CERBER: CINTA BERPILIN DI HINDIA (Bagian 2)

1
227
ilustrasi politik balas budi Museum Bank Indonesia.

Cerita sebelumnya:

Geertje, si blasteran pribumi dan Belanda, ikut membantu ayahnya mengelola sebuah perkebunan teh di Wanayasa. Di tempat ini Geertje berharap bisa melupakan problematika di Batavia dan menemukan cinta yang baru.

***

“Di sini!” suara Ludwig tegas memerintah.

Lima bulan kemudian, Ludwig dan putrinya, Geertje, sudah tiba di Wanayasa, wilayah dekat Tjiseroepan. Wilayah ini terletak di Karesidenan Priangan yang sohor dengan sebutan Paris van Java. Ludwig sedang mengamati lokasi perkebunannya yang baru. Ia ditugaskan membuka perkebunan teh lagi bersebelahan dengan perkebunan teh Tjiseroepan yang sudah dibuka sebelumnya oleh Residen Jacobson.

Di hadapan Ludwig kini terbentang selimut berwarna hijau hingga puncaknya di garis langit. Puncak gunung tampak kokoh dan kekar. Di baliknya, dedaunan dan pepohonan besar sejauh mata memandang. Segala sesuatu di balik yang hijau itu tampak tersembunyi. Kali ini Ludwig mengenakan sepatu bot. Untunglah, sebab tanah begitu lembab sehabis dibasahi hujan. Ludwig mengambil seonggok tanah lalu menciumnya. Baunya segar dan warnanya kecokelatan. Jenis yang bagus untuk ditanami. Ludwig merasa yakin tugas dari gubernur jenderal akan mampu dilakukannya. Lagipula ada Geertje. Ah, Geertje putri kesayanganku, batin Ludwig dalam hati.

Ludwig melangkah semakin jauh. Di tangannya ia menenteng senjata. Ia sudah berpengalaman memasuki hutan dan sangat tahu ada ada macam-macam hewan dalam hutan seperti ini, misalnya macan. Karena itulah sebuah pistol bergagang panjang selalu dibawanya, kalau-kalau hewan itu berniat menganggu. Ini lahan yang bagus, pikir Ludwig dalam hati. Hanya saja tentu perlu sedikit usaha untuk membabatnya dan merapikannya. Namun sebelumnya, tentu saja perlu diukur dulu. Kira-kira 40.000 meter lahan yang harus dibukanya seperti perintah gubernur jenderal. Selain itu, masalah selanjutnya adalah para pekerja dan bibit-bibit yang bagus. Pekerja-pekerja Cina yang didatangkan Jacobson bisa diandalkannya. Tentu ia juga harus merekrut pekerja lokal. Belum lagi kuli-kuli dari berbagai daerah, seperti Karawang dan sekitarnya. Selain itu, masalah alat-alat untuk membuka lahan pun harus dipikirkannya: bajak besi, bedok, pacul Cina, parang dan kerbau untuk membantu membajak.

Tapi ada Geertje. Ludwig tak khawatir karena ia bisa mengandalkan gadis pintar itu. Geertje supel dan mudah bersosialisasi. Dalam waktu beberapa bulan saja, Ludwig yakin Geerje pasti sudah bisa menguasai bahasa Sunda. Selain itu, Geertje bisa membantunya menangani para pekerja dan masalah administratif lainnya.

Tak lama terdengar suara kilat bersahut-sahutan. Langit dengan cepat berubah warna menjadi gelap. Ludwig menoleh ke atas. Awan-awan yang tadinya putih kelihatannya semakin kelabu, tanda hujan segera turun.

“Aang, Aep!” teriak Ludwig memanggil pemandu jalannya.

“Ya, tuan!” seru kedua orang itu.

“Lekas benahi perbekalan. Ayo kita kembali ke desa sebelum hujan.”

