RESENSI: Remah-Remah Bahasa yang Bukan Sekadar Remeh-Temeh

0
217
Remah-Remah Bahasa karya Eko Endarmoko.

Eko Endarmoko bukan saja seorang pengumpul dan pencatat kosakata yang tekun. Dia barangkali juga seorang munysi bahasa. Terbitnya Remah-Remah Bahasa: Perbincangan dari Luar Pagar barangkali menjadi penguat kesan itu.

Remah-Remah Bahasa sejatinya tidak membicarakan hal yang remeh-temeh. Namun, judul remah-remah ini mengisyaratkan bahwa ada hal-hal krusial yang tercecer serta luput dari perhatian para pengguna bahasa atau ahli bahasa sekali pun. Eko Endarmoko pun mencoba masuk dari sini, dengan memberi penekanan dari luar pagar—menunjukkan bahwa ia bukan pemangku kepentingan dan peraturan terkait kebahasaan.

Remah-Remah Bahasa memuat berbagai tulisan penyusun Tesamoko (Tesaurus Bahasa Indonesia ala Eko Endarmoko) dan pengasuh rubrik Tabik di Beritagar.id ini terkait bahasa Indonesia yang tersebar di berbagai media massa, termasuk di  Tempo dan Kompas. Sebanyak 42 tulisan dibagi ke dalam empat bagian, meliputi Aturan Berbahasa Aturan Kita, Memaknai Kaidah Bahasa, Kesantunan dalam Berbahasa, dan Bahasa dalam Komunikasi.

Ketekunan, ketelitian, serta kecintaan Eko Endarmoko kepada bahasa Indonesia akan lekas tampak begitu membaca buku ini. Sebagai pemakai bahasa Indonesia, Eko mencoba menggugat Pusat Bahasa (kini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia) mengenai betapa rumitnya aturan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI). Eko berkali-kali menekankan bahwa bahasa sejatinya berkembang sesuai tuturan yang hidup dalam masyarakat, serta bukan berdasarkan kaidah dan teori yang ditetapkan para ahli bahasa.

Eko menyatakan kebijakan Pusat Bahasa itu lebih sering menimbulkan kebingungan dan tidak menjawab pertanyaan dibanding menyederhanakan persoalan. Seperti misalnya kenapa KBBI memungut lema capai dan bukan capek atau sundal dan bukan sundel. Apakah, seperti yang dipertanyakan Eko, “murni dan baku dalam bahasa rupanya punya kecenderungan menjauhi, atau rada alergi terhadap ragam bahasa lisan (dan bahasa daerah). (hlm 45)”

Selain itu, Eko juga tidak setuju dengan wacana akan diberlakukannya Undang-Undang Bahasa. Sebab, menurut dia, Undang-Undang Bahasa itu mengandung cacat bawaan berupa pengingkaran terhadap hakikat bahasa yang terus berubah dan bersifat manasuka (hlm 36)

Eko melanjutkan, bukankah aneh, bahwa pengguna bahasa yang kerap dibuat bingung oleh aturan lembaga yang mengurusi bahasa kini justu akan dijerat dengan peraturan yang lebih membingungkan lagi? Selain itu, Eko khawatir Undang-Undang Bahasa ini akan menghilangkan kesenangan masyarakat untuk kreatif dan bermain-main dengan bahasa Indonesia. Sebab, bukankah itu artinya seragam, jumud, dan membosankan?

Keprihatinan Eko tidak hanya nyata pada aturan yang dibebankan pada bahasa Indonesia yang sedang “sakit”, tapi juga penuturnya yang juga “sakit”. Kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia tampaknya semakin hilang, terdesak oleh pemakaian istilah asing yang semakin popular. Sementara upaya berkali-kali untuk turut kaidah tak kurang-kurang digalakkan melalui berbagai kolom bahasa di media massa, siaran televisi, radio, maupun poster. Namun, rupanya penyakit sesat bahasa ini masih saja bercokol.

Bagaimana mungkin seorang penutur menulis merubah padahal maksudnya mengubah, belum lagi di- yang sering bertukar-tukar antara awalan dan kata depan. Apakah sesat itu didasari oleh sikap penuturnya sendiri yang abai terhadap kaidah bahasa Indonesia, bahkan yang paling dasar sekali pun.

Di tengah perayaan menuju 90 tahun Sumpah Pemuda serta perayaan Kongres Bahasa Indonesia ke XI pada bulan Oktober 2018, Eko Endarmoko mengajak berpikir betapa banyak masalah terkait bahasa Indonesia yang belum selesai. Seturut semangat menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada sumpah yang mencengangkan itu, Eko berpendapat penyerapan bahasa asing kepada bahasa Indonesia berdasarkan kemiripan bunyi hanyalah akan menjauhkan penutur bahasa Indonesia kepada bahasa daerahnya sendiri.

Itu tentu tantangan mengingat berdasarkan data Badan Bahasa pada 2016, sekitar 11 bahasa daerah—sebagian besar di Maluku dan Papua—sudah punah dan 10 persen dari 700 bahasa daerah di Indonesia sudah bersatus sekarat. Belum lagi sebagian besar generasi muda yang sudah tak bisa berbahasa ibu mereka sendiri. Ini tentu persoalan penting karena bahasa ibu berkaitan dengan identitas dan jati diri penutur bahasanya.

Maka, menyelami Remah-Remah Bahasa dan belantara rimba pikiran Eko Endarmoko tentu bukan sekadar remeh-temeh. Eko telah membentangkan ke hadapan kita bahwa nasib bahasa ada di tangan penggunanya sendiri. Pembicaraannya tentang bahasa mengusik sekaligus mencerdaskan, tapi juga terus-menerus menyodorkan persoalan kebahasaan yang sampai saat ini belum selesai.

Judul buku: Remah-Remah Bahasa: Perbincangan dari Luar Pagar

Penulis: Eko Endarmoko

Tahun terbit: Desember 2017

Penerbit: Bentang

Jumlah halaman: xiv + 166

ISBN: 9786022914457

 

 

Kirim Tanggapan