JJ Rizal: Perda Kebudayaan Betawi Bisa Menjadi Pedang Janus yang Bermata Dua

0
395

Ketua Bamus Betawi menolak tawaran pengusaha Cina yang ingin memproduksi berbagai suvenir budaya Betawi.

Bertempat di Lakone Café, Condet, pada Minggu, 27 Agustus 2017 digelar diskusi mengenai Orang Betawi dan Perda/Pergub Pelestarian Budaya Betawi. Acara yang digelar oleh Komunitas Betawi Kita ini menghadirka Ketua Bamus Betawi H. Zainuddin MHSE, JJ Rizal sejawaran Betawi dan Yahya Andi Saputra dari Lembaga Kebudayaan Betawi.

Dalam diskusi, JJ Rizal mengharapkan Badan Musyawarah Betawi segera mengumpulkan para pakar untuk membuat rencana strategi besar merealisasikan Perda/Pergub tentang Pelestarian Budaya Betawi. “Kalau tidak cepat merespon ini, maka bisa menjadi pedang Janus (pedang bermata dua yang bisa membunuh musuh, tapi juga bisa membunuh diri sendiri),” kata Rizal berapi-api.

Memang Pemerintah DKI Jakarta telah mengesahkan Peraturan Daerah No. 4/2012 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi, Peraturan Gubernur 229/2016 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi, dan Peraturan Gubernur No 11/2017 tentang Ikon Budaya Betawi.

Sementara Yahya Andi Saputra dalam paparannya menjelaskan banyak seni kebudayaan Betawi yang kini sudah hilang dan tinggal kenangan. Ia juga mengungkapkan soal beberapa ikon budaya Betawi yang sudah disahkan dalam perda/pergub.

Berdasarkan catatannya, Yahya Andi Saputra menyatakan saat ini ada 1358 item budaya Betawi yang perlu dijaga. Meliputi folklor lisan, folklor setengah lisan dan folklor bukan lisan. Folklor lisan seperti ungkapan tradisional, dongeng, sahibul hikayat dan lain-lain. Sedangkan folklor bukan lisan, seperti topeng blantek, keroncong tugu, samrah, dan topeng Betawi.

Mengingat banyak pekerjaan rumah terkait adanya perda dan pergub ini, Rizal berpendapat perlu segera dibentuk dewan pakar yang bakal merumuskan kebijakan selama 20 tahun ke depan.

Selain itu, dia juga menegaskan pentingnya orang Betawi untuk berpolitik. Sebab tanpa politik, orang Betawi tak mungkin maju. Bagi Rizal sendiri, tak penting gubernur yang merupakan orang Betawi. “Ali Sadikin bukan dari Betawi. Tapi dia membuat Betawi berkembang dengan membentuk Lembaga Kebudayaan Betawi. Dan sejarang mencatat Betawi paling diorangin zaman Ali Sadikin,” ujarnya.

Sedangkan Zaenuddin atau lebih dikenal Bang Oding (Ketua Bamus Betawi) dalam acara yang dikemas sederhana itu menyatakan bahwa Betawi ini adalah tanah ulama atau tanah karamah yang punya nilai luhur. Keberhasilan masyarakat Betawi dalam merealisasikan budayanya dalam bentuk perda dan pergub itu menjadi contoh bagi daerah-daerah lain. Menurutnya, daerah seperti Bali, Yogyakarta, Kepulauan Riau, Ternate dan lain-lain ingin mencontoh Perda atau Pergub tentang budaya Betawi ini.

Seperti dilansir dari wartapilihan.com, H. Oding mengatakan, “1 November 2017 nanti akan akan pertunjukan 40 ribu penari Betawi dan juga akan tampil 1000 ondel-ondel,”jelasnya.  Pada tahun 2018 nanti para pelajar Jakarta juga diwajibkan untuk memakai batik Betawi sehari dalam seminggu.”

Bang Oding menjelaskan bahwa ikon Betawi ondel-ondel pernah diprotes oleh salah seorang ulama Betawi karena dianggap warisan pra-Islam. “Ondel-ondel ini paling lama pembahasannya,” ujar H. Oding.

Selain itu, karena Betawi ini telah menjadi simbol budaya resmi di Jakarta, Bang H. Oding berharap Perda/Pergub ini bisa dimanfaatkan seluas-luasnya demi kemaslahatan dan mengangkat taraf ekonomi orang Betawi. “Kita harus menyiapkannya,” katanya dengan penuh semangat.

Kirim Tanggapan