Maka, ketiga orang itu berlari bagai kesetanan. Hujan di sore hari setelah pukul tiga sore adalah petaka. Sebab begitu hujan dan langit gelap akibat tiadanya matahari, maka akan sulit menemukan jalan kembali ke desa. Mereka harus segera ke luar dari kerimbunan pohon-pohon sebelum dibekap sang dewi malam.

Ludwig dengan cekatan melompati ranting-ranting dan dahan yang menjulur. Ia masih gesit di usianya yang mencapai 44 tahun. Suara lumpur berkecipak terinjak sepatu botnya, sementara lengan kemejanya robek terkena daun berduri. Di hadapannya Aang dan Aep menyibakkan jalan. Tak lama lagi mereka akan sampai di tanah lapang dekat desa. Begitu mereka tiba di ujung jalan setapak, hujan besar turun bersamaan dengan kilat yang menyilaukan. Untuk sesaat Ludwig merasa buta dan tuli. Ketika ia tiba di pondok dan disambut Geertje, seluruh pakaiannya sudah basah terkena hujan.

Geertje sudah menyiapkan makan malam. Sejak sore tadi ia sudah memerintahkan bujang yang dibawanya dari Batavia untuk memasak ayam kampung yang mereka bawa. Ia belum tahu di mana bisa menemukan bahan-bahan sayuran dan yang lainnya untuk dimasak di kota yang kecil ini. Juga sampanye kesukaan ayahnya. Geertje masih menunggu perbekalan yang akan menyusul dari Batavia. Empat hari perjalanan dari Batavia menuju Priangan dengan kereta kuda cukup memabukkan gadis 18 tahun itu.

Tjiseroepan kota yang kecil dan tenang. Udaranya sejuk dan pemandangannya menakjubkan. Segalanya tampak damai di sini. Penduduknya saja tak banyak. Mereka menyambut kedatangan Geertje dan Ludwig dengan sikap penuh penghormatan. Beberapa di antaranya yang ditemui Geertje lebih banyak menunduk kala berbicara dengannya. Ludwig berkata kalau orang-orang itu memandang mata orang Belanda saat sedang berbicara, itu artinya tidak sopan. Hanya orang-orang dengan pangkat dan jabatan tertentu saja yang diberi keistimewaan serta dianggap setara dengan kaum kulit putih, begitu Ludwig pernah menjelaskan kepada putrinya.

Geertje tidak tahu apa yang dicarinya di Tjiseroepan, apalagi Wanayasa. Gadis muda sepertinya biasanya lebih sering berhura-hura di kota besar. Tapi Geertje tahu ayahnya punya misi khusus mengajaknya ke sini. Dan selagi bisa, Geertje ingin banyak belajar soal bisnis kepada ayahnya. Tentu saja Ludwig sudah memberi tahu mengapa ia ditugaskan ke pelosok Garut seperti ini. Katanya, pemerintah memintanya membuka perkebunan teh. Tanaman asal Cina itu sedang popular sekali. Bahkan, permintaan akan daun teh maupun teh kemasan melonjak tajam. Karena teh cocok ditanam di daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 200 meter di atas permukaan laut, banyak perkebunan teh dibuka besar-besaran di daerah Residensi Preanger. Tjiseroepan termasuk yang mula-mula dibuka.

“Bagaimana tempat baru ini, Geertje?” tanya Ludwig suatu pagi tatkala Geertje baru saja selesai mandi.

“Menarik, papa. Meski jika aku mandi pagi-pagi sekali seperti di Batavia tentu aku akan menggigil kedinginan,” jawab Geertje.

“Aku tak mengerti bagaimana orang-orang di sini bertahan tanpa menggunakan selimut ataupun syal. Mereka tak membungkus tubuh mereka dengan jaket atau sebangsanya,” Geertje mengutarakan keheranannya.

