Mengenal Masjid At Taubah dan Karomah Habib Kuncung

0
2148
makam habib kuncung di Rawajati
Makam keramat Habib Kuncung

Nama Habib Kuncung hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kial dan habib yang mewarnai kehidupan di Ibu Kota Indonesia hingga saat ini. Jakarta merupakan kota yang kaya dengan kiai dan habib. Di Jakarta, hingga saat ini, ramai majelis taklim dipenuhi oleh kaum ibu. Banyak juga kiai-kiai lokal yang dihormati dan punya pengaruh mendalam di masyarakat Betawi hingga saat ini. Termasuk Kiai Haji Abdullah Syafii, KH Noer Ali, dan KH Guru Mughni.

Para kiai ini memiliki peran dalam penyebaran Islam di Jakarta, termasuk memiliki masjid ataupun pesantren. Sebab, bagi orang Betawi, Islam dan Betawi tak bisa dipisahkan. Banyak ritual, kebiasaan, maupun seni kebudayaan yang terpengaruh maupun merupakan bagian dari agama Islam. Misalnya dalam acara akikah, nyunatin, maulid, dan lain sebagainya.

Kamis malam pekan lalu, saya berhenti sejenak di Masjid Jami At Taubah di Jalan Rawajati II, Kelurahan Pancoran, Jakarta Selatan. Saya mampir untuk melaksanakan salat Magrib bersama suami setelah menempuh perjalanan dari Gondangdia. Ini kali pertama saya mengunjungi masjid yang tampak megah ini. Hujan rintik-rintik saat itu, sehingga pelataran masjid tampak basah. Suami saya berkata bahwa tempat wudu untuk perempuan ada di belakang.

Makam keramat Habib Kuncung

Entah mengapa, kaki saya justru melangkah terus ke bagian kiri belakang masjid, seolah tak membaca tanda petunjuk wudu dan toilet perempuan yang ada di sebelah kiri. Tiba-tiba tampak beberapa makam berjejeran, sekitar empat makam, dengan sebuah makam paling ujung dikurungi kain hijau besar bertuliskan kalimat dalam bahasa Arab. Saya belum sempat mencerna apa-apa sampai akhirnya tersadar bahwa itu adalah makam Al Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad alias Habib Kuncung.

Pengalaman seperti ini persis ketika saya mengunjungi makam Pangeran Wiraguna di dekat Pejaten Village. Saat mengendarai sepeda motor hendak ke kantor di Senayan, tiba-tiba saja saya berbelok mengikuti petunjuk papan arah menuju lokasi dikuburkannya empunya nama Kelurahan Ragunan. Sangat mistis, seolah-olah saya dipanggil mendekati makam tanpa ada petunjuk apa pun sebelumnya. Namun, saya memilih mendekat ke makam Al Habib Ahmad bin Al Haddad. Saya merasa takut karena baru saja magrib, waktu yang dianggap mendatangkan bala bagi orang Betawi karena dianggap sebagai waktu “keluarnya setan-setan ke muka Bumi”.

Di sisi kanan-kiri masjid terdapat peringatan bagi para peziarah yang hendak menginap di masjid agar memberitahukan keberadaannya kepada pengurus masjid. Seusai salat, beberapa orang tampak bersender di bagian masjid yang tertutup, mungkin sekadar melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan. Mungkin juga ada yang hendak berziarah, tapi petang itu tak ada yang tengah membaca doa. Saya juga tak bertanya karena masih memikirkan pertanda yang tadi itu. Apakah ada firasat alam yang tak bisa saya artikan, entalah?

Suami saya memecah kesunyian. “Masjid ini yang pugar Fadel Muhammad,” katanya.

Fadel Muhammad adalah politikus Golkar yang pernah menjabat sebagai Gubernur Gorontalo (2001-2009) dan Menteri Kelautan dan Perikanan (2009-2011). Ia juga ayah Thania Nadira, mantan istri actor Tommy Kurniawan. Fadel merupakan keturunan Arab bermarga Al Haddad, sementara di dalam komples Masjid Jami At Taubah terdapat makam keluarga Habib Abdullah bin Jafar al Haddad, Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad (Habib Kuncung) dan Habib Munzir bin Fuad Al Musawa. Meski tidak bermarga Al Haddad, Habib Munzir yang merupakan penggagas Majelis Rasulullah ini sangat dihormati dan lokasi tempat tinggalnya juga tak jauh dari Pancoran. Mungkin karena itulah dia diberi kehormatan dimakamkan di dalam komplek pemakaman keluarga Al Haddad, bersisian dengan Habib Kuncung.

