Peningkatan Pemahaman Literasi Media Masyarakat Betawi

0
190

Ada apa dengan orang Betawi dan media? Pertanyaan besar semacam itulah yang pertama kali terlontar saat saya disodori tema Orang Betawi dan Media. Namun, dalam kesempatan kali ini saya akan mengerucutkannya sesuai subtema yang lebih kecil, yakni peningkatan pemahaman literasi media masyarakat Betawi.

Media, dalam ilmu komunikasi massa, diartikan sebagai saluran penghubung antara si penyampai berita kepada khalayak. Dalam ilmu penyiaran, khalayak itu disebut sebagai pendengar, dalam dunia televisi disebut sebagai penonton atau pemirsa, dan dalam dunia surat kabar, disebut sebagai pembaca. Dalam teori komunikasi yang lampau, biasanya sifat komunikasi media adalah satu arah.

Adapun media massa kita pahami sebagai kelompok kerja dari berbagai komponen mulai dari unsur-unsur redaksi dan bidang usaha yang menghasilkan produk cetak dan elektronik (TV, radio, surat kabar, majalah/tabloid, website).

Dalam industri media dewasa ini, diperlukan adanya manajemen alias perencanaan, mulai dari organisasi, aktivitas, dan evaluasi. Namun, media juga merupakan entitas bisnis yang akan memperhitungkan langkah-langkahnya pada upaya untuk mendapatkan keuntungan.

Perlu diingat bahwa efek dari proses pembuatan berita dalam media massa dapat membentuk opini publik, penerimaan nilai budaya tertentu, pengaturan agenda untuk masyarakat dan sejenisnya. Perkembangan media sekarang ini hampir tak terbayangkan. Pada abad yang lampau, sebelum mesin cetak ditemukan, buku atau surat kabar adalah hak milik kaum elite. Namun kemudian zaman berkembang dan alat cetak ditemukan, sehingga muncullah surat kabar yang pada akhirnya bisa dinikmati banyak orang.

Menurut Wilbur Lang Schramm, media massa adalah suatu kelompok kerja yang terorganisasi di sekitar beberapa perangkat untuk mengedarkan pesan yang sama, pada waktu yang sama, ke sejumlah besar orang. Media massa tanpa disadari mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari lebih dari lembaga budaya lainnya.

Media massa merupakan sumber utama berita dan hiburan bagi kita. Media masaa mempengaruhi keputusan kita untuk membeli suatu produk atau jasa. Media massa mempengaruhi perilaku politis kita dalam memilih kandidat pemimpin poliitk. Media massa mempengaruhi prestasi akademik, atau prestasi olahraga, dan sebagainya.

Oleh karena media massa berkaitan dengan berbagai bidang kehidupan warga masyarakat, maka para politikus, pengusaha, lembaga pemerintah, lembaga pendidikan, bahkan lembaga keagamaan berupaya memanfaatkannya sebagai “alat” untuk mempengaruhi warga masyarakat.

Salah satu orang Betawi yang memanfaatkannya dengan baik adalah Mahbub Djunaidi. Wartawan kelahiran Tanah Abang ini memiliki kolom khusus di Kompas, bernama “Asal-Usul”. Dalam kolomnya, Mahbub membicarakan hal remeh hingga penting dengan bahasa renyah, yang kadangkala tak terpikirkan oleh orang lain. Bagaimana pun juga, Mahbub punya banyak penggemar.

Setiap yang membicarakannya akan mengingat kepakaran Mahbub, serta ide-idenya yang orisinil dan segar. Dan jangan lupakan juga, Mahbub adalah penulis novel Dari Hari ke Hari yang pernah memenangi penghargaan sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 1974 (novelnya sendiri terbit tahun 1975).

Setelah Mahbub, adakah penulis kolom asli Betawi yang kepakarannya diakui? Tentu ada JJ Rizal, tapi sayangnya tidak ada surat kabar yang memuat karyanya secara rutin, sehingga buah pemikirannya bisa dinikmati secara periodik atau berkala. Padahal, karya yang muncul secara berkala inilah yang akan mengingatkan publik terhadap kepakaran seseorang.

Namun, media hari ini kembali berkembang bahkan ke arah yang barangkali sebelumnya tak terbayangkan. Media massa menjadi optimasi media sosial dan mesin pencari. Survei opini publik pun mulai tergantikan oleh big data analysis dan penerapan artificial intelligent yang mampu memetakan perilaku pembaca berita dengan kecepatan dan presisi yang kian meyakinkan. Tren hari itu mampu dianalis berdasarkan perangkat analytics, seperti Google Analytics, dan kemudian bermunculanlah keyword-keyword yang tren pada hari itu serta diharapkan mendulang Page Views. Bagaimanakah arah media kita membangun opini?

