CERBER: CINTA BERPILIN DI HINDIA (Bagian 3)

0
289
ilustrasi politik balas budi Museum Bank Indonesia.

Sebelumnya: Pertualangan baru di Wanayasa, membuat Geertje berkenalan dengan Tatang dan mulai menikmati udara Bandung yang sejuk. Namun, seorang ahli teh bernama Gerardus Kalis datang dan mewarnai hubungan di antara mereka.

Kedatangan Gerardus Kalis dengan cepat mengubah suasana di Tjiseroepan dan Wanayasa. Gerardus orang yang congkak, tapi ia tahu betul apa yang dilakukannya. Gerardus juga sangat profesional. Selain itu, ia juga sangat percaya diri. Dengan terus terang Gerardus menyatakan Geertje adalah gadis paling menawan dan berbeda yang pernah dikenalnya. Geertje mengenyitkan dahi saat mendengar ucapan itu. Ia masih menerka maksud dari ucapan Gerardus itu.

“Hahahaha,” Gerardus tertawa melihat kebingungan di wajah Geertje. Ia menjawil pipi putih gadis itu dan mengajaknya berlomba menuju gudang teh Tjiseroepan.

“Ayo, akan kuajarkan kau membedakan daun teh,” kata Gerardus bersemangat.

Dengan rasa antusiasme yang tinggi, Geertje mengikuti pemuda itu. Mereka pun bersepeda di bawah sinar matahari yang hangat menuju gudang teh Tjiseroepan. Lima bulan di sini, pipi Geertje semakin merah, badannya segar, dan paras mukanya berseri-seri. Sinar matahari yang melimpah ditambah kebiasaannya bersepeda membuatnya semakin sehat dan bercahaya. Siapa pun yang melihatnya akan dengan mudah menebak bahwa dia gadis yang berbahagia. Hilang sudah masa suram selama delapan tahun yang dijalaninya di Batavia.

Semakin sering bersepeda, Geertje merasakan jarak dan tekstur desa yang berkelok-kelok antara menanjak dan menurun tak menjadi masalah untuknya. Hanya dalam waktu 20 menit, mereka sudah sampai di gudang teh Tjiseroepan yang berjarak 10 kilometer dari rumah tempat Ludwig dan para pengelola teh lainnya bermukim.

Di depan gudang para pekerja teh asal Jepang dan Cina yang sedang menyortir pucuk-pucuk daun teh menghentikan aktivitasnya begitu melihat kedatangan seorang gadis blasteran dan pemuda Belanda tulen itu.

Gerardus membuka topinya. Kepalanya yang sedikit botak dengan rambut yang menipis di tepinya tampak berkilau tertimpa sinar matahari. Ia tersenyum pada Geertje. Pemuda ini baru berusia 23 tahun, tapi pengetahuannya tentang teh sungguh luar biasa. Ia pernah pergi ke Cina selama satu tahun penuh untuk belajar pembudidayaan dan pemetikan teh.

Gerardus mengajak Geertje memutar ke belakang. Di sisi samping gudang teh, pasangan itu menemukan Tatang sedang menghadapi serombongan gadis dan ibu-ibu pemetik teh. Di hadapannya berdiri dalam barisan para pemetik teh yang hendak menyetorkan hasil kerja mereka hari itu.

“Geertje,” teriak Tatang sambil melambaikan tangannya.

Geertje tersenyum kala melihat pemuda itu bekerja. Malam setelah percakapan mereka yang menyebalkan, akhirnya Geertje ingat di mana ia pernah berjumpa dengan Tatang.

“Kau ini pemuda yang menari di malam pembukaan!” kata Geetje.

Tatang mengedipkan matanya. Dan sikapnya yang sekilas itu membuat Geertje mengingat bahasa tubuh penari laki-laki yang begitu luwes gerakannya dan gemulai  saat mengawal petani perempuan yang baru saja pulang memetik padi serta disimbolkan membawa bakul dalam bahu mereka.

