Kedatangan Orang Arab dan Akulturasi Kebudayaan Arab di Betawi

0
433
Pekojan tempo dulu. Sumber: Google

 

Batavia pada abad ke 18-19 menjadi tempat yang terbesar bagi populasi keturunan Arab yang hijrah dari Hadramaut, yaitu sebuah lembah di Yaman Selatan. Menurut staf pengajar Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, Belanda memisahkan setiap orang berdasarkan suku dan etnis tertentu dengan membentuk kelompok. Tidak terkecuali bagi etnis keturunan Arab yang menempati beberapa wilayah di Nusantara, salah satunya kampung Arab di Pekojan, Jakarta Barat.

“Dulu zaman kolonial, Belanda mengisolasi orang-orang menurut grupnya (suku) agar mereka tidak berinteraksi, misalnya orang Ambon, Bali, termasuk orang Cina dan Arab,” kata Yasmine Zaki, Selasa (7/3/2017).

Menurut dia, keturunan Arab datang ke Indonesia sudah sejak lama, yakni sejak Islam masuk ke Nusantara. Ia menjelaskan ada tiga gelombang masuknya keturunan Arab ke Indonesia, yaitu gelombang pertama pada abad ke 7, abad ke-14 kedatangan Wali Songo, dan abad ke-19.

“Keturunan Arab masuk ke Nusantara sudah sejak lama sekali, sama seperti Islam masuk ke Indonesia. Pertama pada abad ke 7 ketika Islam mulai menyebar, kedua abad Wali Songo, dan tahap berikut tahap abad ke-19, yaitu penjajahan kolonial Belanda,” dia menjelaskan.

Pemerintah kolonial pada saat itu menetapkan kawasan Pekojan sebagai kampung Arab. Kawasan Pekojan berada tidak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, kira-kira berjarak 1,6 kilometer. Kedatangan bangsa Arab ke Nusantara selain untuk berdagang, juga melakukan misi untuk berdakwah.

Menurut peneliti antropologi UI ini, berdakwah yang dilakukan oleh orang Arab, yaitu dengan cara mengaji, membuka majelis taklim di kampung, berhijrah dari tempat satu ke tempat lainnya, mengajarkan seorang sampai menjadi ulama besar dan mendirikan pesantren.

W. C Van Den Berg dalam Orang Arab di Nusantara (2010) mengungkapkan orang-orang dari Jazirah Arab ini merantau untuk mengadu nasib. Pepatah Arab mengatakan, para keturunan Arab ini merantau demi mencari cincin Nabi Sulaiman yang kaya raya.

“Tujuan mereka berdagang, mereka sama seperti perantau pada umumnya, yaitu karena tujuan ekonomi sama seperti orang Minangkabau. Sambil berdagang, mereka menyebarkan agama Islam seperti berdakwah,” tutur Prof. Yasmien

Hijrahnya keturunan Arab dari Hadramaut, negeri miskin di lembah Yaman Selatan ke Nusantara, didominasi keturunan sayyid atau habib. Ada perbedaan mendasar antara habib dengan sayyid. Menurut Habib Zein bin Umar bin Smith, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Rabithah Alawiyah, dalam suatu wawancara dengan tirto.co.id, orang yang sayyid belum tentu seorang habib. Namun, seorang yang bergelar habib sudah tentu adalah keturunan Nabi.

Pendapat lain dikemukakan Quraish Shihab dalam Mistik, Seks dan Ibadah (2004). Quraish Shihab berujar siapa pun boleh pakai nama habib selama ia dicintai. Sebab, habib dalam bahasa Arab artinya ‘dicintai’. Namun bagi masyarakat Muslim di Indonesia, gelar habib diberikan kepada orang saleh dan berbudi luhur serta memiliki garis keturunan hingga ke Rasulullah.

Pekojan tempo dulu memang tenar sebagai kampung Arab. Sebagai tempat dengan populasi terbesar di Indonesia, nama Pekojan juga dipakai untuk masyarakat keturunan Arab yang berada di Semarang dan Kudus. Van den Berg, seperti dikutip Wikipedia, menyebut Pekojan sendiri berasal dari kata “Khoja”, atau istilah yang digunakan untuk menyebut penduduk keturunan India yang beragama Islam asal Suku Bengali atau Bengala, Bangladesh.

