CERBER: CINTA BERPILIN DI HINDIA (TAMAT)

0
282
ilustrasi politik balas budi Museum Bank Indonesia.

Cerita sebelumnya:

Geertje van Ort adalah gadis Indo keturunan Belanda yang lahir di Batavia. Nasibnya malang karena ibunya meninggal saat ia masih kecil. Geertje tumbuh bersama ibu tiri—yang meskipun baik tapi tak pernah sungguh-sungguh menyayanginya.

Saat berusia 19 tahun dan baru lulus sekolah menengah, ayahnya, Ludwig van Ort, menawarinya ikut mengelola perkebunan teh di Priangan. Di sinilah Geertje menemukan gairahnya kembali melalui perkawanan yang akrab dengan dua orang laki-laki beda bangsa: Gerardus yang asli Belanda dan Tatang yang asli Sunda.

Persaingan keduanya untuk merebut hati Geertje berbuah fitnah yang keji, sehingga membuat Geertje terpaksa meninggalkan tanah Priangan yang telah menawan hatinya. Apakah nasib malang yang ia terima? Atau dengan kekuatan tangannya sendiri Geertje mampu mengubah nasibnya seperti yang ia kehendaki?

 

Dua minggu kemudian Ludwig pulang bersama Paulina. Geertje menyambut Maria dan Johannes yang berlari ke arahnya dan berebutan memeluknya. Di tangan mereka terselip baling-baling dari bambu yang mungkin dibuatkan tukang kayu di Bogor. Adik-adik tirinya itu tampak begitu ceria dan manis.

Geertje menitikkan air mata bahagia ketika melihat kedua adik yang sangat dikasihinya itu. Sudah setahun lamanya ia berpisah dengan mereka. Kini lihatlah betapa Maria dan Johannes begitu cepat tumbuh besar. Johannes bahkan sudah tak segemuk yang diingatnya terakhir kali. Sementara Maria, dia semakin piawai bercerita.

Kedua orangtuanya tak kalah gembira bisa berkumpul kembali. Paulina menepuk tangannya dan memberikan tatapan bersahabat. Ludwig bersiul senang sambil menghisap cerutu. Tampaknya ia bahagia kini keluarganya sudah berkumpul kembali. Geertje juga senang, walaupun itu artinya keramaian dan kehebohan akan segera menghiasi rumah mereka karena dua anak itu begitu tak bisa diam. Buktinya kedua anak itu langsung menarik tangan Geertje dan meminta diantarkan melihat anjing-anjing penjaga yang dipelihara di samping rumah.

“Tuan sudah pulang?” kata Gerardus begitu melihat Geertje yang tangan kiri dan kanannya digantungi adik-adiknya.

“Sudah, baru saja,” tutur Geertje.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Gerardus langsung melewati Geertje dan melangkah menuju ruang tengah untuk menerima tamu. Terus terang Geertje agak heran dengan perubahan sikap Gerardus. Sudah dua minggu Gerardus berusaha menghindarinya. Kala ia datang menyambangi laki-laki itu, Gerardus dengan cepat menyudahi pembicaraan atau berkata ada sesuatu hal yang harus dikerjakannya.

“Kau ini kok aneh,” begitu pernah Geertje protes.

“Aneh bagaimana?” tanya Gerardus.

“Aku hanya sedang sibuk memikirkan perkebunan. Kau tahu, kualitas teh hijau kita perlu ditingkatkan agar rasanya lebih enak. Aku sedang pusing memikirkannya. Belum lagi di Wanayasa, pekerjanya minta kenaikan gaji. Dan kualitas peti kayu kita sangat jelek dengan paku-paku yang mencelat. Aku sibuk bekerja, tidak seperti kau,” kata Gerardus menyindir.

“Apa maksudmu berkata seperti itu?” kata Geertje emosional.

“Ah, kau tidak akan mengerti,” ujar Gerardus sambil bersungut-sungut lantas pergi.

Di tengah sikap Gerardus yang menyebalkan itu, Geertje menemukan persahabatannya dengan Tatang kian lama kian intim. Ia betah berlama-lama menunggui Tatang mengabsen para pekerja pemetik tehnya. Tentu saja ia sadar bahwa ada satu-dua yang mencibir. Bahkan beberapa mulai menunjukkan sikap permusuhan terang-terangan.

