Salah Tafsirkan Benyamin Biang Kerok, Betawi Kita Kritik Hanung Bramantyo

0
292
Benyamin Biang Kerok (foto: Falcon)

Film Benyamin Biang Kerok versi 2018 karya Hanung Bramantyo mendapat kritik keras dari berbagai pihak usai penayangan perdananya di bioskop sejak 1 Maret 2018. Film yang digadang-gadang berupa wujud apresiasiasi terhadap legenda Betawi, Benyamin Suaeb, itu justru dinilai mengecewakan.

Salah satunya, beredar petisi dari Betawi Kita yang meminta agar pelecehan dan stigma negatif terhadap orang Betawi dihentikan. Berikut press release-nya.

PRESS RELEASE

Pernyataan Sikap Perkumpulan Betawi Kita tentang Film Benyamin Biang Kerok dari Falcon dan Hanung Bramantyo

Setelah menonton film “Benyamin Biang Kerok” besutan Sutradara Hanung Bramantyo, Perkumpulan Betawi Kita menyatakan kecewa, bahkan merasa dihina. Bagaimana tidak, mengingat Benyamin S bukan sekadar tokoh film, pemusik dan segambreng lagi sebutannya. Benyamin telah menjadi manifestasi dari kebudayaan dan sejarah orang Betawi.

Hanung dan para penulis skenario serta para pemodalnya telah dengan sengaja memanfaatkan nama Benyamin sebagai komoditas. Tidak lebih dari itu saja, meskipun film didedikasikan untuk mengenang Benyamin. Izin dari keluarga dengan iming-iming merayakan ulang tahun Benyamin dengan menafsirkannya ulang. Tetapi, ini hanya kamuflase, trik memalukan yang disebut Sjumandjaja sebagai tukang kelontong perfilman. Mereka ini, kata Sjuman, tidak ada punya kreativitas sebagai unsur utama film. Mereka hanya punya kreativitas bagaimana melipatgandakan modal. Memperbarui angka rekening, bukan memperbarui nilai film nasional.

Mayoritas narasi, adegan, gaya hidup yang dipertontonkan menjelaskan dengan gamblang tidak hadirnya pikiran di dalamnya. Semua asal comot. Memang benar Benyamin juga asal comot. Tetapi, beda asal comot dengan kreativitas dibanding asal comot yang tanpa pikiran. Hasilnya yang satu pembaruan, sedangkan satu lagi kedunguan. Ya, kedunguan demi kedunguan inilah yang menyertai perjalanan film.

Di awal adegan, sutradara Hanung banyak mencomot film James Bond dengan Casino Royal-nya, Mission Imposible, Tomb Rider, dan latar belakang mafioso yang sarat dengan perjudian, miras dan pornografi. Hanung tidak puas jika hanya menjiplak narasi film aksi yang berkiblat dari Hollywood. Ia tutup film dengan adegan perkelahian yang menjiplak film Kungfu Hustle dari Hongkong. Di antara awal dan akhir demikianlah jiplakan demi jiplakan disambung yang buruk disambung sebagai cerita.

Ada juga kreasi semisal Pengki dan ibunya sebagai pengusaha super kaya dari bisnis teknologi. Tetapi tidak dijelaskan seperti apa, malahan yang muncul dalam penjeladan ibunya bisnis properti dan tampak sedang macet proyek propertinya. Di hadapan mereka duduk dua orang yang wajahnya jelas-jelas ingin agar penonton mengidentifikasi itu adalah pasangan Ahok-Djarot. Keduanya digambarkan dengan wajah yang takut sambil minta sogokan. Disebut-sebut juga kata “gubernur baru” yang menurut kedua pasangan susah diatur (?), kemudian ibunya Pengki bilang, “Semua bisa disogok”.

Ini hanya salah satu bagian dari cerita yang menunjukkan betapa selain penuh jiplakan juga sesungguhnya cerita film mentah. Alhasil banyak keajaiban-keajaiban yang tidak logis yang berujung pada cerita film yang kacau karena gagal bercerita juga yang menyedihkan karakter yang lemah.

Akibatnya sayang sekali pemain-pemain kaliber Lidya Kandouw, Omas, Mariam Bellina, Komar bahkan Rano Karno yang sebenarnya punya hubungan khusus dengan Benyamin, malah Betawi tidak menemukan alur cerita yang menantang dan memompa kejenialan membawakan karakter mereka. Tinggal sebagai dari satu gerak ke gerak yang lain yang akal sehatnya sukar dicari, kecuali pada imitasi adegan demi adegan dari film Hollywood sampai Hongkong. Suram.