Kini keturunan Arab di Pekojan mulai sulit ditemukan. Mereka hijrah dari Pekojan ke Condet, Jakarta Timur. Masyarakat keturunan Arab di Condet saat ini menggantikan posisi masyarakat keturunan Arab yang semula berada di Pekojan pada zaman kolonial.

Lama menyebar menjadi orang Arab. Sekarang orang Arab menyebar ke Jakarta Timur, yaitu Kampung Melayu, Cawang, sampai yang paling banyak orang Arab adalah di Condet,” ucap Yasmine.

Menurut sumber data dari Orang Arab di Nusantara, populasi keturunan Arab tahun 1859 sebanyak 4.922 orang. Populasi tersebut mengalami peningkatan hingga mencapai 10.888 orang pada tahun 1885. Namun, populasi keturunan Arab pun berangsur-angsur menurun sejak tahun 1970.

Pada 1996, keturunan Arab Hadramaut mulai menetap di Condet, Jakarta Timur. Tidak hanya dari Pekojan, mereka datang dari berbagai daerah, di antaranya Jawa Tengah dan Jawa Timur, Lampung, Palembang, Kalimantan dan Sulawesi.

Kedatangan orang Arab ke Nusantara sebagai pedagang dibuktikan dari kawasan Condet yang memiliki toko-toko minyak wangi. Kebanyakan keturunan Arab mempunyai usaha seperti buka toko, buka perusahaan jasa umrah dan haji, warung makan Arab, toko butik dan jual beli kendaraan bemotor.

Sepinya Pekojan dari penghuni keturunan Arab karena beberapa faktor, di antaranya banjir yang rutin merendam kawasan tersebut, konflik antar keluarga Arab lainnya, perpecahan warisan yang menyebabkan generasi berikutnya menjual rumah warisan peninggalan orangtuanya, dan lain sebagainya.

Hingga saat ini masih ada delapan keturunan Nabi yang masih bertahan di Pekojan. Tiga di antaranya bermarga Al-Attas, Al Jufri dan Assegaf. Sedangkan orang Arab yang bukan keturunan Nabi di antaranya Al Amri, Zubaidi, dan Basendit.

Beberapa peninggalan dari keturunan Arab di Pekojan juga masih dipertahankan, termasuk Masjid Jami An- Nawier (1760), Masjid Langgar Tinggi (1829), Mushala Ar-Raudhah (1887) dan Masjid al- Anshor (1648). Jarak antara masjid satu dengan lainnya saling berdekatan.

Hijrahnya keturunan Arab dari Kampung Arab menjadikan sebagian rumah di Pekojan dibeli oleh keturunan Tionghoa. Masyarakat Tionghoa menyakini bahwa kampung Arab memiliki peruntungan dari segi bisnis yang disebut dengan Kepala Naga. Kini perumahan di Kampung Arab menjadi gudang-gudang yang dijalankan perusahaan Tiongkok.

Prof. Yasmine menuturkan kini etnis keturunan Tionghoa dan Arab berada di satu tempat karena bisnis yang dijalaninya. “Mereka menjadi satu karena berbisnis. Orang Cina Kristen melakukan hal yang sama-sama, yakni berbisnis,” tuturnya.

“Sebagian dari mereka telah beralih profesi atau berganti mata dagangan yang disesuaikan dengan konsisi kebutuhan zamannya, seperti menjual dan membeli mobil atau membuka toko keramik,” tulis Zeffry Alkatiri dalam Jakarte Punya Cara.

Meski populasi keturunan Arab semakin menurun, beberapa wilayah di Jakarta masih ditempati oleh keturunan Arab, seperti Kampung Melayu di Jakarta Timur, kawasan Krukut dan Rawa Belong di Jakarta Barat. Di wilayah Jakarta Selatan, keturunan Arab ada di Pancoran, Pasar Minggu dan Jagakarsa. Lalu di Kwitang di Jakarta Pusat dan Luar Batang di Jakarta Utara.

