Urip iku Urub, Takdir yang Menuntun Penulis Kisah Diponegoro

0
285
Peter Carey (paling kanan) berpose dalam peluncuran buku Urip iku Urub di Perpustakaan Nasional.

Judul               : Urip iku Urub, Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey
Editor              : FX Domini BB Hera
Penerbit          : Kompas
Cetakan          : Pertama, Januari 2019
Tahun terbit    : 2019
Jumlah halaman : xl + 568
ISBN : 978-602-412-534-9

Nama Peter Carey dan Pangeran Diponegoro layaknya dua sisi mata uang yang selalu berdekatan. Membicarakan Peter Carey tak mungkin tidak membicarakan sosok yang menganggap dirinya sebagai Ratu Adil dari Jawa itu. Selama 40 tahun lebih kariernya sebagai peneliti Perang Jawa, Peter Carey membuktikan dirinya layak dikagumi dengan kesungguhan dan totalitasnya.

Tentu hasil itu tak datang tiba-tiba. Dalam Urip iku Urub, sebuah untaian persembahan 70 tahun Profesor Peter Carey yang dieditori FX Domini BB Hera, tampak bahwa intuisi dan kecerdasannya telah memikat banyak orang. Total 23 penulis menyumbang artikel dalam buku yang berisi memoar, kesan, dan penelitian mengenai kebudayaan Jawa kuna setebal 607 halaman itu.

Jika Bob Hering, sang penulis biografi MH Thamrin dan Sukarno, telah memberikan sebuah kisah memikat tentang kedua tokoh bangsa itu dari sumber yang lengkap dan tepercaya, maka Peter Carey adalah perbandingan yang sejajar. Biografi yang ditulis Bob Hering begitu detil, penuh nuansa, dan merupakan kajian akademik yang membawa Sukarno serta MH Thamrin dikenal lebih dekat. Penelitian Bob Hering mengenai Asia Tenggara dan kajian doktoralnya mengenai Muhammad Husni Thamrin telah mendudukkan tokoh ini lagi ke dalam ingatan bangsa, sebagai salah satu peletak dan pencipta nation Indonesia yang tercerabut akibat kematiannya yang tiba-tiba pada 1941.

Merle C. Ricklefs, seorang Indonesianis dan peneliti andal sejarah Jawa dan Indonesia, mengingat Peter Carey sebagai seorang ambisius dan aneh. Meski berdarah Inggris, Peter muda—yang saat itu telah memulai penelitian awalnya di Jogjakarta—tampak seperti ingin menceburkan diri menjadi seorang pribumi Jawa seutuhnya. Ricklefs, yang kemudian bertindak sebagai pembimbing informal dalam penyusunan disertasi perihal Pangeran Diponegoro di Oxford University, menyebut Peter Carey seolah masuk ke dalam dunia budaya Jawa.

Tentu pengakuan itu bukanlah main-main diucapkan, sebab itu mengartikan betapa kuat upaya yang dilakukan laki-laki kelahiran Rangoon, Birma, pada 30 April 1948 ini untuk masuk ke dalam topik yang sedang ditelitinya. Sepanjang laku hidupnya, Peter Carey telah mengajarkan bahwa penelitian bukan hanya melalui perpustakaan dan jurnal alias berdiam di balik meja, melainkan juga turun ke lapangan dan berdialog, bahkan napak tilas ke tempat-tempat yang memiliki kaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro.

Selain itu, Peter Carey juga percaya dengan firasat dan takdir. Sesuatu hal yang biasanya tak tampak pada pandangan orang Barat. Hal ini bahkan sudah tampak di bagian mula kisah hidupnya. Saat keluarga mereka tinggal di Birma, disebutkan bahwa seorang ahli nujum Tiongkok pernah meramalkan bahwa kelak salah seorang anak dari keluarga mereka, pasangan Thomas Brian Carey dan Wendy Rosemary Patricia Burnett Carey, akan menjadi terkenal. Bukankah ini sama seperti ramalah kakek Diponegoro, Pangeran Mangkubumi, yang meramalkan bahwa cucunya itu kelak akan membuat repot pasukan Belanda?

Di tanah Birma, Myanmar, saat mengikuti kiprah ayahnya sebagai pengusaha dan mantan militer, Peter kecil tumbuh dan memupuk kecintaan terhadap Asia. Sebuah getaran yang muncul saat melihat sketsa FVHA de Stuers tentang tempat bermukim pasukan Pangeran Diponegoro, mengubah rencananya semula meneliti Revolusi Prancis dan mengantarkannya ke tanah leluhur: Indonesia. Namun, setelah 30 tahun disertasi itu diujikan, barulah Peter Carey mendapat kesempatan untuk menerbitkannya. Ia menyebutnya, jalan yang memutar.

Takdir jualah yang barangkali mempertemukan FX Domini BB Hera, sang editor buku ini, yang ternyata merupakan keturunan dari bulkio, pasukan elite Pasukan Diponegoro. Dalam bagian pertanggungjawabannya ia menulis, “Jawa bukan hanya sebuah pulau di gugusan Nusantara. Jawa juga berarti “jiwa kang temua” (jiwa yang dewasa), sebuah sifat yang melampaui batas-batas rasial fisik dan tempat. (hlm xix).”

Di mata Peter Carey, Jawa barangkali sebuah obsesi, dengan Pangeran Diponegoro sebagai sentralnya. Karya luhurnya telah menempatkan sang pangeran, sehingga bisa dilihat melalui kacamata lebih jernih, tidak hanya sebagai pahlawan bangsa, tetapi juga manusia biasa. Melalui Babad Diponegoro beragam versi, arsip, peta, serta wawancara, banyak sekali aspek kehidupan sang pangeran yang mulanya suram, mulai terbuka secara terang benderang. Barangkali tidak semua dapat menerimanya karena banyak kalangan yang menginginkan pahlawan adalah sosok tanpa dosa. Namun, kesantunannya dalam bersuara serta kesetiaannya terhadap kemanusiaan malah tak menjadikan sosok Peter Carey dibenci.

Ia telah menggugah banyak orang untuk menulis karya sejenis. Banyak penulis dalam Urip iku Urub yang mengambil dasar dan kemudian mengembangkan penelitian yang telah dibuat sebelumnya oleh Peter Carey. Misalnya saja soal persepsi terhadap orang Cina dan praktik perdukunan di Jawa. Ia juga menginspirasi orang lain untuk membuat pertunjukan, komik, bahkan pameran bertema Pangeran Diponegoro karena data yang disediakannya begitu berlimpah. Ia merayakan hidupnya dengan bercahaya.

Seperti pepatah Jawa, urip iku Urub, urub iku laras, laras iku respati, respati iku careming katentremaning (hidup itu memancarkan cahaya yang selaras dengan rasa hati manusia yang indah dan mengarah pada ketentraman lahir batin). Selamat ulang tahun, Peter Carey!

 

Kirim Tanggapan