CERBER: CINTA BERPILIN DI HINDIA (bagian 1)

3
359
ilustrasi politik balas budi Museum Bank Indonesia.

Batavia awal abad ketujuh belas adalah seorang Ratu dari Belanda yang tengah bersolek. Kanal-kanal besar mengalirkan air yang berarak tenang. Di tengahnya berlayar dengan anggun jung-jung Cina yang mengantarkan sutra dan satin, sementara di pinggirnya kaum pribumi mandi dan mencuci pakaian.

Iklim di Batavia juga sangat bersahabat. Angin yang berembus mengantarkan udara yang terasa sejuk di kulit orang-orang Belanda. Ini adalah surga baru, tanah yang diimpikan. Berbondong-bondong mereka datang naik kapal laut, menempuh perjalanan berbulan-bulan yang memabukkan. Banyak yang tumbang akibat beratnya perjalanan. Namun, salah seorang yang selamat adalah pemuda gagah bernama Ludwig van Ort.

Ludwig bukan seorang perjaka. Ia dulu pernah menikah sebelum datang ke Batavia. Pernikahannya berjalan baik dengan istri pertamanya yang putih dan berpinggang langsing. Mereka sama-sama bangsa Belanda. Ludwig datang ke negeri di Timur jauh yang belum dikenalnya demi mengabdi sebagai pegawai perusahaan. Kala itu usianya 25 tahun. Kepada istrinya yang cantik, ia berjanji akan membangunkan sebuah istana di Hindia. Kelak jika Terusan Suez sudah dibuka, begitu tulis Ludwig dalam suratnya, datanglah menyusulku bersama gadis-gadis lainnya.

Kala itu memang banyak para pegawai dan prajurit kompeni yang datang sendirian. Hindia Belanda adalah negeri yang asing dan buas, terutama karena sangat tidak aman. Banyak rampok berkeliaran. Pemerintah belum sepenuhnya bisa mengendalikan keadaan meski telah menguasai pelabuhan sejak 1619. Namun Ludwig dan ratusan pemuda lainnya mengambil risiko itu.

Hindia Belanda menjanjikan kemakmuran bagi mereka yang mau bekerja keras. Mereka yang berhasil mengumpulkan kekayaan di tanah jajahan kelak dapat pulang sambil membanggakan diri. Karena itulah, Ludwig segera mendaftar sebagai administratur di Batavia. Pendidikannya di sekolah hukum dapat dipakainya untuk membantu Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengatur kota baru ini.

Namun, sayang seribu sayang mimpi Ludwig kandas. Istrinya meninggal tepat sembilan bulan setelah Ludwig berangkat ke Batavia.

***

Istri Tuan Ort, papaku, pernah kulihat fotonya dalam pigura yang dipajang di loteng. Ibuku yang menemukannya teronggok di sana. Ia lalu membersihkannya dan memajangnya, hanya sekadar agar benda itu tak terlalu seperti barang rongsokan yang disingkirkan.

Ibuku amat menghormati papa. Ia telah menyerahkan segalanya dan menggantungkan hidupnya kepada laki-laki itu. Karena itu, tidak ada alasan bagi ibuku untuk membenci masa lalu papa dan fakta bahwa ia sudah pernah menikah. Tidak ada yang disembunyikan papa kala dulu meminta ibu menjadi nyainya.

Tentu saja tidak serta-merta ibu bisa datang ke rumah papa. Tuan Ort sudah menjadi pegawai perusahaan dagang Hindia Belanda kala ia datang ke Batavia. Ia melakukan hubungan dengan sultan-sultan dan para penguasa daerah demi memastikan penguasaan jalur rempah perusahaan ekonomi itu berjalan baik. Ia adalah pegawai yang baik dan berdedikasi.

Tapi kehidupan di Spijkenisse tak berlangsung mulus. Keluarga papa bukan keluarga kaya. Mereka petani biasa. Maka dalam usia 25 tahun, papa berlayar ke negeri baru yang dibayangkannya penuh harapan. Ia meninggalkan istrinya dengan cita-cita bisa membangun masa depan yang lebih baik. Banyak cerita-cerita seram tentang negeri ini yang didengarnya. Soal banyaknya nyamuk, kawanan perampok yang suka mendatangi kota, daerah sekitar yang masih seperti hutan belukar dengan segala macam misteri dan dongeng-dongeng yang sangat tak masuk akal. Dengan segala keteguhan hatinya, ia datang menyongsong nasib yang entah apa.

