Asal-usul Kampung Kebagusan dan Legenda Perempuan Cantik

0
932
Makam Ratu Nyai Nursiyah di Kebagusan

Asal-usul nama suatu kampung selalu menarik untuk dipelajari karena di dalamnya terkandung cerita sejarah yang didasarkan pada kearifan lokal penghuninya. Ada nama kampung yang berasal dari nama tokoh yang melegenda, nama tumbuh-tumbuhan, hingga nama suatu peninggalan sejarah di tempat tersebut.

Begitu juga dengan nama kampung kecil di selatan Jakarta, yang bernama Kebagusan. Menurut catatan peta lampau, wilayah Kebagusan masuk ke dalam DKI Jakarta sejak 1950-an. Sebelumnya Kebagusan hanyalah kampung kecil yang rindang, ditandai dengan jalanan yang berkelok-kelok.

Sejak 1990-an, perkembangan wilayah Kebagusan semakin pesat, terutama setelah dibukanya jalur tol lingkar luar yang membelah Jalan TB Simatupang hingga tembus ke Pondok Indah. Menurut cerita para tetua, sejak dibangunnya jalan tol itulah, wilayah yang tadinya bernama Jatipadang kini terbelah dua: Jatipadang dan Kebagusan. Bisa dibilang, Kebagusan merupakan pecahan dari Kelurahan Jatipadang.

Kebagusan masuk dalam Kecamatan Pasar Minggu, yang terkenal sebagai penghasil buah-buahan. Di selatan, Kebagusan berbatasan dengan Kecamatan Jagakarsa, yang juga terkenal sebagai daerah hijau dan resapan air.

Di masa lalu, sebagian besar masyarakat Kebagusan berprofesi sebagai petani atau peternak. Sebagian menjual hasil panen tumbuhan dan hewan ternaknya di pasar-pasar di sekitar wilayah ini, seperti di Pasar Minggu atau Pasar Lenteng Agung. Namun kini, catatan administrasi di Kelurahan Kebagusan menunjukkan sebagian besar warga Kebagusan berprofesi sebagai PNS maupun karyawan, diikuti dengan wiraswasta.

Barangkali penyebabnya adalah perkembangan zaman yang tak terelakkan. Dibukanya jalan tol (Jakarta Outer Ring Road) menyebabkan lahan yang tadinya digunakan warga untuk mencari pakan bagi hewan ternak tertutupi aspal. Akibatnya, kakek saya, H. Mamat (kini almarhum), pun sampai berhenti berjualan kambing lantaran semakin sulit memperoleh empan bagi hewan-hewan ternaknya. Untunglah ia masih bisa mengandalkan pemasukan dari panen rambutan, tukang cukur, maupun sebagai pemandi mayat.

Di masa kini, pembukaan lahan besar-besaran demi pembangunan gedung perkantoran membuat warga sekitar tersingkir dan menjual tanahnya kepada para pengembang/calo.

Legenda Perempuan Cantik

Pameran Wall of Frame di Ancol

Banyak riwayat menunjukkan bahwa asal-usul Kebagusan berasal dari nama seorang perempuan keturunan Banten, yakni Nyai Ratih Nursiyah binti Habib Husin bin Abu Bakar—atau Nyai Bagus Lantak Lanang.

Berdasarkan bahasanya, jika diuraikan, Ratu Bagus Lantak Lanang dapat diartikan sebagai ‘Nyai Ratu Tampan/Ganteng Pemikat Pria’. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai “ibu bagus” dan berasal dari Banten. Meski demikian, terjadi kerancuan karena nama julukannya justru sudah tidak dikenal lagi dalam struktur kebangsawanan Banten.

Nama ini sesuai dengan cerita yang dituturkan, yakni parasnya yang cantik dan menjadi rebutan para pria. Konon, paras Ibu Bagus yang sangat rupawan membuatnya diperebutkan para lelaki. Sampai-sampai, Ibu Bagus dibunuh oleh penggemarnya sendiri yang tak rela perempuan pujaannya dimiliki oleh laki-laki lain.

Versi lain menyebutkan, Ibu Bagus justru bunuh diri demi menciptakan perdamaian. Dia ingin menyelamatkan para laki-laki agar tidak saling membunuh dan bertikai karena memperebutkannya.

Dari nama perempuan yang berdiam di makam di wilayah Rw 02 itulah, konon nama Kebagusan muncul.

Meski di nisannya tertulis makam Wali Allah, tempat pemakaman ini terbilang sepi. Tak ada aktivitas ziarah yang berarti. Menurut warga sekitar yang saya temui beberapa waktu lalu, hal itu memang disengaja dan dari juru kunci pun tak ada perlakuan khusus, agar makam tidak dikeramatkan.

Kirim Tanggapan