Buaya dan Orang Betawi

0
422
Roti buaya merupakan hantaran wajib dalam upacara pernikahan adat Betawi.

Buaya nyatanya memang lekat dengan keseharian warga Jakarta. Ditemukannya buaya di Pondok Dayung serta Kali Grogol Jakarta Barat mengingatkan bahwa Jakarta sejatinya memang kota air.

Tentu kemunculan buaya jenis muara itu mengundang tanya, kenapa sampai buaya datang ke Jakarta? Gubernur Anies Baswedan berpendapat bahwa buaya di Kali Grogol merupakan buaya peliharaan. Namun, ada pula yang berpendapat buaya itu hadir lantaran terbawa banjir dari hulu atau mencari tempat tinggal baru lantaran sungai tempat tinggalnya selama ini telah dibeton.

Baca juga:

https://www.mpokiyah.com/2016/02/15/arti-buaya-dan-ciliwung-bagi-orang-betawi/

https://www.mpokiyah.com/2017/01/05/folklor-kisah-nenek-jenab-dan-buaya-buntung/

https://www.mpokiyah.com/2016/09/21/folklore-buaya-putih-sungai-bekasi/

“Habis di laut direklamasi, sungai dibeton, ya buaya pada keluar, deh,” begitu kata seorang warga Betawi.

Suaeb Mahbub, seniman Betawi yang tinggal di pesisir alias utara Jakarta, kepada Mpokiyah.com beberapa hari lalu mengatakan tidak aneh bila buaya ada di Jakarta. “Lah, di Kali CBL aja ada buaya,” ujarnya. CBL merupakan Kali Cikarang Bekasi Laut yang bermuara di Kampung Sembilangan.

Lebih jauh dia berpendapat habitat buaya di sungai sudah terusik karena revitalisasi dan normalisasi sungai yang tidak menggunakan adab, ditambah limbah B3 yang mengotori sungai. “Sehingga buaya-buaya itu tidak tahan dan keluar dari habitatnya,” dia menegaskan.

H. Yoyo Muchtar, tokoh Betawi dan pengasuh acara Bale-Bale, pada 29/06/2018 mengatakan Jakarta dikelilingi oleh 13 sungai, sehingga masyarakat pun sangat akrab dengan air. “Dulu, rumah-rumah semua dibuat menghadap ke sungai,” katanya.

Bahkan saking dekatnya, mitos-mitos tentang buaya ini memang sangat hidup di kalangan penduduk asli—yang merupakan orang Betawi. Salah satunya, menurut dia, adalah penamaan nama wilayah yang memakai kata “buaya”, misalnya Rawa Buaya dan Lubang Buaya.

Yahya Andi Saputra, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Jakarta, dalam wawancaranya kepada Majalah Betawi menyebutkan bahwa orang Betawi itu sangat dekat dengan alam. Termasuk air, yang dalam pandangan orang Betawi, mendapat tempat yang khusus. Karena mulai lahir, upacara adat Betawi semua bersentuhan dengan air.

Air sebagai bagian dari sungai juga tak terpisahkan dari kaum Betawi. Saking dekatnya, sampai melahirkan sebuah kebudayaan sungai. Termasuk roti buaya yang mengambil ide dari buaya sebagai penjaga mata air di sungai.

Yahya menegaskan, hal itu termasuk dalam filosofi Palang Pintu yang merupakan bagian dari upacara pernikahan khas Betawi. “Makna filosofis palang pintu Betawi, silat atau maen pukulan itu simbol kesigapan fisik calon penganten laki-laki untuk menjaga, melindungi bini, keluarga, lingkungan, dan agama. Sike simbol kesiapan batiniah seorang lelaki Betawi dalam mengarungi rumah tangga, selalu membawa bini, keluarga, lingkungan untuk senantiasa berada dalam akidah Islam. Itu terkait erat dengan simbol roti buaya sebagai ekuilibrium lingkungan. Buaya siluman yang menjaga entuk (sumber mata air) sebagai salah satu sumber hidup dan kehidupan,” ujarnya seperti dikutip dari Majalah Betawi.

Sejak lampau, sudah banyak saksi yang mengaku melihat buaya di Jakarta. Rachmad Sadeli, pendiri Pustaka Betawi, menyebut dalam Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer, disebutkan di Teluk Jakarta banyak buaya. Bahkan dalam koleksi perpustakaan miliknya, ada cerita buaya putih dan harimau hitam di Kali Ciliwung.

Cerita Buaya Putih dan Harimau Hitam dalam buku koleksi Pustaka Betawi (foto Rachmad Sadeli)

Penuturannya membuat saya teringat kisah Encang Enah, saudara dari pihak suami saya yang tinggal di Pasar Minggu. Dulu konon, katanya, ada warga sekitar yang melahirkan bayi kembar dengan buaya. Si bayi buaya itu lalu ditempatkan di Kali Ciliwung di belakang rumah dan dipelihara di sana sampai ibunya meninggal dunia. Sementara kembarannya hidup sehat, tapi kini sudah meninggal sehingga saya sulit mengklarifikasi cerita ini.

Entah benar atau tidak, tapi memang ada ada kisah buaya buntung dan anaknya, yang merupakan penjelmaan dari seorang anak yang sangat nakal dan menyakiti hati ibunya. Jadi, banyak buaya di Jakarta memang sudah aneh, ya kan? Bagaimana menurut kamu?

Kirim Tanggapan