayang, mengapa demikian kusut pikiranmu? Tentu saja aku tak mau menjadi gundik hanya demi harta, agar sekujur tubuhku dipenuhi barang bagus dan perhiasan dari ujung kaki hingga kepala. Seperti ini pun aku tak apanya, kebayaku lusuh dan kainku kumal, asalkan aku bisa bersama Emak dan Mpok bersama-sama,” ucap Ariah bersungguh-sungguh.

“Aku tak akan menjual kehormatanku hanya demi kesenangan semu di dunia,” ucap Ariah sambil menyunggingkan senyum manisnya.

Kakaknya hanya terdiam mendengarkan ucapan Ariah. Ariah menggenggam tangan kakaknya untuk membesarkan hati. Ia tahu kakaknya sedang gundah gulana karena usianya semakin tua, tapi hingga kini  belum ada seorang laki-laki pun yang datang melamarnya. Sang kakak seringkali menyalahkan kondisi mereka yang miskin sebagai penyebab tak adanya seorang laki-laki yang berminat kepadanya. Ariah seringkali menenangkan sang kakak bahwa jodohnya sudah disiapkan Tuhan dan pasti akan segera tiba.

Namun ternyata bukan jodoh sang kakak yang datang lebih dulu. Lamaran yang datang kepada Mak Semper lebih dulu ditujukan kepada Ariah. Dan celakanya, lamaran itu datang dari Babah Liem, tempat keluarga Ariah menumpang sehari-hari.

Ariah menangis tersedu-sedu kala berita itu disampaikan Mak Semper. Pertama tentu saja karena Babah Liem sudah beristri, sehingga ia tak mau menyakiti perasaan istri Babah Liem. Selain itu ia pun memikirkan nasib kakaknya. Tentulah sang kakak akan sangat sedih apabila ia menikah mendahului kakaknya itu.

“Mak, Ariah enggak mau kawin sama Babah Liem. Istrinya kan sangat baik, menerima kita menumpang, masakkan sekarang Ariah menjadi ‘madu’ buat dia. Lagipula, Mpok juga belum menikah? Apa pantas Ariah mendahului? Lagipula, biar kita miskin, tetap saja kita harus punya harga diri, Mak. Jangan lantaran miskin kita jual semua, termasuk kehormatan dan perasaan,” ujar Ariah.

Mak Semper meradang mendengar ucapan Ariah. “Ariah, jangan tidak tahu terima kasih. Ini kesempatan kita membalas budi semua jasa Babah Liem. Apa kamu berani menolak keinginan orang yang sudah banyak berjasa kepada keluarga kita?” ujar Mak Semper.

Namun, Ariah tetap menggeleng. Ia tak mau menjalankan poligami dan ingin merasakan datangnya cinta sejati. Ariah percaya ia akan menikah dengan pria yang dipilihnya sendiri, yang mampu mencintai dia sampai akhir hayat. Sampai tengah malam, tak ada titik temu antara ibu dan anak itu.

Pagi harinya, setelah ayam berkokok dan matahari menampakkan sinarnya, seperti biasa Ariah bersiap-siap pergi keluar rumah untuk mencari kayu bakar, sayur mayur, dan telur ayam hutan. Namun tidak seperti biasanya, kali ini ia memandang sendu kepada Mak Emper yang masih rungsing memikirkan penolakan Ariah. Ariah tahunya ibunya itu akan pusing memilih kata-kata yang baik sebagai tanda penolakan kepada Babah Liem. Bagaimana pun, tidak baik menyinggung perasaan orang yang sudah banyak berjasa bagi keluarga mereka.

Ariah mencium tangan ibunya lama sekali. Setitik air mata turun hingga membasahi tangan Mak Semper. Namun, hal itu tidak disadari oleh Mak Semper. Padahal, Ariah sedang mengucapkan salam perpisahan.

