Lezatnya Soto Betawi H Husen, Manggarai

0
341
Soto Betawi H Husen terletak di Jalan Padang Panjang, Manggarai.

Konon, soto Betawi terenak di Jakarta adalah soto Betawi Haji Husen yang terletak di belakang Pom Bensin Saharjo, Manggarai. Seorang kawan mengatakan, datanglah ke sana kira-kira sebelum makan siang, lalu tanya sekelilingmu, maka kau akan menemukan pembeli yang sudah langganan selama bertahun-tahun lamanya.

Saya sudah lama penasaran ingin mencicipi soto Betawi Haji Husen. Sayang sekali, kala saya pulang kerja menjelang senja, warung soto Betawi itu selalu tutup. Memang katanya, warung soto Betawi ini akan tutup sekitar pukul 14.00 WIB atau setelah jam makan siang. Saya berasumsi, warung ini memang sengaja tak buka sampai sore karena hanya memasak sekian ratus porsi saja untuk satu hari. Nah, jikalau jatah untuk hari itu sudah habis, maka mereka akan mencukupkan pekerjaan mereka untuk hari itu.

Namun suatu hari, saya dan suami tak sengaja berangkat agak siang ke kantor. Menjelang pukul sembilan, perut kami lapar karena belum sempat sarapan. Maka, saya berceletuk, bagaimana kalau kita sarapan di soto Betawi Haji Husen saja? Suami saya mulanya ragu, apakah enak sarapan dengan menu “berat” semacam soto berisi daging sapi, babat, dan jeroan? Namun, ia akhirnya setuju dan meluncurlah kami menggunakan sepeda motor melalui Jalan Raya Pasar Minggu menuju Manggarai.

Kejutan, rupanya sepagi itu, para pelayan warung soto Betawi Haji Husen sudah siap menyambut pembeli. Bahkan, meja di dalamnya cukup penuh dengan orang-orang yang hendak makan. Total kira-kira ada sepuluh meja panjang di dalam warung makan bernuansa dominan cat hijau itu. Di dindingnya terpampang puluhan foto H Husen, pemilik warung, bersama keluarga dalam bingkai sederhana. Ada juga foto H Husen bersama orang-orang pangkat, semacam mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.

Dari luar, saya menyangka suasana akan cukup pengap sebab sekilas terlihat seperti warteg. Rupanya perkiraan saya salah karena suasana di dalam justru sangat adem dan tidak gerah sama sekali. Beberapa kipas angin bekerja mengalirkan udara sejuk. Meski demikian, kalau warung ini dipenuhi pembeli saat makan siang, bisa saja hawanya akan terasa cukup panas.

Pelayan berseragam batik sigap menanyai menu yang kami inginkan. Saya memperhatikan pelayannya cukup banyak, bahkan mempunyai tugas yang berbeda-beda. Datang lagi seorang pelayan yang menanyai kami hendak minum apa. Setelah itu, tak lama datanglah pesanan kami.

Kesan pertama, tampaknya cukup menggiurkan. Soto Betawi terpampang di hadapan kami dengan warna kuning kunyit dan taburan remukan emping. Jika ingin mengoreksi rasa, tambahkan acar, garam, dan jeruk limo, lantas  cicipi dulu sebelum Anda tambahkan sambal atau kecap. Sebab, sambal dan kecap kadang-kadang membuat rasa masakan kurang original.

Begitu masuk di mulut, saya langsung bergumam, ‘Begini seharusnya rasa soto Betawi.’ Saya tak bisa mendefinisikan betapa enaknya soto Betawi yang ada di depan saya. Pokoknya, semua bumbu terasa pas dan berlimpah. Kekuatan penggunaan bumbu yang tidak main-main inilah menurut saya kunci dari citarasa khas yang keluar dan memberi sensasi menyenangkan di lidah. Terasa ada kapulaga, kunyit, jintan, merica, dan cengkih sebagai bumbu rempah-rempah dalam makanan di hadapan saya.

Jika kuah soto Betawi H. Maruf berwarna kuning keputihan, kuah soto Betawi H. Husen berwarna kuning pekat. Saya menduga, soto Betawi H. Maruf menggunakan susu dalam kuahnya, sementara soto Betawi H. Husen mungkin tidak, atau kalaupun ada, tidak terlalu banyak. Adapula kuah soto yang warnanya agak kuning kemerahan, mungkin akibat penggunaan cabai yang kelewat banyak. Ada pula yang suka menambahkan minyak samin sebelum soto dihidangkan, misalnya di soto Tiga Saudara, dengan tujuan menambah rasa gurih.

Yang unik dari soto Betawi H. Husen ini adalah setelah dagingnya dibumbui, maka dagingnya akan digoreng lagi agar terasa lebih keras. Saya mendapati irisan dagingnya berwarna kehitaman karena daging yang sudah diungkep bertemu dengan minyak panas.

Sebagai tambahan, jika emping di mangkok Anda terlalu sedikit, Anda bisa memesan emping tambahan. Meski peminatnya membeludak, harganya tidak terlalu mahal. Untuk satu porsi soto daging, soto campur, dua teh manis hangat, dan emping, total yang harus kami bayarkan Rp77.000. Di daftar menu  tertulis seporsi soto Betawi Rp32.000.

Dengan harga segitu, tentu Anda tidak menyesal karena mendapatkan soto Betawi dengan kuah nikmat yang tak bikin enek. Namun saran saya, kalau ke sini, jangan terlalu sore. Selain sangat penuh, bisa jadi Anda kehabisan. Pagi hari cukup leluasa karena saya bahkan melihat serombongan ibu-ibu makan bersama atau bapak-bapak TNI minta difotokan sebelum makan.

Setelah membayar, saya mengamati sesosok bapak yang sedang berpeluh mengiris daging. Sepertinya dia Haji Husen yang wajahnya ada dalam foto di dinding. Kerja kerasnya mengantarkan anak-anaknya menjadi sarjana, seperti yang tampak dalam kilasan riwayat hidupnya dalam deretan foto-fotonya. Namun, prinsip orang Betawi yang tak kemaruk dan istikamah tetap dipegangnya. Sampai sekarang, sepertinya ingin belum berniat membuka cabang atau meluaskan ekspansinya.

Kirim Tanggapan