Malam Lebaran

0
275
sumber: pixabay

Ini hari Arafah. Katanya, kalau kau berpuasa pada hari ini, seluruh dosamu selama dua tahun akan diampuni. Apakah artinya setelah itu kau bebas berbuat dosa?

Maryam menggeliat. Ia merasa tak nyaman. Muntah-muntah sejak pagi itu. Ia pun terpaksa menunda keinginannya untuk berpuasa. Jabang bayi yang baru 3 bulan bersemayam di dalam perutnya tak mau berkompromi. Dia memandang suaminya yang baru saja tertidur lagi setelah menunaikan salat Subuh. Pekerjaannya sebagai pesuruh dan satpam sebuah sekolah swasta membuat laki-laki itu seringkali kelelahan di pagi hari.

Maryam sebenarnya sudah meminta suaminya berpuasa, tapi dia menolak. “Aku tak mengucapkan niat puasa,” katanya kala Maryam mengguncang-guncangkan kaki suaminya dini hari itu. Maryam kesal, tapi kemudian bangkit ke ruang tengah rumah kecil mereka. Lampu ruangan itu menyala terang. Dilihatnya emaknya, yang sudah sepuh dan renta, sedang menyuap nasi sendirian. Ada rasa tertohok di hatinya dan matanya mendadak panas. Buru-buru Maryam kembali lagi ke kamar dan menarik selimut. Dalam gelap ia terisak pelan.

Tujuh tahun yang lalu, keadaan sungguh berbeda. Saat itu ia baru saja menikah. Ayahnya, yang dipanggil Baba, masih ada dan sehat. Mereka tinggal bersama-sama dalam satu rumah besar berkamar empat. Ada sebuah gudang tempat menaruh sepeda motor dan berbagai perkakas tempat suaminya bisa menjalankan hobi otomotifnya. Dapur mereka luas, tempat emak memasakkan makanan yang enak-enak. Dan di depan rumah, di halaman, ada kandang tempat Baba memelihara sejumlah kambing dan domba.

“Rejeki itu tak perlu dicari jauh-jauh, tak perlu dikejar. Rejeki tak akan lari ke mana-mana,” kata Baba suatu ketika.

Maryam berpikir, dengan tanah warisan yang dimilikinya, memang sungguh tepat Baba berkata demikian. Tanah yang di sebelah kanan itu ditanaminya rambutan, sementara yang kiri ditanami nangka dan cempedak. Setiap kali panen tiba, setiap pohonnya akan dijual borongan. Dari buah-buahan yang dijual beratus-ratus ikat itulah, Maryam dan kakaknya, Annisa, bisa bersekolah.

Belum lagi kambing-kambingnya yang selalu laris dibeli setiap kali Lebaran Haji menjelang. Jasa titipan para pembeli kambing saja sudah lumayan. Dan itu juga ditambah dengan upahnya memotongkan kambing dan sapi dari masjid-masjid sekitar rumah mereka. Baba sudah terkenal sebagai tukang jagal yang andal. Di tangan Baba, setiap kambing dan sapi akan menurut kala hendak disembelih. Sebelum mulai menyembelih hewan-hewan itu, Baba akan berkeliling, mengucapkan mantra-mantra. Hewan-hewan itu hanya akan melenguh pelan sekali, lalu menundukkan kepala tanda patuh. Takbir pun bergema mengiringi kematian hewan-hewan yang dikurbankan manusia demi jalan menuju surga.

Pada siang hari kala Arafah mendekat seperti ini, Baba akan mengeluarkan pisau kesayangannya. Biasanya ritual itu dilakukan hari Rabu, setelah sebelumnya dia memandang matahari seolah mencari wangsit. “Sudah tiba waktunya,” ujarnya seraya mengambil kotak perkakasnya di tempat yang rahasia. Baba tak pernah membiarkan seorang pun meminjam pisau-pisau keramat miliknya itu.

