Lukisan Memanah Karya Henk Ngantung, Fajar Baru Indonesia

0
668
Lukisan "Memanah" karya Henk Ngantung dipamerkan dalam pameran di Galeri Nasional.

Dalam sebuah foto pertemuan yang diadakan di rumah Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, para anggota Kabinet Presidensial tampak berpose di depan lukisan “Memanah” karya Henk Ngantung. Saat itu adalah konferensi pers pertama setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945. Lukisan itu pun turut terekam dalam kamera para pewarta asing.

Dalam pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan di Galeri Nasional Jakarta pada 18 Agustus – 2 September 2018, lukisan karya Henk Ngantung itu merupakan salah satu dari 45 karya seni yang dipamerkan. Mengambil tema “Indonesia Semangat Dunia”, lukisan karya seniman yang pernah didapuk sebagai Gubernur DKI Jakarta 1964-1965 itu masuk dalam subtema Perjuangan Bangsa yang Bersatu dalam Keragaman.

Bung Karno memang tergila-gila dengan karya Henk Ngantung tersebut. Dia langsung memboyong lukisan itu setelah menyaksikannya dalam pameran Keimin Bunka Sidhoso (Lembaga Kebudayaan Jepang) di Jakarta pada 1944. Sang pelukis sendiri mengerjakannya sejak 1943. Namun, karena keterbatasan dana, dia melukisnya di atas landasan tripleks berukuran 152 x 152 cm.

Meski demikian, Bung Karno memberikan catatan terhadap lengan sang pemanah. Menurut sang proklamator, ada kelemahan dalam lengan figur dalam lukisan. Bung Karno lantas mencontohkan gerakan orang memanah, yang kemudian dicatat sang pelukis dalam sketsa-sketsanya, dan lalu memperbaiki pose subyek dalam lukisannya itu. Dengan demikian, bisa dikatakan Bung Karno menjadi model bagi lukisan “Memanah”.

Saat saya memandanginya Selasa lalu (28/08), lukisan itu tampak baik seusai restorasi, tetapi warnanya menjadi lebih gelap. Salah seorang pemandu pameran yang saya temui mengatakan, pada 2016 lukisan ini pernah dipamerkan dalam kondisi rusak.

“Ini asli, Mbak, tapi sudah direstorasi. Sebelumnya warnanya merah dan latar tiga orang di belakangnya lebih jelas, tapi sekarang jadi lebih gelap dan tidak kelihatan,” ujarnya menambahkan.

Sebelumnya, lukisan “Memanah” memang sempat rusak berat dan berjamur karena dibiarkan terbengkalai dalam waktu yang lama. Bahkan, salah satu sudut lukisan sempat bolong. Namun, kini lukisan yang menjadi saksi sejarah proklamasi ini menjadi salah satu koleksi kebanggaan yang menggambarkan optimisme rakyat Indonesia menyongsong kemerdekaan.

Sitor Situmorang, penyair kenamaan Indonesia, menyatakan lukisan “Memanah” sebagai “… simbol fajar kemerdekaan menyingsing…”

Bung Karno sendiri menyebutnya sebagai lukisan bagus. “Ini sebuah simbol bangsa Indonesia yang terus… terus… terus bergerak maju. Paulatim longius itur!” ujar Bung Karno.

Sumber : buku Indonesia Semangat Dunia, Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Kirim Tanggapan