Asal-Usul Glodok dan Pancoran di Jakarta

0
278
Wihara Darma Bhakti saat Imlek di Glodok. (Foto: M. Deden Purnama)

Imlek baru saja berlalu. Pesta raya bagi keturunan Cina ini dirayakan secara meriah. Puncaknya tentu saja Capgomeh, yang berlangsung 14 hari setelah Imlek. Di Jakarta, puncak keramaian ini diadakan di kawasan Glodok, yang menjadi sentra bisnis serta tempat tinggal orang Cina. Tak aneh, kawasan Glodok dan sekitarnya, termasuk Pancoran, dikenal sebagai Pecinan.

Pesta Imlek pada Selasa (5/2/2019) lalu dirayakan di sekitar Petak Sembilan, yang masuk dalam Kelurahan Glodok. Pusatnya adalah Wihara Dharma Bakti atau yang dikenal sebagai Kelenteng Toasebio. Ini merupakan wihara tertua yang ada di Jakarta.

Daerah ini sejak dulu memang dikenal sebagai kawasan Pecinan. Bukan tanpa sebab, di sini mudah ditemui orang-orang Cina, baik yang bermukim maupun berprofesi sebagai penjual. Sejak 1700-an, menurut Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, kawasan Glodok sudah mulai berpenghuni.

Kawasan ini, terutama Glodok, dikenal sebagai pusat penjualan alat-alat elektronik, tapi sekarang sudah mulai agak sepi. Di Glodok pula, kamu bisa menemukan penjual alat perlengkapan sembahyang, dupa, hio, hingga kue-kue khas Tiongkok.

Meski dekat dengan kebudayaan Cina, kata Glodok bukanlah berasal dari kosakata Cina. Menurut Alwi Shahab dalam Betawi Queen of the East (2002), kata Glodok berasal dari nama air yang berbunyi glodok-glodok atau grojok-grojok.

Kawasan Pecinan di zaman Batavia, sketsa Kamboja (Majalah Intisari, 1988) Sumber FB Keluarga Batik Betawi.

Konon, di depan Balai Kota atau Museum Sejarah Jakarta, pernah ada sebuah pancuran. Di sinilah orang-orang setiap sore mengambil air. Sumber air itu berasal dari wilayah yang sekarang bernama Glodok. Sebab, di mata air itu, ada sebuah kincir kayu yang terus berputar dan berbunyi grojok-grojok.

Seperti ditulis dalam buku Asal Usul Nama Tempat di Jakarta (2004), “ Kata grojok diucapkan oleh orang-orang Tionghoa totok, penduduk mayoritas kawasan itu dulu, lantas berubah menjadi glodok, sesuai dengan lidahnya.”

Alwi Shahab memberi petunjuk bahwa Glodok dulunya merupakan tempat pemberhentian kuda beban untuk diberi minum. Dia menjelaskan, di sana zaman dulu terdapat semacam waduk penampungan air dari Kali Ciliwung yang dibangun pada 1670.

Sementara itu, bila Anda mengunjungi Pancoran, jangan lupa bertandang ke Pantjoran Tea House. Di depannya berjejer delapan buah teko, sebagai lambang asal-usul nama patekoan—yang artinya delapan teko.

Pancoran sendiri berasal dari kata pancuran. Konon ada sebuah pancuran yang dijaga oleh seorang gaib. Dua orang pangeran mati mendadak  karena meminum airnya tanpa izin. Kemudian sang kakak bersedia mati menggantikan adiknya setelah meminta izin kepada si penjaga yang gaib ini. Namun, setelah meminum air, ternyata sang kakak tetap hidup dan pulang bersama adik-adiknya. Karena dia satu-satunya yang lulus ujian, maka si kakak kemudian menjadi raja.

Kirim Tanggapan