“Siapakah itu yang sejak tadi memonyongkan mulutnya ke arahku?” tanya Geertje suatu ketika. Matanya menunjuk ke satu arah di antara kerumunan pekerja yang sedang istirahat.

“Ooh, itu Nimah. Sudah, tenang saja, tak perlu dipikirkan,” jawab Tatang.

“Apa ia selalu seperti itu, memakai kebaya putih yang sempit menerawang. Belum lagi kainnya diangkat tinggi sekali,” kata Geertje sambil mencibir.

Di tengah panas matahari Tjiseroepan, gadis itu memang terlihat menarik. Nimah masih perawan, badannya bagus, dan perawakannya segar. Ditambah gadis itu sadar betul banyak mata yang mengagumi kecantikannya. Karena itulah sikap genitnya semakin menjadi-jadi.

“Sst, sudah, jangan bicara lagi,” kata Tatang sambil menarik tangan Geertje ke belakang gudang, lantas mengunci mulutnya dengan ciuman. Geertje pun menyerah kalah. Ia lemas dengan serangan bertubi-tubi dari Tatang. Selanjutnya mereka pun pergi ke ujung perkebunan teh dan berbaring di sana sampai matahari terbenam di ujung barat. Begitu terus sampai akhirnya Ludwig sang juragan teh pulang dari perjalanannya. Saat itulah petualangan Geertje dan Tatang resmi berakhir.

***

Gerardus rupanya berulah. Malam setelah Ludwig van Ort pulang, ia dipanggil ke ruang tengah. Di sana sudah berkumpul Ludwig, Paulina, Gerardus, dan Tan Tjak Nio—mandor Tionghoa yang menyangrai daun teh.

Awalnya suasana santai dan perbincangan hanya seputar perkembangan situasi dan politik di Bogor dan Batavia. Gerardus berbasa-basi perihal rencana Gubernur Jenderal membangun jalur kereta api yang akan menguntungkan mereka. Sebab, itu artinya mereka tak perlu mengangkut teh lagi dengan truk atau menaikkannya di atas sampan yang berlayar di sungai untuk menuju Batavia. Pembicaraan pun akhirnya menyinggung masalah pengelolaan teh di Tjiseroepan dan Wanayasa.

“Jadi atap gudang itu bocor ya?” tanya Ludwig memastikan.

“Benar, Tuan. Saya kira harus diperbaiki. Musim hujan sebentar lagi datang. Tentu kita mau hasil panen kita rusak,” jawab Tan Tjak Nio.

“Baiklah, lalu apa lagi?”

“Sepertinya ada pencuri, Tuan,” kata Gerardus hati-hati. “Saya menemukan 12 peti teh siap kirim kita hilang.”

“Apa kau benar-benar menghitungnya?”

“Saya yakin betul jumlahnya berkurang,” jawab Gerardus. Kemudian dia melanjutkan dengan hati-hati, “Bahkan saya tahu siapa pencurinya.”

“Siapa?”

“Tatang yang mencurinya, Tuan.”

Ludwig tampak ragu. Geertje memekik. “Itu tidak mungkin!”

“Nona bilang begitu karena Nona menyukainya,” ujar Gerardus melemparkan bom.

Paulina yang hanya mendengarkan sejak tadi tampak tidak suka. Ia memandang Geertje dengan cemberut kala mendengar keterangan Gerardus. Geertje mematung, badannya ia tegakkan dan matanya dipelototkan ke arah Gerardus.

“Nona Geertje pergi dengan Tatang ke Garut semalaman dan baru pulang keesokan harinya. Ia tidak tahu bahwa ia berteman dengan seorang pribumi dan bahkan seorang pencuri,” kata Gerardus penuh kebencian.

Geertje memandang ke arah Gerardus dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin Gerardus yang selama ini bersikap baik bak malaikat tiba-tiba terlihat seperti mempunyai tanduk di atas kepalanya. Geertje merasa seperti ditikam dari belakang.

Suasana tegang tiba-tiba sampai Paulina bergerak dari duduknya dan meminta izin ke luar dengan sopan. Ia mengerling pada Geertje, memberi kode agar gadis itu mengikutinya. Dengan setengah hati Geertje bangkit dan mengikuti ibu tirinya.