“Ya benar,” kata Ludwig. “Tapi ini tempat yang indah dan menarik, Geertje. Kuharap kau betah. Akan ada pertemuan-pertemuan. Sebelumnya aku juga harus ke Bandung bertemu para residen dan pejabat gubernemen di sana. Tapi lebih dulu aku harus menulis surat untuk gubernur jenderal. Bisa kau bantu, Geertje. Tulislah bahwa kita membutuhkan setidaknya 50.000 bibit teh. Aku sudah mengirimkan surat itu beberapa bulan lalu, tapi belum ada balasan. Siapa tahu kau bisa menyampaikan lebih baik dari aku. Aku tahu bahasa Belandamu bagus sekali dan kau berbakat mengarang,” pinta Ludwig seraya memuji keahlian putrinya itu.

Maka sesudah sarapan dan Ludwig pergi menyusuri desa untuk mengetahui keadaan sekitar, Geertje duduk untuk menulis surat. Sesudahnya ia tertegun. Oh, betapa berbedanya keadaan di Tjiseroepan dibanding di Batavia yang megah. Ketika tiba di desa ini dua hari yang lalu, ia sudah melihat bahwa di mana-mana penuh dengan pepohonan. Puncak-puncak pepohonan itu begitu tinggi, sampai mata Geertje silau ketika memandangnya lantaran menentang matahari. Puncak-puncaknya saling bersentuhan memberikan keteduhan dari bayangan dan kesejukan yang berbeda.

Sementara saat kereta mereka melaju menuju kediaman sederhana mereka, ia melihat rumah-rumah penduduk yang terbuat dari bilik bambu. Para penduduk pribuminya mengenakan sarung batik dan kaum wanitanya berkebaya, sementara para prianya berkemeja longgar dengan celana yang berpotongan lebar. Hanya sedikit dari mereka yang beralas kaki. Namun paras muka mereka tampak sehat dan merona. Tampaknya udara pegunungan memang memberikan pengaruh yang baik terhadap kesehatan. Barangkali di tengah desa dengan cuaca sebaik ini, ia akan mampu melupakan si Rudolp sialan.

Ah, Rudolp, betapa Geertje tergila-gila padanya. Dan dulu ia mengira Rudolp juga demikian terhadapnya. Mereka seringkali berciuman di belakang kelas seusai pelajaran di HBS di Salemba. Sepertinya ciuman itu penuh gairah, atau mungkin itu hanya nafsu belaka? pikir Geertje.

Rudolp pria kaya yang berasal dari keluarga penambang emas. Konon keluarganya menyimpan berbongkah-bongkah emas dan berlian di dalam rumahnya. Namun Rudolp sangat flamboyan, juga tak disiplin. Ia bersikap semaunya seolah-olah semua hal berada di bawah kendalinya. Lama-lama Geertje tak tahan dengan sikap Rudolp yang terlalu kekanak-kanakan. Instingnya selalu membisikkan bahwa Rudolp tak setia dan bukanlah pemimpin yang baik bagi dirinya di masa depan. Maka, Geertje pun meneguhkan diri untuk mengucap salam perpisahan.

“Apa kau sunggguh-sungguh?” tanya Rudolp begitu mendengar Geertje akan pergi ke daerah perkebunan.

Geertje mengangguk mantap.

Rudolp tertawa kecil. “Kau aneh sekali,” katanya.

“Gadis-gadis Hindia Belanda dengan tegas akan menolak ke daerah perkebunan. Hiburan macam apa yang akan mereka dapatkan di sana. Tak ada pesta, tak ada dansa, dan makan enak,” Rudolp memperingatkan.

“Tapi mungkin saja Rudolp,” kata Geertje mantap, “akan ada sedikit petualangan.”

Rudolp tersentak. “Apa itu berarti aku tak akan berjumpa kau lagi,” tanyanya.

“Entahlah,” kata Geertje.

Ia terdiam berusaha menemukan kata-kata, tapi kata-kata yang hendak diucapkannya seolah hilang. Seperti itu saja akhirnya kedua sejoli itu berpisah.

Dan esoknya, Rudolp sudah menggandeng seorang gadis baru, Geraldine, yang dua                          tahun lebih muda dibanding Geertje. Anneke membisiki bahwa Rudolp dan Geraldine tepergok tengah berduaan di atas dokar pada malam hari di dekat Koningsplein.