Sejarah hidup dan karomah Habib Kuncung

Masjid At Taubah, Habib Kuncung
Masjid At Taubah

Habib Kuncung atau yang dikenal sebagai Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad adalah seorang Wali Allah yang lahir di Gurfha, Hadramaut, Tarim, pada 26 Syaban 1254 H. Sejak kecil dia belajar sendiri kepada ayahandanya, Al Habib Alwi Al Haddad. Namun, selain itu dia juga belajar kepada Al Habib Ali bin Husein Al Haddad di Hadramaut, Yaman.

Dikabarkan, setelah remaja Habib Kuncung mulai mengembara dan berdagang ke wilayah Asia Tenggara. Konon saat berdagang inilah sang Habib mendapat untung yang berlipat ganda sehingga menjadi kaya raya. Bahkan Habib Kuncung menjadi pedagang yang sukses di Singapura. Namun, bukan dari situ dia memperoleh nama kuncung. Julukan itu didapatnya kala berguru di Bogor dengan Habib Keramat Empang Bogor, Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Attas lantaran sering memakai peci yang atasnya lancir atau mirip seperti kuncung.

Habib Kuncung diketahui menikah dengan perempuan berdarah Bugis di Makassar dan memiliki anak bernama Muhammad. Anak inilah yang lantas mewarisi kekayaannya di Singapura. Namun, Habib Muhammad meninggal sehingga terputuslah garis keturunan Habib Kuncung.

Selanjutnya Habib Kuncung terus mengembara untuk berdagang sambil menuntut ilmu. Dalam pengembaraannya, sang habib tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa dan sempat singgah di Kampung Melayu, rumah seorang pegawai gubernuran Batavia yang menjadi temannya.

Habib Husein Bin Muhammad Al Haddad yang merupakan keturunan ke-4 Habib Kuncung pernah bercerita sekelumit mengenai sosok Habib Kuncung.
Seperti dikutip dari Liputan6.com, nama kuncung disematkan karena Habib Ahmad memakai kopiah dari bangsawan Bugis pada zaman dulu yang berbentuk kuncung atau kerucut. “Waktu zamannya itu, Kerajaan Bugis memberikan kopiah itu karena Beliau mempunyai karomah yang besar di kalangan bangsawan Bugis pada saat itu,” ujar Habib Husein.

Husein menambahkan, Habib Kuncung merupakan orang yang memiliki khariqul a’dah atau orang yang memiliki kemampuan lebih di luar kebiasaan manusia umumnya. Habib Kuncung biasa disebut dalam bahasa kewalian dengan ahli darkah, maksudnya di saat orang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan, maka Habib Kuncung akan muncul dengan tiba-tiba untuk membantu orang tersebut.

Habib Kuncung pernah tinggal di rumah saudaranya yang bernama Habiba Mariyam Binti Ali Al Haddad di daerah Kebon Coklat, Kampung Melayu, Jakarta Timur. Habib Kuncung meninggal dalam usia 93 tahun pada 1926.

Menurut Husein, ada sebuah keajaiban saat prosesi pemakaman Habib Kuncung. Hal ini pun menegaskan posisi Habib Kuncung sebagai ulama yang tinggi derajatnya. Mulanya, jenazah Habib Kuncung akan dikebumikan di kompleks pemakaman keluarga Habib Toha Bin Ja’far Al Haddad. Kala itu, setelah disalatkan di Masjid At Taubah, makam di kompleks pemakaman Habib Toha Bin Ja’far Alhaddad pun sudah digali.

Namun, saat jenazah Habib Kuncung sudah berada di pemakaman, kata Husein, terjadi sebuah keajaiban. Saat jenazah akan dimasukkan ke liang lahad, meski sudah ada 10 orang, jenazah menjadi sangat berat sehingga tak mampu diangkat.

“Akhirnya setelah Habib Toha salat sunnah bisyaroh ternyata shohibul maqom (jenazah) ingin dimakamkan di pemakaman keluarga Habib Abdulloh Bin Ja’far Al Haddad yang di sampingnya Masjid At Taubah,” ungkap Husein.

Memang, ujar Husein, selama masih hidup Habib Kuncung pernah punya satu pesan, yaitu dibuatkan rumah kecil. Pesan itu disampaikan kepada Habib Muhammad Bin Abdulloh bin Ja’far Al Haddad. “Artinya di situlah Habib Kuncung ingin dimakamkan, di pemakaman keluarga Abdulloh Bin Ja’far Al Haddad. Baru ketika itu jenazahnya bisa terangkat,” ucap Husein.

Husein menambahkan, semenjak kejadian-kejadian tersebut dan atas karomah serta keteladanan Habib Kuncung itulah, kompleks pemakaman di Masjid At Taubah atau masyarakat mengenalnya Masjid keramat Habib Kuncung ramai didatangi peziarah.

Sumber:

www.liputan6.com
pecintahabibana.wordpress.com

 

Kirim Tanggapan