Tiga bulan perjalanan di lautan yang penuh marabahaya, ia berhasil selamat. Satu tahun setelahnya ia sudah memiliki sebuah rumah dinas dari kantor di kawasan Pejambon, dekat dengan Weltevreden. Seorang pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan sais dokar mengisi rumah mewah yang berhalaman luas itu.

Namun, istrinya yang diharap-harapkannya tak pernah datang. Istri pertama papa meninggal sesaat setelah melahirkan anak mereka. Ini membuat papa sangat terpukul. Ia tidak pernah tahu istri yang dikasihinya itu sedang berbadan dua ketika ia pergi. Hanya sepucuk surat beserta sehelai foto terakhir yang disisipkan di dalamnya yang membawa kabar buruk itu.

***

*Geertje van Ort*

Kehidupan di Batavia sangat menyenangkan. Saat sore menjelang senja, biasanya aku sedang duduk di teras seraya ibu asyik menyisiri rambutku. Secangkir teh dan kudapan selalu tersedia di meja. Sebuah sisir berjari rapat dibelinya dari seorang Cina pedagang keliling. Cina itu menenteng pikulan yang berisi banyak barang. Satu di depan dan satu di belakang. Di antara keduanya dihubungkan dengan sebuah kayu yang lembut lagi kokoh. Ia akan melambaikan tangan begitu tiba, lantas berteduh di bawah kerindangan pohon asam yang berdaun lebat. Begitu topi diturunkan dan rambut kepangnya yang panjang ia sampirkan ke depan, babu-babu akan mengerubunginya. Pedagang itu membawa berbagai macam barang, mulai pupur, minyak wangi, sandal, sapu tangan, hingga termos bermotifkan bunga.

Dalam suasana keriuhan sore itulah aku menikmati kehangatan cinta ibuku. Aku yang berumur sepuluh tahun senang duduk di pangkuannya. Ia tak banyak bicara, tapi selalu menjawab apa pun yang aku ingin ketahui. Bahasanya tak begitu tertutur rapi, tapi ia orang yang selalu santun. Pakaiannya sederhana, sesederhana cara berpikirnya.

Dalam pikiran kanak-kanakku kala itu, aku sudah melihat bahwa papa dan ibuku berbeda. Papa berpostur tinggi, berkulit putih dengan rambut yang berwarna pirang, sementara ibuku pendek, bermata lebar, berkulit sawo matang dan berpinggul lebar. Orang-orang yang mirip dengan ibuku tidak banyak yang masuk ke dalam kamar tidur seorang Eropa. Jadi, aku bertanya pada suatu sore, bagaimana dia bisa bertemu dengan papa. Dan beginilah ceritanya.

“Raonah memanggilku ke rumah ini waktu usiaku belum genap dua puluh. Katanya ada tuan besar membutuhkan pelayanan seorang nyai. Raonah merasa aku cocok dipertemukan dengan papamu, maka itu aku datang ke sini,” katanya lancar.

Ibu berasal dari Rangkas, kota di pinggiran kota benteng Batavia. Raonah yang disebutkannya adalah tetangganya. Raonah sudah bekerja di rumah besar ini sejak penghuni sebelumnya, seorang Belanda pegawai VOC yang kini sudah kembali ke Negeri Kincir Angin tersebut.

Rangkas kota yang panas dan gersang. Kota itu sudah lama menjadi basis para jawara yang sering mengacau dan merampok harta orang kaya. Di Rangkas banyak berkembang aliran bela diri dengan segala keunggulan dan ilmu kebatinannya. Para jawara itu bisa dimanfaatkan untuk apa saja. Banyak di antara mereka yang menjadi penjaga kebun, penjaga rumah, atau bahkan pembunuh bayaran.

Kehidupan keluarga ibu di Rangkas tidak terlalu baik. Rumah mereka terbuat dari bilik bambu. Mereka menggarap sawah dan menukarkan hasilnya dengan keperluan yang tidak mampu mereka sediakan sendiri. Beras ditukar ayam atau pakaian.