Meski gerak-gerik tubuhnya begitu elastis dan lentur dalam memperagakan tari tradisional yang menggambarkan kehidupan tradisional masyarakat Sunda, kala itu Tatang sekaligus tampak gagah dengan beberapa gerakan mirip seni bela diri lokal. Para penari laki-laki dan perempuan berjalan beriringan dalam sebuah irama gamelan, suling, dan gendang yang berpadu merdu. Hati Geertje tergetar kala melihat pertunjukan itu.

Setelah itu Tatang mengaku bahwa ia sudah lama memperhatikan tingkah laku Geertje, yakni sejak awal gadis itu datang ke Tjiseroepan.

“Bahkan sebelum aku menari di malam upacara pembukaan itu, aku sudah melihatmu berkeliling desa,” tuturnya.

Geertje tersanjung mendengar pengakuan jujur Tatang. Dengan segera persahabatan terjalin, menyusul percakapan-percakapan kecil mereka di meja makan dan di depan paviliun. Geertje pun segera tahu bahwa Tatang sangat menyukai kesenian. Tatang mampu meniup seruling dan senang menari—sesuatu yang amat dibenci Romli, ayahnya. Pergaulannya dengan Tatang membawa Geertje ke dunia baru yang belum pernah dikenalnya dan dibayangkannya. Bahkan, Tatang berjanji akan segera mengajak Geertje menonton pertunjukan wayang. Tentu saja Geertje sangat antusias mendengarnya.

Untuk menjauhkan Tatang dari dunia kesenian, Romli sengaja meminta Ludwig memberikan Tatang tugas di perkebunan. Dari permukaan Geertje bisa melihat hubungan bapak-anak itu teramat tegang. Namun setelah mengetahui alasannya, Geertje merasa kasihan.

“Ayahku tidak suka melihat aku menari karena itu mengingatkannya kepada ibuku yang dibawa lari pemimpin sanggarnya. Aku terakhir kali melihatnya pada usia 5 tahun dan setelah itu kehilangan jejaknya. Ayah tahu aku mencari-cari ibu ke Bandung, karena itu ia menarikku kembali ke Tjiseroepan,” ujar Tatang suatu ketika.

Karena itu, Tatang kini menjadi pegawai perkebunan teh Tjiseroepan yang ditinggalkan Residen Jacobson. Ia diberikan tugas sebagai kepala dari para pemetik teh. Setiap pagi dan petang, Tatang akan mengabsen para perempuan pemetik teh dan memeriksa hasil kerja mereka hari itu. Jika petikan mereka baik, tak segan-segan ia memuji dengan bahasa Sunda halus. Namun kalau hasil petikan mereka buruk, ia akan memberikan nasihat seraya meminta mereka untuk mencari pohon teh yang sudah cukup umur untuk dipetik. Ia berkali-kali mengingatkan agar para pekerja tidak memetik pucuk teh yang terlalu muda. Setelah itu Tatang akan menimbang hasil petikan setiap pekerja dan mencatatnya dalam sebuah buku. Pada awal bulan, para pekerja bisa mengambil upah petik mereka berdasarkan jumlah yang mereka setorkan.

“Berapa upah yang mereka dapatkan, Tatang?” begitu Geertje pernah bertanya.

“Rata-rata setiap orang akan mendapatkan 2 gulden per bulan, Nona. Tapi itu belum termasuk 3 gantang beras, 1/10 gantang garam, ½ kilogram ikan asin, dan garam,” ujar Tatang menambahkan.

Sebagai kepala mandor, Tatang berhak menerima 12 gulden per bulan, sementara mandor-mandor kecil di bawahnya hanya memperoleh 3 gulden per bulan. Namun Tatang bukan kepala mandor yang pelit. Geertje tahu Tatang sering mentraktir para mandor dan kuli dengan rokok. Sementara untuk para pemetik teh, Tatang seringkali memberikan mereka sabun dengan cuma-cuma, ditambah dengan sedikit kebutuhan bahan pokok lainnya.

