Orang Betawi, Perempuan, dan Peranannya

0
596
Diskusi soal perempuan Betawi di Setu Babakan, Minggu, 23 April 2017.

 

Dalam rangka memperingati Hari Kartini—tokoh yang dianggap menjadi tonggak gerakan emansipasi perempuan Indonesia, Betawi Kita bersama IP2SB (Ikatan Perempuan Pencinta Seni dan Budaya Betawi) menggelar diskusi bertema “Orang Betawi, Perempuan dan Peranannya”. Berkaitan dengan hal itu, ada tiga hal yang akan menjadi fokus pembicaraan pada diskusi hari ini sesuai dengan tema di atas.

Pertama adalah, siapakah orang Betawi?

Secara populer, orang Betawi didefinisikan sebagai suku bangsa di daerah Jakarta dan sekitarnya yang merupakan perpaduan antara atau hasil proses asimilasi antara penduduk pribumi yang sudah lama menghuni daerah Jakarta dengan suku-suku bangsa lainnya yang datang sebagai penghuni baru. Yakni orang Banten, orang Jawa, orang Bugis, orang Makassar, dan sebagainya. Kemudian terjadi pula proses asimilasi antara penduduk pribumi dengan pendatang-pendatang bangsa asing, seperti orang Cina, Portugis, India, dan Arab (Budiaman et al, 1979: 17).

Jadi orang Betawi merupakan hasil proses asimilasi antara penduduk pribumi dengan berbagai unsur luar yang bercampur dalam jangka waktu yang lama, kira-kira selama tiga abad, sejak abad ke XVI. Pada masa ini terbentuklah satu suku baru yang dapat dibedakan secara sosio-kultural dengan kelompok lainnya berdasarkan adat kebiasaannya, cara berpakaiannya, sampai bahasa dan kesenian.

Hal ini ditegaskan oleh Abdul Chaer (2012: 5) yang menyebut selain terjadi proses pembentukan satu “etnik” di wilayah yang kini bernama Jakarta (dan sekitarnya), telah ada satu etnik yang merasa dirinya orang Melayu atau orang Selam (Islam), dan kelak disebut orang Betawi, yang memiliki bahasa, budaya, adat istiadat, dan tradisi-tradisi tersendiri. Malah dalam gerakan kebangsaan mereka pun telah punya organisasi yang disebut Pemoeda Kaoem Betawi dan terlibat aktif dalam Sumpah Pemuda dan Kongres Pemuda II tahun 1928.

Dalam diskusi Betawi Kita ke-12 di Condet, Dr Hasan Djafaar, arkeolog Universitas Indonesia, menyatakan di daerah Jakarta dan sekitarnya banyak ditemukan situs arkeologi prasejarah. Di Jakarta sendiri ada 43 situs, termasuk di Condet, Balekambang, Cililitan, Jakarta Timur. Berdasarkan penggalian, ia menyimpulkan sudah ada kehidupan di sepanjang DAS Ciliwung sejak 5000 tahun yang lalu. Artinya, pada zaman prasejarah, sudah ada orang pribumi asli yang bertempat tinggal di Condet.

Orang Betawi merupakan suatu kelompok etnis dengan ciri-ciri: memegang adat istiadat dengan teguh dan terikat kepada agama Islam secara ketat. Orang Betawi sangat fanatik sikapnya terhadap agama yang dianutnya. Hampir seluruh adat kebiasaan orang Betawi diwarnai dengan unsur agama Islam, sehingga sukar untuk memisahkan antara tradisi yang menurut adat dan yang berdasarkan agama. Bisa dibilang, keduanya telah berpadu dalam setiap aspek kehidupan orang Betawi.

Penelusuran ini penting untuk membahas kiprah perempuan Betawi, yakni mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai orang Betawi berdasarkan garis keturunan, tempat lahir, maupun kesadaran pribadi.

