Catatan Harian: Bermain Layang-Layang

0
401

Pada suatu hari Minggu, Ibu mengajak aku dan adik ke Museum Layang-Layang. Ih, museum. Apa itu? Aku sama sekali tidak bisa membayangkan seperti apa bentuknya Museum Layang-Layang itu. Aku meminta Ibu mengajakku berenang dibandingkan ke museum. Tapi Ibu tidak mau. Ibu bilang, pergi ke museum bagus untuk anak-anak seusiaku.

“Kita ke Jakarta Aquarium saja, Bu,” kataku memberikan usul.

“Tempat apa itu?” tanya Ibu.

Ibu lalu mencari informasi melalui Google di handphone miliknya. Namun, Ibu menggeleng-gelengkan kepala. “Tiketnya terlalu mahal. Nanti saja kapan-kapan kita ke sana,” kata Ibu memutuskan.

Maka aku, adik, ayah, dan ibu lalu menaiki mobil sedan kami menuju Museum Layang-Layang. Di perjalanan, aku melihat bangunan-bangunan tinggi semakin sedikit, berganti rumah-rumah kecil dan toko-toko di sepanjang jalan raya. Sepertinya kami semakin jauh dari kota. Hendak ke mana sih kita sebenarnya?

“Kapan sampai, Bu?” tanyaku.

“Sebentar lagi,” jawab Ibu sambil melihat maps di telepon pintarnya.

Mobil kami masuk ke dalam sebuah gang, lalu berhenti di depan sebuah pagar putih. Di sampingnya ada tulisan “Museum Layang-Layang”. Wah, museum ini lebih tampak seperti rumah. Museum yang pernah aku kunjungi bersama ibu dan ayah di sekitar Monas waktu itu masih lebih bagus.

Bapak membayar tiket, lalu mbak-mbak berkacamata dengan ramah mengantarkan kami melihat sebuah film tentang layang-layang. Aku baru tahu ternyata layang-layang punya kegunaan yang banyak juga. Dulu kupikir, layang-layang itu hanya sekadar mainan. Dari film aku tahu, layang-layang juga dipakai untuk mengetahui cuaca, simbol perayaan, atau penelitian untuk pembuatan pesawat terbang pertama kali.

Ibu yang sedang duduk ikut menonton tiba-tiba bangun. Oh, Ibu mengejar adik yang tak bisa diam. Ibu dan adik keluar ruangan auditorium lebih dulu. Aku dan Bapak menonton sampai selesai. Padahal, aku sudah tak sabar ingin menyusul Ibu.

Aku berhasil menemukan Ibu sedang berkeliling bersama adik melihat layang-layang. Di atas kepala Ibu ada layang-layang raksasa. Namun, di tengah layang-layang itu ada sebuah boneka perempuan berambut panjang. Perempuan itu tidak cantik, tapi juga tidak jelek. Kesannya cukup menyeramkan. Tapi adik tidak takut, aku juga. Bapak pemandu menjelaskan boneka itu dari Banyuwangi. Katanya, boneka itu diterbangkan untuk merayakan keberhasilan panen.

Di ruangan itu aku melihat berbagai macam layang-layang. Ada yang besar, ada yang kecil, dan juga ada yang besar sekali. Bapak pemandu menunjuk-nunjuk semua layang-layang.

“Ini dari Bandung,” katanya menunjuk sebuah layangan yang memiliki wajah dan hidung besar.

“Ini dari Padang, ini dari Bali, dan ini dari Makassar,” ujarnya lagi.

Sesudah itu, ia mengajak kami ke ruangan dalam yang berisi layang-layang dari seluruh dunia. Pak pemandu bilang, di sana tersimpan layang-layang dari berbagai negara. Layang-layang itu dititipkan di museum setelah mengikuti festival layang-layang.

“Ini dari Jepang, India, dan Italia. Kalau ini dari Belanda,” ujar bapak berkaus hitam itu.