Astaga, bermesraan di atas dokar di kemalaman Batavia. Apakah ada yang lebih indah dibanding itu? Di atas kereta kuda bergaya Victoria yang beratap terbuka, kuda yang berjalan pelan, semilir angin yang menyentuh kulit, kelap-kelip lampu dari tempat lilin model kuno yang bercabang, dan para gadis dalam gaun pesta musim panas. Bulan berwarna keemasan yang mengikuti kereta mewah mereka yang berlentera. Selamat tinggal Batavia. Semuanya sudah hilang ratusan kilometer ke belakang, bagaikan mimpi saja. Itu semua masa lalu yang harus dilupakan Geertje. Ia sudah bertekad untuk belajar berbisnis dan memperluas pengetahuannya.

“Hindia Belanda sedang membangun, sayangku, dan kita semua diharapkan bergerak,” begitu Ludwig pernah berkata.

Ludwig bilang akan ada jabatan pengelola dan Geertje bisa bekerja sama dengan mandor. “Kau akan banyak belajar soal teh, yang aku yakin sangat berguna untuk kehidupanmu kelak.”

“Sementara aku akan ada di belakangmu sebagai pengawas. Aku juga sudah bertanya-tanya kepada wedana Gunung Salak. Ia sudah banyak belajar mengenai perkebunan teh. Bahkan dari dia aku tahu, akan ada seorang ahli yang dikirimkan pemerintah untuk membantu kita. Barangkali ahli teh itu sedang terombang-ambing sekarang di atas lautan Hindia dan mabok akibat pengapnya kapal,” Ludwig tersenyum pada putrinya itu.

Tiba-tiba saja Geertje teringat pada berbagai kejadian yang dialaminya sebelum berangkat ke Tjiseroepan, termasuk penolakan Paulina. Kilasan kejadian itu seolah-olah diputar di depan matanya, bagaikan film. Menghadapi penolakan sang istri, Ludwig meyakinkan bahwa segera setelah keadaan stabil, ia akan kembali ke Batavia untuk menjemput mereka. Sementara Johannes dan Maria melepas mereka dengan bercucuran air mata.

Geertje berdiri. Tubuhnya pegal karena terlalu lama duduk. Diserahkannya surat itu kepada seorang bujang untuk diposkan, lalu dimintanya bujang yang lain untuk menyiapkan kereta kuda. Ia ingin berkeliling dan melihat-lihat, juga menyusul Ludwig yang belum juga pulang. Barangkali papanya itu sedang berkeliling atau malah berdiskusi dengan Residen Jacobson. Geetje mendengar tak lama lagi sang residen akan memasuki masa pensiun.

Sais kuda membawa Geertje dan kereta kudanya ke arah sungai. Para perempuan pribumi sedang mandi dan mencuci pakaian. Mereka menutupi tubuh mereka dengan sehelai kain, lalu berendam di pinggir sungai. Sebagian menggeraikan rambutnya yang panjang dan mencucinya dengan memiringkan kepala. Bocah laki-laki lebih berani lagi. Mereka terjun dari ujung batu bergiliran dengan telanjang bulat. Suara anak-anak yang sedang mandi itu sangat ramai dan membahagiakan. Airnya tampak begitu bening dan jernih.

Di perjalanan, Geertje bertemu dengan para petani yang membawa barang mereka dalam pikulan atau sebuah kereta sederhana yang ditarik seekor kerbau. Ia merekam setiap momen perjalanan itu dalam benaknya, tanpa sadar ada sepasang mata yang mengikuti gerak-geriknya sejak tadi.

Dan akhirnya upacara pembukaan pun dimulai. Itu adalah upacara paling meriah yang pernah diadakan di Tjiseroepan. Seluruh penduduk tumpah ruah di sana. Upacara dilakukan secara Islam tentu saja. Seorang pemuka agama setempat dipanggil untuk melakukan doa-doa. Dalam upacara itu ada gunungan makanan. Nasi berwarna kuning, ayam yang dimasak utuh, kacang panjang dan sayur-sayuran berwarna hijau. Pisang, terung, dan cabai yang melimpah ruah.