Sebagai suatu kelompok etnik, kaum perempuan Betawi umumnya penganut agama Islam yang taat (religius) dengan ikatan primodial yang kuat. Hal ini dapat dilihat dari perkumpulan-perkumpulan masyarakat Betawi yang membentuk ikatan sosial keagamaan secara kental, seperti majelis taklim atau pengajian, selain kepatuhan terhadap panutannya (kiai/ajengan) (Ita Syamsiah Ahyat, 2014: 2).

Ridwan Saidi dalam Lexicografi Sejarah dan Manusia Betawi Jilid II menyebutkan, “Perempuan Betawi itu umumnya cantik. Kulitnya putih atau kuning langsat. Lehernya jenjang dan jakunnya tidak bejendol. Rambutnya hitam dan banyak yang berombak. Matanya hitam bersinar. Bulu matanya lentik. Hidungnya bangir tanpa bulu hidung yang berebutan nongol keluar lubang seperti tentara yang lari serabutan dari benteng yang terkepung. Bibirnya  tipis dan tidak tebal, apalagi memble. Bertinggi 1,65-1,75 m. Perempuan Betawi jarang yang katai. Tutur katanya amat halus. Amat tercela anak perawan berbicara cowong.”

Dalam berbagai kisah folklor Betawi, karakter perempuan Betawi secara umum dicitrakan baik. Misalnya saja dalam kisah Ariah, seorang tokoh perempuan yang memilih mati mempertahankan harga dirinya dibanding menjadi “simpanan” seorang hartawan yang tak bermoral. Ada juga kisah Mayangsari dan Jampang atau Mirah dari Marunda yang menunjukkan keberanian dan keteguhan memegang prinsip. Sementara Nyai Dasima, yang merupakan kisah nyai paling populer di Betawi, dalam sebuah versi digambarkan memilih meninggalkan kekayaan dan tuannya yang berkulit putih serta kembali memeluk agama Islam, hingga dipersunting Samiun—seorang sais dokar. Sayang Dasima kemudian bernasib tragis.

Pada zaman sekarang, kita dapat menemukan berbagai macam profesi yang dijalankan oleh perempuan di Betawi. Namun, pandangan umum masihlah belum baik. Ada hambatan-hambatan, baik dari luar maupun dari dalam sendiri, yang menyebabkan kaum perempuan Betawi belum mencapai posisi yang menggembirakan.

Berdasarkan penelitiannya pada 1997, Ita Syamsiah Ahyat dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menyebutkan ciri-ciri orang Betawi (hlm. 17):

  • Boros dan hanya memikirkan hari ini
  • Suka menjual tanah warisan untuk keperluan yang tidak penting
  • Ingin hidup senang tapi tidak mau berusaha
  • Cepat puas
  • Konsumtif
  • Suka memanjakan anak
  • Kuat agama
  • Patuh pada orangtua
  • Rajin sembahyang dan mengaji
  • Orientasi hidup untuk akhirat
  • Bicara bebas
  • Tidak ada stratifikasi bahasa
  • Bicara keras
  • Berkelakuan kasar
  • Cerewet
  • Tidak mau kalah bicara
  • Ngambek
  • Menjauhkan diri dari golongan non-Islam
  • Ramah
  • Suka menolong sesama
  • Terbuka, demokratis
  • Optimistis
  • Kurang memiliki kecemburuan untuk maju
  • Tidak mau berkembang
  • Tidak kritis
  • Apriori terhadap gagasan orang lain
  • Enggan menerima nilai-nilai budaya modern
  • Jarang mengkonsumsi media massa
  • Pendidikan relatif rendah
  • Saat ini sudah banyak yang berpendidikan tinggi
  • Pria lebih terdidik dari wanita

Secara umum, berdasarkan hasil wawancara Ita Syamtasiyah Ahyat, ada beberapa kendala yang dihadapi perempuan Betawi untuk lebih mengembangkan potensi-potensinya, termasuk kungkungan budaya patriarki dan agama. Bagi perempuan yang telah menikah, izin suami sangat diperlukan. Sementara tidak banyak laki-laki Betawi yang suka membiarkan istrinya aktif di luar rumah. Para istri hanya diizinkan mengurus anak dan pergi ke majelis taklim. Sehingga bahkan beberapa perempuan, dalam penelitian Ita Syamtasiyah Ahyat, lebih memilih tidak menikah dengan laki-laki Betawi.

