Identitas Budaya Orang Betawi dan Upaya Mempertahankan Tradisi

0
339
Sebuah diskusi tentang anak kampung-anak kota dan Identitas Betawi di BBJ Palmerah.

Identitas kebetawian makin terasa akhir-akhir ini saat suhu dan ketegangan politik Pilkada DKI Jakarta semakin panas. Dua dari tiga calon Gubernur DKI berlomba-lomba menampilkan citra diri sebagai dekat dan peduli dengan orang Betawi. Namun, siapakah orang Betawi dan kenapa penting untuk menampilkan identitas kebetawian?

Secara sederhana, orang Betawi adalah orang yang memiliki asal keturunan (genealogis) atau orangtua berdarah Betawi dan telah tinggal di wilayah kebudayaan Betawi setidak-tidaknya lima generasi.

Zeffry Alkatiri dalam Jakarta Punya Cara (2012: 115) menyebutkan berdasarkan sistem pemerintahan Belanda, orang Betawi disebutkan tinggal di wilayah regentschap Batavia, regentschap Meester Cornelis, dan beberapa district dari regentschap Buitenzorg (Bogor), khususnya di district Cibinong dan district Parung. Saat ini orang Betawi dikenal sebagai suatu kelompok etnik yang tinggal di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi).

Yahya Andi Saputra, seperti dikutip Zeffry, menyebut berdasarkan dokumen tertulis (Testamen Nyai Inqua), Betawi sebagai identitas suku bangsa telah dipergunakan jauh sebelum tahun 1644 dalam kehidupan masyarakat di kota benteng Batavia dan di luarnya (Ommelanden).

Yahya menjelaskan, nama Betawi sudah dipergunakan sebagai identitas asal atau sebutan oleh orang lain sejak masa lampau. Misalnya, untuk menyebut seorang syekh terkenal di Kota Mekah yang berjuluk Syekh Juned al Batawi—sebab dia berasal dari Betawi dan bermukim di kota tersebut sejak 1834. Tahun 1858 nama Betawi juga sudah digunakan sebagai nama surat kabar, yakni Soerat Chabar Betawi dan kemudian berturut-turut Bintang Betawi (1900-1906) serta Berita Betawi (1932).

Semakin  berjalannya tahun, identitas kebetawian memang masih tampak dan dijalankan, meski ingar-bingarnya tak terlalu terasa. Di perkampungan yang masih kental dengan cirinya sebagai perkampungan Betawi, anak-anak usia sekolah akan berduyun-duyun ke langgar atau musala untuk belajar mengaji dengan seorang guru ngaji. Pada masa-masa tertentu, misalnya bulan Ramadan, akan diadakan imtihan atau setoran hapalan surat-surat oleh guru ngaji terhadap muridnya. Sebelum masuk Ramadan malah dikenal tradisi nyorog—yakni membawakan makanan bagi orang yang lebih tua.

Betawi dengan Islam seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Karena itulah, orang Betawi senang sekali menyandungkan selawat atau puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW. Ini lantaran orang Betawi secara umum adalah penganut ahlussunnah wal jamaah. Selawat banyak dinyanyikan dengan rebana pada perayaan Maulid Nabi, Isra Mikraj, dan bahkan acara pengajian atau arisan. Selawat ini pun banyak macamnya, sesuai dengan kegunaannya.

Beberapa jenis selawat itu adalah (1) selawat dustur, dibaca sewaktu ada keperluan pindah rumah, pergi haji, mengarak pengantin, hendak bermukim di pesantren, dan memulai suatu taklim; (2) selawat burdah, dibaca sewaktu akan memulai pengajian; (3) selawat al barjanzi natsar—dari kata “berjanji”, dibacakan sebagai nyanyian pada waktu acara tujuh bulanan, ketika seseorang selesai menamatkan Alquran, pada upacara peringatan daur hidup dan hari-hari besar Islam; (4) selawat Nariyah, dibaca untuk pengobatan, baik ketika akan meramu obat atau mengobati penyakit; (5) selawat badar, dibaca untuk menyambut tamu atau sebelum latihan silat; (6) selawat badriyah, dibaca serupa nyanyian pada tiap acara keagamaan, khususnya untuk mengabarkan jemaah datang ke suatu pertemuan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Orang Betawi zaman dulu punya nama relatif sederhana, satu suku kata, seperti Mamat, Marwiyah, Asnawi. Sebelumnya nama orang Betawi terpengaruh dari kebudayaan pra-Islam, seperti Jampang, Jantuk, dan Niman. Namun anak Betawi sekarang sudah punya nama yang terdiri atas 2-3 kata. Bahkan, beberapa mengambil nama modern yang terpengaruh unsur Barat, seperti  Nesyana, Shakira, atau Kenzie.