Geertje balas melambaikan tangannya kepada pemuda itu. Ia memberi semangat kepada Tatang yang di hadapannya berbaris 20 orang perempuan pemetik teh. Semuanya memakai pakaian yang hampir seragam: kain yang diikatkan di pinggang, kebaya lusuh polos, ikat kepala sebagai pelindung dari terik matahari, ditambah kain panjang sebagai wadah mengumpulkan daun teh yang sudah dipetik. Sebagian besar dari mereka tak beralas kaki.

Bersama Gerardus ia memutari sisi samping gudang teh. Geertje memberikan tatapan minta maaf, sementara Tatang mengikuti pergerakan pasangan itu dengan ujung matanya.

***

Gerardus mengajak Geertje memahami prinsip paling awal dalam pengelolaan teh, yakni pemilahan. Segera setelah daun teh dikumpulkan, teh-teh itu dipisahkan berdasarkan jenisnya, antara daun pucuk, halus, sedang, dan kasar. Daun teh yang sudah dipilah-pilah itu lalu diletakkan dalam sebuah nampan besar berdasarkan jenisnya.

“Lalu setelah itu,” ujar Gerardus, “Harus dilayukan dulu selama satu malam. Tujuannya adalah supaya air yang ada dalam daun teh itu menguap.”

Geertje tahu proses ini sangat penting dan krusial. Sebab, daun teh yang masih basah akan membuat rasa teh menjadi tidak enak.

“Setelah daun teh itu layu, daun tehnya harus digulung,” Gerardus melanjutkan sambil menggamit tangan Geertje ke sisi lain dari bangsal itu.

Di hadapan mereka terlihat para pekerja pribumi sedang menggulung daun teh dengan terampil dan cekatan. Para pekerja laki-laki dan perempuan duduk di depan tampir. Mereka mengambil beberapa daun, lalu meremasnya di atas talenan hingga menjadi gulungan-gulungan kecil berwarna cokelat kehijauan. Para pekerja tampak tekun bekerja sambil menunduk menekuri daun teh di tangan mereka.

“Aku dengar ada teknologi bagus untuk proses ini. Menggiling sebenarnya bisa dilakukan dengan mesin. Itu lebih bisa menghemat tenaga,” ucap Gerardus.

“Ah, tapi suasana ramai seperti ini kan lebih menyenangkan,” ujar Geertje membantah.

Gerardus tak mengatakan apa-apa demi mendengar suara Geertje yang merajuk. Ia selalu merasa kalah berdebat dengan gadis ini.

“Dan yang terakhir aku tahu, pasti mengongseng ya,” tutur Geertje. Mengongseng adalah memasak tanpa air di atas sebuah kuali atau wajan besar.

“Betul, ayok kita ke bangsal di luar gudang ini,” ujar Gerardus.

Mengongseng harus dilakukan di tempat yang terpisah. Sebab, tempat untuk mengongseng atau menyangrai harus bebas dan bersih dari bau-bauan, kotoran, atau jelaga agar keharuman teh tetap terjaga. Apalagi untuk mengongseng diperlukan keahlian tersendiri. Karena itulah Ludwig meminta mandor khusus dari Cina untuk mengawasi proses ini. Gaji pekerja Cina tersebut 30 gulden perak dan tiga gantang beras—lebih besar dibanding gaji seorang kepala mandor pribumi.

Geertje memperhatikan Gerardus menjelaskan bahwa daun teh digongseng dengan kwaliwaja atau panci Cina di atas bara api dengan suhu hangat alias suam-suam kuku. Istilah itu dipelajarinya dari Simbok Minah, perempuan yang membantunya sehari-hari di rumah besar.