Tutty Hasinah Haryono Suyono, istri Haryono Suyono yang mantan Menteri BKKBN, dalam suatu wawancara blakblakan mengatakan, kalau dirinya menikah dengan orang Betawi, ia merasa tidak akan maju. Pasalnya, ia beranggapan orang Betawi biasanya mengkehendaki perempuan ada di rumah. Jadi tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup bisa mengaji, mengurus anak, dan mengabdi pada suami. Mirisnya, pandangan semacam ini selalu ada sejak dulu hingga sekarang.

Yang menarik, secara sekilas saya menemukan adanya perbedaan profesi pada kaum perempuan di Betawi Tengah, Betawi Pinggir, dan Betawi Udik/Ora. Pada perempuan di kawasan Betawi Tengah, mereka umumnya lebih terpapar dengan komunitas yang lebih heterogen, sehingga menumbuhkan daya saing lebih. Orang Betawi Tengah pada umumnya berhasil mencapai pendidikan tinggi (universitas), bahkan banyak anak-anak mereka yang berkuliah di luar negeri. Organisasi-organisasi Betawi seperti KMB (Keluarga Mahasiswa Betawi), Forum Studi Mahasiswa Betawi, PWB (Persatuan Wanita Betawi), Ikatan Dokter Betawi, Yayasan Sirih Nanas, LKB, dan Bamus Betawi pun kebanyakan anggotanya adalah orang Betawi Tengah dan Betawi Pinggir.

Sementara bagi orang Betawi Pinggir, pendidikan agama adalah yang utama. Anak-anak Betawi di wilayah Betawi Pinggir biasanya disekolahkan di madrasah atau pesantren. Atau bila bersekolah umum, biasanya sorenya dimasukkan di madrasah. Jadi agama tidak dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari. Alhasil, ciri keislaman pada Betawi Pinggir lebih menonjol dan bertahan.

Sejalan dengan itu, ada pameo di kalangan orang tua, bahwa profesi bagi anak perempuan Betawi hanyalah jadi guru atau ustazah. Karena itu, IKIP (UNJ) dan IAIN adalah dua perguruan tinggi yang populer bagi generasi Betawi, utamanya tempo dulu. Kaum tua Betawi beranggapan, profesi yang baik adalah yang menumpuk amal hingga ke akhirat. Selain itu, perempuan Betawi tidak diharapkan mencari kekayaan dari profesinya karena itu dianggap berdosa. Sehingga, jika ada perempuan yang terlalu giat bekerja, akan dicap tidak bersyukur dan serakah akan harta.

Berdasarkan penelitian Profesor Yasmine Zaki Shahab (1997), di Madrasah Darul Ulum di Arab Saudi, anak-anak Betawi merupakan mayoritas dengan terbanyak dari Mampang Prapatan, Tegal Parang, Warung Buncit, Gandaria, Pasar Minggu, Rawa Belong dan Basmol, yaitu tempat dominasi orang Betawi Pinggir. Hanya sedikit orang Betawi Tengah yang menuntut ilmu di sana, sehingga ini sedikit banyak bisa menggambarkan perbedaan kepentingan pendidikan antara Betawi Tengah dan Betawi Pinggir.

Dengan demikian, bisa disimpulkan profesi perempuan Betawi Tengah lebih beragam, seperti pengusaha, pendidik, aktivis, psikolog, pengacara, PNS, atau dokter. Bahkan Siti Nurbaya, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, adalah perempuan kelahiran Kampung Bali, Tanah Abang. Sebaliknya, para perempuan di Betawi Pinggir lebih dominan sebagai ustazah, seperti Hajah Tuti Alawiyah (mantan Menteri Urusan Peranan Wanita), Hajah Marzukoh, atau Hajah Dimrona Adnani Saba.

