Folklor Betawi: Asal-usul Lahirnya Silat Beksi

0
997
Silat Beksi Foto: Fidelio Omar

Seorang laki-laki tampak sedang sibuk mengawasi tanahnya yang luas. Gow Hok Boen, tuan tanah Kedaung, didampingi centeng kepercayaannya yang bernama Ki Kenong. Ia memastikan setiap ikatan padi yang dibuat oleh para pekerjanya tepat benar dan tidak ada yang dikurangi. Sebab kalau ada yang berani mencuri, Gow Hok Boen tidak segan-segan menugaskan Ki Kenong untuk menghabisi nyawa orang tersebut.

“Apa sudah penuh lumbung kita, Ki Bagus?” tanya Gow Hok Boen pada Ki Bagus yang sehari-hari bertugas mencatat hasil panen.

“Bagus sekali hasil panennya, Baba. Sebentar lagi lumbung kita akan penuh. Hasil panen ini bisa untuk penjualan enam bulan ke depan, Baba!” jawab Ki Bagus.

“Cakep sekali,” ujar Gow Hok Boen. “Jangan lupa berikan upah mereka 12 sen per hari, ya. Dan untuk kalian para penjaga kowe akan siapkan tayuban yang paling kesohor seantero Kedaung,” ucap Goe Hok Boen sambil tersenyum senang.

Ki Bagus dan Ki Kenong menepuk-nepukkan tangan tanda kegirangan. Meski sebagai juru catat dan centeng gaji keduanya sudah sangat lumayan, mereka masih suka mengutip bayaran dari para pemetik padi. Dari 12 sen jatah per orang, masing-masing masih mengutip satu sen, sehingga para pekerja hanya mendapatkan 10 sen saja per hari.

Adapun Gow Hok Boen tidak tahu kelakuan curang kedua orang suruhannya ini. Kalau tahu, tentulah ia sangat marah, sebab ia tak suka perbuatan curang. Ia mahfum jika para pekerja sudah memberontak, akan sulitlah baginya menjalankan bisnis. Maka pembayaran yang tepat sangat penting. Ia juga memelihara para jago dan tukang pukul atau centeng. Selain bertugas mengawasi sawah miliknya, para centeng juga ditugaskan memungut pajak dari rakyat yang bertanam padi.

Setelah padi-padi dikumpulkan, semuanya akan disetor oleh Gow Hok Boen kepada pemerintah kolonial Belanda di Karesidenan Jakarta sebagai ransum bagi pasukan mereka yang sangat banyak. Karena pekerjaannya amat baik dan Gow Hok Boen juga royal, banyak para pembesar Belanda yang amat suka padanya.

Selain keroyalan dan kebagusannya dalam berkata-kata, Gow Hok Boen juga dikenal sangat menyukai seni bela diri. Seperti lazimnya peranakan Cina, ilmu bela diri yang dikuasai Gow Hok Boen adalah kun tao dan kung fu. Di antara para jagoannya, Ki Kenong—kepala centeng—adalah yang memiliki ilmu bela diri paling mumpuni. Kehebatan ilmu bela dirinya sangat terkenal lantaran konon ia mencampurnya dengan ilmu sihir.

Ki Kenong memiliki keistimewaan dapat mengeluarkan bunga-bunga api dari kibasan pukulan tangannya. Karena ilmunya yang sangat tinggi itulah, senjata pamungkasnya membuat Ki Kenong tak dapat dikalahkan oleh para jago di sekitar Tangerang pada saat itu, sekitar abad ke-19.

Untuk memuaskan kesukaannya akan seni bela diri, Gow Hok Boen menggelar sayembara seni bela diri. Salah satu tujuannya adalah untuk mencari kepala centeng yang lebih hebat lagi dari Ki Kenong. Gow Hok Boen memang tidak mau berpuas diri dan terus mencari jago-jago yang terbaik.

Sayembara unjuk kekuatan itu pun diadakan setiap malam minggu di tanah lapang dekat rumah Gow Hok Boen. Usut punya usut, laporan mengenai Ki Kenong yang suka mengutip upah para petani sudah sampai ke telinga Gow Hok Boen. Karena itulah, ia ingin menggantikan posisi Ki Kenong dengan orang lain. Maka Gow Hok Boen menggelar syarat: barang siapa bisa menggantikan Ki Kenong, akan diangkatnya menjadi centeng kepercayaannya dan memperoleh harta yang cukup seumur hidup.