Baba akan mencuci bersih ketiga pisaunya itu dengan air yang ditimba dari sumur. Urut-urutannya tak boleh salah. Ketiganya lantas diasahnya dengan sebuah batu tajam sampai dirasa cukup tajam. Lalu disimpan baik-baik dan dibalut dengan sebuah kain hitam berkaligrafi.

Baba adalah laki-laki yang sangat sederhana. Prinsip hidupnya hanya melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah: beribadah, berdagang, dan beternak. Pakaian sehari-hari kesukaannya adalah sebuah kaus putih polos, celana pangsi, dan sambuk gesper lebar yang juga berfungsi sebagai dompet. Kadangkala kalau ia berangkat ke masjid begitu azan terdengar (Baba selalu salat berjemaah sepanjang hidupnya), ia akan mengenakan koko berwarna putih dan kopiah putih. Itu adalah kopiah kesayangannya yang dibelinya di Tanah Suci ketika menunaikan ibadah haji. Sedangkan kokonya dibeli di Kwitang, tempatnya menghadiri majelis pengajian setiap Ahad.

Ketika kutanya, apakah dia naik kapal laut atau naik pesawat kala pergi haji, dengan bangga dia menjawab. “Naik pesawat dong, dari dulu juga sudah ada pesawat.” Maryam tak bisa mengingatnya sama sekali. Ingatannya buruk karena saat orangtuanya pergi haji, dia baru berusia tujuh bulan. Kata Annisa, Emak menangis waktu hendak pergi karena bimbang meninggalkan Maryam yang masih menyusu ASI.  Sejak itulah Maryam diberi pisang karena dia tak mau menyusu pada kerabat yang diminta menjadi ibu susunya.

Suaminya bangun, lalu meminta kopi panas. Sudah pukul sebelas, matahari mulai panas. Maryam berjalan ke dapur, dilihatnya kotak gula yang hampir kosong. Diguncang-guncangkannya ujung kotak gula. Masih ada dua sendok gula berwarna kuning. Barangkali cukup untuk membuat segelas kopi manis. Kalau suaminya marah lantaran kopi itu pahit, barangkali Maryam akan balik menudingnya tak cukup memberi uang belanja. Maryam mengaduk campuran kopi dan gula, lalu menuangkan air panas mendidih. Suaminya akan tahu jika kopi itu bukanlah dari air panas yang dimasak, melainkan dari termos. Kalau sudah begitu, ia akan mengeluh rasanya tak enak.

Kopi dan makanan lainnya sudah terhidang di meja makan, tepat pukul setengah dua belas. Sehabis Zuhur, suaminya akan berangkat lagi ke sekolah tempatnya bekerja. Menjaga kambing dan sapi-sapi yang akan dikurbankan besok. Juga memastikan mereka makan banyak dan tidak stres. Suaminya sudah tahu di mana harus mencari daun nangka kesukaan kambing-kambing. Soal ini dia pelajari langsung dari Baba. Tapi yang susah adalah menjaga kondisi psikologis calon kurban. Konon katanya, di malam penyembelihan, seiring dengan dikumandangkannya takbir sampai pagi, kambing-kambing, domba, dan sapi akan gelisah. Mereka akan mengembik, melenguh, dan mengibas-ngibaskan ekornya tanda gelisah, seakan merasakan ajal sudah dekat. Sebagian menarik-narik tali yang mengikat leher mereka, meminta dibebaskan.

Hasan datang menghampiri. Maryam mengusap kepalanya. Hasan, anaknya yang berusia 6 tahun, baru saja pulang bermain. Kepalanya basah oleh keringat. Mukanya memerah karena terengah.

“Pasti habis main sepak bola lagi,” sahut Emak dari tempatnya duduk.

“Sana Hasan, ambil air wudu. Ikut ayah ke masjid,” ujar Yasir, suaminya.

Anak itu patuh menuju kamar mandi dan membasuh dirinya. Maryam merasa haru. Hasan sudah besar, seharusnya sudah masuk sekolah dasar. Namun peraturan sekolah di Jakarta mensyaratkan minimal umur 7 tahun untuk masuk sekolah dasar. Maryam tak punya uang untuk mendaftarkannya ke sekolah swasta. Mereka terpaksa menunggu setahun, sembari Hasan disekolahkan di TPA di masjid dekat rumah. Untunglah anak itu cerdas dan kritis, meski juga badung luar biasa.