Sementara orang Betawi Udik umumnya bukanlah pemeluk agama Islam yang fanatik. Mereka terbagi dua, yakni yang tinggal di bagian utara Jakarta, utara Jakarta, dan Tangerang serta sangat dipengaruhi kebudayaan Cina. Sementara tipe kedua tinggal di sebelah timur dan selatan Jakarta, yakni Bekasi, Depok, dan Bogor, yang sangat dipengaruhi kebudayaan Sunda. Secara umum, dalam wilayah kebudayaan ini banyak lahir seniman Betawi, di antaranya Omas, Mak Kinang, dan Wana H. Bokir.

 

Perempuan Betawi Masa Kini dan Tantangannya

Pada masa kini, keadaan barangkali lebih mudah bagi perempuan Betawi. Namun, pekerjaan besar yang telah dimulai sejak zaman Raden Ajeng Kartini belum selesai. Upaya untuk kesetaraan gender dan emansipasi terus dilakukan, salah satunya terlihat dalam sketsa Firman Muntaco—sastrawan Betawi yang paling terkemuka.

Karya sastra memang dapat dipakai sebagai alat untuk memahami kondisi sosial budaya yang melatarbelakangi si pengarang. Pada dasarnya, pengarang sebagai makhluk sosial sangat dipengaruhi dengan etnis yang membesarkannya. Kita bisa melihat ini misalnya dari Salah Asuhan karya Abdul Muis, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Burung-Burung Manyar karya Mangunwijaya, Para Priyayi karya Umar Kayam, Canting karya Arswendo Atmowiloto, atau Kenanga karya Oka Rusmini.

James Danandjaja dalam Damono (1984) mengatakan, sastra Betawi mengungkapkan secara sadar bagaimana folk-nya berpikir dan mengabadikan yang dirasakan folk pendukungnya pada suatu masa (1991:15). Dalam hal ini, Firman Muntaco sepanjang karier penulisannya, pernah membahas hal-hal yang berkaitan dengan  budaya patriarkal dalam “Kursus Ngetik” yang dimuat Suara Pembaruan pada 16 Oktober 1988. Dalam sketsanya, tokoh perempuan bernama Murni disuruh oleh bapaknya untuk mengikuti kursus mengetik.

“Iya deh, Be. Boro-boro kursus yang cuman sebulan, niatnya sih kalo nanti ude kerja malah pengen ngumpulin duit buat kuliah!”

“Cakep! Berarti pikiran lo maju. Belajar deh ngetik biar getol. Babe kenal si Manan, guru ngetik di sono.”

Hal ini menunjukkan adanya perkembangan peran perempuan, karena berdasarkan penelitian Theresia Tanti Irawanti  dalam skripsi berjudul Pola Sosialisasi Anak Perempuan pada Tiga Keluarga Betawi di Kelurahan Mampang Prapatan pada 1993, anak laki-laki didahulukan pendidikannya, sementara anak perempuan selalu dikebelakangkan dalam urusan pendidikan atau harus mengalah. Jika ada anak perempuan Betawi yang bersekolah, itu pun diutamakan pada sekolah agama atau madrasah, sementara anak laki-laki diutaman sekolah negeri.

Yang lebih menarik, dalam “Pecah Kodok” yang dimuat Pos Kota pada Minggu, 11 Juni 1989, Firman Muntaco mengisahkan kehidupan keluarga Mat Codet. Alkisah Pak Mamat ingin anak-anaknya yang semuanya perempuan bersekolah dan bekerja, tapi keinginan itu tidak disetujui oleh Mpok Mumun, istrinya.

“Aaah, lu sih samenya ame si Nur, kaye kucing dapur, maunya kelinteran di rumah aje, nggak ada pengalaman!” sembur Mat Codet sambil usap-usap rambutnya yang beleletan minyak jelantah. Lalu katanya lagi, “zaman sekarang, lelaki ame perempuan kudu punya kemajuan yang sama. Sekarang zaman pembangunan, tahu enggak. Kalau perlu si Nur biar jadi tukang setir traktor.”