Menurut data Rabithah Alawiyah, jumlah keturunan Arab terbanyak berada di kawasan Condet, Jakarta Timur yaitu 4.787 orang. Terbanyak kedua berada di Jakarta Selatan sebanyak 2.465 orang. Lalu, 1.193 orang berada di Pekojan, Jakarta Barat. Sejumlah 901 orang di Jakarta Pusat dan terkecil populasinya ialah di Jakarta Utara yaitu 348 orang. Secara keseluruhan populasi keturunan Arab di Jakarta yaitu 9.694 orang.

Bahkan, keturunan Arab juga memegang peranan yang penting dalam pergerakan Republik Indonesia melalui organisasi Jamiat Kheir dan Partai Arab Indonesia. Sumpah yang digagas oleh orang-orang Arab di Indonesia pada suatu kongres di Semarang pada 4-5 Oktober 1934 ini memacu timbulnya kesadaran Indonesia sebagai tanah air mereka.

Adaptasi Budaya Arab di Nusantara

Lahirnya keturunan Arab di Nusantara turut melahirkan pula adat dan kebudayaan bercorak khusus bagi masyarakat muslim Indonesia. Selain peninggalan sejarah seperti kampung Arab di Pekojan dan beberapa daerah lainnya, adat istiadat mulai dari kelahiran, pernikahan dan kematian orang muslim di Indonesia hampir serupa dengan budaya keturunan Arab.

Dalam buku Orang Arab di Nusantara (2010), L.W.C. van den Berg mengatakan dulunya orang Arab datang ke Indonesia sebagai pedagang. Mereka datang lebih dini memperkenalkan Islam kepada “pribumi-pribumi Nusantara”. Orang-orang dari jazirah Arab datang secara bergelombang ke Indonesia untuk mengadu nasib.

Menurut Zeffry Alkatiri dalam Jakarta Punya Cara (2012), kehidupan orang Arab dengan orang Indonesia tidak jauh berbeda. Dalam kelahiran, pernikahan maupun kematian pun tidak banyak hal yang berubah.

Kelahiran

Pada kelahiran, seseorang yang baru melahirkan, dia akan diberi nama. Bagi orang Arab, pemberian nama menjadi hal yang heboh karena kedua pihak keluarga akan turut untuk memberikan saran untuk nama bayi yang akan digunakan. Nama sang ayah akan dicantumkan di nama belakang bayi itu.

Dalam menyambut kelahiran bayi pertama, mereka akan melakukan hakekah atau di Indonesia disebut aqiqah. Upacara ini dilakukan saat bayi berusia 14 atau 21 hari setelah dilahirkan sekaligus untuk menamai anak mereka. Satu ekor kambing untuk bayi perempuan dan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki. Di acara ini juga, rambut bayi akan dipotong sedikit oleh saudara dengan pembacaan doa dan selawat nabi.

Acara merayakan ulang tahun dulunya dianggap kebiasaan orang Belanda, tetapi saat ini perayaan ulang tahun dianggap sebagai kebiasaan cara modern dari masyarakat Arab untuk memperingati hari kelahiran keluarga.

Setelah anak laki-laki menginjak usia akil balik, anak laki-laki akan disunat. Acara sunatan tidak dilakukan acara macam-macam, hanya mengundang keluarga untuk berkumpul untuk mendoakan dan mengucapkan selamat lalu makan bersama.

Ketua Departemen Antropologi UI Yasmien Zaki Shahab juga mengatakan saat ini banyak anak keturunan Arab yang tidak bisa bahasa Arab. Kalaupun dia bisa berbahasa Arab, mereka mendapatkannya dari sekolah.

“Hampir tidak ada yang bisa bahasa Arab di sini, kecuali mereka pendidikan dari sekolah. Dia orang Arab bukan berarti bisa bahasa Arab. Mereka tidak bisa menggunakan bahasa Arab,” ujar Yasmine.

Pernikahan

Upacara pernikahan dalam masyarakat Arab bisa dibilang menjadi hal yang “ribet”. Sebab, ada rentetan ritual yang harus dilakukan para keturuan Arab. Mereka harus melakukan beberapa hal berikut :

Pertama, orang tua biasanya akan mencarikan jodoh untuk anaknya, dibantu para kerabat. Namun, biasanya hal ini hanya  beberapa orang dalam keluarga saja yang tahu. Pernikahan paling afdol biasanya menjodohkan pasangan dari keluarga atau sepupu karena sudah jelas track record-nya.

