Menguak Kenangan tentang Hindia Belanda dari Wieteke van Dort dan Marion Bloem

0
1022
kiri ke kanan: Marion Bloem dan Wieteke van Dort.

Kisah-kisah tentang negeri Hindia Belanda di masa lampau banyak berserakan dalam literatur kita. Namun, ada seniman-seniman tangguh asal Belanda yang giat mempopulerkan Indonesia ke seluruh dunia melalui karyanya, termasuk Wieteke van Dort dan Marion Bloem.

Dari JJ Rizal saya mengenal Wieteke van Dort. Tentu bukan kenal dalam arti yang sebenarnya bertatap muka. Namun, di kantornya di Komunitas Bambu, Depok, saat berbincang dengan Kojek rapper Betawi, suara melengking Tante Lien—panggilan Wieteke van Dort—yang menyanyikan “Keroncong Kemayoran” meningkahi pembicaraan kami.

Penasaran, saya pun mencari namanya melalui YouTube. Ternyata Wieteke van Dort seringkali curhat tentang Indonesia melalui lagu-lagunya. Salah satunya yang saya suka adalah “Nasi Goreng” yang menceritakan makanan kesukaannya saat kecil di Surabaya. Liriknya kira-kira begini:

Wieteke van Dort berpenampilan sebagai Tante Lien


Geef mij maar nasi goreng met een gebakken e…

<< Beri saja aku nasi goreng dengan omelet telur >>

Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij…

<< dengan sambal dan kerupuk dan segelas bir >>

Wieteke van Dort pernah punya acara yang cukup sukses di Belanda, yakni The Late Lien Show. Melalui penelusuran internet, diketahui bahwa Wieteke van Dort merupakan kelahiran Surabaya pada 1943. Namun lantaran kebijakan presiden pertama RI Sukarno, saat tengah berlibur bersama keluarga ke Belanda pada usia 14 tahun, dia dan keluarganya tak bisa kembali ke Indonesia. Bisnis keluarganya di Tanah Air kemudian turut dirasionalisasi.

Perempuan yang terlahir dengan nama Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort ini lahir di Surabaya pada 16 Mei 1943 dan popular di Belanda sebagai aktris, penyanyi, dan kabaretis. Kariernya semakin melambung sejak membintangi serial The Late Lien Show dengan dia sebagai bintang utama yang mencitrakan dirinya sebagai perempuan Indish (peranakan) berusia paruh baya.

Dalam acaranya, Tante Lien menggunakan bahasa Belanda dengan logat Surabaya yang cepat. Di hadapan sejumlah tamunya yang kebanyakan pernah merasakan hidup di Hindia Belanda, ia berkisah mengenai banyak hal. Tak pelak banyak tawa dan haru, sebagian karena mengenang masa lalu. Ada mantan pejabat dan serdadu yang terenyuh, bahkan menangis membayangkan kembali masa-masa hidup di Hindia Belanda. Bahkan dalam satu kesempatan, artis Frans Tumbuan dan Rima Melati (waktu itu mereka masih muda) pernah turut menjadi tamu dan bercakap-cakap dalam bahasa Belanda.

Di tengah-tengah acara, Tante Lien akan menyanyikan lagu-lagu bertema nostalgia macam “Keroncong Kemayoran”, “Nasi Goreng”, atau “Hallo Hallo Bandung”—ini adalah lagu yang sangat sedih tentang seorang nenek yang berhasil menghubungi cucunya di Bandung kala sambungan telepon pertama kali diperkenalkan. Tak lama neneknya meninggal setelah menelepon sang cucu.

Penampilan Tante Lien dalam acara itu pun khas perempuan Indish, dengan kebaya encim polos dan sarung. Ditambah rambutnya yang digelung menyerupai cepol, penampilannya benar-benar mencerminkan gaya kaum peranakan Indish di Tanah Air pada masa lampau. Berkat kegigihannya memandu The Late Lien Show, Wieteke van Dort dianugerahi penghargaan Ksatria Bintang Jasa Oranye-Nassau pada 29 April 1999 oleh pemerintah Belanda.

Meski diterjang kritik oleh sebagian orang yang menilai logatnya sebagai perempuan Indish berlebihan, Wieteke van Dort dianggap berhasil mempromosikan kebudayaan Indish di Belanda dan kaum peranakan yang selalu dianggap warga kelas dua di Belanda.

Kegelisahan yang sama bahkan pernah dirasakan oleh penulis Moemie: Gadis Berusia Seratus Tahun, yakni Marion Bloem (65 tahun). Penulis yang berdarah campuran ini (Indo-Belanda) dalam novelnya menyebutkan ada perasaan malu di kalangan keluarga jika menyebut mereka berdarah campuran. Karena itu, hal-hal tersebut selalu ditutup-tutupi.

Namun, Moemie yang berkisah mengenai tiga generasi berusaha menelusuri kembali sejarah keluarga dari perpecahan mereka hingga terlemparnya mereka dari Tanah Air akibat perpolitikan dan situasi sesudah Jepang masuk akibat kekalahan Belanda dalam Perang Asia Pasifik. Baca resensinya di bawah ini:

https://www.mpokiyah.com/2017/02/22/moemie-kisah-3-generasi-keluarga-indo/

Tidak seperti Wieteke van Dort, Marion Bloem memang tidak dilahirkan di Indonesia. Namun, kegelisahan akan asal-usulnya membuat dia mencari akarnya hingga ke negeri bekas jajahan Belanda ini. Dan mereka tidak sendiri. Ratusan serdadu pun banyak yang memiliki perasaan serupa. Dalam sebuah buku yang diterbitkan KITLV, mereka mengaku tidak paham mengapa kedatangan mereka untuk menjaga keamanan dihadapi permusuhan oleh tentara ataupun laskar dari sebuah negara yang masih berusia muda. Dalam sebuah fragmen buku harian disebutkan alangkah kecelenya mereka, bahwa Hindia yang mereka upayakan pertahankan sebesar apa pun risikonya ternyata malah berpaling.

Perempuan kelahiran 24 Agustus 1952 di Arnhem, Belanda, ini adalah penulis dan sutradara film berdarah Indo-Belanda.  Marion Bloem terutama dikenal lewat novel Geen Gewoon Indisch Meisje (No Ordinary Indo Girl) yang terbit tahun 1983, serta film Ver van Familie (Far from Family) tahun 2008. Cerita pendek pertama Bloem muncul tahun 1968 ketika ia baru berusia 16 tahun. Bloem membuat debut sebagai penulis serius pada tahun 1976, lewat novel De overgang (The Transition).  Sebagian besar karya-karyanya menceritakan kaum peranakan dan pandangan-pandangannya terkait situasi politik kontemperor di Indonesia, termasuk Bom Bali I.

Adanya pencerita seperti Wieteke van Dort dan Marion Bloem harus dilihat sebagai upaya rekonsiliasi. Bahwa mereka, yang selama ini dicitrakan sebagai penjajah, punya kenangan masa lalu terhadap negara yang sangat humanis sekaligus manis. Saya kira bagi orang Indonesia ini adalah bagian dari “upaya untuk menerima dan berdamai dengan masa lalu yang kelam.”

Kirim Tanggapan