5 Kearifan Lokal Masyarakat Betawi Jelang Ramadan

0
317
Nyekar atau ziarah kubur bagian dari kearifan lokal masyarakat Betawi jelang Ramadan.

Seperti masyarakat adat lainnya di Tanah Air, orang Betawi memiliki tradisi-tradisi unik yang dilakukan jelang bulan Ramadan. Bukan tanpa sebab tradisi-tradisi ini dilakukan, meski kita tentu sulit menemukan dalilnya dalam Alquran ataupun hadis yang sahih.

Sebagai pemeluk agama Islam yang taat, orang Betawi percaya bahwa bulan Ramadan harus disambut dengan penuh kegembiraan dan persiapan. Sebab, pada bulan suci inilah seluruh pahala dilipatgandakan. Bahkan, Allah menjanjikan surga bagi siapa saja yang menjalankan ibadah di bulan puasa dengan penuh keimanan hingga mencapai predikat takwa.

Berikut 5 kearifan lokal masyarakat Betawi jelang Ramadan.

  1. Rowahan

Rowahan berasal dari kata rowah yang diambil dari akar kata “arwah”. Rowahan lazim dimaknai sebagai kegiatan pengajian pada bulan Syakban. Di bulan inilah, penutupan pengajian lazim digelar, karena pengajian yang biasa dilakukan bersama-sama di suatu majelis taklim/masjid di bawah bimbingan seorang ustaz atau ustazah akan dihentikan sementara begitu memasuki bulan Ramadan.

Bila ada yang memiliki kelebihan rezeki, kadang-kadang ada pula tuan rumah yang sengaja mengundang para tetangga untuk saling berbagi dan berdoa bersama. Di dalam acara syukuran itu pula dibacakan surat Yasin dan doa-doa untuk arwah handai taulan yang sudah meninggal dunia.

Tujuan utama dari kegiatan rowahan, selain untuk bersilaturahmi di antara para tetangga, memang untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Selain di rumah-rumah, kadang-kadang rowahan dilakukan di masjid-masjid. Masing-masing anggota jemaah akan membawa makanan, lalu saling bertukar dan memakannya beramai-ramai.

Berkat yang lazim disediakan biasanya berupa nasi, semur, sambel goreng kentang, acar dan bihun goreng. Namun kini banyak pula yang menggantinya dengan sembako.

  1. Munggah

Biasanya menjelang bulan Ramadan, orang Betawi juga lazim melakukan munggahan. Berasal dari kata munggah yang berarti naik atau meningkat, sehingga diharapkan umat muslim mampu melakukan perubahan dalam berbagai hal, terutama soal kebaikan.

Bagi masyarakat Betawi, acara munggahan biasa digelar pada minggu terakhir bulan Syakban. Munggahan adalah sebagai pengingat dan diharapkan mampu meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT selama bulan suci Ramadan. Bahkan diingatkan, setiap orang harus memiliki target selama bulan puasa. Misalnya hendak khatam Alquran berapa kali, tidak kalah puasa, selalu tarawih berjemaah dan bersedekah. Intinya berlomba-lomba dalam ibadah.

Menurut istilah, ada dua macam istilah munggahan. Pertama munggah adat, yakni adanya peningkatan dalam hal adat atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat sekitar.

Kedua munggah darajat, yakni adanya peningkatan derajat ketakwaan seseorang selama melaksanakan bulan suci Ramadan. Dari yang awalnya jarang beribadah dengan datangnya Ramadan, maka menjadi lebih rajin.

Kegiatan yang dilakukan biasanya berupa makan bersama bersama kerabat atau saudara, sambil bermaaf-maafan. Kadang-kadang apa pula yang mengistilahkan sebagai “makan bareng terakhir sebelum puasa.”

  1. Nyekar

Nyekar kadang-kadang disebut juga sebagai nadran atau nyadran di beberapa wilayah kebudayaan Betawi. Ini merupakan tradisi mengunjungi makam orang tua yang sudah meninggal serta membersihkan makam.

Nyekar atau nyadran biasanya dilaksanakan pada bulan Rajab atau saat datangnya bulan Syakban.

Kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan saat nyekar, yaitu berziarah, membersihkan makam leluhur, membaca doa, zikir dan tahlil, kemudian ditutup dengan menaburkan bunga di atas makam.

Nyekar bertujuan mengingatkan manusia agar mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk dibawa mati atau dalam perhitungan hisab.

  1. Nyorog

Salah  satu  tradisi  masyarakat  Betawi  yang  dilakukan saat menjelang bulan Ramadan adalah nyorog.

Nyorog merupakan kegiatan memberikan bingkisan kepada sanak saudara. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan mendatangi anggota keluarga atau tetangga yang lebih tua dengan memberikan bingkisan berupa makanan.

Tak jarang masyarakat Betawi mengirimkan makanan khasnya, yakni sayur gabus pucung atau semur daging. Sayur gabus pucung berbahan dasar ikan gabus yang digoreng dan kemudian dimasak menggunakan berbagai rempah seperti kemiri, cabai merah, jahe, dan kunyit.

Tradisi ini dimaksudkan untuk menjaga silaturahmi, mempererat tali persaudaraan, dan ucapan meminta restu dan memohon agar diberi kelancaran menjalankan ibadah puasa. Sekaligus juga merupakan  bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan YME.

Selain dilakukan saat menjelang bulan Ramadan, tradisi ini juga dilakukan saat sebelum dan sesudah acara pernikahan

  1. Keramasan

Keramasan sering juga disebut sebagai padusan di berbagai daerah. Tradisi ini diyakini memiliki manfaat untuk meluruskan niat serta membersihkan kotoran dalam diri, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Keramasan atau padusan diyakini merupakan peninggalan leluhur yang sudah dilaksanakan secara turun temurun. Namun, kini sudah terjadi pergeseran dari warisan para leluhur itu sendiri. Misalnya, kini para anak muda hanya memahaminya sebagai mandi bersama satu hari menjelang bulan Ramadan. Padahal, maknanya sendiri sebenarnya harus diberi perhatian secara khusus.

Padusan sesungguhnya memiliki makna membersihkan jiwa dan raga sehingga bersih di dalam maupun di luar, siap sebenar-benarnya menyongsong bulan Ramadan yang mulia.

Ada melaksanakannya dengan mandi besar, tapi ada pula yang hanya keramas. Seperti contohnya di Kemayoran yang warganya keramas menggunakan merang sehari sebelum Ramadan.

Tradisi ini juga bisa menjadi media untuk merenung dan instropeksi atas kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Dengan begitu, akan tercipta kesadaran untuk memperbaiki diri di masa mendatang.

Karena itulah, padusan atau keramasan sebenarnya harus dilaksanakan di tempat yang sepi dan seorang diri. Dengen keheningan yang timbul serta suasana yang syahdu, akan menambah keyakinan dan kesadaran untuk memasuki bulan Ramadan sebagai pribadi yang lebih baik.

 

 

 

Kirim Tanggapan