Anak-anak perempuan dan anak laki-laki menonton dengan riang gembira. Ada arak-arakan dengan rombongan pemusik dan sejumlah priyayi. Di belakangnya, Ludwig dan Geertje berjalan sambil dipayungi sebuah payung berwarna hijau dan berenda. Residen Jaconson mendampingi di samping mereka. Ludwig memakai seragam pengawas perkebunan dan Geertje mengenakan gaun berpotongan longgar. Di belakangnya beriring pasukan pekerja perkebunan teh. Upacara itu berlangsung sangat megah.

Ludwig membuka perayaan dengan mengucapkan pidato. Bahasa Sunda ayahnya itu masih patah-patah. Setelah itu rombongan pemusik memainkan alat musiknya, diiringi sepasang laki-laki dan perempuan yang menari berpasangan. Lalu upacara diakhiri dengan makan-makan. Semuanya terlihat senang dan bahagia. Sepertinya.

***

Ludwig memandangi lahan yang menghitam bekas dibakar. Lubang-lubang baru tengah dibuat. Sebentar lagi bibit datang dan bibit baru akan dimasukkan dalam lubang itu. Residen Jacobson sudah kembali ke Belanda. Perkebunan Wanayasa dan Tjiseroepan sepunuhnya dalam pengawasan Ludwig.

Geertje menghela napas melihat gundukan tanah dan sisa-sisa asap.

“Papa, apa ini tak berlebihan,” katanya.

“Berapa banyak burung yang mati menghirup asap dari lahan yang papa bakar?”

“Aku jamin tak seekor pun,” Ludwig tertawa.

“Ini cara yang paling cepat. Romli sudah berpengalaman soal ini, tak usah khawatir,” ucap Ludwig sambil melambaikan tangannya. Geertje menoleh ke arah belakang.

Sesosok laki-laki berbadan tegap tengah berjalan ke arah mereka. Usianya kira-kira 50 tahun. Romli, sang mandor yang disebut-sebut Ludwig, tampak percaya diri dan kuat. Di belakangnya terseok-seok seorang laki-laki berkulit bersih dan berpostur sedang. Rambutnya yang ikal tersingkap disapu angin. Ia terlihat seperti kaum ningrat yang tersasar di tengah perkebunan dan terpaksa berkawan dengan para pekerja.

Romli mengangguk ke arah Ludwig. “Ini Tatang, anakku. Aku harap dia bisa berguna,” kata Romli sambil menggeretakkan giginya.

Ludwig tersenyum. “Aku akan tempatkan dia di paviliun samping rumah. Dia nanti bisa belajar dengan Gerardus. Aku mendengar kabar kapalnya sudah sampai di Tanjung Priok.”

“Geertje, tolong bantu Tatang,” ucap Ludwig pada putrinya.

Paviliun itu sebenarnya tidak terlalu besar. Ada satu kamar tidur, satu kaca berukuran sedang, dan kursi yang terbuat dari kayu. Geertje segera mengajak Tatang ke paviliun seperti titah ayahnya. Matahari hendak kembali ke peraduannya di Tjiseroepan saat mereka kembali berkendara menuju rumah.

Begitu masuk ke dalam paviliun itu, yang pertama-tama dilakukan Tatang adalah membetulkan letak kaca yang terlalu tinggi baginya.

“Ah, maaf. Penghuni sebelumnya teman ayahku dari Keresidenan Bandung. Dia lebih tinggi dari kau,” ujar Geertje.

Tatang mengangguk. “Ini merepotkan. Ayahku sungguh memalukan. Berulang kali memaksa aku belajar soal teh,” katanya.

Geertje terkejut mendengar keterusterangan dari mulut Tatang. Ia tak menyangka laki-laki yang terlihat lembut ini menyimpan bara dalam dirinya. Tatang sepertinya sosok yang pendiam, tapi ternyata juga mampu berargumen.

