Pendidikan dan Menjadi Manusia Indonesia Seutuhnya

0
436
Sekolah harus menghargai potensi anak didik yang berbeda-beda.

Hari Pendidikan Nasional memang telah masih terasa gegap gempitanya. Kemarin, pada 2 Mei, tepat di perayaan hari lahirnya Ki Hajar Dewantara, saya membaca berita bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bapak Muhadjir Effendy, akan memperbaiki kurikulum agar siswa bisa bersaing di era Revolusi Industri 4.0.

“Akan kita kejar di sisa waktu setahun masa jabatan terakhir, karena waktunya tinggal sebentar,” demikian kira-kira Bapak Menteri yang terhormat itu berkomentar.

Sebuah penyesalan menyusup diam-diam menyadari pemahaman Bapak Menteri yang menangani urusan mahapenting di negeri ini. Sebab, belum lepas pula Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada beberapa pekan lalu telah kebanjiran kritik akibat soal-soal yang diujikan terlampau sulit dan tak ada dalam kisi-kisi. Waktu itu, Pak Menteri berkilah bahwa itu agar para lulusan sekolah di Indonesia sanggup bersaing dengan lulusan di luar negeri.

Saya membayangkan Ki Hajar Dewantara menangis dalam kuburnya karena cita-cita pendidikan yang digaungkannya, demi mengangkat harkat dan derajat manusia, telah bergeser jauh dari garis yang dibuatnya saat mendirikan Taman Siswa.

Saat mendirikan Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara telah menerapkan tiga asas alias pedoman, yakni kemerdekaan dan tertib, pengetahuan yang berfaedah, serta berdasarkan kebangsaan dan kemanusiaan,

Ki Hajar Dewantara melihat pendidikan mampu mengubah watak dan sikap bangsa untuk menjadi bangsa yang mempunyai derajat yang tinggi dan sejajar dengan bangsa lain. Namun, untuk mewujudkan itu, pendidikan yang harus dijalankan haruslah pendidikan yang berorientasi pada kepentingan bangsa dan berjiwa ketimuran.

Bapak Pendidikan Nasional ini menolak pendidikan yang hanya mengajarkan masyarakat menjadi masyarakat pekerja yang lupa akan tujuan hidupnya. Oleh karena itu, Ki Hajar Dewantara berusaha mengenalkan konsep pendidikan dan pengajaran yang mampu membuat masyarakat menjadi manusia seutuhnya.

Apakah manusia seutuhnya itu? Manusia yang sadar akan potensi dirinya, serta merdeka lahir dan batinnya. Merdeka secara lahir artinya tidak terjajah baik secara politik, ekonomi, dan lain sebagainya, sementara merdeka secara batin berarti mampu memahami situasi, tidak terombang-ambing dan dapat mengambil keputusan.

Taman Siswa, lembaga yang dilahirkan oleh Ki Hajar Dewantara, mengajarkan asas keseimbangan diri, antara intelektualitas dan profesional, agar anak didik berkembang kecerdasan dan kepribadiannya secara seimbang.

Apakah pendidikan di Indonesia sudah mengakomodasi hal itu? Pak Menteri, saya kira banyak hal yang harus dibenahi. Selama ini para guru sudah dibebankan dengan target nilai dan kelulusan serta dijejali murid sedemikian banyak di dalam satu kelas. Berubahnya kurikulum secara terus-menerus mengindikasikan bahwa Indonesia tidak punya garis besar pendidikan nasional selama paling tidak 25 tahun ke depan. Sehingga, lazim terdengar ganti menteri ganti kurikulum.

Apakah saat ini pendidikan di sekolah mampu memberikan kebahagiaan bagi para peserta didik dan mendekatkan mereka kepada potensinya masing-masing? Berapa banyak keluhan yang terdengar, saat orangtua memilih menjual sawah mereka agar anaknya menjadi orang pintar, tetapi sang anak kemudian terasing dari lingkungannya sendiri.

Sang anak yang terdidik ini menolak turun ke sawah atau menggarap ladang, sehingga tanah-tanah nenek moyang tak terurus dan dijual. Mereka menolak pulang kampung dan berbaur dengan masyarakatnya, lantaran sudah merasa terasing dan tak nyambung dengan sekitarnya. Akibatnya, kampung-kampung tak kunjung terbangun, sementara kota penuh sesak.

Saat ini, kala menemani anak saya belajar, saya berpikir keras, apakah dia akan mengingat semua pelajaran yang dijejalkan kepadanya dahulu. Atau, apakah guna menghapal jenis-dan klasifikasi tanaman air bagi dirinya saat dewasa kelak? Bukankah saya sendiri sudah melupakan rumus fisika dan kimia yang sudah saya pelajari bertahun-tahun lampau? Atau berapa sisi dalam jajar genjang, apakah sama sudutnya atau tidak?

Pendidikan seharusnya bukan hanya soal target memahami satu satuan pendidikan, tapi juga soal kemandirian, soal memahami apa tujuan hidupnya, dan soal menjadi manusia seutuhnya.

Kirim Tanggapan