Paulina memegang tangan Geertje dan menatap matanya. “Aku tak tahu apa yang kau lakukan di sini. Barangkali ayahmu telah memberimu begitu banyak kebebasan. Tapi kuharap kau dapat menjaga kehormatan keluarga. Sekarang pergilah ke kamar dan beristirahat. Persoalan ini akan kita bicarakan besok pagi,” ucap Paulina tegas.

Badan Geertje lemas mendengar titah ibunya yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Ia langsung ambruk di dalam kamarnya. Geertje menangis dalam diam dan menutupi mukanya dengan bantal. Ia tak mau isaknya terdengar oleh yang lain. Baru satu malam ayahnya kembali dan kemalangan kini telah menimpanya.

Keesokan paginya, segala hal menjadi terang duduk perkaranya. Gerardus menemukan ada perbedaan catatan miliknya dengan milik Tatang. Ia menuduh Tatang berkomplot mencuri peti berisi teh-teh siap ekspor. Tatang mengelak dan mengatakan tak tahu apa pun. Dia balik menuduh Gerardus selama ini berbuat curang karena mencampurkan warna biru dalam daun teh yang tengah disangrai.

Bagaimana pun, ada peti yang hilang dan ini persoalan serius. Ludwig memutuskan untuk melaporkan pencurian itu kepada polisi setempat. Tiga orang mandor termasuk Tatang dan beberapa pekerja dimintai keterangan. Minggu itu sungguh pelik, sehingga Geertje tak diperkenankan ke luar sama sekali. Namun bukan itu saja, pelaporan pencurian ini juga menyebabkan wibawa Ludwig di mata pekerjanya makin merosot. Mereka kini mulai berulah dengan melubangi peti-peti teh siap kirim. Pembangkangan para pekerja adalah persoalan baru yang memusingkan karena kini Ludwig harus mencari pekerja baru. Untuk itu ia juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Akhirnya pelaku pencurian 12 peti teh itu dapat diketahui berkat penyelidikan polisi. Bukan Tatang pelakunya, tetapi anak buah dari kelompok yang lain. Mandor kelompok itulah yang berulah. Dua orang pun menjadi tersangka dan sudah diseret ke penjara.

Semua masalah kelihatannya dapat dibereskan dan nama baik Tatang akan segera pulih. Namun tiba-tiba muncul masalah lagi. Tatang hilang! Ia tak ada di paviliunnya. Dalam keadaan semacam itu, Gerardus melemparkan bom lagi.

“Tatang pergi karena dia seorang mata-mata. Dia anak buah Karel Holle dari perkebunan Waspada, kau tahu. Carilah Tatang di Lembang dan kalian akan menemukannya,” ucap Gerardus menantang.

“Dia ke sini hanya untuk mencuri teknik kita dan untuk itulah ia mendekat-dekati Nona Geertje,” ujar Gerardus meniupkan bara kebencian.

Geertje merasa begitu murung dan putus asa dengan segala macam urusan saling menuduh itu selama berminggu-minggu. Entah berita mana yang harus dipercayainya sampai-sampai ia kehilangan nafsu makannya. Di sisi lain, Gerardus pun tak bisa sepenuhnya dipercaya karena bisa jadi dialah yang mata-mata. Geertje lantas mengutus Simbok Minah pergi menemui Romli. Namun Simbok Minah mengatakan bahkan ayah Tatang tidak tahu ke mana putranya itu pergi.

Betapa suramnya Desember itu. Selama berhari-hari awan tebal berwarna kelabu selalu menggantung di langit dan pada sore harinya air berjuta-juta kubik banyaknya seakan ditumpahkan dari langit. Muram menggantung di udara saat Geertje merasa kebahagiaan yang berbulan-bulan ia rasakan dirampas begitu saja. Namun yang paling menyebalkan adalah: kenapa Tatang pergi tanpa mengatakan apa-apa kepadanya jika memang dia sama sekali tidak bersalah?

Geertje merasa benci betul kepada dirinya. Apakah setiap dia mulai menyukai laki-laki dan jatuh cinta, dengan segera kesialan akan menghampirinya? Apakah Tuhan tidak hendak sedikit saja bermurah hati padanya? Geertje merenung sambil memandangi butiran-butiran air yang berbunyi merdu saat mereka buyar menyentuh tanah. Bahkan secangkir teh hijau yang baru saja disesapnya tak mampu menenangkan dia dari gejolak hatinya. Dibanding sedih, Geertje lebih merasa marah dan kesal.

