Moeffreni Moe’min dan Kisah-Kisah di Seputar Peristiwa Ikada

2
582
Moeffreni Moemin, sumber okezonenews.com.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia memang telah dikumandangkan secara dramatis di Jakarta pada 17 Agustus 2017. Namun, berita itu tak lantas tersebar ke seluruh Indonesia. Pihak Jepang selalu menutup-nutupi kenyataan bahwa mereka sudah kalah. Siaran radio pun tak leluasa memberitakan kabar baik ini. Lantas, bagaimana akal?

Satu-satunya cara adalah mengumpulkan massa dalam jumlah besar dalam suatu rapat raksasa. Maka, dirancanglah rapat raksasa di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta), sekarang menjadi Lapangan Monas, pada 19 September 1945. Saat itu pemerintah Republik Indonesia berhasrat menyampaikan kepada khalayak ramai apa yang telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur 56 pada 17 Agustus 1945.

Namun, upaya itu tak berlangsung mulus. Rencana rapat sudah bocor. Pasukan Jepang pada malam tanggal 18-19 September 1945 telah memberikan imbauan bahwa rapat raksasa yang akan dilakukan itu dilarang demi ketertiban dan ketenangan umum. Mobil-mobil militer, tank, dan panser telah lalu lalang di jalan-jalan raya di Kota Jakarta, sehingga menimbulkan perasaan yang mencekam. Di sinilah Moeffreni Moe’min ambil bagian, sehingga rapat raksasa itu tetap berlangsung tanpa ada pertumpahan darah sedikit pun.

Siapakah Moeffreni Moe’min? Perawakannya memang kecil, tapi ia gesit dan bermental baja. Moeffreni adalah jebolan PETA yang lantas ditunjuk menjadi Ketua BKR (Badan Keamanan Rakyat) Jakarta. Bukan tanpa alasan Moeffreni memegang jabatan ini di usianya yang masih sangat muda, yakni 22 tahun.

Ayah Moeffreni Moe’min, yakni Moehammad Moe’min, adalah Residen Jakarta. Ia memiliki kedudukan penting di Ibu Kota. Ditambah Moehammad Moe’min berhasil menyelamatkan sisa-sisa administrasi keresidenan saat terjadi kekacauan di tubuh pemerintahan saat itu. Robert Bridson Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni mencatat Keresidenan Jakarta yang beribu kota di Subang itu dimekarkan menjadi dua bagian. Bagian timur tetap beribu kota di Subang, sementara bagian barat beribu kota di Purwakarta. Moehammad Moe’min memimpin bagian barat ini.

Karena itulah, dalam jiwa Moeffeni mengalir darah nasionalisme dan kepemimpinan yang  kental. Ditambah lagi peran ayahnya sebagai pejabat dan seorang pedagang yang selalu memberi sokongan dalam upaya perjuangan Moeffreni. Maka, Moeffreni pun gagah memimpin BKR Jakarta meliputi wilayah Jatinegara, Pasar Senen, Mangga Besar, Penjaringan, dan Tanjung Priok.

Seperti dikutip dari buku Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moe’min, Anggota BKR Jakarta pada umumnya berasal dari berbagai unsur:

  1. Bekas sodanco PETA Jakarta, Daidan I Jakarta seperti Sambas Atmadinata, Singgih, Saleh Tedjakoesoemah, Sanoesi, Hamdani, Arif.
  2. Unsur bekas Gyugun Shidobu, seperti Daan Yahya, Kemal Idris, Daan Mogot, Islam Salim, Yopie Bolang, Oetarjo.
  3. Dari Yugekitai Jakarta, seperti Arsad, Alwi ( alias Nadjib)
  4. Bekas Heiho seperti Sadikin, Darsono.
  5. Mahasiswa Ikadaigaku yang pernah mendapat pelatihan dari PETA Daidan I Jakarta, seperti Haryono MT, Wibowo Erie Soedewo, Soebianto Djojohadikoesoemo, Soeroto Koente, Arie Soepit, Tamsir, Ashari Zikir, Imam Slamet, Soejono, Soewardjono Soejaningrat, Soejono Joedodibroto.

Para anggota BKR, dibantu para pemuda Menteng 31, Prapatan 10, kepolisian, pemuda Kereta Api, Pos/Telegram, aparat pemerintah daerah Jakarta, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Jakarta dan Wali Kota saling bahu-membahu melakukan koordinasi. Semuanya melakukan satu rantai informasi untuk menyebarluaskan informasi mengenai rapat raksasa Ikada secara getok tular (berantai).

Menghadapi ancaman Jepang, Moeffreni tak tinggal diam. Dia pergi ke kantor Guiseikanbu untuk meminta kepada para perwira tinggi Jepang agar jangan terjadi pertumpahan darah. Namun upayanya menemui para perwira tinggi Jepang yang dikenalnya sejak di PETA gagal karena mereka semua tidak ada di tempat.

Peran Moeffreni sendiri sangat vital dalam peristiwa bersejarah itu. Dialah yang menerima Bung Karno dan membawanya ke atas podium di lapangan Ikada. Moeffreni juga sebagai Ketua BKR yang bertanggung jawab menjaga keamanan Jakarta di segala penjuru. Terbukti rakyat berduyun-duyun datang secara terorganisir ke Lapangan Ikada sejak pukul 10.00 WIB. Secara rinci, Moeffreni menyebutkan:

  1. BKR Jakarta
  2. Grup mahasiswa yang tergabung dalam Prapatan 10 seperti Eri Soedewo, Soegiarto, dkk.
  3. Pemuda Menteng 31, seperti Chairul Saleh, Adam Malik, Sukarni, Johar Nur, Panduwinata, dkk.
  4. Barisan Pelopor dipimpin Muwardi.
  5. Barisan Banteng dipimpin Sudiro.
  6. Barisan Hisbullah dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dipimpin Harsono Tjokroaminoto.
  7. Laskar Jakarta di bawah Imam Syafii dan Daan Anwar
  8. Laskar Klender di bawah Haji Darip
  9. Pemuda-pemuda Kesatuan Sulawesi (KRIS) di bawah Rapor
  10. Pemuda Maluku (PIR) pimpinan Willem Latumenten.