Orang Betawi pada mulanya terkenal pedagang. Banyak yang berprofesi sebagai pedagang kambing di Tanah Abang, pedagang ikan di Rawabelong, atau pedagang buah-buahan dari Pasar Minggu. Sebagian lagi berprofesi sebagai penjual jasa, misalnya tukang cukur rambut, tukang memandikan mayat, sopir, atau dukun beranak. Di kemudian hari profesi ini dianggap tidak bergengsi, sehingga kebanyakan memilih menjadi PNS. Namun sekarang banyak pula yang bekerja di sektor swasta, kepolisian, atau angkatan bersenjata.

Guru dan ulama adalah profesi yang banyak dipilih orang Betawi karena mereka meyakini pahala yang diterima dari pekerjaan ini tidak akan putus-putus, bahkan hingga ke liang kubur. Karena itulah, pada 1990-an ada pameo IKIP dan IAIN menjadi dua kampus yang banyak diburu oleh orang Betawi.

Di beberapa kampung di Jakarta, keberadaan orang Betawi semakin tergusur. Mereka pun berupaya mempertahankan identitas kebetawian ini dengan beragam cara, salah satunya melalui organisasi. Dalam organisasi inilah identitas kebetawian makin dipertahankan, melalui aksesori seperti pemakaian baju sadariah dan celana pangsi, batik Betawi, serta yang lainnya.

Di kampung saya di Kebagusan, sejak dasawarsa lalu sudah berdiri Ikatan Warga Betawi Kebagusan (IWBK). Sayangnya organisasi belum berperan optimal dalam pengembangan budaya Betawi. Seringnya organisasi ini hanya bersifat kumpul-kumpul dan arisan. Beberapa kali memang pernah mengadakan lomba dalam rangka ulang tahun Jakarta, tetapi pelaksanannya di tahun-tahun kemudian tersendat lantaran tidak ada dana operasional.

Sementara di belahan Jakarta dan sekitarnya, dua organisasi lain: Forkabi dan FBR, seringkali dicap buruk sebagai tukang rampas, begal, dan tukang palak. Karena itulah, identitas kebetawian ini perlu lagi untuk didefinisikan ulang, seperti apa maunya orang Betawi dicitrakan?

Apalagi kini banyak orang Betawi yang tersingkir dari tanah kelahirannya akibat tergusur ataupun menjual tanah. Orang Betawi yang dianggap mempunyai tanah banyak malahan kini dicap sebagai tukang jual tanah, itu pun dengan harga murah. Sebagian tergiur dengan rayuan para makelar dan kemudian bermewah-mewahan. Ditambah dengan kalah saing dan adanya persaingan antara pribumi dan pendatang, posisi orang Betawi pun semakin terjepit. Akibatnya, banyak orang Betawi yang kini tak punya modal dan aset, sampai-sampai harus mengontrak rumah.

Memang bagi sebagian orang Betawi, harta bukanlah tujuan utama. Mereka bahkan bisa membicarakan kemiskinan sambil tertawa-tawa, karena begitu besarnya konsep penerimaan akan takdir dan nasib. Orang Betawi percaya bahwa rejeki, sedikit atau banyak, sudah ditetapkan Tuhan, sehingga tak perlu berlebih-lebihan dalam menjemputnya.

Namun, akhir-akhir ini kesadaran untuk menjadikan Betawi sebagai tuan rumah di kampungnya sendiri tampaknya semakin menguat. Orang Betawi yang merasa tersingkirkan sekian lama mulai mempergunakan identitas kebetawiannya sebagai penguat untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan posisi Jakarta sebagai Ibu Kota dengan penduduk multikultural dan kaum Betawi tidak sebagai mayoritas, tantangan ini tentu semakin berat.

Yang menggembirakan, Perda Pelestarian Budaya Betawi telah disahkan oleh DPRD Jakarta sejak dua tahun lalu, kini tujuh warisan budaya tak benda juga telah disahkan, menyusul beberapa lainnya yang dinominasikan. Tantangan besar pun menunggu agar hal ini bisa dimanfaatkan sebagai identitas kebetawian yang membanggakan, bukan sebagai bahan “nyinyiran” dan dicap sebagai meminta keistimewaan belaka.

 

 

 

Kirim Tanggapan