Seekor kodok melompat di depannya, tampak menikmati cuaca yang basah dan lembab. Kodok itu berkuak nyaring dan membuat Geertje tak sadar bahwa Ludwig sudah mengambil tempat di sebelahnya. Ludwig, yang tiba-tiba jadi tua 5 tahun gara-gara berbagai persoalan di perkebunan, memegang tangan putri sulungnya itu.

“Tidak biasanya kau berdiam diri berjam-jam di sini. Aku terbiasa melihatmu bergerak ke sana-ke sini sambil berbicara dan tertawa. Kau tahu, Nak, papamu tersiksa melihatmu seperti ini,” ujar Ludwig sungguh-sungguh.

“Aku bahkan tak bisa tersenyum lagi, papa. Tuhan telah mengambil senyumku. Entah kapan Dia akan mengembalikannya,” jawab Geertje murung.

“Tapi aku punya cara agar Tuhan segera mengembalikan senyummu,” kata Ludwig.

“Bagaimana caranya?” Meski sedikit tertarik, pandangan mata Geertje tetap kosong. Ia tak menoleh sedikit pun ke arah ayahnya.

“Pergilah ke Batavia. Aku akan menitipkanmu sebentar di rumah Anneke. Kau tahu kawanmu itu tentu senang memiliki teman merajut dan berjalan-jalan. Setelah itu aku akan mengatur perjalanan pulang ke Belanda. Aku juga sudah mengirim surat kepada Oma Spijkenisse. Nenekmu itu akan sangat senang menerimamu, sebab ia sudah berkali-kali menanyakanmu. Ia tak sabar ingin melihatmu setelah menerima fotomu bertahun-tahun lampau. Katanya kau sangat cantik dan berkulit cokelat. Oh, tentu saja ia juga bisa mengajarimu berkebun dan memasak macam-macam,” ucap Ludwig sambil tersenyum.

“Dan setelah itu, kau bisa melanjutkan sekolah. Di Belanda banyak sekolah bagus. Kau bisa memilih mana saja yang kau suka. Kau tahu, aku pikir ini saat yang tepat untuk melanjutkan pendidikan,” kata Ludwig.

Mendengar tawaran ayahnya, barulah Geertje menoleh. Ia terkejut dan menimbangnya beberapa saat sebelum berkata, “Apa itu berarti aku harus meninggalkan Hindia?”

“Ya.”

“Tidak bisa!”

Anak dan ayah itu saling bertatapan. Mata Geertje menyala keras, dadanya naik turun menahan perasaan yang tak tertanggungkan.

“Ini lebih baik, Geertje. Apa ada yang menahanmu di sini?” ujar Ludwig lembut.

Geertje terdiam. Kata-kata ayahnya itu begitu menohok hatinya. Hujan makin lama makin sedikit dan berubah jadi gerimis. Suara kodok di halaman tak terdengar lagi. Sebentar lagi langit akan bersih dan keesokan harinya bunga-bunga yang disiram hujan akan kembali mekar setelah disiram air surga dari langit. Mungkin Tuhan sengaja mengirimkan badai dalam hidupnya, sebelum akhirnya membiarkan ia tumbuh mekar dan berkembang sempurna.

“Aku akan memikirkannya selama seminggu, papa,” ucap Geertje akhirnya.

***

Akhirnya Geertje setuju untuk kembali ke Batavia dan kemudian berlayar ke Belanda. Gadis itu merasa memerlukan suasana dan pengalaman baru. Barangkali belajar di perguruan tinggi akan menyenangkan dan ia bisa berkenalan dengan orang-orang muda yang penuh semangat. Suatu saat kalau memungkinkan, tentu ia akan kembali ke Hindia. Bagaimana pun tempat ini tanah tumpah darahnya. Ia mencintai segala hal yang ada sini. Di sini ada tanah ibunya di Serang yang belum sempat dikenalnya lebih jauh. Juga ada Batavia yang anggun memukau. Namun terlebih lagi ia tak mungkin menghapus jejak tanah Priangan di hatinya. Dan aduhai Bandung, Paris van Djava yang elok permai malahan belum pernah disinggahinya.