“Aku pikir mengapa tidak? Lahan sudah ditanami dan sebentar lagi Gerardus tiba. Ini kesempatan yang baik. Besok kau bisa jadi sudah jadi mandor entah di perkebunan mana di seluruh Priangan ini,” ucap Geertje menenangkan.

“Ayahku berpikir dia tahu segala hal tentang aku. Ia memutuskan banyak hal tanpa bertanya kepadaku. Bukankah itu menyebalkan, Nona?” kata Tatang.

Geertje kebingungan menghadapi pertanyaan semacam itu. Ia bahkan tidak tahu apakah Tatang berbicara sungguh-sungguh atau hanya hendak menggodanya.

“Sebelum itu, aku ingin bertanya kepadamu, apa kau sungguh-sungguh tidak ingat aku?” kata Tatang.

Geertje menggeleng. “Memangnya kita pernah bertemu sebelum ini?” ujar Geertje heran. Ia menatap muka Tatang sambil berusaha mengingat-ingat.

“Ya, tidak sih,” Tatang menggaruk-garuk kepalanya.

“Baiklah, selamat tidur, Nona. Terima kasih sudah mengantarkan ke sini,” ucapnya sambil tersenyum.

Dengan ucapan itu, Geertje tahu itu saatnya ia undur diri. Barangkali tamunya hendak mandi atau bersih-bersih. Lebih baik ia tak menganggu privasi laki-laki muda itu.

Begitu malam semakin larut dan Geertje merebahkan tubuhnya untuk tidur, suara seruling bambu terdengar memecah kegelapan. Suara seruling itu merdu dan jernih, serta menghanyutkan batin yang mendengarkan. Dalam buaian dendang khas Sunda, Geertje seolah kembali ke masa kanak-kanaknya ketika ia tertidur dalam dekapan ibunda. Suara seruling itu begitu akrab, seakan-akan pernah didengarnya. Tapi di mana? Bukankah Geertje baru bermukim tiga bulan di Tjiseroepan? Selain dengan para pekerja, Geertje tak terlalu banyak berinteraksi dan bersosialisasi. Jadi, kapan dan di mana ia pernah mendengarnya? Setelah lelah berpikir, Geertje akhirnya jatuh tertidur.

Sementara itu, ratusan kilometer jaraknya dari Tjiseropan, Gerardus Kalis tengah terantuk-antuk di atas kereta kuda. Lentera kereta yang menerangi jalan tampak bergoyang-goyang mengikuti irama langkah kaki sang kuda. Gerardus merasa bersyukur bisa lepas dari cengkraman kapal besi sialan yang memabukkan dalam perjalanannya ke Batavia.

Ia terkungkung selama berbulan-bulan dalam kabin sempit yang tak manusiawi. Toiletnya begitu sempit dan bau. Belum lagi ratusan manusia yang memenuhi geladak dengan segala macam dan ragam rasnya. Hanya sedikit di antara mereka yang memahami pentingnya kebersihan diri. Kebanyakan kumel dan mudah berkeringat. Orang-orang ini adalah tipe orang-orang yang tidak mungkin diajaknya bergaul atas keinginan sendiri. Ditambah lagi udara pengap dan panas Khatulistiwa begitu menggelisahkannya, membuat ia tak bisa tidur pada malam hari di dalam kabinnya tanpa bantuan kipas kecil yang berputar di atas kepalanya.

Untunglah akhirnya Geradus berhasil keluar dari neraka itu hidup-hidup. Ia hanya perlu bertahan sedikit lagi untuk sampai ke suatu permukiman yang berudara dingin dan sejuk bernama Tjiseroepan. Ia mendengar kamar sebuah pavilun sudah disiapkan untuknya. Gerardus berharap sesudah perjalanan panjang itu ia bisa tidur nyenyak dan makan enak.

–bersambung–

 

Baca bagian 1 di sini: https://www.mpokiyah.com/2018/04/16/cerber-cinta-berpilin-di-hindia-bagian-1/