Daun teh yang sudah digongseng kemudian ditempatkan dalam pot yang ditutup rapat dan didiamkan selama tiga bulan hingga siap diseduh. Setelahnya yang paling menegangkan adalah uji mutu. Geertje tahu ayahnya kecewa karena hasil panen di Tjiseroepan sebelumnya tidak terlalu baik. Karena itu ia berharap kualitas daun teh di panen sekarang meningkat. Apalagi uji mutu ini sangat mempengaruhi harga teh untuk diekspor ke luar negeri. Perkebunan teh Tjiseropan masih harus membuktikan kualitas panen mereka sangat baik dan bercita rasa tinggi.

“Nah, dari beragam jenis teh yang dihasilkan di Tjiseroepan, mana yang paling kau sukai?” tanya Gerardus saat mereka berjalan menjauh dari bangsal.

“Tentu saja teh hijau,” ucap Geertje segera.

“Aku tak bisa membayangkan hari-hariku setiap pagi dan petang tanpa menyesap secangkir teh hijau. Teh jenis ini membantuku lebih fokus, tenang, dan rileks,” Geertje menjelaskan sambil menggerakkan tangannya naik dan turun.

“Kalau aku teh hitam,” kata Gerardus. “Rasanya begitu kuat, sedap, dengan sedikit tambahan jintan. Teh jenis ini mampu membuat aku lebih bertenaga,” tutur Gerardus sambil memperagakan gaya seseorang yang perkasa dengan kedua tangan dan lengannya membentuk huruf L.

Geertje tertawa terbahak-bahak melihat mimik Gerardus. Keduanya lantas segera mengambil sepeda mereka. Di depan gudang sebuah truk terparkir, hendak mengangkut berpeti-peti teh yang hendak diuji mutu di Weltevreden. Jika cocok, teh bisa diekspor ke Belanda, Jerman, atau bahkan Inggris dengan harga berkali-kali lipat lebih tinggi. Gerardus mengangkat topinya begitu melihat Mr. Cornelis, petugas yang akan membawa berpeti-peti teh mereka. Kemudian ia mengayuh sepedanya cepat-cepat menyusul Geertje yang lebih dulu di depan. Di belakang mereka sepasang mata melihat dengan sendu.

***

Geertje baru saja menulis surat pengantar untuk direktur perkebunan di Weltevreden, Batavia, meminta pengujian mutu teh dari perkebunan mereka di Tjiseroepan. Ada 136 peti teh yang dikirimkan dari total panen sebanyak 17.450 pond. Ini hasil yang bagus dibanding panen dua tahun lalu yang hanya 8.950 pond. Penambahan lahan baru serta dibukanya perkebunan Wanayasa akan menambah daftar kegemilangan era Ludwig van Oort. Dalam hatinya Geertje merasa puas.

Kedatangan ayahnya secara tiba-tiba mengagetkan Geertje. Berbulan-bulan berdua di Tjiseroepan, anak-beranak itu banyak bertukar pikiran. Geertje tahu ambisi ayahnya membawa perkebunan mereka agar lebih maju. Ludwig duduk di bangku di hadapan anaknya.

“Bagaimana menurutmu pemilahan teh di perkebunan kita?” tanya Ludwig.

“Aku rasa cukup baik, papa. Segera setelah uji mutu, kita akan tahu hasilnya,” jawab Geertje sambil tersenyum manis.

“Gerardus memberitahuku bahwa mengemas teh dalam keadaan dingin jauh lebih baik dibanding dengan keadaan panas. Karena itu kemarin aku meminta mereka mendiamkan dulu daun teh sebelum menutupnya rapat-rapat,” kata Geertje.

Ia menambahkan, “Papa tak usah khawatir, pergilah jalan-jalan. Kau butuh udara segar.”

