Gado-gado Dunia Betawi dalam Pikiran 14 Penyair

0
142
Mamat Nuzaman baca puisi saat peluncuran buku Gado-Gado Betawi di Pesanggrahan. Foto: Rachmad Sadeli.

Resensi Gado-Gado: Antologi Puisi Anak Betawi

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Betawi Kita beberapa waktu lalu, JJ Rizal—sejarawan Betawi—pernah mengatakan bahwa segala problem yang menimpa Jakarta hari-hari ini disebabkan beban Jakarta sebagai ibu kota. Namun, di tengah isu yang mencuat bahwa ibu kota akan dipindahkan ke Palangkaraya, sejarah memberi pelajaran bahwa hal itu sulit dilakukan.

Bahkan bisa dikatakan, memindahkan ibu kota dari Jakarta berarti mengkhianati sejarah. Sebab, Sunda Kelapa beserta daerah Batavia sudah sejak dulu sudah menjadi pusat pemerintahan. Balai Kota, kini Museum Sejarah Jakarta, memberi pertanda bukan tanpa alasan VOC menanamkan kukunya di tepi Teluk Jakarta.

Perubahan yang terjadi selama ratusan tahun di Jakarta turut pula dirasakan dan diamini oleh orang Betawi selaku penduduk asli Jakarta. Bahkan, boleh dikatakan merekalah yang paling terkena dampak. Pembangunan telah mengubah wajah kota yang mereka kenal sejak kecil. Sebagian tergusur dan tertinggal, sebagian bertahan sambil meratap, sementara sisanya acuh dan tak peduli.

Mengaku Betawi pada hari ini, utamanya ketika pilkada berlangsung, adalah sebuah jargon yang bermuatan politis. Di sisi lain, kaum Betawi sendiri yang dapat dibuktikan dengan darah dan keturunan, malu menampilkan jati diri mereka dan lebih mencitrakan diri sebagai orang Jakarta.

Namun tentu tidak dengan mereka yang tergabung dalam Klub Baca Betawi. Berisikan orang-orang yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis-menulis, klub ini menggebrak dengan menerbitkan buku Gado-Gado: Antologi Puisi Anak Betawi yang diluncurkan di Hutan Kota Sangga Buana, Pesanggrahan, pada April 2017. Lihatlah bagaimana mereka dengan bangga melabeli dirinya, “hei, saya anak Betawi.”

buku Gado-Gado Betawi

Tentu kini tak semua penulis dalam antologi ini bermukim di Jakarta karena kita tahu Betawi bukanlah Jakarta yang merupakan faktor geografis semata. Namun yang menarik, dalam buku ini semuanya menyuarakan kegelisahan yang sama tentang kampung mereka, tentang orang-orang suku Betawi, juga tentang Ibu Kota yang semakin melaju dan menindas.

Semua tema dalam antologi ini tentu berangkat dari pengamatan yang teliti, perenungan yang mendalam, serta pemikiran-pemikiran yang hanya bisa dilakukan orang yang peka serta sadar dengan alam budaya yang melingkupinya, menghidupinya, serta menjadi napas dari seluruh kesehariannya sejak lahir hingga wafat nanti.

Bahkan, beberapa puisi yang diangkat oleh para penyair dalam antologi ini memiliki kemiripan yang saling beririsan. Misalnya saja dalam “Kerikil Nafas Jakarta” karya Asep Setiawan dan “Kampungku” karya Roni Adi, yang melukiskan Jakarta yang sumpek dan kumuh. Jakarta yang berubah lantaran setiap jengkal tanah diserobot oleh kaum pemodal dan pengembang.

“kerikil nafas ibu kota / adalah khayalan panjang sejumlah kepala tanpa isi/ adalah kumpulan busuk bangkai birokrasi (2017: 9)”

Selain mengisahkan Kota Jakarta, sebagian juga bertutur perihal budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi. Salah satu puisi yang menggambarkan masyarakat Betawi adalah “Perempuan Betawi” karya Mamat Nurzaman.

yang terbungkus rapi
kaya kue unti
tak gampang dijamah ame lelaki

diajarin nyak babe supaya mandi di pagi hari
biar keliatan cantik dan besih
terus belajar ngaji

pulang ngaji bantuin nyak di dapur
belajar masak semur
biar punya laki ga makan di luar

di sumur diajarin cuci pakean yang bersih
lalu setrika, supaya laki lu nyaman makenya

malamnya
di tempat tidur lu kudu wangi baunya
layani laki lu dengan sepenuh hati dan cinta
supaya dia betah berlama-lama di dalamnya
tanyakan lagi selanjutnya
apa mau nambah apa sudah
lalu bikin minum kebiasaannya

 sebab
dapur yang nikmat
tempat tidur yang hangat
itulah pengikat suami yang erat

Meski sangat jelas puisi ini dominan dengan suara lelaki, “Perempuan Betawi” memberikan gambaran bagaimana sumur, dapur, dan kasur merupakan tiga keahlian yang harus dimiliki perempuan Betawi. Filosofi ini bukanlah pengikat, melainkan sebuah syarat bahwa ada tiga aspek keahlian, yakni di sumur, dapur, dan di kasur yang harus dipelajari perempuan Betawi.

Selain para penyair yang mengungkapkan idenya melalui bahasa Indonesia, dalam buku ini terdapat pula penyair yang mempergunakan bahasa Betawi. Tak hanya untuk melestarikan kosakata bahasa Betawi yang lama tak diketahui orang, barangkali melalui bahasa itulah para penyair ini merasa lebih bebas dan leluasa mengungkapkan pikirannya.

Misalnya saja dalam “Depan Cipinang Penjara Kalo Malem” karya Hairul Haq. Puisi ini dengan penuh humor menceritakan apa yang terjadi di depan penjara Cipinang di malam hari. Kejenakaannya barangkali mengingatkan pada aspek humor yang sering muncul dalam cara penceritaan dalam khazanah sastra Betawi.

Tentu kehadiran buku ini patut disambut gembira dengan harapan tradisi literasi dan intelektual yang ada di Betawi sejak dulu tak putus dan mati arang. Hanya tentu perlu kurasi yang lebih ketat dan penyuntingan yang lebih cermat. Akhirul kalam, selamat kepada APM Publishing yang telah menerbitkan Gado-Gado: Antologi Puisi 14 Anak Betawi.

Kirim Tanggapan