Ingat kasus Donuld Trump dan skandal Cambridge Analytica pada Pemilu Amerika pada 2016. Ada peran media sosial di situ dalam penyebaran hoaks dan propaganda America’s First di luar, tapi ternyata White’s first di dalam. “Bangsa Amerika …,” seru Peter Brimelow dalam buku provokatifnya, Alien Nation (1996), “tertipu untuk meninggalkan identitasnya sendiri.”

Dia menambahkan bahwa “bangsa Amerika memiliki inti etnis khusus. Dan inti itu adalah orang kulit putih Amerika.” Sangat bisa dipahami jika hampir semua retorika politik America First dari Trump mengacu pada buku ini.

Sejauh mana orang Betawi dirayakan di media? Bagi saya, belum ada perkembangan yang terlalu menggembirakan karena orang Betawi sendiri tidak pandai memanfaatkan media sebagai sarana pelabelan dan branding dirinya sendiri. Namun tentu saja, kenapa tidak memulai sendiri?

Pada saat ini, hampir saja tidak lagi berlaku content is a king, tetapi conversation is a king. Atau ada juga yang bilang, content is a king dan conversation is a queen. Perkembangan media massa kini berangkat dari media sosial yang lantas dikonfirmasi.

Media sosial berhasil menerabas kejumudan komunikasi massa ini. Dalam media sosial, tidak ada lagi hierarki komunikator-massa, pembicara-pendengar, elite-orang awam. Pada media sosial, semua orang adalah pembicara, semua orang adalah wartawan sekaligus “pemilik media”.  Inilah dampak deliberatif dam demokratis yang dibawa media sosial. Di masa sekarang ini, semua orang bisa menjadi pelaku sekaligus pembuat berita.

ABI Research memperkirakan jaringan internet telah menyambungkan 30 miliar perangkat keras dan perangkat lunak di seluruh dunia tahun 2020.  Konsep internet of things secara drastis telah meningkat menjadi internet of everything dalam pengertian internet telah menjangkau hampir semua aspek kehidupan masyarakat.

Konsep media online pada masa kini memang belum seteratur media cetak, karena perubahan yang terjadi sangat cepat. Bentuk-bentuk baru selalu dicari demi mencapai keuntungan yang maksimal sesuai hukum ekonomi. Maka, di media online, sulit sekali menemukan adanya tajuk rencana, kolom, maupun opini yang secara khusus membahas mengenai sebuah topik secara mendalam. Arah dan sikap media menjadi sangat rancu dan kabur, sementara masyarakat semakin menggemari berita-berita yang sensasional dan penuh mistik, dengan judul dan anak judul yang sangat panjang.

Dari sinilah saya menganggap jurnalisme warga bisa mengambil alih dengan memanfaatkan fungsi utama pers dan karakteristik pers. Fungsi utama pers, yakni informasi, edukasi, koreksi, rekreasi, dan mediasi. Tentu saja zaman sekarang wartawan—yang merupakan sebuah profesi—kini tak lagi menjadi pihak pertama yang memberitakan suatu berita kepada masyarakat.

Saya ingat seorang senior pernah bergurau bahwa ia menjadi wartawan karena ingin menjadi yang pertama memberitakan suatu hal kepada masyarakat. Namun, kini ia mengakui betapa usang kata-katanya.

Seno Gumira Ajidarma pernah menyatakan, kini dengan jarak sekali klik, segenap data dunia dapat diserap siapa pun yang lebih mengandalkan otak ketimbang dompetnya. Teknologi digital merengkuh makna demokratisasi media, tempat daya kaum mediawan mampu melampaui dan menggusur kekuasaan konglomerat media.

Maka literasi media pada masa ini juga merupakan literasi digital. Inilah yang harus dipahami orang Betawi agar dia mampu menaikkan harkat, derajat, dan martabat kemanusiaannya sendiri. Sudah terlampau banyak anggapan orang Betawi tak melek media, maupun orang Betawi tak melek literasi. Jika mampu berjaya di lapangan kebudayaan dan kesenian (main pukulan), bukankah sudah saatnya menunjukkan kejayaan literasi di tanah Betawi yang memang memiliki akar yang panjang, meski lebih muda dari suku lainnya.

Tentu perlu ada upaya lintas lembaga untuk ini. Jalan masih panjang, meski bukan berarti juga itu mustahil.

*dibacakan saat diskusi bersama anggota KPID di Ancol pada 29 Juli 2018.

Kirim Tanggapan