Peringatan Hari Puisi Indonesia oleh Komunitas Baca Betawi Berlangsung Meriah

0
333
Budayawan Yahya Andi Saputra membaca puisi dalam acara HPI di Condet.

Dalam rangka Hari Puisi Indonesia yang diperingati bertepatan dengan hari lahirnya Chairil Anwar pada 26 Juli, Komunitas Baca Betawi dengan disokong penuh Betawi Kita, Bamus Betawi, Universitas Tama Jagakarsa dan para sponsor lainnya menggelar acara “Betawi Berpuisi Buat Indonesia” bersama tokoh dan seniman Betawi, pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017 di Gedung Laboratorium Tari dan Musik Karawitan, Jl. Balai Rakyat, Condet Balekambang, Kramatjati, Jakarta Timur, dimulai sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB.

Acara berlangsung meriah dengan pembacaan puisi dari siswa TK hingga universitas serta penulisan puisi di kain putih yang dimaksudkan untuk memberi apresiasi dan menanamkan rasa cinta puisi, khususnya kepada generasi muda.

Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan musikalisasi puisi, ngebuleng, pantun, parade puisi pelajar, sahibul hikayat, puisi berantai, sketsa Betawi, tari Betawi, bazar buku, dan sebagainya.

Baca Betawi gelar HPI di Condet. Foto: Des Parlente.

Dalam sambutannya, Ketua Bamus Betawi Haji Zainuddin MHSE alias Haji Oding mengatakan, kini giroh Betawi meningkat di mana-mana. Lebaran Betawi 2017, Presiden RI datang. Dan bahkan Presiden beberapa waktu lalu makan kerak telor. Sesuatu yang membanggakan Betawi mendapat perhatian lebih dari negara. “Acara seperti Hari Puisi Indonesia yang diadakan komunitas Baca Betawi ini yang perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Lalu, setelah sambutan Ketua Bamus membacakan puisinya. “Saya buat puisi ini semalam (11/6, Red.) sampai jam 03.00 pagi,” ungkap H.  Oding. Puisinya diberi judul “Puisi Anak Betawi”.

Puisinya berisi tentang sejarah Betawi yang dinulai sejak 5000 tahun Sebelum Masehi. “Puisi Anak Betawi” bercerita tentang leluhur orang Betawi yang hidup di tepian Sungai Ciliwung, Citarum sampai Pesangrahan.

Beliau dalam puisinya juga bicara tentang banyaknya suku bangsa yang menerap di Betawi, datang dan pergi. Lalu, cerita tentang beragam seni di Betawi. Berikutnya, diisi dengan rasa syukur kepada Allah karena telah resmi menjadi tuan rumah di Ibu Kota.

Sedangkan Yahya Andi Saputra, budayawan Betawi, membawakan puisi yang bersumber dari jampe-jampe di Betawi. Lalu, ia juga membacakan puisi berjudul “Tuyul” dan “Babi Ngepet” yang diambil dari buku puisi karyanya sendiri, Sihir Sindir. “Babi Ngepet” dan “Tuyul” berisi sindiran terhadap koruptor.

Qubil AJ tampil membawakan puisinya berjudul “Kentut”. Foto: Des Parlente.

Adapun Qubil AJ yang turut ambil bagian dalam pagelaran ini secara jenaka membawakan puisi berjudul “Kentut”. Puisinya berupa sindiran dan kritik atas hal-hal yang terjadi di Ibu Kota dan tingkah polah para penguasa. Sedangkan Jaronah Abdullah, yang baru menerbitkan kumpulan puisi Bangkit Betawi, ikut tampil membawakan beberapa puisinya dan membagi-bagikan pin. Bintang tamu lainnya adalah Halimah Munawir Anwar selaku perwakilan Iwapi Pusat. Tak ketinggalan Basir Bustomi, Ketua Red Beksi, ikut membaca puisi berjudul “Jakarta Ngerentek” dari kumpulan puisi Gado-Gado Betawi.

Perlu diketahui, Komunitas Baca Betawi adalah sebuah komunitas Betawi yang memiliki kepedulian sekaligus menggerakkan masyarakat, khususnya kaum Betawi agar memiliki minat baca.