Hingga sore hari, Ariah tak juga pulang ke rumahnya. Ariah bukannya mencari kayu bakar, sayur mayur, atau telur ayam hutan. Ia justru terus berjalan hingga ke pinggir laut di Ancol, sambil membiarkan angin sepoi-sepoi meniup rambutnya yang panjang. Ia tak ingin kembali pulang menyadari masalah besar yang menunggunya, tapi ia juga tak tahu hendak ke mana. Hanya tersisa sebungkus nasi timbel untuk bekalnya hari itu. Deburan ombak memecah pantai terdengar seperti bersahutan. Suaranya melenakan perasaan Ariah yang sedang gundah.

Saat baru hendak duduk, tiba-tiba saja dua orang laki-laki kekar berpakaian hitam mengurung Ariah dan memiting lengannya dari kanan dan kiri. Ariah kaget karena tiba-tiba ia tak bisa bergerak. Ariah pun refleks melawan. Tapi, sekuat apa pun ia memberontak, Ariah tak bisa melepaskan diri dari cengkrama dua tukang pukul Oey Tambahsia bernama Piun dan Sura.

Demikian, tenaga seorang perempuan yang tak seberapa besar itu dibungkam dengan kekuatan dua orang laki-laki yang sangar. Piun membekap mulut dan hidung Ariah dengan sarung agar gadis muda itu berhenti memberontak. Namun malang, hal itu justru membuat Ariah kehilangan nyawanya. Ariah meregang nyawa akibat saluran pernapasannya tertutup.

“Un, gimana ini? Kan kita disuruh Babah Oey bawa si Ariah. Kenapa jadi mati begini?” ucap Sura melepaskan pegangannya saat Ariah berhenti bergerak.

“Waduh, bahaya ini. Ayok kita pulang saja. Lemparkan saja mayat si Ariah ke laut, supaya tidak diketemukan orang. Kalau ketahuan bisa berabe kita. Apalagi opas-opas Belanda itu juga rajin patroli,” ujar Piun.

Maka, jenazah gadis malang itu pun dilemparkan ke laut. Piun dan Sura pulang sambil tertunduk lesu membayangkan makian dari Oey Tambahsia yang bakal mereka terima. Bagaimana tidak, gadis yang diidam-idamkan majikannya itu justru meninggal di tangan jagoannya sendiri.

Di malam hari sepeninggalnya Ariah, Mak Emper dan kakak Ariah tak bisa tidur, menunggu anak kesayangannya itu kembali. Namun seberapa lamanya mereka menunggu, hingga hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, Ariah tidak pernah kembali. Mereka pun akhirnya menyakini Ariah sudah wafat akibat diterkam binatang buas di hutan Ancol.

Pada suatu malam, Mak Emper kembali teringat dengan Ariah setelah bertahun-tahun lamanya. Kebetulan besok kakak Ariah akan dilamar seorang pemuda baik-baik dari Kramat Sentiong. Mak Emper merasa sedih karena cita-cita Ariah untuk menikah tak kesampaian. Selain itu, ia juga kebingungan karena tak memiliki banyak persediaan makanan untuk menyiapkan pesta perkawinan.

Lelah berpikir, Mak Emper tertidur. Namun dalam tidurnya Mak Emper bermimpi indah sekali. Ariah datang dan menjelaskan sebab-sebab dirinya tak pulang, yakni wafat di tangan tukang pukul Oey Tambahsia. Ia meminta Mak Emper untuk tidak bersedih. Terkait pesta pernikahan, Ariah berjanji akan membantu pernikahan kakaknya. Saat terbangun, Mak Emper merasa sangat sedih. Namun ia terkejut saat kakaknya Ariah menjerit. Ternyata di depan pintu ada berpikul-pikul ikan segar dan puluhan ikat sayur mayur segar. Itulah oleh-oleh untuk Ariah bagi ibu dan kakaknya.

*Di kemudian hari, Ariah dipercaya menjelma menjadi si Manis Jembatan Ancol. Hal ini sangat menggelikan karena Ridwan Saidi menilai Ariah adalah gadis yang meninggal karena menjaga kehormatan dan harga dirinya, bukan setan yang suka menganggu orang lewat.

 

 

 

Kirim Tanggapan