Kehidupan yang dijalani ibu di sana begitu membosankan. Hampir tak ada yang bisa dilakukan anak perempuan, kecuali menunggu pinangan dari seorang laki-laki. Tapi ibu sangat pemilih. Banyak lamaran yang datang kepadanya ditolaknya. Alasannya satu, dia tak mau dijadikan istri kedua.

Namun, begitu Raonah datang dan menunjukkan foto Tuan Ort, mengatakan ada pria kesepian yang butuh kasih sayang dan perawatan seorang perempuan, ibu segera menyatakan kesediaannya. Ia pura-pura tak tahu ketika sebelum berangkat Raonah menyelipkan gulungan uang ke balik kutang orang tuanya. Batavia terlalu memesona untuk diabaikan seorang gadis yang tak pernah keluar dari desanya sejak ia dilahirkan.

Lantas, ibu naik kereta kuda untuk pertama kalinya. Ia pergi ke pusat segala mimpi dibangun. Dua belas bulan setelahnya ia melahirkan aku, Geertje van Ort.

***

“Tuan dokter, bagaimana keadaan Silah,” tanya Tuan Ort dengan nada khawatir.

“Demamnya masih tinggi, Tuan. Kini keadaannya kritis,” ujar dokter Marius.

Setiap pagi dan sore dokter Marius datang ke rumah kami. Ia memeriksa ibu yang sudah seminggu tak bisa bangun dari tempat tidur. Mulanya ibu mengeluh sakit kepala, lalu badannya terasa dingin. Lama-lama ibu tidur terus dan mengigau. Akhirnya dokter datang dan menyuntikkan berbagai macam cairan ke dalam tubuh ibu. Katanya ibu terkena malaria, penyakit paling mematikan se-Batavia. Sampai kini tak ada tanda-tanda keadaannya bakal membaik. Papa dan para pembantu bahkan melarang aku masuk ke kamar dan mendekati ibu.

Maka setiap kali orang dewasa masuk sambil membawa cawan berisi air dan handuk untuk mengompres ibu, aku hanya memandangi mereka yang lalu lalang dekat pintu utama rumah kami. Aku akan duduk di sana seharian sampai seorang pembantu menegur dan mengangkatku dari lantai. Aku sungguh khawatir memikirkan keadaan ibu yang teramat kukasihi.

“Nona, jangan duduk di depan pintu. Tidak baik,” tutur seorang pembantu kepadaku.

Aku memandangnya dengan sikap bersedih. Barangkali akhirnya si pembantu itu bisa melihat air mata yang hendak turun di ujung mataku.

Pembantu itu itu mengangkatku dan menggendong aku di depan badannya. Aku menyampirkan kepalaku di atas bahunya. Ia kemudian berjalan menuju ke kamar tidur, lalu meletakkan aku di atas dipan berkasur empuk.

“Panas,” ucapnya khawatir sambil memegang dahiku.

Ia lantas keluar, lalu kembali lagi membawa sebuah handuk kecil dalam baskom berisi air hangat. Disekanya dahiku berulang-ulang dengan air hangat, hingga akhirnya aku tertidur karena nyaman usapannya. Si pembantu perempuan ini memang begitu setia dan penuh kasih sayang. Setiap malam, ia rajin menunggui dan mengipasiku hingga aku tertidur. Begitu aku terlelap, ia akan menggelar tikarnya, lalu tidur di bawah dipanku. Ia bersiaga menjagaku hingga pagi datang lagi.

***

Dua hari kemudian ibu dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. Tak ada pemakaman luar biasa karena ia bukan istri resmi. Ia seorang nyai. Namun ia dikuburkan baik-baik di pemakaman umum di pinggir kota. Tata cara dilakukan secara Islam. Seorang kiai dipanggil untuk memberikan doa dan para pembantu mengadakan upacara sederhana. Papa tak ikut rutinitas itu. Ia tenggelam di balik buku-buku laporan. Entah bagaimana perasaannya, aku tak bisa menebaknya.

Seminggu setelah ibuku wafat, Papa yang baik hatinya merasa perlu memberi tahu keluarga ibu. Ia lantas mengutus tiga orang jawara untuk pergi ke Rangkas membawa berita duka itu. Papa membuka percakapan itu di meja makan.

