Jampe dan Mantra dalam Kebudayaan Betawi

0
390
Yahya Andi Saputra dalam diskusi Betawi Kita membaca jampe sakit tumbuan.

Persoalan jampe (bakunya jampi) dan mantra sebenarnya bukan mutlak milik kebudayaan Betawi belaka. Hampir dalam setiap kebudayaan, kita mengenal adanya bunyi-bunyian dengan pola yang berima dan memiliki kekuatan magis. Fungsinya pun bermacam-macam.

Lirik lagu Nella Kharisma berjudul “Jaran Goyang” menjelaskan adanya fenomena soal jampe ini.

Sayang, janganlah kau waton serem
Hubungan kita semula adem
Tapi sekarang kecut bagaikan asem
Semar mesem, semar mesem

Jurus yang sangat ampuh, teruji terpercaya
tanpa anjuran dokter, tanpa harus muter-muter
cukup siji solusinya, pergi ke mbah dukun saja
Langsung sambat, “Mbah, saya putus cinta”

Namun, tidak hanya soal putus cinta, jampe dan mantra-mantra juga bisa dipakai untuk mengobati penyakit atau bahkan menenangkan anak kecil. Soal ini, praktik perdukunan di Betawi sudah dikenal sejak lama dan dipercaya secara luas memberikan manfaat yang mumpuni, baik positif maupun negatif.

Baca juga: https://www.mpokiyah.com/2016/02/15/agama-dalam-kehidupan-orang-betawi/

Yahya Andi Saputra dalam tulisannya berjudul “Dukun Betawi” mengatakan, tata cara pengobatan yang dilakukan oleh dukun untuk menolong orang sakit dalam lingkungan masyarakat sudah dikenal dan berakar turun-temurun sampai sekarang.

Namun, tak sembarang orang bisa menjadi dukun lantas bisa mempraktikkan mantra dan jampe-jampe. Sebab, dukun merupakan orang pinter (sakti) yang tahu tentang keadaan penyakit yang datang dari alus, roh gaib, atau perbuatan-perbuatan jahat manusia.

Yahya menyebutkan, penyakit dan perbuatan jahat itu seperti santet, yang memanfaatkan media berupa jarum, panah, golok, api, pecahan kaca, rambut, paku, dan segala macam media yang dapat merusak saraf atau fungsi hidup dalam tubuh manusia.

Selain itu, dapat pula dukun menggunakan ilmu gaib berupa ilmu pencabut nyawa dan ilmu-ilmu angin yang tidak diketahui oleh manusia biasa. Dan banyak lagi cara orang-orang untuk memikirkan keadaan hidupnya. Di mana saat ada kelengahan, kelalaian, dan hilang konsentrasi, di situlah orang menyantet atau melakukan perbuatan negatif lainnya.

Dukun Betawi (sumber gambar: Lembaga Kebudayaan Betawi)

Bagi saya sendiri, ada beberapa kali pengalaman bertemu dengan orang pinter ini. Umumnya untuk mencari pengobatan atas penyakit yang diderita anak kecil. Saat anak pertama saya masih berusia di bawah satu tahun, pernah beberapa kali dia tak bisa tidur semalaman dan selalu menangis. Meski sudah dibacakan ayat-ayat suci Alquran, kami sebagai orangtua tak bisa mendiamkannya.

Dalam ilmu kedokteran, lantas kami ketahui bahwa apa yang dialami anak saya itu adalah kolik, yaitu kondisi saat bayi menangis terus-menerus tanpa penyebab yang jelas dan tak bisa dihentikan. Namun, orang tua, terutama ibu saya, percaya bahwa Alia, si anak pertama kami itu, menangis lantaran ada makhluk gaib yang menganggunya.

Maka, setelah salat Subuh pagi-pagi buta, pergilah kami ke rumah seorang nenek di kawasan Kalibata. Si nenek dipercaya punya ilmu untuk mendiamkan anak yang rewel, sakit, sering mengompol, maupun susah disapih. Setelah mengantre dan membeli air kemasan, akhirnya anak saya pun “dipegang” oleh si nenek.

Sederhana saja gerakan yang dia lakukan, yakni memegang ubun-ubun, bagian punggung, hingga perut sambil tertunduk dan berkomat-kamit. Saat si nenek menyentuh kulitnya, tiba-tiba saja anak kami yang tadinya tenang mulai menangis kembali. Setelah proses yang cukup singkat itu, si nenek membacakan jampe ke dalam air kemasan yang kami bawa. Setelah itu dia berpesan agar air itu diminumkan atau dimandikan pada anak kami. Kami pulang, memandikan si anak, dan ajaibnya anak kami sudah tenang seperti biasa. Sejak saat itu kami beberapa kali datang, tapi terhenti sejak si nenek meninggal dunia dan tak ada yang mewarisi ilmunya.

Kali lain, pernah juga Alia mengalami bisul yang kunjung sembuh meski sudah tiga kali kami membawanya ke dokter. Bisul yang besar dan menegang itu jelas membuatnya kesakitan karena tak kunjung pecah. Salah seorang adik ibu lantas menyuruh kami ke tempat orang pintar yang mampu mengobati bisul. Syaratnya, kami datang membawa sekilo telur ayam.

Begitu sampai di tempat si nenek, dia mengambil peniti yang ada di kebayanya, lantas menyabit-nyabit bisul anak kami sambil membacakan jampe. Kemudian telur ayam yang kami bawa pun diserahkan sebagai syarat, lantas kami pulang. Malam itu juga, bisul anak kami pecah dan mengeluarkan nanah serta darah. Kami merasa lega meski sempat terpikir juga jangan-jangan itu memang karena bisul si anak kami memang sudah waktunya pecah, bukan karena kesaktian si nenek.

