Museum MH Thamrin, Jejak Perjuangan Sang Macan Betawi

0
548
Museum MH Thamrin Jalan Kenari II

Tidak banyak yang tahu di mana lokasi persisnya Museum MH Thamrin. Di pinggir jalan memang tak terlihat, Anda harus masuk ke dalam Jalan Kenari II. Bahkan dari kantor saya di kawasan Gondangdia, saya menyewa ojek online yang membawa saya melalui Jalan Raden Saleh, sebelum berbelok menuju gang-gang kecil hingga tiba-tiba, voila, museum itu tampak di samping kiri saya.

Pada Jumat (11/01/2019), saya mengunjungi Museum MH Thamrin bersama Rachmad Sadeli, pemilik www.majalahbetawi.com, dan Gusman Natawijaja, penulis buku Main Pukulan Betawi. Keduanya secara mendadak membuat Napak Tilas Jejak MH Thamrin, macan Betawi yang ditakuti, tepat di hari kematiannya 78 tahun yang lalu. Saat Bang Rachmad mengunggah potret Harun Thamrin, keponakan MH Thamrin, di WhattAps Grup Betawi Kita, saya tahu tujuan mereka selanjutnya adalah Museum MH Thamrin. Secara mendadak, saya menawarkan diri untuk bergabung di siang itu, sementara Bang Rachmad dan Bang Gusman telah menyusuri jejak MH Thamrin di Gang Wedana, Sawah Besar.

Peserta napak tilas jejak MH Thamrin, Jumat (11/01/2019). Dari ki-ka, saya, Rachmad Sadeli, Gusman Nawi (foto: Rachmad Sadeli)

Museum tampak sepi. Sepanjang siang itu, kira-kira lebih dari satu jam kami berkunjung, hanya kami bertiga pengunjungnya. Tampaknya kunjungan ke museum kurang diminati, meski hari itu adalah momen peringatan kematian Muhammad Husni Thamrin. Pihak Museum pun tidak mengadakan acara apa-apa, meski Ayu, pemandu kami, mengaku pada 2019 ini pihak Museum akan mengadakan lokakarya atau seminar yang mempertemukan seluruh pihak keluarga MH Thamrin.

Perwajahan museum sebenarnya cukup mengesankan. Di halaman depan berdiri patung MH Thamrin berwarna emas, dikelilingi rantai yang memisahkan pengunjung dengan patung. Di sebelahnya tampak panggung kecil dengan sebuah papan bertuliskan puisi Joko Pinurbo berjudul “Rumah Persinggahan”, tampak bekas sebuah acara yang belum dirapikan.

Tampak depan Museum MH Thamrin.

Museum ini sangat khas Jakarta, menyimpan memorabilia dan jejak MH Thamrin dalam bentuk foto dan replika, baik benda maupun suasana. Dengan tiket yang sangat murah, Rp 5000, pengetahuan yang didapatkan di sini sangat berharga. Ada radio listrik koleksi MH Thamrin, sepeda ontel buatan Inggris, kursi tamu, lukisan, diorama, hingga replika tempat tidur dan kereta kayu yang membawa jenazah MH Thamrin ke peristirahatan terakhir di Karet pada 11 Januari 1941.

Menurut Majalah Betawi seperti dikutip dari novel karangan Matu Mona soal MH Thamrin, diceritakan  banyaknya orang segala bangsa berdiri di pinggir jalan melepas kepergian M. Husni Thamrin, menuju peristirahatan terakhirnya di Karet. Jumlah orang yang hadir tak dapat ditaksir saking banyaknya, mulai dari orang kampung sampai orang gedongan berdiri mengantar kepergian sang pejuang rakyat Betawi. Sebuah sumber menyebut ada 20.000 pelayat yang mengantar MH Thamrin saat itu.

Ayu, pemandu kami sore itu, menjelaskan Museum MH Thamrin pada mulanya merupakan sebuah gedung yang dibangun pada abad ke-19 kepunyaan Mener De Has. Menurut dia, Meneer De Has ini bukan seorang pejabat pemerintah, melainkan orang kaya yang menggunakan gedung ini sebagai sebuah gudang dan pabrik. Lantas, oleh MH Thamrin, gedung ini dibeli dan kemudian dihibahkan untuk kepentingan kaum pergerakan kepada organisasi bernama PPPKI alias Pemufakatan Perhimpunan Politik Indonesia.

“Oleh karena itu, gedung ini dijuluki Gedung Pemufakatan Indonesia,” ucap Ayu menjelaskan.

Radio zaman dulu koleksi Museum MH Thamrin.

Tidak hanya untuk berdiskusi dan pertemuan menuju kemerdekaan Republik Indonesia, gedung ini juga merupakan gedung yang sangat bersejarah karena merupakan gedung yang menjadi saksi lahirnya lagu kebangsaan “Indonesia Raya” ciptaan Wage Rudolf Supratman. Karena itu, di gedung ini juga tersimpan biola yang dipakai oleh WR Supratman saat memainkan lagu kebangsaan di Kongres Pemuda 1 tahun 1926.

Ayu menuturkan, setelah kemerdekaan, gedung ini sempat tidak terurus hingga warga sekitar membuat patok-patok dan bertempat tinggal di sekitar lahan milik MH Thamrin. Sempat pula gedung ini dipakai sebagai tempat belajar siswa dan siswi SMA sampai tahun 1984. Hingga saat ini, dari luas awal sekitar 3200 meter persegi, hanya tersisa sekitar seribuan persegi saja.

Perjuangan Muhammad Husni Thamrin sebaiknya terus dikenang hingga sekarang. Tokoh Betawi keturunan Inggris ini dari pihak kakeknya, Tn Ort, merupakan seorang pahlawan. Husni Thamrin menuntut perbaikan kampung-kampung dan sistem pengairan di Batavia (Jakarta kala itu).  Perjalanan kariernya dimulai dari kantor kepatihan, kantor keresiden, maskapai pelayaran Belanda (KPM), sebelum akhirnya menjadi anggota Dewan Rakyat.

Perkenalan Husni Thamrin dengan Daniel van der Zee (1880-1969), seorang sosialis, mengantar Thamrin menempuh jalur yang sama sekali berbeda: menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota Batavia) selama periode 1919-1941, kemudian anggota Volksraad atau Dewan Rakyat  pada 1927-1941.

potret MH Thamrin dan istri ketiganya, Ny Otoh, asal Sukabumi.

Hampir seratus tahun lalu MH Thamrin pernah mengguncang Dewan dengan pidatonya di Gemeenteraad.

“Saya melihat sendiri betapa becek kampong jalan tempat saya bermain. Betapa gelapnya bila tiba waktu malam hari karena tidak ada lampu penerangan. Saya ingin semuanya berubah, jalan-jalan menjadi beraspal, banjir ditiadakan, air minum yang bersih, kesehatan dapat dipelihara, jalan terdapat lampu penerangan. Saya mengharapkan agar semua cita-cita saya itu menjadi kenyataan.”

Kini perjuangan MH Thamrin belum selesai dan masih harus terus diperjuangkan. Di jalan yang mengusung namanya, janji MH Thamrin kita kenang. Sebuah jalan yang menanggung nama seorang pahlawan, yang sepanjang hayatnya dia hibahkan untuk memikirkan nasib kaumnya dan Indonesia, negeri yang ia bawa menuju cita-cita merdeka. Mungkinkan cita-cita MH Thamrin menjadi nyata?

 

Kirim Tanggapan