Geertje mengajukan syarat hendak ke Bandung dulu untuk bersenang-senang sebelum kembali ke Batavia. Ludwig setuju. Namun Geertje tak pernah menjelaskan alasannya, bahwa ia berharap bisa bertemu dengan Tatang entah di mana. Barangkali ia bisa memaksa sais mampir ke perkebunan Waspada di Lembang untuk mengobrol. Karel Holle orang yang terbuka. Perjanjian perihal sewa lahan teh antara dia dengan para pejabat Hindia Belanda baru saja disetujui. Karel juga mendapatkan dana pinjaman yang cukup banyak untuk mengelola perkebunannya.

“Pergilah tidur, Geertje,” Ludwig menegur. “Besok pagi-pagi sekali kita harus pergi.”

Geertje tersenyum kala sang ayah mengecup pipinya, lalu dia pergi ke arah kamarnya dan menutup pintu dengan pelan. Besok adalah hari baru. Ia harus bersiap-siap.

Ludwig menunggu sampai badan Geertje hilang di balik pintu. Ia lalu meremas surat yang sejak tadi disembunyikannya di balik jasnya. Itu surat dari Tatang. Ia memergoki Simbok Minah hendak memberikannya pada Geertje saat pembantu itu melewati kamar putrinya. Dengan segera dimintanya surat itu, yang segera diberikan pembantu itu dengan takut-takut.

Dalam suratnya Tatang mengatakan tak ada gunanya ia bekerja dengan orang yang tak mempercayainya. Ditambah lagi Gerardus juga cemburu karena hubungannya dengan nona cantik pemilik perkebunan Tjiseroepan dan Wanayasa. Tatang memilih menyingkir ke Lembang. Betul ia hendak ke perkebunan Waspada, tapi ia bukan mata-mata Karel Holle. Di akhir suratnya, Tatang meminta Geertje menyusul ke rumah penghulu Garut dan kemudian mereka bisa pergi ke Lembang bersama-sama.

Ludwig geram begitu membaca surat itu. Putrinya tak boleh bertemu Tatang apa pun alasannya. Geertje memang baik, tapi ia masih terlalu naif dan kekanak-kanakan. Mana bisa ia menyerahkan putrinya pada seorang pemuda biasa pekerja teh. Ia bertekad langsung ke Batavia dan mengabaikan keinginan Geertje untuk mampir ke Bandung.

Di kamarnya Geertje masih terjaga. Ia membubuhkan tanggal di halaman buku hariannya yang masih kosong.

Besok aku akan meninggalkan Tjiseroepan dan pergi kembali ke Batavia. Aku merasa menjalankan tugasku dengan baik di sini. Hasil panen baik, para pekerja cukup senang, dan jumlah ekspor meningkat. Tapi papa tidak senang dan Gerardus juga berkata macam-macam. Aku sedih harus meninggalkan tanah Priangan yang permai ini. Tapi di sini terlalu menyedihkan karena….

Belum selesai Geertje menuliskan kisahnya, terdengar suara jendela kamarnya diketuk. Geertje tertegun, barangkali ia salah dengar karena sekarang sudah pukul sebelas malam. Suara ketukan terdengar lagi. Penuh keraguan Geertje mengintip dari lubang jendela yang tak tertutup rapat. Ia memekik pelan, lalu tersadar dan menutup mulutnya.

Jendela dibuka dan sosok Tatang ada di baliknya. Rambut keritingnya acak-acakan dan senyum usil tersungging di bibirnya. Hati Geertje buncah karena bahagia, sehingga ia rela mati saat itu juga. Geertje menarik laki-laki yang dirindukannya itu ke dalam kamar dan langsung menciuminya. Ia tak peduli bahkan jika esok papanya langsung mengusirnya ke Belanda, yang penting adalah saat ini.

Ya, yang penting adalah saat ini.

Jakarta, 11 Mei 2018

Baca cerita sebelumnya:

https://www.mpokiyah.com/2018/04/16/cerber-cinta-berpilin-di-hindia-bagian-1/

https://www.mpokiyah.com/2018/04/23/cerber-cinta-berpilin-di-hindia-bagian-2/

https://www.mpokiyah.com/2018/04/30/cerber-cinta-berpilin-di-hindia-bagian-3/

Kirim Tanggapan