Ludwig tersenyum demi mendengar usiran anaknya. Kemarin ia sudah menengok perkebunan sekitar di Cisalak. Dan ada kawan lain yang sedang menginap. Namun yang mereka perbincangkan hanyalah teh, kuda, dan catur. Kadang-kadang tentu juga politik. Betapa hampanya hidup tanpa wanita. Memang kadang-kadang ia berbagi ranjang dengan para perempuan pemetik teh, tapi tak ada yang bisa menyamai senyuman dan cibiran Paulina terkasih. Kalau saja tak dibebani dengan tanggung jawab di perkebunan teh, maulah ia kembali ke Batavia.

Namun Tjiseroepan belum bisa ditinggalkan. Meski kondisi di gudang teh sudah bisa diserahkan kepada Gerardus dan Tatang, para pekerja pembuat peti seringkali bertindak seenaknya. Peti-peti yang mereka buat sangat jelek kualitasnya, sehingga Ludwig merasa lebih baik mendatangkan pekerja dari Cina untuk membuat peti. Paling tidak mereka tak akan sembarangan memotong dan memaku, pikirnya. Namun itu bukannya tanpa masalah. Para pekerja Cina dan pribumi membentuk kasta-kasta tersendiri dan menciptakan jurang di antara mereka. Ini cukup membuat Ludwig pusing. Barangkali Geertje benar, ia butuh berjalan-jalan sebentar. Ah, tidak ia butuh pelesir tepatnya. Mungkin Bogor cocok karena ia juga mendapat undangan dari Gubernur Jenderal untuk menghadiri klub balap kuda. Mungkin juga ada pesta dansa dan sampanye, dan setelah itu ia bisa menjemput Paulina dan anak-anaknya.

Tiba-tiba ada suara pintu diketuk dan Tatang muncul di antara mereka. Perasaan Ludwig tidak enak. Meski ia menghormati Tatang, ia juga sadar Tatang terlalu berpihak kepada para pekerjanya dibanding dirinya sebagai pemilik pabrik. Tapi peran Tatang teramat vital, terutama karena Ludwig tak mahir berbahasa Sunda sekeras apa pun ia berusaha belajar.

Setelah berbasa-basi, Tatang mengutarakan maksudnya.  “Para pemetik dan pemilah teh membutuhkan sedikit uang. Mereka berpikir barangkali pabrik bisa memberikan mereka kredit yang ringan,” ujarnya berhati-hati.

Ludwig tahu benar ia lebih baik bersikap murah hati supaya para pekerja tidak membangkang. Karena itu, ia menyetujui permintaan Tatang dan memberi pesan supaya segala sesuatunya diatur melalui Geertje.

Begitu Ludwig pergi dan tinggal mereka berdua dalam ruangan itu, Tatang jadi lebih lebih rileks. Ia berbicara santai kepada Geertje.

“Nona bilang mau menonton wayang bersamaku,” katanya.

“Tentu saja aku mau. Mengapa tidak?” kata Geertje.

“Kalau begitu, malam Minggu? Penghulu Garut mengadakan pesta pernikahan putrinya,” Tatang menawarkan.

“Ya, marilah kita ke sana,” jawab Geertje mantap.

***

Bulan cerah pada malam Minggu. Ludwig sudah berangkat sejak pagi ke Bogor. Kira-kira ia akan meninggalkan Tjiseroepan dua minggu lamanya. Geertje sudah bersiap-siap. Ia memakai gaun warna kuning berbunga-bunga dan menunggu suara Tatang memanggilnya. Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah berkendara dengan kereta kuda ke Garut. Sesudah sampai di depan rumah penghulu, Geertje meminta sais kuda pulang. Namun sais itu terlihat enggan dan mengatakan akan menunggu saja.

Rumah penghulu adalah yang terbagus di daerah situ. Bangunannya dari dinding batu kali yang diplester. Halamannya luas dengan pendopo yang luas. Dua orang pengantin tampak tersenyum. Pengantin wanitanya memakai kain batik bermotif dan hiasan kepala yang terbuat dari emas. Di bahunya juga ada hiasan dan dia mengenakan kalung yang indah. Sementara pengantin laki-laki memakai celana panjang yang ditutupi sarung bermotif batik. Di dadanya tersemat ikat pinggang dari emas dan di kepalanya ia mengenakan mahkota dari emas. Melihat dari pakaianya keduanya, Geertje menduga mereka pastilah keturunan bangsawan. Usia kedua pasangan itu sangat muda. Geertje menduga si pengantin perempuan paling tidak berusia 15 tahun dan pengantin laki-laki berusia 17 tahun.