Kedua, saat kedua pihak merasa cocok, para orang tua akan bertemu untuk membicarakan hal serius. Dilanjutkan dengan meminta kesediaan dari pihak perempuan atas permintaan pihak laki-laki.

Ketiga, diadakan acara meminta dari pihak keluarga laki-laki kepada pihak perempuan. Biasanya acara ini dilakukan oleh kaum ayah.

Keempat, diadakan lamaran dengan melakukan seserahan yang dinamakan midad, yakni membawa berbagai benda, seperti kue-kue, buah-buahan, asesoris perempuan dan lain-lain, dari pihak laki-laki ke pihak perempuan. Biasanya mereka juga membicarakan mengenai tanggal pernikahan dan lainnya.

Biasanya pengantin perempuan lebih sibuk untuk mengurusi persiapan pernikahan daripada pengantin laki-laki karena pengantin laki-laki sudah mempersiapkan uang. Barang untuk lamaran, pakaian pengantin, uang untuk acara “mengunduh mantu” (acara dari pihak laki-laki).

Kelima, pengantin perempuan akan sibuk mengurus berbagai keperluan, seperti mencari tempat resepsi, katering, baju pengantin, foto, undangan, menentukan siapa saja yang terlibat dalam panitia resepsi juga mencari orkes gambus. Masyarakat Arab tidak keberatan untuk menghidangkan acara hiburan gambus di hari pernikahan.

Keenam, malam pacar yang diadakan di rumah calon pengantin perempuan. Pada malam ini, pihak keluarga pengantin perempuan akan menerima tamu keluarga terbatas calon pengantin lelaki, yang khusus untuk kaum perempuan saja tanpa calon pengantin laki-laki. Acara ini dimaksudkan sebagai pelepasan pengantin perempuan yang akan menempuh hidup berkeluarga.

Pengantin perempuan akan didandani dan ditempatkan di pelaminan. Biasanya acara ini dilakukan sehabis salat Isya. Para tamu memberikan sesuatu kepada calon pengantin perempuan berupa perhiasan atau uang.  Lalu pengantin perempuan akan memberikan bubuk pacar ke tangan si pemberi, sebagai ungkapan terima kasih.

Ketujuh adalah hari akad nikah atau agid. Acara akad nikah merupakan acara khusus kaum lelaki, sementara kaum perempuan di tempat terpisah menunggu sambil mendengar proses acara yang sedang berlangsung di ruang sebelah yang dibatasi sekat, tembok, atau kain. Yang terpenting dari acara ini adalah kekhidmatannya.

Proses tersebut antara lain, pembacaan ayat suci Alqur’an. Kedua, khutbah dan nasihat singkat kepada kedua pengantin. Ketiga, pembacaan ijab kabul yang tidak lebih dari satu menit. Pembacaan ijab kabul diawali dengan penjelasan penerimaan dari keluarga pengantin perempuan atas permintaan untuk lamarannya beserta mahar yang disepakati. Lalu dibalas oleh pengantin lelaki dengan mengucapkan, Kabiltu Tatwijaya, Wa nikahaha, Biimahri, Maskur. Setelah selesai mengucapkan ijab kabul, orang yang hadir secara bersamaan akan mengucapkan, Mabruk!

Kedelapan, kunjungan pengantin lelaki ke pengantin perempuan yang menunggu di ruang lain untuk bertemu dan memasukan cincin ke jari masing-masing. Acara setelah ijab kabul adalah milik kaum perempuan, sementara kaum laki-laki dipersilakan untuk mencicipi berbagai hidangan.

Kerabat perempuan akan mengatur acara pertemuan dua sejoli untuk memasukkan cincin ke jari masing-masing. Setelah itu, mereka berdua berjalan menuju pelaminan untuk menerima tamu dalam acara resepsi yang bersifat umum. Ada juga acara resepsi yang ditunda untuk beberapa waktu, jika tempat resepsi terpisah dengan tempat akad nikah.