Oh iya, ada pula dukun bayi yang membantu orang melahirkan. Dukun ini punya ilmu yang diwariskan turun-temurun dan mampu membalikkan bayi yang sungsang dalam perut ibunya. Dengan demikian, si anak akhirnya mampu dilahirkan secara normal meski dokter menitahkan secara cesar. Saat memijat perut ibu hamil—yang jelas-jelas dilarang secara medis—dukun akan membaca jampe-jampe tertentu. Namun, saya mencatat, keberhasilan ini hanya terjadi jika si calon ibu yakin dengan dukunnya. Barangkali juga itu lantaran sugesti, wallahu alam. 

Jampe-jampe sebagai kearifan lokal Betawi

Yahya Andi Saputra dalam “Jampe dan Wafak Betawi” pernah mencatat beberapa teks jampe. Teks itu didapatnya dari beberapa kali wawancara dan pertemuan mendalam dengan sejumlah dukun Betawi.

Berikut ini beberapa beberapa contoh teks jampe dengan macam fungsinya. Jampe nomor satu untuk lewat tempat angker; kedua, mengusir kuntilanak; ketiga, sakit tumbuan; dan keempat, berak-berak/diare).

1. Ingsun nang warui. Saturune warhana apa. Tatag tulak papag sungsang. Teluh pulang igawe pulang. Di situ berhalana didie barhayuna Istan-istan tampak rana.

2. Sang ratu kuntilanak. Anak-anak mati beranak. Sundel malem mati di kolong. Si borok tongtong. Ke kitu ke kidang. Ke tegal awat-awatan. Ke duku pata paluna. Nenek luwung gede. Kaki cai gede. Mahula deket-deket. Mahulang ke manusa.

3. Urung-urung tempolong kapur. Urung tumbuan. Jadi tempolong kapur. Jadi tumbuan Urung tempolong kapur. Urung tumbuan.

4. Nenek jaga jalan. Ula jaga jalan. Jangan ngeregahi rang di sini. Ngeragahi rang di sono Tempat lu di muara cai. Istan-istan tampak rana.

Dari contoh teks jampe di atas, jelas sekali ada pola rima, sehingga dapatlah jampe dikategorikan sebagai sastra lisan. Selain itu, dari bahasa yang dipakai, bukan merupakan bahasa Betawi yang kita kenal seperti saat ini. Maka, jelaslah bahwa jampe-jampe yang dikenal dalam perdukunan Betawi merupakan pengaruh dari masa pra-Islam.

Bagaimana rumusan membuat syair jampe-jampe atau mantra itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V mendefinisikan jampi sebagai ‘kata-kata atau kalimat yang dibaca atau diucapkan, dapat mendatangkan daya gaib (untuk mengobati penyakit dan sebagainya); mantra.

Teks jampe terbentuk dari perenungan para leluhur akan kearifan lokal di sekitarnya. Sebab, tidaklah sesuatu terbentuk dan tercipta tercerabut dari lingkungannya.Tentu bukan orang sembarangan yang membuatnya, meski juga tak terlacak namanya. Pembuat teks jampe haruslah orang yang ahli dalam merangkai kata-kata serta memiliki indra perasa yang dalam. Dia berperasaan halus, serta pandai mengarang. Dia bisa saja kiai atau seorang alim ulama.

Dalam hal ini, jampe yang biasanya dibacakan secara berdendang, serta berbentuk syair ataupun pantun, tak sembarangan bisa dipraktikkan. Hanya orang-orang tertentu yang diwarisi ilmu yang bisa melakukannya. Untuk ini pun ada tahap-tahapan yang musti dilakukan, misalnya puasa, bersemedi, atau pantang melakukan hubungan intim.

Ada pula yang mensyaratkan laku berguru selama bertahun-tahun. Biasanya, para ahli waris ini diminta menjadi asisten sang guru dan diajari berbagai hal dulu, sampai akhirnya dianggap sanggup menerima ilmu. Namun, tak selalu proses ini berhasil, ada kalanya orang yang belajar ilmu jampe tidak kuat, sehingga dia tidak berhasil.

Meski teks jampe adalah mantra yang dipercaya punya kekuatan, tanpa melalui tahapan-tahapan dalam pengaplikasiannya, ditambah tidak adanya kemampuan membaca jampe, maka teks itu hanyalah menjadi teks biasa saja. Sebab, ilmu jampe diwariskan secara turun-temurun dan ada tata caranya yang tak diketahui oleh sembarang orang.

Karena itulah, Yahya Andi Saputra pernah merasa sangat kecewa ketika sebuah penerbit batal mencetak bukunya soal jampe Betawi karena takut teks-teks jampe itu disalahgunakan.

Bagi penulis buku Jantuk ini, jampe dianggap sebagai pusaka yang diwariskan para leluhur dan harus dijaga serta dirawat mengikuti kepatutan yang berlaku dari masa ke masa. Adapun bagi dukun, jampe adalah pemake atau media yang digunakan untuk menghubungkan alam kasar (manusia) dengan alam halus (penguasa alam semesta).

Maka, jelaslah bahwa jampe sebenarnya merupakan bagian dari kearifan lokal Betawi. Sebagaimana sesuai dengan definisinya, bahwa kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri.

Wikipedia mendefinisikan kearifan lokal (local wisdom) biasanya diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi melalui cerita dari mulut ke mulut sebagai suatu pengetahuan yang ditemukan oleh masyarakat lokal tertentu melalui kumpulan pengalaman dalam mencoba dan diintegrasikan dengan pemahaman terhadap budaya dan keadaan alam suatu tempat.

 

 

Kirim Tanggapan