Keberagaman dalam Kue Lebaran di Betawi

2
565
Ketupat, sayur godog, dan semur kerbau merupakan hidangan khas Lebaran di Betawi (foto: Rachmad Sadeli)

Lebaran tinggal beberapa hari. Para ibu sudah sibuk menyiapkan aneka makanan untuk dihidangkan di meja saat hari raya, tak terkecuali ibu-ibu di Betawi. Seperti layaknya masyarakat di Nusantara, ketupat tentu tak terlewatkan. Jangan lupakan pula semur kebo dan sayur godog yang kentalnya sungguh menggoda. Namun, selain itu, hidangan di Betawi sesungguhnya mencerminkan corak masyarakatnya yang multikultur dan toleran.

Keragaman dalam kue Lebaran. Demikianlah kawan saya waktu itu pernah bercanda. Dalam syuting Food Story Kompas Tv dengan judul “Lebaran ala Betawi” di rumah JJ Rizal di Depok bulan Mei lalu, sang tuan rumah sudah mewanti-wanti tamunya agar datang dengan membawa makanan khas Betawi. Maka, selain ketupat, sayur godog, dan semur kebo yang disajikan tuan rumah, turut tersaji pula kembang goyang, rengginang dalam kaleng Kong Ghuan, nastar, dan beberapa kue lainnya.

Kue-kue itu punya cerita dan sejarahnya sendiri hingga hadir di meja panjang yang disebut “meja nyai”. Makanan-makanan itu tidak hanya datang dari dapur orang Betawi, tetapi juga orang Cina, Belanda, dan lainnya yang tidak terlacak karena berasal dari tradisi pra-Islam. Hanya sebagian kecil yang datang dari kebudayaan Arab yang notabene lekat dengan Islam. Contohnya kurma.

Nastar atau ananastar berasal dari dapur orang Belanda.

Nastar berasal dari dari dapur orang Belanda. Nama aslinya adalah ananastar, karena berselimut lapisan selai nastar di dalamnya. Ada pula kaas stengels, yang kemudian dilafalkan sebagai kue kiju. Juga jangan lupakan botersprits yang di lidah orang Betawi dilafalkan sebagai kue semprit.

Konon berdasarkan cerita burung, saat Natal, orang Betawi bertandang ke rumah orang Belanda. Di sanalah mereka merasakan nikmatnya kue-kue tersebut. Karena amat menyukai rasanya, maka lantas kue kering ini dimodifikasi dalam hidangan Lebaran mereka.

Adapun semur kerbau hadir dari kebiasaan pra-Islam. Dalam sejumlah prasasti, sering disebut seorang raja menyembelih sekian kerbau atau sapi untuk bersyukur atau merayakan sesuatu. Sementara kecap dalam bumbu semur, justru hadir dari dapur orang Cina.

Selain kecap, dodol juga datang dari kebudayaan Cina. Meski demikian, dodol Cina dan dodol Betawi memiliki rasa yang lumayan berbeda. Dodol Betawi lebih berwarna menyerupai hitam dengan tekstur yang lebih padat dibanding dodol Cina. Dodol Betawi sering dijadikan hantaran dalam kunjungan Lebaran ke rumah sanak saudara.

Ada pula aneka manisan, yang juga merupakan sumbangan dari kebudayaan Cina. Aneka manisan kering, utamanya manisan papaya dan salak, banyak ditemui di meja-meja orang Betawi. Saya bahkan hapal siapa saja yang selalu rutin menyajikannya tiap kali Lebaran, meski manisan ini susah sulit dicari. Karena itu, ada yang membuatnya sendiri, termasuk Siti Laela, pemilik batik Terogong di Cilandak.

Dapur orang Cina menyumbangkan makanan paling banyak. Selain manisan, ada pula kue satu. Ini adalah kue kering berbahan tepung kacang hijau yang dicampur gula putih berbentuk kembang ros. Kue ini konon disebut kue satu karena harus dicetak satu-satu sebelum dikeringkan di atas tampah. Namun, adapula yang bercanda bahwa kue satu menjadi pengingat bahwa bini (istri) orang Betawi hanya satu.

Namun, yang paling utama tentulah ketupat yang dikuahi sambal godog. Isiannya bisa labu atau pepaya muda dan kacang panjang. Sebagian menambahkan tempe yang sudah digoreng, dengan kuah kental dan ulekan bumbu cabai yang melimpah, rasanya sungguh luar biasa. Ditemani semur kerbau, ayam opor, sambal goreng ati, dan opor ayam, benarlah Idul Fitri sungguh-sungguh menjadi pesta makan.

Kakaknya bapak saya, yang saya sebut Mak Manih, juga punya hidangan Lebaran spesial yang selalu hadir setiap tahun. Ia selalu membuat akar kelapa, uli dan tapai, serta geplak. Saya belum bisa menelusuri dari mana asal muasal makanan ini. Namun, ada dugaan ketan serta ubi-ubian merupakan ciri khas masyarakat agraris lokal.

Uli tapai

Oh ya, satu lagi yang sangat khas makanan Betawi saat Lebaran adalah kacang bawang dan biji ketapang! Hampir setiap tahun saya dan ibu saya berunding tentang bagaimana agar kacang menjadi gurih dan tidak melempem, atau bagaimana caranya agar biji ketapang tidak terasa keras digigit di mulut. Namun sayang, sebagian orang justru bilang keunikan biji ketapang ada pada kekerasannya. Hal ini tentu menyusahkan gigi orang tua yang sudah berkurang kekuatannya.

Dan yang terakhir, hampir saja saya lupa memasukkan manisan kolang-kaling. Dua tahun lalu pernah saya hampir putus asa karena kolang kaling yang saya masak tak kunjung berwarna merah cantik meski saya sudah menyiramkan sebotol marjan di dalamnya. Ternyata tipsnya adalah membiarkan kolang kaling dalam larutan gula semalaman, sebelum direbus kembali besok pagi agar warnanya muncul dengan indah. Biasanya ada dua jenis manisan kolang-kaling, yakni yang berwarna merah dan hijau—sama seperti warna kue pepe. Sepertinya dua warna ini merupakan warna kesukaan orang Betawi.

Begitu meriah dan beragamnya kue Lebaran di Betawi, bagaimana dengan di tempat kamu?

2 Komentar

  1. ehh baru tau nastar dan kastengels dari belanda.
    duhh favorit saya tuh 2 kue ini karena ada kejunya. hehehe

Tinggalkan Balasan ke Endah Kurnia Wirawati Batalkan balasan