Aku melihat layang-layang yang ditunjukkannya. Tapi menurutku, layang-layang dari luar negeri itu jelek. Tidak bagus seperti layang-layang dari Indonesia seperti di ruangan satunya. Bapak sepertinya setuju.

“Kalau ini, seperti layang-layang yang biasa dimainkan anak-anak di rumah kita ya, Dania,” kata Bapak sambil menunjuk satu layang-layang dari Italia.

“Bahan bakunya kertas minyak,” ujar bapak pemandu menjelaskan.

Sesudah memutari seluruh ruangan museum, bapak pemandu mengajak aku membuat sendiri layang-layang. Ia membolehkan aku memilih, mau mewarnai layang-layang bergambar ikan atau kupu-kupu. Aku memilih yang gambar kupu-kupu. Namun, karena aku capek sekali mewarnainya, aku meminta Ibu membantuku. Lalu, aku dan Ibu mewarnai bersama-sama. Ibu juga mewarnai layang-layang bergambar ikan untuk adik.

Setelah selesai, bapak pemandu mengikatkan tali benang ke layang-layang buatanku. Jadi deh aku dan adik bermain layang-layang di depan museum. Adik berlari-lari sambil menyeret layang-layang yang dibuat Ibu. Aku berusaha meniru cara ayah bermain layang-layang. Berhasil! Layang-layangku terbang tinggi. Aku senang sekali melihatnya. Saking senangnya, aku jadi ingin bernyanyi. Sebuah lagu tentang layang-layang yang diajarkan guruku saat aku TK.

Kuambil buluh sebatang

Kupotong sama panjang

Kuraut dan kutimbang dengan benang

Kujadikan layang-layang

 

Bermain, berlari

Bermain layang-layang

Berlari kubawa ke tanah lapang

Hatiku riang dan senang

 

“Bu, aku mau jualan layang-layang,” ujarku bersemangat. Ibu yang sedang menyuapi adik dengan es krim jadi bingung.

“Tadi aku kan sudah lihat cara bikin layang-layang, diajari bapak itu. Nanti sampai rumah kita beli kertas minyak ya, Bu. Aku mau jual layang-layang,” kataku lagi.

Ibu mengangguk-angguk setuju. “Iya, nanti,” ujarnya sambil mengejar adik yang berlari-lari hendak menangkap kupu-kupu yang lewat.

“Ibu, nanti aku bikin video. Nanti Ibu rekam ya, terus masukin ke YouTube. Kalau banyak yang klik, nanti aku bisa dapat banyak uang,” aku memaksa Ibu.

“Loh, dari mana kamu tahu?” kata Ibu kaget. “Kebanyakan nonton YouTube sih,” ujar Ibu menuduh.

“Iya Bu, aku ingin jadi vlogger seperti Azka Khairani,” kataku.

“Ibu kira, cita-citamu dulu jadi jadi dokter atau guru,” jawab Ibu. Adik kini sudah lepas dari perhatian Ibu seluruhnya.

Aku tersenyum saja mendengar perkataan Ibu.

Bapak mendekat sambil menggendok adik yang berusaha memberontak ingin lepas.

“Sudah selesai, kan? Pulang yuk, Bapak lapar.”

“Ibu juga lapar. Dania lapar atau tidak? Mau makan apa?” tanya Ibu lembut.

“Bagaimana kalau KFC?” usul Bapak.

“Pizza saja. Sudah lama kita tidak makan pizza,” kataku.

“Ya, boleh juga,” kata Ibu. “Pizza juga enak.”

Maka aku, adik, Bapak dan Ibu kembali menaiki mobil sedan kami. Duh, panas sekali, di dalam mobil sampai terasa gerah karena siang itu terik. Bapak memundurkan mobil perlahan-lahan sebelum memajukannya lagi. Bapak memberi tips saat melewati satpam yang berjaga di depan gerbang museum. Aku membuka jendela mobil meski Bapak sudah menyalakan AC. Di sampingku ada dua layang-layang yang tadi dibuat aku dan Ibu di museum.

Kirim Tanggapan