Secara keseluruhan acara pernikahan di Indonesia dengan keturunan Arab tidak berbeda. Yasmine mengatakan dalam budaya pernikahan orang Arab dengan budaya Betawi tidak jauh berbeda, karena mereka menggunakan baju Middle East dan harus ada makanan kebuli, baik orang Betawi maupun Arab.

“Belum lama ini saya datang ke pernikahan orang Betawi dan kalau tidak ada kebuli itu enggak afdol,” kata Yasmine.

Namun, karena saat ini banyak orang yang memperhatikan kesehatan mereka, maka daging kambing dalam makanan kebuli diganti dengan daging ayam.

Kematian

Proses kematian orang  Arab terbilang singkat dan sederhana, sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Pertama, jenazah akan dimandikan terlebih dahulu. Biasanya pemandian jenazah dilakukan oleh kaum terdekatnya saja. Walaupun sekarang dapat menggunakan pekerja yang profesional dari suatu yayasan yang mengurusi jenazah, tetapi akan tetap mengikutsertakan kerabat terdekat. Hal ini untuk menajaga aib dari yang meninggal, yang secara langsung merupakan juga aib keluarga.

Kedua, setelah dimandikan, jenazah kemudian akan dikainkafankan atau diselimuti kain kafan. Prinsip yang masih dipegang teguh oleh orang Arab, yakni setelah jenazah dikainkafankan, hanya kaum kerabat terdekat saja yang boleh melihat dan menyentuhnya. Sementara yang bukan muhrimnya dilarang keras untuk menyentuh jenazah yang sudah dikainkafankan itu.

Biasanya kaum kerabat akan datang dan membantu. Di rumah yang meninggal, tamu lelaki dipisah dengan tamu perempuan. Tamu lelaki berada di depan dan tamu perempuan akan berada di belakang.

Kalau biasanya di tempat orang yang meninggal disediakan tempat untuk sumbangan sukarela, berbeda dengan orang Arab kalangan Masyeah atau Masyaikh yang merupakan kalangan guru-guru, imam besar dan ulama besar yang mengharamkan hal tersebut.

Kasta masyaeh kebanyakan terafiliasi dengan organisasi Al-Irsyad,  Muhammadiyah dan Persis. Mereka mengharamkan itu, jadi bukan karena keturunan Arab, tapi karena pemahaman teologisnya.

Ketiga, setelah pengurusan surat dan makam selesai, jenazah akan disalatkan di rumah atau masjid. Setelah itu, jenazah dibawa ke pemakaman. Orang Arab akan berebut menggotong jenazah ke pemakaman. Mereka percaya bagi siapa yang menggotong jenazah akan mendapatkan pahala berkali-kali lipat. Seperti acara pernikahan, pemakaman merupakan urusan pihak laki-laki, maka kaum perempuan hanya di rumah saja.

Keempat, pembacaan doa singkat setelah jenazah dimakamkan. Setelah prosesi pemakaman selesai, maka selesai sudah kewajiban kaum kerabatnya untuk mengurusi jenazah. Bagi orang Arab, tidak ada acara lain seperti Yasinan, sedekahan, menabur bunga di pemakaman, ataupun lainnya. Pihak keluarga yang ditinggalkan akan menerima beberapa orang untuk takziah di rumahnya sampai beberapa hari.

Iddah bagi istri yang harus dijalankan selama empat bulan sepuluh hari, setelah suaminya meninggal dunia. Periode iddah tersebut akan berhenti terhitung bila janda itu melahirkan, walaupun belum memenuhi tenggang waktu yang ada. Dalam masa iddah, perempuan dilarang bertemu lelaki yang bukan muhrimnya, kecuali ketika mencari nafkah, dokter, atau pengacara.

Acara pernikahan dan kematian merupakan acara tempat berkumpulnya kaum kerabat dan saudara dekat dari berbagai tempat. Orang Arab akan tersinggung jika dalam kedua acara tersebut mereka tidak diberitahu atau diundang. Mengunjungi orang sakit adalah sebagian dari sunnah Rasulullah SAW yang perlu dilakukan. Oleh karena itu, mereka suka menjenguk orang yang sedang sakit.

Penulis : Fitra Yunita (Universitas Multimedia Nusantara)

Editor : Fadjriah Nurdiarsih

Kirim Tanggapan