Tak hanya itu, Moeffreni juga ketua panitia rapat raksasa Ikada. Ia mengira ada sekitar 250.000 orang yang datang ke lapangan Ikada. Dari arah selatan (Merdeka Selatan) merupakan konsentrasi untuk massa yang berasal dari Bogor, Depok, Jatinegara, dan Kebayoran Baru. Sementara massa yang datang dari Tangerang dan Banten masuk ke lapangan Ikada melalui arah timur, dekat Harmoni sampai tepi Istana Negara. Adapun massa dari Tanah Abang Barat masuk melalui Jalan Museum.

Moeffreni telah diusulkan menjadi pahlawan nasional.

Masing-masing rombongan dan laskar yang hadir sudah barang tentu membawa senjata masing-masing. Ada bambu runcing, botol berisi minyak tanah “Molotov cocktail” yang kalau dilempar ke arah tank dapat meledak dan terbakar. Ada pula seorang dokter yang membawa tas PPPK karena sudah terbiasa. Betapa peristiwa itu sangat menegangkan karena di sisi lapangan yang lain tank-tank dan panser sudah bersiaga. Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika ada provokator yang memantik kerusuhan dalam situasi semacam itu.

Wartawan Rosihan Anwar dalam kesaksiannya di artikel “Suasana Lapangan Ikada” oleh D. Hasan Pulungan mengatakan, “secara berduyun-duyun…merasa situasi semakin serius sambil menunjuk adanya penjagaan ketat dari kesatuan-kesatuan tentara Jepang, diperkuat tank-tank raksasa, ada yang ditempatkan di tengah-tengah jalan raya, ada yang mengambil tempat dalam jarak yang tidak begitu jauh dari Medan Merdeka Utara, dan tidak jauh dari Istana, dari jurusan Merdeka Barat ada pula kelihatan dipersiapkan…”

Dari wajah-wajah mereka, tampaklah di dada mereka berkobar semangat “Merdeka atau Mati” dalam jiwa masing-masing. Di sana-sini terdengar lagu-lagu perjuangan dinyanyikan. Rakyat berduyun-duyun datang ingin mendengar kebenaran langsung dari mulut Bung Karno dan Bung Hatta. Saat itulah Moeffreni membentuk pasukan pengamanan untuk menjemput Presiden dan Wakil Presiden yang masih berada di Pejambon untuk melakukan sidang kabinet.

Moeffreni membentuk dua peleton menjemput yang terdiri atas unsur BKR Jakarta, kelompok Pemuda Menteng 31, mahasiswa Prapatan 10, serta mahasiswa Islam di bawah pimpinan Bagja. Peleton ini bertugas menjemput sekaligus mengamankan para wakil rakyat itu. Moefreni sendiri selalu setia mengawal Bung Karno di sampingnya. Ia memakai setelan jas, celana panjang, dan peci. Di saku kanannya berisi pistol, sementara saku kirinya berisi granat. Ia mengatakan, “Bila Jepang keterlaluan, kita hadapi dengan apa yang ada pada kita.”

Moeffreni lantas menjemput Bung Karno dan Bung Hatta yang datang melalui batas Jalan Merdeka Timur. Kemudian, bersama Ali Sastroamidjodo, Moeffreni mengawal Presiden dan Wakil Presiden yang berjalan menyusuri tepi lapangan sambil dielu-elukan seluruh rakyat Indonesia yang hadir berkumpul di sana.

Moeffreni memberi kesaksian saat berjalan itulah seorang jenderal yang sudah dikenal di Jawa Hookokai bertanya kepada Bung Karno, “Apa maksud Tuan mengadakan rapat ini?” Oleh Presiden dijawab, “Tuan tentu sudah mengetahui bahwa Negara Indonesia telah merdeka dan baru diproklamirkan pada 17 Agustus. Itu akan diproklamirkan kepada rakyat bahwa Indonesia sudah diproklamirkan.” Ali Sastroamidjojo menerjemahkan semua jawaban Presiden dan tak ada larangan dari pihak Jepang, sehingga Sukarno meneruskan perjalanannya ke podium.

Moeffreni mengantarkan Bung Karno dan Bung Hatta naik ke mimbar yang sangat sederhana, terbuka, dibikin dari kayu dan bambu. Waktu rakyat melihat kedua pemimpin yang mereka cintai itu, rakyat bersorak gemuruh. “Hidup Bung Karno, Hidup Bung Hatta, Merdeka!” Bendera Merah-Putih yang telah dibawa namun disembunyikan lantas dikobarkan seketika.

Sejarah telah mencatat pidato Sukarno yang fenomenal di Lapangan Ikada pada 19 September 1945. Moeffreni sendiri menekankan singkatnya pidato Presiden bukan lantaran adanya larangan dari pihak Jepang, melainkan memang situasi yang sedemikian panas. Jikalau Presiden berpidato lebih lama, dikhawatirkan bisa memicu semangat yang membara. Apalagi saat itu rakyat sudah bergelora, bersemangat, dan membawa bambu runcing.

Jasa Moeffreni sendiri jelas, bahwa rapat bisa berjalan lancar di tengah berbagai penjagaan. Selain itu, ini juga menjadi momentum bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan merupakan keinginan dan didukung penuh seluruh rakyat Indonesia.

2 Komentar

Kirim Tanggapan