Demi mendengar tawaran yang menggiurkan itu, berbondong-bondong orang datang berusaha mengalahkan Ki Kenong. Namun, belum seorang pun yang dapat menjatuhkan centeng yang memang punya ilmu hebat itu. Sayembara pun dilakukan terus selama beminggu-minggu karena Gow Hok Boen penasaran dengan mitos kekuatan Ki Kenong.

“Masak kan tak ada yang bisa mengalahkannya? Pasti ada meski cuma satu orang, satu orang saja yang bisa menyaingi ilmu Ki Kenong,” ucap Gow Hok Boen suatu kali ketika sayembara usai.

Harapan Gow Hok Boen tampaknya akan berhasil, meski dengan cara yang tidak disangka-sangka. Ada seorang pedagang singkong rebus yang diaurkan dengan kelapa selalu mengamati setiap jagoan yang hendak mengalahkan Ki Kenong. Pedagang ini seorang bapak yang cukup tua, mungkin kira-kira 50 tahun bernama Pak Jidan. Dia berasal dari Kampung Teluk Naga.

Meski berusia paruh baya, Pak Jidan cukup gesit gerakannya dan matanya awas. Dia bisa berjalan dari Kampung Teluk Naga yang cukup jauh sambil mendorong gerobak tanpa merasa kelelahan. Selain itu, singkong rebus jualannya memiliki rasa yang lain daripada yang lain, sehingga membuat setiap orang yang memakannya merasa ketagihan.

Rupanya, singkong ini diambilnya dari hutan yang ada di pinggir pantai dekat rumahnya. Singkong ini ditemukan Pak Jidan secara tidak sengaja dan sangat ajaib. Kenapa ajaib? Karena diambil berapa kali pun tidak pernah habis. Diambil sekeranjang tidak habis, diambil dua keranjang tidak habis, bahkan diambil sepuluh keranjang pun juga tidak habis. Begitu terus sampai berhari-hari. Namun Pak Jidan tidak ambil pusing. Dia merasa singkong itu adalah karunia dari Allah.

Namun suatu sore, saat Pak Jidan tengah beristirahat di dalam rumahnya sebelum berangkat melihat sayembara, muncullah seorang pemuda misterius memberi salam.

“Assalamu ‘alaikum,” ujar pemuda itu.

Pak Jidan pun buru-buru mempersilakannya masuk.

“Waalaikum salam. Wahai pemuda, coba terangkan siapa dirimu dan apa maksudmu ke rumahku,” ucap Pak Jidan.

“Hai Pak Tua, apa kamu benar-benar tidak tahu siapa saya? Beberapa bulan yang lalu saya selalu kemalingan. Namun, setelah saya selidiki, ternyata Bapak yang mengambil singkong milik saya di hutan. Coba Bapak terangkan, kenapa Bapak mengambilnya?”

“Maafkan saya, anak muda. Saya tidak tahu bahwa singkong itu milikmu. Saya kira itu singkong liar karena tumbuh di hutan.”

Anak muda itu tersenyum. “Pak tua, kalaulah itu singkong liar, masak ‘kan tumbuh sebagus itu?” ujarnya.

“Setiap hari saya bersusah payah supaya singkong itu dapat tumbuh subur. Saya memacul tanahnya dan menyiraminya agar tumbuh subur. Tahu-tahu Bapak enak-enak saja mengambilnya. Coba Bapak jadi saya, apakah Bapak ikhlas?” tanya pemuda itu.

Pak Jidan buru-buru bersimpuh sambil mengatupkan kedua tangannya. “Maafkan saya, Den Bagus. Sungguh saya tidak tahu bahwa singkong itu ada pemiliknya,” ujar Pak Jidan sambil gemetar.

“Saya terpaksa melakukan hal itu untuk memenuhi kehidupan keluarga saya yang miskin. Saya ini cuma orang susah dan pedagang kecil-kecilan. Maafkan saya, Den. Maafkan saya,” ujar Pak Jidan mulai menangis.

“Bangunlah Pak Jidan, jangan terlampau takut kepadaku. Bapak saya maafkan, asalkan berjanji tidak mengulanginya lagi,” ucap si pemuda.

“Nah, karena Bapak orang miskin, bersediakah Bapak saya tolong?” ucap si anak muda.

