Anak Rantau: Memahami Pergolakan Kampung dan Nilai Tradisi Minang

0
470
Anak Rantau karya A. Fuadi

Anak Rantau karangan Ahmad Fuadi dibuka dengan kisah seorang anak bernama Hepi yang hampir kehilangan nyawa di tiang gantungan. Setelahnya, Hepi justru dimarahi Martiaz, ayahnya, karena sengaja membuat ulah hingga nilai rapornya kosong. Sebagai hukuman, dia ditinggalkan di kampung halaman sang ayah di tepi Danau Talago.

“Laki-laki itu harus berani menanggung perbuatan sendiri. Jangan seenaknya bolos sekolah. Setiap kelakuan ada risikonya. Sekarang rasakan dulu hukuman kamu. Kalau memang mau ke Jakarta, boleh, tapi beli tiket sendiri kalau mampu. (hlm 54)”

Ucapan sang ayah inilah yang menimbulkan dendam membara di hati Hepi. Dia bertekad tak akan mengemis kepada sang ayah yang telah membuangnya. Namun sebelumnya, Hepi harus berhadapan dulu dengan kakeknya, Datuk Marajo Labiah. Sang kakek yang merasa gagal menjadi orang tua sejak kematian Yanuar dan kepergian Martiaz ke rantau, bertekad menebus kesalahannya. Meski bagi Hepi, sang kakek tetaplah orang tua yang pemarah dan menyebalkan. Untunglah ada Salisah, sang nenek, yang rutin membela dan memberikan penghiburan baginya.

Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara, dalam novel terbarunya ini konsisten menyuarakan persoalan tanah kelahirannya, Minangkabau. Fuadi mengkritisi betapa kampung bukan lagi tempat yang aman permai. Di kampung pun banyak masalah. Karena itu, solusi harus dipikirkan, dan seperti kebiasaannya, hal itu tecermin dari filosofi yang digaungkannya di awal cerita: alam terkembang menjadi guru.

Kali ini, sosok penyelesai masalah adalah Hepi. Si anak yang justru dipulangkan sang ayah ke kampung, ternyata mampu menjembatani persoalan antara Datuk dan Pendeka Luko—yang difitnah sebagai pengkhianat—kemudian memulihkan namanya. Hepi pula yang membongkar adanya pencurian yang terus berulang dan mata rantai penjualan narkoba yang ternyata melibatkan sosok dekat yang tak disangka-sangka.

Anak Rantau memang menyajikan kisah nostalgia soal kampung halaman. Namun,  Fuadi dengan cerdas menyisipkan gugatan warga Minang yang dihajar pemerintah pusat lewat peristiwa PRRI. Lewat percakapan sesepuh kampung di lapau serta keluh kesah Pandeka Luko, terkuak bahwa masyarakat Minang tak hendak memisahkan diri dari Republik. Bahkan, Bung Karno pernah menghabiskan beberapa tahun dalam hidupnya di Padang, yang lalu dibalas masyarakat dengan sikap patuh dan penghambaan, termasuk memenuhi permintaan si Bung Besar untuk bekerja sama dengan Jepang.

Bagi masyarakat Minang, luka dihajar pemerintah yang dibela habis-habisan saat perang kemerdekaan itu belumlah sembuh. Luka itu kemudian berkembang menjadi sebuah sikap ketidakpercayaan diri yang berujung pada semakin lemahnya dan tak adanya tokoh intelektual yang mencolok setelah Hatta, Agus Salim, Hamka, maupun Syahrir.

“…. PRRI tahun 1958 itu sudah melemahkan orang Minang. Kita kena sindrom kalah perang. Kita sudah sama-sama tahu, banyak surau kosong sejak itu karena generasi muda lari ke hutan dikejar tentara pusat. Lihat pula anak-anak sekolah dan kuliah terpaksa putus sekolah untuk ikut gerilya. Hilang generasi emas kita. Hilang jalur estafet kita. Sekarang baru terasa. Tiada itu patah tumbuh hilang berganti. Yang ada patah, tak tumbuh-tumbuh, tak berganti-ganti.” (hlm. 96)

Selain itu, Fuadi juga menyoroti masalah jual beli gelar datuk. Pada masa kini, gelar datuk dibagikan seperti membagi roti, tidak lagi dipilih dan diseleksi. Para penghulu pun tak lagi mengajarkan adat dan agama ke generasi muda. Bahkan Pak Sinayan, seorang pensiunan guru, sampai mencemooh, “Habis sudah Minangkabau ini. Minang hilang, tinggal kerbaunya” (hlm 95).

Jika dalam Negeri 5 Menara tokoh ego pergi ke luar kampung dan menuntut ilmu ke Gontor demi mendapatkan kejayaan, kali ini Fuadi berusaha mengambil nilai-nilai filosofis yang bersumber dari Tanah Gadang. Hidup di surau, belajar silat,  khataman Quran, hingga adab dan sopan santun lainnya. Semua dipimpin langsung oleh Datuk Marajo Labiah, yang mencari cara untuk menghapuskan dosa-dosanya.

Beberapa tokoh dalam kisah ini, seperti Nopen dan Lenon, memang menjadi tokoh bulat yang mengejutkan. Karakter mereka tidaklah hitam putih, tapi itu juga bukan sesuatu yang mustahil. Penokohan mereka seolah mempertanyakan pemeo bahwa orang Minang yang tersesat pada akhirnya pun akan insyaf dan kembali ke surau.

Secara keseluruhan, Anak Rantau tampak lebih cocok disebut buku untuk anak-anak dan remaja. Sebab, buku ini kental dengan unsur pendidikan, persahabatan, petualangan, dan lingkungan hidup. Di dalamnya, saya seperti menemukan keasyikan membaca di perpustakaan kala sekolah dasar dulu. Pada akhirnya, saya pun bertanya-tanya, apakah ini disengaja Fuadi yang kini memang menggeluti bidang pendidikan dan motivasi?

 

Keterangan buku:

Judul : Anak Rantau

Pengarang : A. Fuadi

Tahun terbit : cetakan kedua, Agustus 2017

Penerbit : PT Falcon

Jumlah halaman : 382 halaman

 

Kirim Tanggapan