Banjir di Jakarta Sudah Terjadi Sejak Masa Tarumanegara, Enggak Percaya?

0
395

Banjir kini sudah menjadi fenomena bencana nasional. Bahkan di Jakarta, yang sebelumnya dikenal ada siklus banjir lima tahunan, kini hampir setiap tahun Ibu Kota tergenang air. Banjir memang sepertinya tak pernah bosan menyambangi Jakarta. Berdasarkan catatan sejarah, Prasasti Tugu menyebutkan bahwa pada masa Kerajaan Tarumanegara di abad ke lima Masehi sudah terjadi banjir di kawasan sepanjang Sungai Ciliwung.

Setelah itu, ada catatan yang menyebutkan bahwa Jakarta kembali terendam banjir pada 1699. Saat itu air Sungai Ciliwung membanjiri Batavia setelah meletusnya Gunung Salak. Di musim hujan seperti hari-hari belakangan, hanya dalam hitungan jam setelah hujan turun, banjir langsung terjadi.

Candrian Attahiyat, arkeolog UI, yang saya hubungi dalam pesan WA hari ini mengatakan banjir di masa Tarumanegara itu terjadi karena Jakarta merupakan dataran rendah yang dialiri banyak sungai. Jika dilihat morfologi bentang alamnya, dataran Jakarta memang terbentuk karena sedimentasi yang dibawa aliran sungai sekitar 5000 tahun SM.

Candrian melanjutkan, untuk mengatasi banjir yang sering terjadi saat itu, di masa Tarumanegara dibangunlah ada proyek pembuatan kali sodetan yang sekarang lokasinya di sekitar Rawagatel, Sukapura, Tanjung Priok. Nama kalinya Gomati, tetapi masyarakat sekarang menyebutnya Kalimati. Candrian menegaskan sodetan tersebut dibangun untuk mengendalikan banjir

Secara topografi, Jakarta terbentuk dari aliran endapan alluvial sungai dan pantai. Susan Blackburn dalam Jakarta Sejarah 400 Tahun (Komunitas Bambu, 2011) menulis sejak zaman prasejarah telah terdapat permukiman manusia di sekitar Kali Ciliwung di Jawa Barat, yang menjadi lokasi Jakarta saat ini.

Area ini, disebutkan Susan Blackburn, terbentuk oleh endapan lumpur yang terbawa dari pegunungan berapi di selatan, sebuah dataran aluvial yang membentang berbentuk kipas dan dilintasi beberapa kali—Cisadane, Angke, Ciliwung, Bekasi, dan Citarum.

Lama-kelamaan, pantai yang berupa dataran rendah berawa-rawa yang berada di pinggiran alluvial ini semakin meluas ke utara karena lumpur sungai yang hanyut. Dalam satu diskusi di Condet, arkeolog Hasan Djafar mengatakan ada 13 sungai yang melintasi Jakarta.

Selain itu, secara umum Provinsi DKI Jakarta terletak di dataran rendah dengan ketinggian rata-rata berkisar 8 mdpl. Bahkan, sekitar 40 persen wilayah Provinsi DKI Jakarta berada di bawah permukaan laut.

Sifat dan karakteristik Jakarta sebagai dataran rendah inilah yang menyebabkan Jakarta rentan tergenang air pada musim hujan.

“Banjir di Jakarta adalah sebuah keniscayaan,” ucap Sudirman Asun, aktivis Ciliwung Institute, beberapa waktu lalu.

Banjir dan Kuburan Orang-Orang Belanda

Upaya mengatasi banjir di Jakarta sudah dilakukan sejak berabad-abad lampau. Prasasti Tugu menyebut ada upaya penanggulangan banjir berupa pembuatan parit sebagai jalan bagi air yang melimpah.

Sementara itu, pemerintah kolonial Belanda membangun Batavia sesuai pola perencanaan Kota Belanda. Terusan-terusan digali untuk memecah aliran air di Sungai Ciliwung serta sebagai drainase dan lalu lintas air. Kanal-kanal diciptakan di tengah Kota Batavia dengan gedung-gedung tinggi berciri Eropa di pinggirnya. Hal ini menjadikan Batavia dijuluki sebagai Queen from the East (Ratu dari Timur).

Terusan yang dibangun pemerintah kolonial Belanda cukup banyak, yakni 16 kanal. Beberapa di antaranya adalah Tijgergracht, Garnalengracht, Moorschegracht, dan Mookervart. Pada pertengahan abad ke-17, sistem terusan itu diperluas hingga ke sungai-sungai di luar kota Benteng Batavia. Perluasan ini dilakukan sebagai sumber pengairan bagi sawah dan ladang tebu di luar kota, sekaligus menjamin tersedianya air di dalam Kota Batavia karena di musim kemarau air Sungai Ciliwung sering tidak memadai.

Bondan Kanumayoso, doktor sejarah Universitas Indonesia, dalam suatu percakapan menyebutkan kanal dan terusan ini pernah berfungsi baik.

“Saya kira itu berhasil, paling tidak menurut ukuran VOC. Sampai kira-kira ada pabrik gula di luar kota benteng pada abad ke-18. Pabrik itu dijalankan oleh orang-orang Cina dan limbahnya dibuang ke sungai,” ucapnya.

Restu Gunawan dalam disertasinya tentang gagalnya sistem kanal dan pengelolaan banjir di Jakarta dari masa ke masa menyebut sistem kanal ini menjadi musibah lantaran gagal membantu mengatasi masalah banjir. Sistem kanal tidak berhasil karena topografi Jakarta yang datar, sehingga air tidak bisa mengalir secara gravitasi. Sedimentasi lumpur dan sampah juga menyebabkan aliran air tidak lancar. Pengendalian banjir dengan pembangunan kanal atau saluran hanya mampu mengurangi beban banjir sesaat.

Pendangkalan sungai dan endapan lumpur dari hulu membuat sistem jaringan terusan itu malah menambah bahaya banjir dari Jakarta. Area tanah yang digenangi air tak mengalir makin luas.

Ditambah lagi dengan banyaknya kilang gula yang membuang ampas tebu ke sungai.

Pengoperasian kilang gula memerlukan air. Karena itulah hampir selalu kilang gula dibangun di pinggir sungai. Limbah yang dibuang ke sungai tentu pada akhirnya mengalir ke laut, melewati kanal-kanal yang begitu dibanggakan JP Coen.

Lumpur pun menyumbat jalan air, padahal di musim kemarau sebelumnya lumpur yang mengendap sudah dibersihkan dengan susah payah. Air di parit dan kanal mandek, berbau busuk, dan menjadi sarang malaria yang ganas. Kanal-kanal ini akhirnya membawa malapetaka. Penyakit malaria berjangkit, terutama di kalangan pegawai muda VOC yang belum lama tinggal di Batavia.

Berdasarkan catatan sejumlah sejarawan, saat itu tak seorang pun merasa heran bila mendengar teman dengan siapa ia semalam makam bersama akan dikubur keesokan harinya.  Begitu banyak orang Belanda tewas akibat penyakit sehingga, mengutip kata Valentijn, Batavia kemudian menjadi kuburan bagi orang-orang Belanda (Graf der Hollanders).

Kirim Tanggapan