“Ampun anak muda, dengan cara apakah saya bisa membalas kebaikan anak muda,” jawab Pak Jidan.

Jangan begitu Pak Tua, kita semua harus saling menolong sesama manusia,” ucap anak muda itu. “Sekarang siapkan sesaji dan dupa, lalu bukalah pakaian Bapak,” ujar anak muda misterius itu.

“Kenapa begitu, Den Bagus. Saya ini sudah tua, malu tubuh saya sudah renta,” ujar Pak Jidan.

“Sudah, Bapak dengarkan saja ucapan saya,” ucap anak muda itu. “Saya akan memberikan ilmu yang akan mengubah hidup Bapak. Saya jamin Bapak akan baik-baik saja,” ujarnya.

Ternyata anak muda itu mengajari Pak Jidan jurus maen pukulan atawa silat. Gerakan anak muda misterius itu sangat lincah, memamerkan delapan jurus ilmu yang belum pernah diketahui siapa pun juga. Dan anehnya, berkat mantera rahasia, Pak Jidan mampu mempraktikkan ilmu itu dengan mudah hanya dalam tempo satu jam saja.

“Pak Jidan yang baik, saya hanya bertugas mengajarkan delapan jurus saja. Sisanya ada empat jurus lain, akan diajarkan oleh orang lain. Tugas saya dari Yang Maha Kuasa selesai hanya sampai di sini. Kalau Bapak membutuhkan bantuan saya, silakan bakar kemenyan putih sambil mengucapkan mantera yang saya ajarkan. Pasti saya akan datang membantu Bapak.”

Pak Jidan terkejut mendengar ucapan orang itu yang ternyata bukan orang sembarangan. Setelah mengucapkan salam perpisahan, tamunya langsung membalikkan badan dan menghilang. Asap putih pun keluar dari bagian punggung sang tamu dan Pak Jidan seolah-olah melihat sesosok macan putih berekor belang.

“Astaga, apakah itu Ki Belang?” pikir Pak Jidan sambil menggosok-gosokkan matanya. Ki Belang adalah penunggu hutan yang terkenal sangat sakti mandraguna.

Keesokan harinya, Pak Jidan terbangun sambil berpikir mengenai kejadian semalam yang sangat aneh dan tak masuk akal. Ia pun bermimpi mengenai kedatangan Ki Belang. Dalam mimpinya, Ki Belang dalam wujud macan putih berkata, “Amalkan dengan yakin segala ilmu yang sudah saya berikan, lalu jangan lupa berpuasa dan berwitir agar kebal dari segala senjata tajam.”

Rupanya keadaan Pak Jidan yang aneh saat bangun tidur itu disadari betul oleh istrinya. Kebetulan pasangan ini tidak dikaruniai anak seorang pun meski sudah bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga.

“Ada apakah, Pak? Kenapa wajah Bapak pucat?” tanya Umi, istri Pak Jidan.

“Tak apa-apa, Bu. Barangkali masuk angin saja,” ujar Pak Jidan. Ia sendiri bingung bagaimana caranya menjelaskan peristiwa itu kepada istrinya.

Pada malam Minggu berikutnya, Pak Jidan pun kembali berjualan di tanah lapang dekat rumah tuan tanah Gow Hok Boen. Karena telah berjanji tak mengambil singkong rebus di hutan, kali ini Pak Jidan membeli singkong rebus dari tetangganya dan menukarnya dengan sejumlah kayu bakar yang didapatinya di pinggir sungai. Ia tak mau masuk lagi ke dalam hutan karena masih ingat dengan janjinya pada Ki Belang untuk mengamalkan ilmu maen pukulan tersebut.

Acara sayembara yang dilakukan oleh tuan tanah Kedaung itu sudah berjalan kurang lebih dua bulan lamanya, sehingga antusias warga juga semakin besar. Mereka ingin tahu siapakah yang akhirnya bisa mengalahkan Ki Kenong. Saat itu dagangan Pak Jidan juga laris seperti biasanya. Namun jawara-jawara yang datang ternyata berulah. Salah seorang di antaranya menolak membayar dagangan Pak Jidan yang sudah diambilnya. Pak Jidan pun sangat kesal. Adu mulut di antara mereka pun tak bisa terelakkan lagi.

“Bayar dong, Den. Masak mau makan gratis,” kata Pak Jidan.