“Bu, mengapa kita harus menyembelih kurban?” pernah Hasan bertanya.

Maka Maryam akan menceritakan kepadanya soal pengorbanan Nabi Ibrahim, yang diminta Allah menyembelih Ismail—putra tercintanya dan satu-satunya.

“Ibrahim patuh, maka Allah menggantinya dengan seekor kambing kibas yang besar yang didatangkan dari surga,” ujar Maryam berkisah. Cerita itu ia dengar dari ustazah di kampungnya dan selalu diulang-ulang saat ceramah salat Idul Adha.

“Kalau tidak, Ibrahim tak punya anak, dong, Bu.”

“Iya, bisa jadi setiap tahun Ibu harus menyembelih anak. Bagaimana ini? Kan, anak Ibu baru satu,” ujar Maryam sambil tersenyum. Tentu saja yang di dalam perutnya tak dihitung anak, baru jabang anak.

“Apa nanti kita akan beli kambing, Bu?” tanya Hasan.

“Ah, Ibu tidak tahu Hasan. Nanti kau tanyakan saja itu pada ayahmu,” ujar Maryam mengelak.

Hasan tak bicara apa-apa lagi. Maryam merasa bersalah secepat itu menjawab dengan nada yang ketus.

“Begini Hasan, kau berdoa sajalah pada Allah supaya kita bisa membeli kambing untuk kurban,” ujar Maryam menenangkan hati anaknya.

Dulu, ya dulu, Maryam tak perlu bersusah payah berkurban di Hari Raya Idul Adha. Anak-anak kambing yang dirawatnya dengan susah payah dari bayi dengan sukarela akan diberikan kepadanya oleh Baba. Dan satu ekor kambing bisa memiliki dua atau tiga anak sekaligus. Sehingga betapa senanglah hatinya setiap hari mengurusi kambing-kambing yang sangat lucu itu.

Kemudian, saat hari kurban tiba, sepulang dari masjid, Baba akan membawa setumpuk kulit kambing. Bersama Emak, dia akan menyeset setiap sisi kulit bagian dalam yang belum bersih dari daging. Kemudian Baba akan menjemurnya untuk dijual di pasar keesokan harinya. Baba bilang, banyak yang mencari kulit kambing untuk dijadikan beduk.

Tentu sebagai jagal yang andal, Baba juga mendapatkan kepala dan kaki sapi. Kaki sapi yang masih berbulu itu dibersihkan sedemikian rupa oleh Emak, hingga tak tersisa kotoran yang membuat bau. Lalu, direndam dalam panci besar dan dijadikan sup yang rasanya sangat lezat. Sementara kepala dipecahkan kecil-kecil oleh Yasir, lalu dimasak menjadi gulai yang sungguh menggiurkan selera. Akibatnya, selama seminggu dapur dan rumah mereka menjadi bau akibat aneka masakan itu. Ah, tapi bahagia, pikir Maryam dalam hatinya.

Sampai akhirnya musibah datang. Baba sakit semenjak terperosok ke dalam lubang kala mencari daun-daun untuk makanan kambingnya. Dengan kuasa Allah, dia memang bisa memanjat kembali ke atas. Gerobaknya didorong oleh orang asing yang lewat lantaran merasa prihatin melihat orang tua itu tampak kelelahan. Sebulan kemudian Baba wafat tiba-tiba dalam tidurnya. Begitu tenang dan tak menyusahkan siapa pun.

Tak sampai setahun setelahnya, rumah dan kebun peninggalan Baba dijual. Musababnya adalah suami kakaknya yang berengsek itu terlibat utang yang sangat besar dengan pihak bank. Maryam masih ingat kala Annisa datang ke rumahnya sembari menangis. Dia membawa anaknya yang keempat dan paling kecil. Annisa bersimpuh di hadapan Emak memohon bantuan agar terbebas dari tagihan para debt collector. Emak memberikan jaminan sertifikat rumah meskipun Maryam menentangnya.

