Menengok Observatorium Bosscha, Peninggalan Sang Raja Teh Priangan

0
242
Observatorium Bosscha di Lembang merupakan peninggalan Karel Albert Rudolf Bosscha untuk ilmu pengetahuan. utamanya astronomi.

Saya dan keluarga menjejakkan kaki di kompleks Observatorium Bosscha pada Sabtu, 5 Januari 2019 pada pukul 12.30 WIB. Perjalanan ditempuh sekitar 5,5 jam dari Jakarta menuju Lembang. Saat itu kami agak tersesat karena pertama kalinya pergi sekeluarga menuju Bandung hanya bermodalkan Google Maps.

Begitu sampai, loket pendaftaran tak terlihat karena berada di gedung bagian belakang dekat tempat parkir. Karcisnya pun menggunakan kuitansi biasa, bukan karcis sobek apalagi sistem elektronik. Harganya Rp25.000 per orang. Secara keseluruhan komplek ini dibiarkan seadanya, barangkali karena Institut Teknologi Bandung yang membawahkannya tidak memfokuskan pengembangan observatorium, hanya menjaganya.

Tepat pukul 13.00 WIB, kami memasuki rumah kopel, bagian paling terkenal dari Komplek Observatorium Bosscha. Rumah kopel berwarna putih dengan kubah bulat yang di dalamnya terdapat teropong refractor ganda buatan Zeiss.

Teropong dengan lensa buatan Carl Jena Zeiss merupakan yang terbesar di Indonesia.

Teropong ini sangat berat. Dimas, pemandu tur kami siang itu, menjelaskan lensa teropong saja memiliki berat 200 kg. Panjang teropong 11 meter dan berat keseluruhan 17 ton. “Seperti berat lima gajah dewasa ditumpuk,” ujarnya mengandaikan.

Teropong warisan Karel Albert Rudolf (KAR) Bosscha ini menjadi teropong terbesar di Indonesia hingga saat ini. Dimas mengaku akan dibangun observatorium lagi di Lampung dan Kupang untuk melengkapi teropong peninggalan KAR Bosscha.

Tepat 90 tahun usia teropong itu dan telah menjadi landmark Bandung Utara yang paling terkenal. Bangunan teropong Bandung ini dirancang oleh K.C.P Wolf Soemacher, yang juga guru Presiden Sukarno.

Tepat pada 7 Juni 1928, KAR Bosscha secara resmi menyerahkan fasilitas pengamatan astronomi terbesar dan termodern di Asia kepada Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Sterrekundige Vereeniging) untuk dimanfaatkan sebagai pemajuan sains, astronomi dan mengangkat peran ilmuwan di Nusantara.

Bukan seorang ilmuwan                  

Menariknya, KAR Bosscha yang merupakan inisiator utama pembangunan observatorium ini bukanlah seorang ilmuwan atau ahli astronomi. Dimas, pemandu kami, menjelaskan Bosscha adalah seorang kaya raya yang sangat baik hati alias filantropi.

KAR Bosscha dijuluki sebagai raja teh Priangan berkat bisnis tehnya yang sangat maju di Pengalengan dan sekitarnya melalui Malabar Tea Plantation. Pada saat itu, teh memang merupakan komoditas ekspor yang memiliki harga tinggi. Teh dari Priangan tercatat memiliki kualitas baik dan berharga mahal, sampai diekspor ke Inggris. Paling terkenal adalah jenis teh hitam—yang dipercaya memiliki khasiat baik bagi kesehatan.

Ketertarikan KAR Bosscha ini sesungguhnya melanjutkan tradisi keluarganya. Ayahnya, Johannes Bosscha, adalah fisikawan terkenal di Belanda dan konon, KAR Booscha pun menamai tempatnya sebagai observatorium Bosscha dengan merujuk pada nama sang ayahnya. Selain observatorium, KAR Bosscha juga mendanai pendirian Institut Teknologi Bandung (d/ Technisce Hogeschool Bandung).

Struktur bangunan rumah kopel sangat menakjubkan karena didesain mempertimbangkan berbagai aspek. Mulai dari pemilihan lokasi yang diukur antilongsor, hingga lantai yang bisa naik-turun untuk memudahkan mahasiswa mengadakan penelitian di malam hari.

Hingga akhir hayatnya, KAR Bosscha masih melajang. Ia diketahui meninggal setelah terjatuh dari kuda dan kotoran kuda masuk ke lukanya. Bosscha meninggal di pangkuan salah seorang pelayannya akibat menderita tetanus. Dia dimakamkan di komplek perkebunan teh Malabar, Bandung Selatan, yang kini dikelola PTPN VIII.

Kirim Tanggapan