“Bolehkah aku ikut, papa?”

Tuan Ort langsung menggeleng. “Perjalanan itu terlalu berbahaya bagi seorang gadis kecil. Lagipula tak ada yang istimewa di Rangkas. Itu kota yang begitu tandus dan panas. Lebih baik kau di sini saja, Geertje,” katanya.

“Aku minta maaf sekarang kau tak punya ibu.”

Aku hanya terdiam sambil memandangi irisan daging di piringku.

“Akan kucarikan seorang babu seusiamu, untuk menemanimu bermain seusai sekolah.”

“Papa tak usah khawatir,” kataku sambil berusaha ceria. “Aku punya banyak kawan-kawan di HBS. Ada Helena, ada pula Anneke. Aku akan baik-baik saja.”

Penting bagiku untuk menenangkan ayah. Helena dan Anneke adalah gadis Belanda tulen. Mereka bersikap terbuka terhadap darah campuran seperti aku. Hubungan kami cukup akrab. Jadi ya, kupikir aku akan baik-baik saja.

Kami tak berbicara lagi sampai akhirnya aku dan papa ke kamar masing-masing untuk tidur.

***

Hari-hari tanpa ibu tentu berbeda. Jika dulu setiap pukul lima sore ibu akan menyisiri rambutku, sekarang pukul lima beranda tampak sepi. Sudah ratusan kali aku duduk bersama ibu di beranda ini. Tapi kini aku menanti papa pulang kerja sendirian saja. Aku mempertahankan kudapan dan teh di teras. Lalu saat papa datang aku akan berteriak dan melompat ke pelukannya. Namun, ia terlalu lelah untuk bercanda denganku seperti yang biasa ibu lakukan. Setelah mandi dan makan malam, papa lebih sering membenamkan diri dalam koran dan kertas-kertas laporan. Sementara aku di sampingnya menemani sambil mendengarkan musik dari gramofon. Kami membangun kebersamaan dalam diam dan aku cukup menikmatinya.

Sampai akhirnya satu tahun kemudian sebuah surat datang dari Belanda. Papa bilang keluarganya di Belanda akan mengutus seorang perempuan untuk mengurus dirinya. Itu artinya, aku akan punya ibu tiri.

“Namanya Paulina, bersiap-siaplah,” kata papa suatu sore sambil mengusap kepalaku.

***

Tujuh tahun kemudian, aku punya adik-adik. Satu adik laki-laki bernama Johannes dan satu adik perempuan bernama Maria. Berbeda denganku, mereka begitu putih dan pucat. Mereka Belanda totok dan mereka sering sekali sakit. Padahal, mereka lahir di Batavia dan bukannya di Belanda. Darah totok mereka rupanya memberi perbedaan terhadap penerimaan mereka atas cuaca Batavia yang kian hari kian panas. Tapi mereka adalah anak-anak yang baik dan menyenangkan.

Johannes berusia enam tahun. Pipinya begitu gempal, badannya besar, dan air mukanya segar. Ia suka sekali makan roti. Kalau ia berlari, maka kancing bajunya seolah-olah akan tertarik. Penampilannya tambah dramatis kala keringat bercucuran dari mukanya.

Maria berusia lima tahun, hanya beda setahun dari kakaknya. Ia tak segemuk Johannes. Perawakannya biasa saja dengan rambut keriting sebahu. Kala ia lahir, air susu Paulina habis. Maka ia disusukan pada seorang ibu susu dari kalangan rakyat biasa. Maria paling suka memakai gaun berenda yang dibelikan papa di Pasar Baru. Selain itu, seperti Johanes, mereka suka sekali naik kereta kuda. Setiap pagi mereka akan meminta Umang, sais kami, mengantarkan mereka berkeliling naik kereta kuda dari Jatinegara hingga Weltevreden.

Oh iya, ada juga ibu mereka, Paulina. Ia perempuan yang modis dan suka berpesta. Ia menerima dengan baik undangan-undangan berdansa di rumah bola. Kala ia menghadiri jamuan dengan papa, aku akan berkumpul dengan Johannes dan Maria dalam kamar yang berdipan empuk dan berenda. Aku akan membacakan dongeng-dongeng untuk meninabobokan mereka. Aku cukup berbahagia meski belum tahu nasib apa yang bakal menimpaku, si darah campuran, di keluarga Belanda totok ini.

