Stigma Perempuan Betawi dan Tantangan Masa Depan

0
214
Budayawan Yahya Andi Saputra ditemani beberapa none Betawi dalam suatu acara. (foto: Des Parlente)

Tulisan tentang hakikat perempuan Betawi yang dimuat di salah satu media online Indonesia pada dua tahun lalu cukup menyentak saya. Si penulis, yang merupakan perempuan Betawi, merasa gagal menjadi perempuan Betawi seutuhnya lantaran hingga waktu itu dia belum bersuami dan memiliki anak. Menurut kepercayaan yang diwariskan turun-temurun di keluarganya, hakikat perempuan yang utuh adalah menikah, mempunyai anak, lalu mengurusnya.

Hal ini mengingatkan saya akan tulisan Raden Ayu Sriati Mangunkusumo, adik kandung dr. Sutomo yang menikah dengan Goenawan Mangunkusumo. Dalam buku kenang-kenangan Budi Utomo, yang terbit pada 1918, dia menulis: “Kita perempuan, seringkali dianggap lemah dan perlu dilindungi. Suara kita tidak pernah didengar.”

Menjelang peringatan Hari Kartini pada 21 April, yang digadang-gadang sebagai tanggal lahir pejuang emansipasi Indonesia, saya merasa penting menengok kembali sejauh mana peran dan kedudukan perempuan Betawi di masa kini. Apakah persoalan perempuan Betawi pada 20 tahun lalu sama dengan dua tahun lalu, atau sama dengan sekarang ini. Apakah menjadi relevan kembali menyatakan bahwa hakikat perempuan Betawi adalah di belakang kaum laki-laki?

Dalam kebudayaan Betawi sudah lama dikenal istilah 3ur, yakni dapur, sumur, dan kasur. Konsep ini dipercaya secara luas menjadi faktor penghambat dalam kemajuan perempuan Betawi karena perempuan dianggap hanya bisa berperan di tiga tempat, yakni di dapur, sumur, dan kasur. Namun demikian, konsep ini sebenarnya memiliki maksud yang mulia.

Dapur, artinya perempuan Betawi diharapkan bisa memasak untuk menyenangkan keluarganya; sumur artinya pantai berhias dan membersihkan diri; sementara kasur artinya diharapkan seorang istri memiliki pelayanan yang baik terhadap suaminya. Konsep ini sebaiknya tidak dipandang secara sempit, sehingga mengungkung kreativitas perempuan Betawi, melainkan dipandang sebagai falsafah yang mengandung nilai-nilai budaya positif, bahwa perempuan Betawi diharapkan memiliki atau memperhatikan tiga hal tersebut dalam dirinya. Konsep 3ur sesungguhnya tidak membatasi hanya dari segi domestik, sehingga tidak menjadi penghalang bagi seorang perempuan yang ingin berkarya di luar rumah.

Namun, apakah lazim bagi seorang perempuan Betawi untuk bekerja saat ini? Jika bicara tiga puluh atau dua puluh tahun yang lalu, amat sangat jarang perempuan Betawi yang diperbolehkan berkarya di luar rumah. Sehingga mau tidak mau mereka pun terkungkung dalam budaya patriarkal dan terpaksa memendam mimpinya.

Ita Syamtasiyah Ahyat dalam Profil Wanita Betawi Akhir Abad ke-21 menyebut ada beberapa kendala yang dihadapi perempuan Betawi untuk lebih mengembangkan potensi-potensinya, termasuk kungkungan budaya patriarki dan agama. Bagi perempuan yang telah menikah, izin suami sangat diperlukan. Sementara tidak banyak laki-laki Betawi yang suka membiarkan istrinya aktif di luar rumah. Para istri hanya diizinkan mengurus anak dan pergi ke majelis taklim. Sehingga bahkan beberapa perempuan, dalam penelitian Ita Syamtasiyah Ahyat, lebih memilih tidak menikah dengan laki-laki Betawi.

Selain itu, di masa lalu juga ada perbedaan perlakuan yang diterima oleh perempuan Betawi dibanding dengan laki-laki dalam pola pengasuhan keluarga. Sebagian besar keluarga Betawi tempo dulu menyekolahkan anak-anak perempuan di madrasah atau sekolah agama, sementara anak laki-laki disekolahkan di sekolah negeri. Atau bahkan, anak perempuan disekolahkan hanya sampai SMA karena mereka nanti akan dinikahkan, sementara anak laki-laki diperbolehkan hingga perguruan tinggi.

Salah satunya tampak dalam penelitian Profesor Yasmine Zaki Shahab seperti dikutip Irawanti dalam skripsinya berjudul “Pola Sosialisasi Anak Perempuan pada Tiga Keluarga Betawi di Kelurahan Mampang Prapatan.” Menurut Yasmine, di Madrasah Darul Ulum di Arab Saudi, anak-anak Betawi merupakan mayoritas dengan terbanyak dari Mampang Prapatan, Tegal Parang, Warung Buncit, Gandaria, Pasar Minggu, Rawa Belong dan Basmol, yaitu tempat dominasi orang Betawi Pinggir. Hanya sedikit orang Betawi Tengah yang menuntut ilmu di sana, sehingga ini sedikit banyak bisa menggambarkan perbedaan kepentingan pendidikan antara Betawi Tengah dan Betawi Pinggir. Orang Betawi Tengah digambarkan lebih modern, sementara Betawi Pinggir lebih agamis.