Lakon wayang kali itu sangat menarik. Tatang berbisik menjelaskan bahwa lakonnya diambil dari kisah Mahabharata, sebuah epos dari India yang sangat terkenal. Lakon wayang kali itu mengisahkan pernikahan antara Gatot Kaca dengan Pergiwa. Pergiwa sebelumnya telah menerima lamaran Lesmana dari Hastinapura. Padahal sebelumnya sudah santer terdengar Pergiwa menjalin kasih dengan Gatot Kaca, ksatria unggulan kaum pandawa. Namun, Pergiwa ternyata hanya menguji cinta Gatot Kaca, sehingga menimbulkan kesalahpahaman antara Arjuna sebagai ayah Lesmana dan Bima sebagai ayah Gatot Kaca. Dan ternyata kesalahpahaman itu bagian dari siasat para Kurawa untuk melemahkan pasukan Pandawa.

Geertje hanya mengerti samar-samar tentang kisah wayang itu. Beberapa kosakata bahasa Sunda yang digunakan dalang tak dipahaminya, ditambah ia asing dengan kisah-kisah epos dari Mahabharata. Dulu ibunya hanya membawakan kisah tentang putri-putri raja yang cantik dan baik, sementara ayahnya senang sekali berkisah tentang kisah negeri asal nenek moyang mereka di Belanda.

Namun begitu, ia menikmati setiap suasana mistis dan magis yang tercipta di pendopo. Angin bertiup pelan, udara malam yang sejuk, ditambah suasana sekitar yang hangat. Geertje bercampur dengan para rakyat biasa yang hanya berkaus dan bersarung, serta berpeluh setelah seharian lelah bekerja di perkebunan teh. Sebagian dari kaum laki-lakinya menghisap tembakau yang dilinting dengan daun jagung.

Geertje tahu kadang-kadang ayahnya menawarkan para pekerja untuk menghisap tembakau kesayangannya yang disimpan sebagai persediaan untuk mengambil hati mereka. Meski kadangkala keras, Ludwig sangat paham bahwa pesta-pesta, sedikit sampanye, dan tembakau bisa mengangkat rasa hormat para pekerja terhadapnya sebagai juragan. Terbukti, kadang-kadang di pagi hari ia menemukan beberapa orang datang membawakannya umbi-umbian dari hutan atau buah-buahan, atau pernah juga seekor ayam jago yang kini dipeliharanya di belakang rumah besar.

Namun Geertje telah melangkah lebih jauh dengan pergi bersama seorang pribumi. Setelah pementasan wayang usai, cuaca terang menggoda keduanya untuk melangkah ke luar, merebahkan diri di atas rumput dekat perkebunan teh yang menghampar. Bintang terang memancar menerangi langit saat dua anak manusia untuk pertama kalinya berdekatan satu sama lain.

“Maukah kuceritakan tentang sejarah mulanya teh?” ujar Tatang sambil berbisik di telinga Geertje.

Geertje hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyum tipis.

“Jadi aku mendengar sebuah kisah kuno bahwa di pegunungan antara Tibet dan Tiongkok Selatan hidup seorang pendeta Buddha yang sangat sederhana. Si pendeta ini lama berpuasa. Ia tidak makan dan tidak tidur. Ia bertapa dengan keras agar mendapatkan ilham dari Yang Maha Kuasa. Namun malang, apa yang diinginkannya itu tak juga tercapai,” demikian Tatang membuka ceritanya.

