Andilan, Tradisi Masyarakat Betawi yang Hampir Punah

0
971
Ilustrasi lebaran Betawi (foto koleksi Rachmad Sadeli)

Pernahkah kamu mendengar soal andilan? Andilan adalah salah satu tradisi masyarakat Betawi jelang Idul Fitri.

Sebagai sebuah masyarakat komunal yang berbasis pada usaha pertanian dan peternakan, tak heran tradisi unik ini sempat hidup cukup lama di masyarakat Betawi.

Andilan adalah tradisi potong kerbau secara bersama-sama untuk kemudian dagingnya dikonsumsi saat Hari Raya. Orang Betawi tempo dulu punya kebiasaan mengumpulkan uang atau menabung selama berbulan-bulan untuk membeli sebuah kerbau utuh. Lantas, bersama beberapa keluarga lainnya yang sudah bersepakat, uang tersebut dibelikan kerbau yang dipelihara sekitar tiga hingga satu bulan sebelum Idul Fitri.

Melalui perawatan bersama-sama dan bergantian, kerbau itu akan diberi makan dan digemukkan sebelum akhirnya disembelih pada hari-hari terakhir di bulan Ramadan. Sehari sebelum Idul Fitri, kerbau akan dimandikan sebelum akhirnya disembelih. Setelah itu, setiap keluarga yang ambil bagian akan mendapatkan daging yang sama beratnya untuk diolah menjadi semur kerbau dan dimakan di Hari Raya.

Namun, tradisi yang sangat baik ini rupanya tak begitu lagi popular. Saya sendiri sebagai seorang keturunan Betawi sudah tak menjalankan tradisi ini. Bahkan, ibu saya pun sudah tak memasakkan semur kerbau, melainkan semur daging sapi dengan daging yang dibeli di pasar.

Saat saya bertanya kenapa, ibu saya, Dalilah (58), menjawab bahwa andilan itu sangat merepotkan. “Pertama, lahannya sudah tidak ada, sehingga bingung kerbaunya mau ditaruh di mana. Mencari rumput untuk pakannya juga susah,” ujarnya.

Selain itu, ibu saya mengatakan andilan menyisakan pekerjaan rumah yang luar biasa. “Andilan tak hanya berupa daging, tapi juga jeroan, kepala, dan kakinya. Jadi banyak sekali dan itu dulu dimasak seperti apa pun, berhari-hari tidak habis, sehingga rasanya seperti ‘kedagingan’,” ucap ibu saya.

Kedagingan adalah istilah ibu untuk menyebut rasa enek karena terlalu banyak makan daging. Memang di keluarga saya, semur daging, opor ayam, ketupat, sayur godog hanya laku di hari pertama. Pada hari kedua, kami biasanya sudah memasak makanan sehari-hari, seperti sayur asem, ikan asin, tempe-tahu, dan asinan. Duh, membayangkannya saja air liur saya seperti sudah mau keluar. Hahahaha.

Namun, menghilangnya andilan secara tidak langsung menggambarkan perubahan cara hidup masyarakat Betawi yang tadinya komunal menjadi lebih individualistis. Selain itu, juga menggambarkan perubahan tata kota. Jakarta yang tadinya berupa kampung dan banyak lahan untuk menggembala serta mencari rumput kini telah dipenuhi dengan beton dan gedung-gedung raksasa. Akibatnya, tradisi andilan pun tergerus seiring perkembangan zaman. Namun, di daerah pinggiran Jakarta, seperti Depok, sampai beberapa tahun lalu, masyarakatnya masih melaksanakan tradisi andilan.

Bagaimana pun juga, saya berpendapat salah satu yang menyebabkan andilan semakin tak populer adalah hilangnya kampung-kampung Betawi di Jakarta. Penyebab utamanya adalah tergesernya penduduk asli Jakarta akibat penggusuran yang masif atau tergiur menjual tanahnya kepada calo. Lambat-laun, andilan pun menghilang.

 

Kirim Tanggapan