Soto Betawi Haji Maruf, Rasa Lezat dari Masa Lalu

0
374
foto koleksi Tripadvisor.

Soto Betawi merupakan makanan khas dengan bahan baku daging, santan, dan rempah-rempah yang berlimpah. Di beberapa tempat, santan diganti susu, sementara citarasanya umumnya tak berbeda jauh. Legit dan berat, makanan ini umumnya dijauhi generasi tua karena ditakutkan akan memicu naiknya kadar kolesterol dalam darah.

Apa yang membedakan soto Betawi dengan soto lainnya di Nusantara? Menurut saya, salah satu ciri khas soto Betawi adalah kentangnya digoreng terlebih dulu, lalu disisihkan. Tak begitu banyak campuran dalam soto Betawi. Tidak seperti soto lainnya yang rata-rata tak lepas dari tauge, isian soto Betawi hanya kentang goreng, tomat, daging yang sudah direbus, emping, dan daun bawang.

Soto Betawi H. Maruf.

Sejak pindah kantor ke Gondangdia pada Mei lalu, saya sudah berniat mencicipi soto Betawi H. Maruf yang restorannya di sekitar bawah rel Gondangdia Lama. Namun ternyata, di dalam Kompleks Taman Ismail Marzuki ada juga cabang restoran soto Betawi H. Maruf. Restorannya bergaya rumah Betawi, dengan kusen dan pintu, juga ornamen gigi balang dari kayu berwarna cokelat.

Saat saya datang pada Kamis (5/7) lalu, nyata bahwa restoran ini terasa seperti rumah, dengan AC yang tidak terlalu kencang menyala. Di dindingnya terpampang selebritas maupun pejabat yang pernah berkunjung ke restoran ini, termasuk Joko Widodo, Anies Baswedan, dan Maudy Koesnaedy. Ada pula potongan koran berisi liputan khusus tentang perjuangan H. Maruf bin Said merintis usahanya hingga menjadi terkenal seperti sekarang ini.

Semangkuk soto Betawi terhidang di hadapan setelah beberapa saat menunggu. Saat dicicipi, rasanya agak hambar. Namun, tambahkan dulu garam, sambal, dan acar di meja sesuai selera, barulah rasanya agak cocok di lidah.

Dengan harga Rp 38.000, saya cukup puas dengan potongan daging dalam semangkuk soto Betawi. Isinya cukup banyak dan bisa mengenyangkan perut yang lapar. Namun soal rasanya, ada sedikit catatan.

foto Zomato.com

Soto Betawi H. Maruf sepertinya sangat menjaga citarasa masa lalu yang sudah diwariskan secara turun temurun. Restoran yang kali ini dipegang generasi kedua, yakni Muchlis Maruf ini, tak banyak bereksperimen dengan resep yang sejak lama digunakan. Jika di banyak tempat saya mendapati kuah soto Betawi kebanyakan berwarna kuning dengan efek rasa bumbu yang kuat, soto Betawi H. Maruf justru sebaliknya. Tak terasa permainan bumbu yang aneh-aneh, selain satu-dua rempah yang beraroma kuat. Kuahnya putih pucat mendekati krem dengan santan segar alami dan tanpa penyedap rasa sama sekali.

Bagaimana jika Anda tak hendak memesan soto Betawi? Tenang saja, Soto Betawi H. Maruf menyediakan banyak pilihan menu. Selain sate kambing dan sate ayam, adapula laksa Betawi. Rasa makanan ini mirip seperti empal gentong, tapi lebih kental dan berjejak. Di dalamnya terdapat tauge, bihun, dan ketupat. Ini baru cocok, karena di salah satu restoran di Menteng Huis, saya menemukan laksa yang di dalamnya berisi mi kuning. Sungguh aneh, karena sepanjang hidup sebagai orang Betawi, di Jakarta saya tak pernah menemukan laksa Betawi berisi mi.

Laksa Betawi H. Maruf.

Bagaimana pun juga, restoran ini saya beri nilai tujuh. Dan jika Anda mau berkunjung dan menikmati rasa soto khas masa lalu, tepat jika Anda ke Soto Betawi H. Maruf. Menurut saya, originalnya soto Betawi ya di H. Maruf.

Kirim Tanggapan