Mencicipi Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang Legendaris

0
142
Nasi goreng kambing Kebon Sirih

Kuliner ala Betawi selalu memperlihatkan campuran budaya yang mempengaruhi etnis paling muda di Indonesia ini. Di kawasan Betawi Tengah, kebudayaan Arab tampak sangat mendominasi. Misalnya saja dari pemilihan dialek, seni musik, hingga ritual budaya yang kental bernafaskan Islam. Selain itu, ada juga pengaruh Cina, di antaranya busana pengantin wanita maupun tari cokek.

Tak heran bila di wilayah Betawi pun banyak ragam makanan yang terpengaruh kebudayaan Arab dan Cina. Nasi kebuli, nasi kabsah, nasi goreng kambing, maupun gorengan kambing ala Tanah Abang yang sangat terkenal adalah contoh pengaruh Arab dalam kuliner Betawi. Sementara jika menyebut pengaruh Cina, ada dodol, kue satu, bakmi, pindang bandeng, maupun makanan lain yang menggunakan kecap.

Nasi goreng adalah makanan yang dikenal luas seantero Indonesia dengan segala macam variasinya. Konon nasi goreng sudah ada sejak 4000 tahun Sebelum Masehi. Awalnya, orang-orang Tionghoa yang tidak menyukai nasi dingin, mencoba menghangatkan kembali nasi dengan berbagai bumbu-bumbu. Tak disangka racikan ini disukai dan kemudian berkembang dengan berbagai variasi.

Bisnis nasi goreng kambing Kebon Sirih sudah dijalani selama tiga generasi.

Di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, terdapat sebuah tempat makan yang melegenda karena sudah dijalani oleh tiga generasi. Ya, siapa yang tidak mengakui kelezatan nasi goreng kambil ala H Nein di Jalan Kebon Sirih Barat.

Tempat makan ini buka mulai pukul 17.00 WIB dan peminatnya sungguh bejibun. Saya dan suami yang datang untuk berbuka puasa sekitar pukul 18.30 WIB sempat celingak-celinguk dulu menunggu meja yang kosong untuk makan. Jangan bawa mobil karena agak sulit mencari parkir.

Satu tip, sebelum duduk, pastikan Anda ke kasir untuk memesan makanan. Setelah memesan, Anda akan diberikan nota yang diserahkan kepada petugas pelayanan. Petugas itu akan bertanya di mana Anda duduk, sebelum akhirnya petugas yang lain mengantarkan nasi goreng kambing pesanan ke hadapan Anda.

Satu porsi nasi goreng kambing dihargai Rp41.000 dan setengah porsi Rp31.000. Satai kambing Rp 55.000 per 10 tusuk dan satai ayam Rp35.000. Es teh manis Rp4000 dan es jeruk Rp10.000.

Tidak perlu menunggu telalu lama, sepiring nasi goreng kambing dan emping pun tersedia di hadapan. Porsinya pas, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Sepertinya memang tidak nyaman jika kekenyangan menyantap masakan berempah seperti nasi goreng kambing ini. Namun bagi saya, nasi yang tersedia tidak terlalu panas dan sebetulnya agak mengecewakan.

Sepertinya di media sosial memang banyak yang berkomentar mengenai rasa yang berubah. Nasi goreng memang dimasak dalam jumlah banyak dalam sebuah penggorengan yang sangat besar. Saya melihat sendiri nasi goreng dimasak dua kali. Pertama untuk menyamakan atau meratakan bumbu dan kedua diaduk sekali lagi di penggorengan sebelum akhirnya disajikan di dalam piring.

Saya sendiri menganggap rasanya enak, mungkin lapar karena saat itu berpuasa. Namun, potongan kambingnya masih terlalu keras. Bagi yang suka, bisa menambahkan acar yang disajikan satu paket. Sementara suami saya mengatakan rasanya mirip nasi kebuli, tapi lebih berempah. Samar-samar terasa kapulaga, serai, lada dan minyak samin dalam racikan nasi goreng kambing Kebon Sirih.

Jika tahan dengan suasana makan pinggir jalan yang agak “bau”, nasi goreng kambing Kebon Sirih layak dicoba. Namun jika tidak, masuk sedikit ke Jalan Kebon Sirih Dalam, Anda akan menemukan restoran nasi goreng kambing Kebon Sirih yang bersih dan wangi. Namun, makan di sini relatif lebih sepi. Selain di Kebon Sirih, ada pula cabang di Jakarta Selatan, yakni Bintaro, Bulungan, dan Karang Tengah. Tak tahan mengantre, gampang, pesan saja melalui Go-Food. Mudah dan nyaman, bukan?

 

 

Kirim Tanggapan