“Begitu lamanya si pendeta ini menunggu, ia akhirnya tak tahan lagi. Ia pun tertidur akibat tak kuat menahan rasa kantuk yang luar biasa. Namun karena begitu teguh keinginannya, begitu tersadar setelah tidur sejenak, ia pun memotong kelopak matanya agar tak tertidur lagi,” ujar Tatang.

“Kelopak mata itu lalu dibuang. Dan tahukah kamu apa yang terjadi?” tanyanya.

“Tidak, aku tidak tahu,” ujar Geertje penasaran.

“Dari kelopak mata yang dibuang itu tiba-tiba tumbuhlah tanaman teh seperti yang kita kenal sekarang.”

“Masak kan begitu?” ujar Geertje tak percaya.

“Benar, karena itulah teh bisa membuat segar orang yang meminumnya, tidak mengantuk, serta menyembuhkan berbagai penyakit,” kata Tatang sambil tersenyum.

“Kau pasti mengarang,” tuduh Geertje. “Gerardus pernah bercerita padaku tentang asal mulanya teh sampai ke Hindia.”

“Katanya, pada akhir abad ke-17, teh sudah dikenal di sini. Gubernur Jenderal Camphuijs yang membawanya. Ia mula-mula menanam biji teh dari Jepang di halamannya rumahnya di Batavia. Namun saat itu pohon tehnya tidak tumbuh dengan baik. Ternyata teh cocok ditanam di bumi yang diciptakan Tuhan ketika dia sedang tersenyum,” kata Geertje dengan riang mengumpamakan Priangan.

Tatang tak menyanggah cerita Geertje. Ia hanya tak suka nama Gerardus menyeruak dalam percakapan mereka. Setelah itu keduanya hanya terdiam dan menikmati suasana sambil kadang-kadang tertawa dan mengobrol hal-hal yang ringan. Udara tak terasa begitu dingin karena Tatang membawa selimut  tebal, sehingga mereka aman berlindung di baliknya. Lama-kelamaan Geertje merasa mengantuk dan ia pun memejamkan mata. Tatang melindungi Geertje dengan tangannya. Kedua anak manusia itu kemudian tidur dalam dekapan malam.

Geertje gagap kala terbangun dini hari itu. Ia asing dengan suasana sekitarnya. Matahari belum sepenuhnya muncul di cakrawala. Hanya sinar berwarna oranye yang menyemburat di langit. Geertje duduk sambil melipat kakinya dan menikmati pemandangan ajaib kala si raja surya perlahan-lahan muncul dari sebelah barat. Ia takjub mendapati Tuhan telah menciptakan keindahan yang tiada tara di bumi Priangan yang berselimutkan pucuk-pucuk teh dengan embun di ujungnya.

Geertje mengguncang-guncangkan tangan Tatang dan membangunkannya. “Ayolah kita kembali,” ajaknya. Ia agak khawatir menyadari telah ke luar rumah semalaman.

Tatang setuju. Kala kembali ke halaman rumah sang penghulu, di tengah perjalanan ia memetik sejenis buah-buahan liar dan memberikannya kepada Geertje. Mula-mula Geertje merasa ragu memakannya, sehingga ia hanya menyimpannya di dalam saku. Namun ketika Tatang menebas seruas panjang rotan dan lalu menenggak air yang keluar dari sela-sela batangnya yang berongga, Geertje mengikutinya. Ternyata ia kehausan karena belum minum seteguk air pun sejak bangun tidur.

Sais kuda ternyata masih menunggu. Geertje naik kereta kuda ke rumah besar, sementara Tatang berkata hendak menjenguk Romli, ayahnya. Saat itu Geertje tak menyangka masalah besar akan segera menimpanya.

***

Baca cerita sebelumnya di sini:https://www.mpokiyah.com/2018/04/23/cerber-cinta-berpilin-di-hindia-bagian-2/

https://www.mpokiyah.com/2018/04/16/cerber-cinta-berpilin-di-hindia-bagian-1/

Kirim Tanggapan