Yasmine Zaki Shahab, seperti dikutip Irawanti (1993: 7) mengatakan, masyarakat Betawi biasanya tidak membolehkan seorang perempuan bekerja. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah terbatasnya kesempatan kerja serta keterbatasan keterampilan perempuan Betawi. Di lain pihak, laki-laki yang dianggap oleh perempuan sebagai pengambil keputusan merasa tidak suka jika para istri bekerja di luar rumah. Sikap ini tidak berubah sepanjang waktu, baik generasi tua maupun muda masa sekarang.

Menurut saya, hambatan inilah yang menjadikan adanya sinisme pada perempuan Betawi yang bekerja sebagai perwujudan laku serakah, kurang bersyukur, serta hanya mementingkan materi semata. Padahal, sebagai salah satu suku paling toleran dan terbuka di Ibu Kota, peran perempuan Betawi hampir tak terlihat. Perempuan Betawi hanya diidentikkan berkarier sebagai guru atau ulama. Salah satu contoh paling terkenal adalah Tuti Alawiyah dari Pondok Pesantren Asyyafiiyah yang juga pernah menjabat sebagai menteri. Di luar bidang keagamaan, hampir minim kita menemukan kiprah perempuan Betawi. Bukan tidak ada, tapi profesi yang dijalani kurang beragam.

Secara karakteristik, perempuan Betawi ringan tangan dan tak banyak menuntut. Banyak perempuan Betawi yang dengan sukarela membuka usaha demi membantu perekonomian keluarga. Misalnya berdagang nasi uduk, membatik, ataupun menjadi perias. Namun, amat disayangkan bila potensi terkait perempuan Betawi hanya disalurkan kepada ekonomi kreatif. Selama ini pemberdayaan perempuan oleh pemerintah selalu bicara masalah “ibu-ibu bisa bikin ini lo di rumah buat bantu ekonomi keluarga”. Program OK OC yang digulirkan Wagub Sandiaga Uno pun setali tiga uang. Akhirnya, perempuan Betawi pun tidak bisa lepas dari stigma buruk yang selama ini telanjur melekat.

Perempuan Betawi selalu ada dalam ombang-ambing untuk berdaya secara mandiri, tetapi dengan tidak mengabaikan keluarganya. Oleh sebab itu, masalah pemberdayaan perempuan sebenarnya bukan hanya urusan perempuan, tetapi juga urusan laki-laki untuk terus memberikan semangat dan dorongan, bahwa emansipasi bukanlah barang haram.

Emansipasi bukan berarti membuat perempuan terbang dan keluar sejauh-jauhnya dari rumah. Emansipasi justru membuka keran kesetaraan yang selama ini masih tersumbat. Saya menantikan, kenapa Gubernur tidak membuat Program Beasiswa Khusus Keluarga Betawi. Sebagai provinsi dengan PAD terbesar se-Indonesia, sangat wajar jika putra/putri daerah diperhatikan dan diberi akses seluas-luasnya. Banyak daerah sudah membuat program cetak doktor asli daerah sebanyak-banyaknya, saya kira kenapa DKI Jakarta tidak melakukannya? Bukannya pembangunan karakter merupakan salah satu terobosan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan?

Kebudayaan selama ini hanya dipandang secara yang tampak atau kasat mata. Pembangunan sentra kuliner dan pusat oleh-oleh terus dilakukan agar pelaku UMKM Betawi mampu berdikari. Namun, siapa yang peduli dengan pembangunan mental keluarga Betawi. Apalagi dari perempuan-lah semua itu berasal. Saya usulkan ada pelatihan nilai-nilai kearifan lokal bagi seluruh perempuan Betawi, di bawah koordinasi Bamus Betawi dan Lembaga Kebudayaan Betawi, agar generasi muda Betawi punya sikap menghadapi tantangan zaman di masa depan.

Saat ini kampung semakin rusak. Anak muda tak mau lagi mengaji. Minuman keras dan narkoba mengintai di setiap gang, saatnya peran perempuan tak hanya lagi di belakang. Perempuan adalah harapan untuk keadaan yang lebih baik. Sudah saatnya perempuan diberi kesempatan untuk bercita-cita sama dan setara, serta memperoleh pendidikan yang sama. Pendidikanlah yang mengubah pola pikir dan pendidikan itu akan dipakai untuk membangun generasi yang lebih baik.

  “Cita-cita itu ialah memperindah martabat manusia, memuliakannya, mendekatkan pada Kesempurnaan.”

― Raden Adjeng Kartini, Brieven Aan Mevrouw R.M. Abendanon Mandri En Haar Echtgenoot Met Andere Documenten.

Maka, biarkan perempuan Betawi memiliki cita-cita, sehingga dengan bahagia mereka dapat menyumbangkan pikiran dan tenaganya. Sehingga mereka dapat mengukir prestasi dan akhirnya dengan kesadaran sendiri menentukan jalan hidup yang terbaik bagi dirinya.

 

*penulis adalah orang Betawi, alumnus Sastra Indonesia Universitas Indonesia. Kini bekerja sebagai editor di media online nasional.

Daftar Pustaka:

Ahyat, Ita Syamsiah. 2014. Profil Wanita Betawi Akhir Abad ke-21. Tangerang: Sabda Alam Media.

Irawanti, Theresia Tanti. 1993. Pola Sosialisasi Anak Perempuan pada Tiga Keluarga Betawi di Kelurahan Mampang Prapatan. Depok: Skripsi Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

 

 

Kirim Tanggapan