Munggah, Tradisi di Betawi Jelang Bulan Ramadan

2
461
Salah satu kegiatan munggah adalah ziarah.

Munggah merupakan tradisi masyarakat di Nusantara dalam menyambut bulan Ramadan. Munggah lazim dilakukan pada bulan Syaban atau beberapa hari sebelum Ramadan. Namun, tradisi munggah tidak hanya dikenal di kalangan orang Betawi saja. Suku Sunda dan Jawa juga menjalankan munggah.

Baca Juga: https://www.mpokiyah.com/2016/05/30/3-tradisi-orang-betawi-menjelang-ramadan/

Wacana.co menyebutkan kata /munggahan/, terdapat dalam pustaka Sanghyang Siksakandang Karesyan yang ditulis tahun 1518 M dalam bahasa dan aksara Sunda. Disebutkan ada empat keinginan manusia yang fitrah, yakni yun sudayun sukayun munggah, dan yun luput.

Mengutip “Lebih Jauh Memaknai Munggah, Ritual Menyambut Bulan Ramadhan” disebutkan bahwa yun suda ialah ingin sempurna, tidak mau terkena oleh serba penyakit; yun suka ialah ingin kaya, tidak mau kehilangan harta-benda; yun munggah ialah ingin surga, tidak mau menemui dunia: yun luput berarti ingin moksa, tidak mau terbawa oleh penghuni surga.

Bagi orang Betawi sendiri, munggah diartikan sebagai ‘naik’. Bisa dimengerti bila salah satu kegiatan yang lazim dilakukan saat munggah adalah mengunjungi orang-orang yang lebih tua untuk meminta maaf dan berdoa agar sama-sama diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa. Munggah dalam hal ini diartikan ‘naik ke usia yang lebih tua’.

Haji Yoyo Muchtar, pengasuh siaran Bale-Bale di TVRI, menjelaskan ada beberapa kebiasaan orang Betawi yang lazim disebut munggah atau munggahan.

“Kalau kite mau mulai puasa, disebut munggah, ada persiapannya. Yang  pertama  biasanye yang mudaan silaturahim ke yang tua. Anak silaturahim ke orang tuanye. Tujuannye meminta maaf supaya ibadah puasanye enggak ade penghalang,” ujar Haji Yoyo.

Kedua, yang juga lazim dilakukan saat munggah, adalah melakukan ziarah kubur untuk membersihkan kuburan orang tua serta mengirimkan doa buat almarhum atau almarhumah.

Ketiga, orang Betawi mengenal istilah bulan rowah sebagai bulan penutupan sebelum masuk ke bulan Ramadan. Dalam rangka itu, dilakukanlah rowahan, yakni mengumpulkan atau mengundang sanak famili untuk  mengirim doa arwah. Rowah berasal dari kata arwah. Rowahan juga menjadi ajang untuk berbagi dari pihak yang berkecukupan kepada orang yang secara ekonomi masih kekurangan.

Keempat, yang juga biasa dilakukan adalah membersihkan rumah serta mempersiapkan  kelengkapan bahan makanan buat munggah. Salah satunya termasuk mengecat rumah, mencuci kordeng, dan membersihkan sudut-sudut rumah agar terlihat lebih bersih. Sementara, supermarket juga dipenuhi orang-orang yang berbeli barang-barang keperluan puasa. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi bahan-bahan kelengkapan ini juga biasanya diantarkan ke orang tua atau tetangga yang dihormati. Ini adalah tanda kesiapan melakukan ibadah selama sebulan penuh.

Kelima, orang-orang tua Betawi di beberapa daerah tertentu biasa mengeramasi rambutnya dengan menggunakan merang yang dibakar dan disaring airnya. Tujuannya adalah membersihkan diri, baik secara lahir dan batin. Kesaksian diberikan oleh Bang Davi asal Kemayoran, yang mengatakan masih menyaksikan neneknya keramas dengan merang. Namun, pada saat ini tentu keramas biasa saja dengan sampo.

Jika dirujuk berdasarkan syariat, tentu tradisi munggah tidak dikenal dalam Islam dan tidak diajarkan dalam Alquran. Bahkan, kata munggah sendiri pun bukan berasal dari bahasa Arab. Namun menurut saya, tradisi ini bertujuan baik dan karenanya tidak usah dipersoalkan secara berlebihan.

Munggah merupakan ungkapan nyata dari rasa syukur atas kehidupan, bahwa masih diberikan kesempatan berjumpa dengan bulan yang mulia dan penuh berkah. Bagi orang Betawi, Ramadan adalah bulan yang istimewa, karena itu perlu disambut dengan bahagia.

Begitu pula dengan munggahan. Tujuan utamanya adalah silaturahmi dan berbagi. Munggah tidak perlu diberatkan sebab bukanlah kewajiban. Munggah adalah penambah semangat jelang puasa dan ajang untuk memperat tali persaudaraan. Munggah pada dasarnya adalah persiapan mencapai moksa.

 

 

2 Komentar

Kirim Tanggapan