“Baca Betawi ingin mempromosikan dan meningkatkan budaya literasi di Indonesia, khususnya kaum Betawi. Mengingat minat baca kaum Betawi masih terbilang rendah. Itulah sebabnya Komunitas Baca Betawi ingin mengangkat harkat dan martabat masyarakat, khususnya Betawi, dimulai dari Iqra atau membaca,” demikian dikatakan Roni Adi, salah satu pendiri Komunitas Baca Betawi yang juga Ketua Panitia HPI 2017.

Ketua HPI Roni Adi bersama pegiat lingkungan H. Chaeruddin. Foto: Des Parlente.

Adapun Komunitas Baca Betawi terdiri dari berbagai latar belakang profesi, seperti jurnalis, seniman, budayawan, mahasiswa, pelajar, guru, pegawai swasta, dan masyarakat umum lainnya. Harapannya, ke depan Komunitas Baca Betawi akan menggelar berbagai even sosial, budaya, pendidikan, dan kegiatan bermanfaat lainnya.

“Bertolak dari hal tersebut di atas dan sebagai wujud peran serta kaum Betawi dalam ajang Hari Puisi Indonesia, Komunitas Baca Betawi yang beranggotakan para penulis Betawi dengan berbagai latar belakang bermaksud menyelenggarakan peringatan Hari Puisi Indonesia,” jelas Roni.

Sementara itu dikatakan Rachmad Sadeli, Humas HPI 2017, maksud dan tujuan digelarnya HPI 2017 adalah untuk memasyarakatkan puisi, mengenalkan bentuk-bentuk puisi, menggali potensi menulis di kalangan masyarakat khususnya puisi, dan menanamkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat.

panitia HPI. Foto: Des Parlente.

Hari Puisi Indonesia adalah sebuah perayaan rutin tahunan yang berjalan sejak lima tahun silam. Deklarasi Hari Puisi Indonesia yang diprakarsai oleh penyair Rida K Liamsi dan para inisiatornya pada 22 November 2012 itu, menghimpun para penyair Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang bersepakat mendeklarasikan Hari Puisi Indonesia di Pekanbaru, Riau. Hal ini pun dijelaskan oleh Asrizal Nur sebagai perwakilan HPI Pusat yang turut hadir dan membacakan puisi berjudul “Kuda”.

Pada pertemuan itu ditetapkan bahwa Hari Puisi Indonesia jatuh pada hari lahirnya penyair Chairil Anwar, yaitu 26 Juli sebagai wujud penghormatan bangsa ini kepada penyair yang telah mengangkat nama Indonesia di mata dunia. Deklarasi dibacakan oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri didampingi 40 penyair se-Indonesia.

“Beberapa tahun belakangan ini, pelaksanaan Hari Puisi Indonesia tidak lagi terpusat, tetapi juga dilakukan dengan berbagai pelaksanaan yang berbeda di seluruh Nusantara. Sastrawan di tiap daerah dapat mandiri melaksanakannya serta tak harus sama dengan yang digelar di kota-kota lain, sehingga kegiatan Hari Puisi Indonesia ini semakin marak dan masyarakat dapat ikut merayakannya,” ujar Asrizal.

Dalam peringatan HPI, Komunitas Baca Betawi akan didukung oleh sejumlah media partner, seperti Bens Radio, Betawikita,id, Majalahbetawi.com, Orangbetawi.com, Mpokiyah.com, dan Indramayuonline.com.

Sedangkan pendukung lainnya, di antaranya: Bamus Betawi, Universitas Tama Jagakarsa, Sanggar Betawi Condet, Sanggar Betawi Firman Muntaco, Sanggar Oplet Robet, Sanggar Lenong Denes Kembang Batavia, Sikumbang Tenabang, Forum Jurnalis Muslim (Forjim), Astrabi, Rumah Langit, Becuz Apparel, Alifah Bir Pletok, Rumpun Masyarakat Betawi, Forum Komunikasi Masyarakat Jakarta, Yayasan Pelangi Batavia, dan Ikatan Perempuan Pencinta Seni Budaya Betawi.

 

Kirim Tanggapan