Demikianlah nasib film yang hanya mendompleng judul dan nama besar Benyamin Sueb dari film garapan Nawi Ismail pada 1972. Benyamin Biang Kerok garapan Hanung Bramantyo dihidupkan untuk dipermalukan bukan hanya Benyamin, tetapi juga para sahabatnya di dunia film yang dilibatkan.

Bahkan keluarga. Adalah benar dengan film ini nama Benyamin menjadi naik dan dibicarakan lagi. Tetapi, buat apa jika dinaikkan untuk dipermalukan. Buat apa jika dibicarakan untuk jadi bahan dikasihankan nasibnya yang dilecehkan. Bahkan pesan keluarga kepada Rumah Produksi Falcon Pictures pun diabaikan. Pesan tidak ada pusar, rokok, minuman keras, semua dilanggar. Film bukan hanya banyak pornografi pornoaksi, rokok, minuman keras dituang juga kekerasan.

Belum lagi jika bicara tradisi Betawi dalam film tersebut. Boleh dikatakan, narasi Betawi film ini tidak ada selain sebatas jiplakan yang ditempel asal dan seadanya. Jangan harap film ini seperti Biang Kerok dari Nawi Ismail, Si Doel dari Sjumandjaja atau Rano Karno di sinteronnya yang menggugah dan mendorong penafsiran kebetawian dan nilainya. Film dari Hanung ini jauh dari nilai-nilai dan filosofi kebetawian. Tak bernilai selain komersial dan hanya memalukan Benyamin dengan kebetawiannya.

Celakanya Falcon dan Reza Rahadian yang memerankan sebagai Pengki, terus melakukan promo film terbarunya itu. Bahkan, kabarnya film Benyamin Biang Kerok dibagi menjadi dua bagian. Dijadwalkan akan tayang pada bulan Desember mendatang.

Harapan orang banyak zaman “reborn” film ini akan jadi berkah buat Benyamin Biang Kerok, menjadi lebih baik dari sebelumnya di tahun 1972, justru malah merusak. Tinggal jadi musibah.

Berlatar belakang itu semua Perkumpulan Betawi Kita menghimbau agar:

1. Warga masyarakat, khususnya Betawi, tidak menonton film tersebut.

2. Keluarga Benyamin S membatalkan pemakaian nama Benyamin untuk bagian kedua yang sudah dibuat untuk tayang Desember mendatang sebab pihak pembuat fil. telah mangkir dari pakem moral yang disepakati.

Sudah saatnya para produser menghentikan film-film yang hanya mempertebal stigma tentang orang Betawi.

Kritik lain datang dari Gusman Nawi, penulis buku Main Pukulan Khas Betawi. Ia mengatakan Benyamin Biang Kerok dianggap tidak menggambarkan spirit yang selama ini dicitrakan Benyamin Suaeb yang merupakan maujud orang Betawi. Gusman menilai Hanung sok tahu dalam menceritakan orang Betawi.

“Persepsi naifnya tentang orang Betawi modern dalam pandangan lensa kameranya yang terlalu mainstream untuk ukuran insan kreatif yang selalu dituntut berpikir out of the box. Baginya, Betawi modern diterjemahkan sebagai suatu hal yang bersifat material dan hedonisme, tanpa menyadari hal-hal imaterial seperti kemajuan dalam berpikir dan kesadaran mempertahankan ketinggian akhlak orang Betawi sebagai bagian dari modernisasi.”

Gusman Nawi menambahkan, pola pikir dari “orang film” tentang Betawi terbawa dalam Benyamin Biang Kerok. Walhasil, film ini semakin menambah daftar panjang stigmatisasi Betawi di dunia audio visual (sinetron dan film), setelah memperlihatkan orang Betawi sebagai orang lugu, dungu, norak dan entah dari planet mana asalnya, yang kemudian menjadi bahan tertawaan orang, bukan sebagai orang yang “pandai” membuat orang tertawa.

Ia mengatakan sosok Pengki yang kini diperankan oleh Reza Rahadian juga menambah keburukan film tersebut. “Meski bukan biopik, tapi usaha Reza dengan gaya yang meniru-niru Benyamin S tidak ubahnya seperti seorang aktor yang sedang memerankan orang idiot dengan gaya slapstik. Akting yang dibuat-buat malah mengaburkan sosok Benyamin yang dikenal berakting sebagaimana apa adanya Benyamin, dengan celetukan-celetukan khas dan gaya humor cerdasnya.”

Karena itulah, Gusman menganggap Hanung gagal dalam menempatkan Reza sebagai sosok biang kerok menurut definisi orang Betawi, sehingga film ini tampak seperti upaya komersialisasi nama Benyamin Suaeb saja.

https://www.youtube.com/watch?v=RpFCncDgWCs

Kirim Tanggapan