Lalu, saat pihak bank menyita dan menjual rumah orangtua mereka, Annisa kembali datang. Kali ini ia berdalih perlu uang untuk menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Maryam mendengus dan memalingkan muka saat kakaknya itu datang dan mengiba-iba kepada Emak. Salah kakaknya sendiri memasukkan anaknya ke universitas swasta yang terkenal mahal. Kenapa mereka tak mau merendah dengan menyekolahkan anaknya di akademi negeri atau kerja sama milik departemen pemerintah? Maryam membatin, barangkali karena keponakannya itu begitu goblok.

Uang hasil penjualan rumah itu pun dibagi dua lagi, padahal Annisa dan suaminya sudah mengambil banyak sekali. Emak memilih tinggal di sebuah rumah sederhana berkamar dua bersama Maryam. Emak bilang, nanti jika ia tiada, rumah itu akan diwariskannya untuk Maryam. Hati Maryam tenang mendengar hal itu, meski ia juga tak ingin Emak lekas mati. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka tentu tak bisa mengandalkan gaji Yasir saja. Hanya sepetak tanah kosong yang tersisa, yang lantas disewakan Emak kepada para pedagang yang mendirikan kios di situ. Maryam tak pernah meminta uang sewa yang menjadi hak Emak itu, meski tak juga berdaya menolak kalau Emak memberinya uang sekadar pembeli beras dan gula. Ah, Emak, sampai tua pun tak pernah henti memikirkan anaknya.

“Maryam, kira-kira si Annisa dan suaminya kurban atau tidak ya, besok? Kok, dia belum ke sini? Sudah hampir Magrib,” celetuk Emak saat Maryam tengah menghangatkan sayur dan ketupat.

“Mana kutahu, Mak. Bukannya kemarin dia bilang tak punya uang untuk kurban,” sahut Maryam agak meninggi. Dalam hatinya terselip rasa iri. Kenapa selalu Annisa yang diingat pertama oleh Emak?

“Ya, dia bilang sih, kalau ada uang mau kurban.”

“Barangkali dia sudah tak punya uang sekarang, Mak. Bukankah kemarin dia habis pinjam uang lagi sama Emak karena usaha suaminya gagal?”

“Iya, kasihan Annisa itu. Hidupnya susah terus.”

Maryam menggerutu dalam hati. Apakah Annisa hari ini berpuasa Arafah? Apakah dosanya menggerogoti Emak itu akan diampuni Tuhan kalau dia berpuasa Arafah?

“Tapi Yasir jadi panitia kurban kan besok? Barangkali kita bisa mendapat daging agak banyak. Sepertinya Emak sudah lama tak memasak gulai dan sop seperti dulu,” Emak menyambung.

Maryam menyahut lemah, tidak, tapi tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

Tiba-tiba terdengar suara uluk salam diiringi suara mengembik. Hasan datang sambil berlari dari pintu depan. Wajahnya sangat ceria.

“Ibu, kita punya kambing. Kita akan kurban besok!” Hasan berteriak saking gembiranya.

“Kok bisa? Dari mana?”

Yasir tersenyum, menjelaskan bahwa selama ini dia sudah menyisihkan gajinya. Ditambah Komite Sekolah memberinya amplop yang cukup lumayan. Lalu, Yasir memanggil Hasan dan bersama-sama mereka membeli kambing yang bagus di ujung gang dekat jalan raya.

“Murah Bu, hanya dua juta delapan ratus tapi bagus begini. Barangkali yang jual kasihan karena aku selalu datang setiap hari melihat kambing,” ujar Hasan menjelaskan.

Hasan tersenyum. Yasir tersenyum. Maryam menangis. Emak bertakbir. “Allah tidak pernah salah menilai, Neng,” ujar Emak menyemangati Maryam.

Azan kemudian terdengar lamat-lamat menutup hari.

 

5 September 2017

Kirim Tanggapan