Kue Dongkal, Menguarkan Kenangan Masa Kecil

0
973

Bentuknya unik dan menarik, seperti sebuah gunungan dengan lelehan gula merah. Asap akan mengepul begitu kue ini matang dan diangkat dari kukusan. Melihatnya sekilas saja akan terbitlah air liur dan hasrat untuk menyantapnya.

Kue dongkal memang sudah jarang ditemui di Jakarta. Tidak jelas apa yang membuat kue ini menjadi langka. Pun, tak banyak orang yang bisa membuatnya lagi.

Irwan, pedagang kue dongkal yang saya temui di Jalan Antasari, Jakarta Selatan, mengatakan banyak kue sejenis ditemui di Indonesia. “Kalau di Bandung namanya uwug, di Batak namanya ombus-ombus,” ujarnya menjelaskan pada saya, Senin petang, 3 April 2017.

Bahan-bahan membuat kue dongkal tak rumit. Kita hanya perlu menyiapkan tepung beras, gula merah, garam, kelapa parut, dan daun pandan. Semuanya dicampur dan disusun dengan komposisi tertentu, dimasukkan secara bergantian ke dalam kukusan dari anyaman bambu yang berbentuk mirip topi pak tani. Adonan dan gula merah dimasukkan silih berganti, lalu dikukus menggunakan kukusan tradisional tinggi berpinggang. Dan voila, dalam jangka waktu tak berapa lama kue dongkal sudah siap disantap.

Kue dongkal memang lebih nikmat disantap panas-panas. Oleh karena itu, adonannya tidak dibuat dalam jumlah banyak. Jika ada pemesan, barulah kue dibuatkan. Lagipula, waktu untuk membuatnya tidak terlalu lama, sekitar 7-10 menit, sehingga penjual dengan mudah dapat membuatnya secara berulang-ulang.

Di Betawi, kue ini mungkin dikenal dari bentuknya yang mirip gunung. Namun di tempat lain ada juga yang dibuat dalam versi kecil dan dibungkus dengan daun pisang, misalnya iwel-iwel. “Ada juga yang diremas dengan tangan dan gula merahnya dimasukkan asal saja sekenanya, contoh pohul-pohul,” ujar Irwan.

Aslinya kue dongkal dibakar dengan kayu, sehingga rasanya pun lebih kuat. Namun, dengan alasan kepraktisan, banyak juga yang sudah mempergunakan kompor gas. Seperti Irwan, yang menaruh gerobaknya di dekat Hotel Amarossa Cipete. Setiap sore mulai jam 5 dia akan berangkat dari rumahnya di bilangan Cipete menuju tempatnya berjualan.

Pembeli kue dongkal buatan Irwan pun lumayan banyak. Saat ada pembeli, dia akan memotong kue dengan bentuk tumpeng beralur lapis gula merah dan putih ini, lalu dimasukkan dalam boks. Satu boks kecil seharga Rp 10.000 dan boks besar Rp 15.000. Jika ingin lebih “mewah”, Irwan memasukkan serutan keju cheddar sebagai pengganti taburan kelapa. Untuk ini Anda hanya harus menambah Rp 3000.

Bagaimana rasanya? Saat saya mencicipinya, bisa dibilang tekstur dan rasanya mirip dengan kue putu yang dicetak dengan potongan bambu. Suara tukang kue putu yang khas dengan asap lilinnya mengingatkan saya akan masa kecil di kampung. Saat itu, begitu mendengar lengkingan khas kue putu, tentu saya akan langsung keluar rumah dan membelinya. Kue dongkal ini pun cukup menguarkan memori manis di masa kecil.

Kue dongkal tampaknya cukup diminati, terbukti saat saya membeli pada Senin petang, 3 April 2017, pembeli datang silih berganti ke lapak Irwan. Oleh sebab itu, sayang sekali bila dongkal, kue khas Betawi ini, justru semakin langka dan sulit ditemukan di Jakarta.

Kirim Tanggapan