Gerakan Politik dan Sepak Bola Kebangsaan ala Mohammad Husni Thamrin

0
167
Gubernur Anies berbincang dengan cicit MH Thamrin, Mbak Eri dan Mbak Rina (foto: Rachmad Sadeli).

*catatan singkat dari perayaan Festival 125 Tahun MH Thamrin: Jungkir Balik demi Jakarta

Festival 125 Tahun MH Thamrin telah usai hampir satu bulan yang lalu. Acara itu dilaksanakan dalam rangka memperingati hari kelahiran Mohammad Husni Thamrin pada 16 Februari 1894—tepat 125 tahun yang lalu.

Pahlawan nasional Mohammad Husni Thamrin percaya bahwa politiknya yang sungguh-sungguh adalah kesibukan mengejar suara-suara rakya dan berdiri semata-mata mengejar keinginan rakyat.

Jikalau para politikus pada hari ini menggunakan segala cara untuk memperkaya diri sendiri dengan jabatannya, Thamrin justru sebaliknya. MH Thamrin memberikan contoh nyata bagaimana posisinya sebagai anggota Dewan Rakyat dimanfaatkan betul-betul untuk membela kaumnya, orang kampung Jakarta. Selain itu, dia juga berkawan akrab dengan Sukarno. Hal ini sangat menggelisahkan orang-orang Belanda karena MH Thamrin—yang seringkali dicap sebagai kooperatif—justru memakai sistem yang dibuat Belanda untuk melawan mereka sendiri.

Dalam diskusi yang digelar di Balai Kota, Jumat, 15 Februari 2019, ada peran MH Thamrin yang selama ini luput dari pembicaraan mulai terkuak. Diskusi bertajuk “125 Tahun MH Thamrin: Jungkir Balik demi Jakarta, Thamrin Memulai, Anies Baswedan Mewujudkan” itu dilaksanakan oleh Perkumpulan Betawi Kita bekerja sama dengan Pemprov DKI dan seluruh BUMD Jakarta.

Poster acara Festival 125 Tahun MH Thamrin

Tidak hanya memperhatikan soal banjir dan perbaikan kampung, MH Thamrin rupanya juga memperhatikan sepak bola. Dia merespons positif ketika beberapa orang dari klub sepak bola pribumi mengadu kepadanya lantaran tak dipinjami lapangan untuk mengadakan pertandingan amal demi korban kebakaran di Gang Bunder, Pasar Baru, pada 1927.

Politik ras tidak hanya dalam pendidikan, tapi juga lari ke lapangan sepak bola. Kala itu, di lapangan milik orang Belanda, terpampang tulisan “Verboden voor inlander en honden” (dilarang bagi pribumi dan anjing) adalah kata-kata menyakitkan yang seringkali terpampang dalam gelanggang olahraga Belanda.

JJ Rizal menjelaskan, Thamrin menyambung semangat Kongres Pemuda Oktober 1928 ke dalam klub sepak bola pribumi agar mengadopsi semangat persatuan. Oleh sebab itu, sebulan setelah peristiwa Sumpah Pemuda, berdirilah perkumpulan klub sepak bola VBB (VoetbBal Boemipotera), yang kemudian hari berubah namanya menjadi VIJ (Voetbalbond Indonesia Jacatra) dan pada 1942 berubah namanya menjadi Persija (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta). Hal ini mengesankan adanya semangat pergerakan, dengan mencantumkan kata “Indonesia” di dalam nama bond tersebut.

MH Thamrin bahkan bersedia merogoh koceknya, dengan menyumbangkan 2000 gulden agar orang-orang pribumi memiliki lapangan sendiri yang layak untuk bermain sepak bola. Lapangan itu ada di Laan Trivelli. Pertandingan resmi pertama yang diadakan di Lapangan Laan Trivelli adalah pertandingan MOS melawan Tjahja Kwitang pada 15 Maret 1931. Penonton yang hadir berjumlah 2000 orang.

Kemudian Thamrin mendesak dan berbicara lagi di Volksraad agar pemerintah kolonial memperhatikan sepak bola kaum bumiputra. Pada tahun 1936 VIJ mendapat lapangan yang lebih layak dari Laan Trivelli dengan standar internasional ditambah tribun dan ruang makan. Lapangan baru ini terletak di Jalan Tjideng West, di ujung Laan Trivelli.

MH Thamrin, sebagai pimpinan Volksraad dan pelindung VIJ, hadir meresmikan lapangan tersebut bersama para pemimpin PSSI saat itu, seperti Hadi dan Amangkoerat. Peresmian lapangan ditandai dengan pertandingan sepak bola antara VIJ melawan PPVIM (Meester Cornelis) pada 14 Maret 1936 dan perlombaan atletik pada 15 Maret 1936.

Poster petandingan di Stadion VIJ, Jalan Cideng. (foto: FB Eri Muljosantoso)

Di kemudian hari, gerakan politik dan sepak bola seolah membaur. Abdillah Afiif, salah satu tim penulis buku Gue Persija & Abidin-Side Fanzine menyebut tercatat nama-nama politikus lainnya, seperti Mr Hadi, Iskandar Brata, Mr Kusuma Atmaja, Dr Moewardi, dan Dr A. Halim yang juga ikut membentengi perkuangan VIJ. Bahkan MH Thamrin telah membawa tokoh pergerakan bangsa dan proklamator Sukarno, yang saat itu baru keluar dari penjara Sukamiskin, untuk melakukan tendangan pembuka dalam pertandingan final antara VIJ dan PSIM.

Visi nasionalisme Thamrin jelas dan mencolok, bahwa sepak bola bukan medan kepentingan, melainkan perjuangan dan ujung tombak gerakan kebangsaan.

Salah satunya tampak ketika para elite politik ikut bermain sepak bola dalam pertandingan “Jago Kolot”. Tahun 1932, pertandingan Jago Kolot diadakan pada jeda pertandingan VIJ melawan PSIM. Jago Kolot berisikan para politikus, seperti MH Thamrin dan Otto Iskandar Dinata.

Kedekatan VIJ dengan politik semakin kentara saat diadakan pertandingan sepak bola pada Kongres Parindra ke-1, 15-17 Mei 1937. VIJ bertanding melawan UMS (Union Makes Strength) dan SBB (Sport Bond Buitenzorg) di Lapangan Pulo Piun Tjidengweg-West.

Suasana Festival 125 Tahun MH Thamrin di Stadion VIJ (foto: Rachmad Sadeli).

Dan pada Sabtu, 16 Maret 2019 lalu, kami merayakan warisan MH Thamrin yang sangat berharga itu. Pertandingan persahabatan antara Gubernur DKI Anies Baswedan bersama warga ditambah pameran foto di Stadion VIJ Cideng, juga ditandai sebuah gerakan politik agar stadion baru di kawasan Taman BMW yang hendak dibangun kelak dinamai “Stadion MH Thamrin”. Semoga!

Sumber tulisan:

  • Siaran Press 125 Tahun MH Thamrin, Jungkir Balik demi Jakarta
  • Buku Pameran Foto Sejarah MH Thamrin: Politik dan Sepak Bola Kebangsaan

Kirim Tanggapan