Malam itu, dari dalam kamarku, sayup-sayup aku mendengar suara pintu depan berderit dibuka. Papa dan mama Paulina rupanya baru pulang dari pesta. Jarum jam sudah tepat menunjukkan angka 12, tapi aku masih belum dapat memejamkan mata. Tiba-tiba saja aku teringat ibuku pada malam itu. Aku masih memandangi foto kami sekeluarga. Papa tampak tenang dan berwibawa. Dahi yang lebar, hidung yang mancung, dan postur tubuh yang tegap. Papa berpose duduk di atas kursi ukir, tangan kanan dan kirinya ditangkupkan, kaki kirinya bertumpu di atas kaki kanan. Kumisnya yang melintang tampak mengancam. Topi menutupi sebagian rambut pirangnya.

Dalam foto itu, ibuku duduk di kursi di sebelah meja yang memisahkannya dari papa. Ia tersenyum samar, mengenakan kebaya putih panjang di atas kain bermotif bunga yang ia lilitkan di pinggul. Rambutnya yang panjang ia gelung dan ikat hingga di atas tengkuk. Sementara aku yang kelihatannya belum genap dua tahun dipangkunya. Aku memakai gaun putih pendek berenda dengan pita menghiasi rambut. Dua orang pelayan perempuan berjongkok di samping ibuku. Mereka tak mengenakan alas kaki.

Baru saja kutaruh foto itu dalam lemari, terdengar suara papa dan mama Paulina berdiskusi. Mereka rupanya tak langsung pergi tidur. Aku curiga ada sesuatu yang menggelisahkan mereka. Maka aku duduk di pinggir dipan dan memusatkan perhatian pada telingaku, berusaha mencuri dengar percakapan mereka. Johanes dan Maria sudah terlelap sejak pukul delapan. Pada dini hari seperti ini, mereka tentu tak menduga aku masih terjaga.

“Apakah tidak ada jalan lain?” tanya Paulina dengan nada cemas. Ia sepertinya mondar-mandir, terdengar suara ketuk sepatunya halus.

“Kau tahu, tidak mungkin aku menolak perintah gubernur jenderal,” ucap papa. Nadanya terdengar santai. Tak lama terdengar suara bangku ditarik.

“Tapi itu daerah yang begitu jauh dan terpencil. Kaum pribuminya juga kudengar suka membangkang,” Paulina berargumen.

“Setiap petugas perusahaan sudah dibekali kemampuan berhitung. Aku yakin akan bisa mengatasinya,” jawab papa menenangkan. “Lagipula aku sudah dua tahun bolak-balik ke daerah itu.”

“Bagamana anak-anak? Johannes, Maria? Apa mereka bisa beradaptasi?”

“Kau tidak perlu ikut jika tidak mau. Lebih baik di Batavia. Daerah perkebunan mungkin tidak semegah dan semenyenangkan seperti di Batavia.”

“Lagipula Geertje akan menemaniku. Aku yakin ia akan senang ikut serta. Akhir-akhir ini mukanya pucat. Aku yakin udara yang sejuk dan dingin mampu mengembalikan rona merah wajahnya.”

Suara papa optimistis dan bersemangat kala mengatakannya.

Aku terkesiap mendengar namaku disebut-sebut? Ke mana papa akan pergi? Beberapa kali ia memang bepergian, kadang ke Serang untuk mengecek perkebunan kopi. Kadang pula ke Tjiseroepan mengawasi perkebunan teh yang dikelola rekannya. Apa ke sana kami akan bermukim? Gubernur Jenderal van den Bosch memang sedang menggalakkan cultuur stelstel. Rakyat Hindia Belanda diwajibkan menanam tanaman yang menguntungkan dan laku di dunia internasional. Banyak pegawai perusahaan yang dikirim ke berbagai daerah untuk memimpin perkebunan.

Pembicaraan papa dan mama tak mendapat titik temu. Suara mereka saat berbicara makin sayup-sayup, sementara aku memimpikan seekor harimau masuk ke dalam rumah dan duduk di meja makan.

 

*bersambung