Yasmine Zaki Shahab, seperti dikutip Irawanti (1993: 7) mengatakan, masyarakat Betawi biasanya tidak membolehkan seorang perempuan bekerja. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah terbatasnya kesempatan kerja serta keterbatasan keterampilan perempuan Betawi. Di lain pihak, laki-laki yang dianggap oleh perempuan sebagai pengambil keputusan merasa tidak suka jika para istri bekerja di luar rumah. Sikap ini tidak berubah sepanjang waktu, baik generasi tua maupun muda masa sekarang.

Lantas, bagaimana cara mengubahnya?

Secara pribadi, saya menganggap kita bisa mengambil pelajaran dari kisah para pahlawan emansipasi, seperti RA Kartini dan Dewi Sartika.   

RA Kartini terkenal melalui surat-suratnya kepada Nyonya Abendanon yang lantas dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Meski harus putus cita-cita lantaran dinikahkan, Kartini tidak pernah putus asa. Kakaknya, Sosrokartono, mengatakan, “Sepanjang ada buku dan kamu menulis, maka tak ada yang bisa mengekang pikiranmu.”

Ini sejalan dengan ucapan Pramoedya Ananta Toer, “Menulislah agar tidak hilang ditelan zaman, karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Karena itu, nama Kartini harum sepanjang zaman.

Seperti kita ketahui, Kartini terpaksa menolak beasiswa untuk belajar ke Belanda, karena ayahnya tercinta, Bupati Jepara RM Sosroningrat, tidak menyetujuinya. Beasiswa itu kemudian diberikan kepada Agus Salim.

Pentingnya pendidikan juga ditegaskan oleh Dewi Sartika yang mendirikan Sekolah Istri/Sekolah Kepandaian Perempuan/Sekolah Keutamaan Istri di Bandung. Ia mengajak sanak kerabatnya yang perempuan belajar keterampilan seperti memasak, menjahit, dan sebagainya. Sekolah yang digagasnya semakin berkembang, hingga mencapai 251 siswi dengan 12 ruang belajar dan guru-guru profesional pada 1913

Karena itulah, saya berpendapat perempuan Betawi harus terus mau membuka dirinya untuk berkembang. Akses terhadap pendidikan pun harus dibuka seluas-luasnya, termasuk melalui beasiswa ke universitas, juga pelatihan atau kursus-kursus. Selain itu, dukungan dari pihak terdekat diperlukan. Dalam hal ini, para bapak dan suami juga harus diedukasi agar mau mendorong istri dan anak-anak perempuan mereka berkiprah dan menyumbangkan peran di masyarakat.

*disampaikan dalam diskusi Betawi Kita di Setu Babakan, Minggu, 23 April 2017.

Biodata penulis: Fadjriah Nurdiarsih, perempuan kelahiran Jakarta tahun 1985. Alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Penulis di www.mpokiyah.com, editor bahasa di www.liputan6.com, dan chief editor www.betawikita.id.

 

Daftar Pustaka:

Ahyat, Ita Syamsiah. 2014. Profil Wanita Betawi Akhir Abad ke-21. Tangerang: Sabda Alam Media.

Budiaman, et al. 2000. Folklor Betawi. Jakarta: Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

Chaer, Abdul. 2012. Folklor Betawi: Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi. Depok: Masup Jakarta.

Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Saidi, Ridwan. 2012. Lexicografi Sejarah dan Manusia Betawi Jilid II. Jakarta: PT Kreasi Prima Jaya.

Nurdiarsih, Fadjriah. 2008. Pandangan Sosial dalam Sketsa-Sketsa Firman Muntaco. Depok: Skripsi Sarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Irawanti, Theresia Tanti. 1993. Pola Sosialisasi Anak Perempuan pada Tiga Keluarga Betawi di Kelurahan Mampang Prapatan. Depok: Skripsi Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

 

 

Kirim Tanggapan