Namun, jawara itu rupanya naik darah mendengar teguran Pak Jidan, sehingga berusaha memukulnya. Tanpa disangka, pukulan jawara itu berhasil ditangkis Pak Jidan. Sang jawara pun terkapar ke tanah oleh seorang bapak tua.

Gow Hok Boen yang melihat kejadian itu pun merasa kagum. Ia mengundang Pak Jidan untuk beraksi melawan Ki Kenong. Pak Jidan merasa degdegan, tapi ia ingat pesan Ki Belang: harus yakin!

“Begini Tuan, sebelumnya saya minta izin dulu untuk membasuh muka ke belakang,” ujar Pak Jidan.

Setelah membasuh muka melalui air pancuran yang terasa menyegarkan. Pak Jidan pun membaca mantera untuk memanggil Ki Belang. Ia mengharapkan bantuan Ki Belang dalam pertandingan yang terasa akan memberatkan dirinya itu.

Komunikasi supranatural pun terjadi. Intinya, Ki Belang sepakat untuk membantu Pak Jidan menghadapi Ki Kenong. Maka, kembalilah Pak Jidan ke arena pertandingan dengan penuh percaya diri. Kehadirannya pun disambut dengan sorak-sorai oleh rakyat yang mengharapkan hadirnya pahlawan baru.

Pertandingan itu mula-mula berlangsung seimbang. Namun lama-kelamaan Pak Jidan unggul. Orang-orang yang menontonnya seolah-olah melihat Pak Jidan mengeluarkan ajian pamungkas berupa “Pukulan Tangan Berapi” yang merupakan jurus andalan Ki Kenong. Mereka merasa heran melihat bagaimana Pak Tua mampu menguasai jurus lawannya dalam waktu singkat.

Berkali-kali semburan api mengenai bagian tubuh Ki Kenong sampai Ki Kenong tak bisa bergerak lagi. Sementara Pak Jidan bergerak lincah ke seluruh penjuru mata angin dan badannya tak terluka sedikit pun oleh aneka jurus yang dilancarkan Ki Kenong. Sampai pada akhirnya, pukulan maut Pak Jidan, yang disebut jurus baroneng, merubuhkan Ki Kenong. Centeng pongah itu jatuh tersungkur dan dapat dikalahkan.

Rakyat bersorak-sorai karena Ki Kenong dapat dilumpuhkan oleh orang yang berusia dua kali lipat usianya. Sementara sang tuan tanah, Gow Hok Boen, terkagum-kagum sekaligus penasaran dengan ilmu yang dimiliki oleh Pak Jidan.

“Hai Bapak, ke sinilah kowe mau bicara,” ujar Gow Hok Boen.

“Siapa nama Bapak?” tanya Gow Hok Boen dengan sikap yang lebih bersahabat.

“Nama saya Jidan, Tuan,” ujar Pak Jidan sambil menyembah. Dia adalah rakyat kecil, sehingga merasa ngeri juga ditanya sedemikian rupa.

“Pak Jidan, karena Bapak telah mengalahkan Ki Kenong, kini Bapak kowe angkat sebagai kepala centeng,” ujar tuan tanah Kedaung sambil disambut sorak-sorai orang-orang.

“Tapi sebelumnya, kowe ingin tahu dulu apa nama ilmu main pukulan yang tadi Bapak tunjukkan,” tanya Gow Hok Boen.

“Nah, itulah Tuan. Saya sendiri tidak tahu apa namanya karena yang ngajarin saya pun tidak menyebutkan apa namanya,” ucap Pak Jidan.

Gow Hok Boen tampak berpikir sebentar sambil mengusap-usap jenggotnya. “Baiklah Pak Jidan, kalau begitu, jurus Bapak kowe beri nama beksi. Bek artinya pertahanan dan si artinya empat penjuru mata angin. Sebab di mata kowe Bapak seperti mengonci empat arah mata angin,” ujar Gow Hok Boen senang karena telah menemukan nama yang pas.

Selanjutnya Bapak Jidan pun berjuluk Ki Jidan. Di kemudian hari, namanya kesohor sebagai orang yang mengajarkan ilmu main pukulan beksi ke seantero Batavia dan daerah sekelilingnya. Hingga kini pun, ilmu beksi masih dipelajari dan diwariskan.

 

Kirim Tanggapan