Seniman Betawi Berharap Anies-Sandi Perhatikan Nasib Budaya Betawi

0
315

Keriaan seni pertunjukan Betawi begitu terasa di Pasar Seni Ancol pada Minggu, (15/10/2017). Selama dua hari, aneka hiburan mulai dari tarian, gambang kromong, dan lenong dipertunjukkan. Penonton yang hadir pun cukup antusias menikmati pertunjukan tersebut.

Salah satunya adalah Ghoes Magribi yang datang bersama anaknya, Tasya Asyifa. Bahkan, Tasya yang datang dari Jakarta Timur itu tak malu-malu memamerkan suara emasnya dengan menyumbang lagu duet berjudul “Istri Tua” bersama Gambang Kromong Dendang Jakarta.

Roni Adi, Ketua Sikumbang Tenabang, menyatakan pihaknya sudah meneken kesepakatan dengan pihak manajemen Ancol untuk menjadi pengisi acara di Pasar Seni hingga tahun depan. Hal ini pun diamini Manajer Operasional PT Taman Impian Jaya Ancol Muhammad Husin Munir yang mengatakan, selain kampung budaya Betawi, juga akan dikembangkan budaya Toraja, Bali, dan sebagainya. “Kami akan angkat dan akan buat event pada 2018. Tahun ini, karena mengawali, kami mulai dari budaya Betawi,” ujarnya Ahad (15/10/2017) seperti dikutip dari Republika.

Sejalan dengan itu, Pasar Seni Ancol akan semakin hidup dan meriah setelah proses revitalisasi selesai. Kawasan itu direncanakan akan memiliki bangunan berornamen khas Betawi, serta panggung kebudayaan dan kesenian. “Nanti akan ada tempat pelatihan dan sejarah yang berhubungan dengan Betawi. Mungkin ada rumah Betawi,” ujar Husein.

Hal ini pun disambut baik oleh Roni Adi. Dia menyatakan Sikumbang Tenabang yang merupakan kumpulan perguruan silat di Tanah Abang akan berkolaborasi dengan komunitas seni budaya Betawi yang lain. Salah satunya Baca Betawi.

Selain itu, meski persiapan yang dilakukan tergolong mepet, Roni mengakui tim Sikumbang mampu tampil dengan maksimal. Terbukti pertunjukan lenong berjudul “Gara-Gara Si Manis” mampu menarik gelak tawa dari pengunjung. Adegan silat bercampur kelucuan dalam konflik rumah tangga Bang Pendil membuat penonton tertawa terbahak-bahak.

Kala ditanya harapannya terkait pelantikan gubernur baru DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Senin (16/10/2017), Roni menyampaikan gubernur baru sebaiknya lebih memberikan panggung bagi seniman-seniman Betawi untuk berkarya. Sebab, banyak seniman yang menggantungkan hidupnya dari adanya pementasan dan proyek pemerintah. Apalagi, Betawi sebagai penduduk asli Jakarta merupakan representasi kebudayaan Nusantara. Tak salah jika Bung Karno mengatakan, “Di Jakarta, Tuhan menciptakan orang Indonesia.”

Harapan Roni pun bukan tanpa dasar, sebab saat ini sudah ada Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang pelestarian budaya Betawi. Salah satunya, mengatur adanya ikon-ikon di ruang publik di Jakarta, kelangsungan dan jaminan hidup bagi seniman Betawi, serta kurikulum bahasa Betawi dan pencak silat di sekolah-sekolah di Jakarta.

Dalam perda ini, Betawi dihormati secara menyeluruh dan diberik tempat yang agung sebagai sebuah landasan budaya di Jakarta. Misalnya dengan pemakaian baju sadariah dan kebaya encim bagi pejabat Pemrov DKI.

“Itu di Perda Budaya Betawi kan seperti itu, ada amanat itu,” ujar Roni menambahkan.

Menurut Roni, Pemprov DKI Jakarta dan birokrasi di bawahnya wajib mendorong agar Betawi menjadi tuan rumah kebudayaan di Jakarta. Para seniman perlu dirangkul untuk meningkatkan kompetensi dalam berkarya dan mengikuti ekspektasi pasar yang semakin berkembang, tanpa kehilangan idealisme mereka.

Memang gubernur yang baru dilantik pada hari ini memiliki janji yang berat kepada orang Betawi. Sebagai gubernur yang mencitrakan diri dekat dengan kaum Betawi, banyak janji yang akan ditagih kepada pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Salah satunya adalah pembangunan stadion Persija dan penghentian reklamasi.

Reklamasi juga menjadi titik kritik dalam pelestarian budaya, terutama bagi masyarakat pesisir. Roni menganggap, jika reklamasi terus dilakukan, budaya Betawi yang berkembang di kalangan masyarakat pesisir akan hilang.

“Misal cerita keramat kapal karam, itu kan cerita tentang Betawi pesisir. Kalau nelayan digusur, siapa yang akan melestarikan? Dengan reklamasi ditolak itu juga melestarikan budaya Betawi juga. Tidak hanya masalah dari panggung ke panggung,” ujar Roni.

Kirim Tanggapan