Indahnya Kawasan Kali Besar Jakarta, Seperti Berada di Eropa

0
219
Kali besar

Mengunjungi kawasan Kota Tua Jakarta memang tidak pernah membosankan. Bangunan tua bersejarah yang bertebaran di kawasan ini, seperti Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Fatahillah, menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang bertandang. Berada di tempat ini, seolah-olah kita seperti terlempar ke masa abad yang lalu, saat Kota Jakarta masih bernama Batavia.

Di masa lalu, para pendiri memang membangun Kota Batavia dengan membayangkan tanah leluhur di Belanda. Konon, nama Batavia berasal dari nama sebuah suku yang mendiami Kota Nijmegen, Belanda, yakni suku Batavi. Saking besarnya rasa hormat mereka terhadap para leluhurnya, maka nama itu pun diabadikan sebagai nama kota koloninya.

Sampai sekarang, kawasan Kota Tua Jakarta memang terus berbenah. Apalagi sejak keluarnya Perda Gubernur DKI Jakarta Nomor 35 Tahun 2014 tentang rencana induk penataan kawasan Kota Tua. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyadari benar bahwa Kota Tua merupakan cerminan kisah sejarah, tata cara hidup, budaya dan peradaban masyarakat Jakarta di masa lampau.

Seorang wisatawan berfoto di Kawasan Kali Besar

Nuansa tempo dulu itulah yang dibangun melalui upaya revitalisasi yang berkesinambungan. Jika Anda berkunjung ke Kawasan Kali Besar kini, barangkali Anda akan merasa takjub melihat penataan yang rapi dan indah. Kanal yang besar tampak bersih dan melenggang anggun membelah Kota Tua. Jika dilihat dari udara, kawasan Kota Tua layaknya sebuah kota di Eropa.

Saat saya berkunjung ke sana beberapa waktu lalu, saya takjub dengan pemandangan di sepanjang Kawasan Kali Besar. Saya turun di Toko Merah setelah menaiki delman dari Stasiun Besar Kota. Kawasan ini memang mudah dicapai. Anda bahkan bisa menuju ke sini dengan menggunakan bus Transjakarta dan turun di halte Kali Besar Barat.

Saya menyempatkan diri dulu berpose di halaman depan Toko Merah. Meski namanya toko, bangunan ini bukan tempat untuk berjualan. Toko Merah adalah bangunan bersejarah yang terletak di Jalan Kali Besar Barat No 11. Bangunan ini dulunya merupakan bekas kediaman Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.

Toko merah awalnya adalah kediaman Gubernur Baron van Imhoff

Kali Besar zaman dulu memiliki kanal yang berfungsi baik sebagai jalur pelayaran kapal-kapal kecil dan sedang mengantarkan sutra maupun komoditas lainnya. Gudang atau galangan kapal VOC terletak di sudut Kota Intan, sebagai tempat untuk memperbaiki kapal-kapal yang rusak. Namun, kanal pernah menjadi malapetakan besar bagi Batavia saat kota ini terserang wabah malaria akibat saluran air yang mampet dan sampah yang menumpuk.

Berabad-abad kemudian, imaji kota yang diimpikan sejak masa kelahirannya sepertinya terwujud. Kanal yang cantik dengan penataan yang baik, bangunan kuno yang indah dan eksotis sepanjang jalan, serta trotoar bersih dan lebar rupanya bukan mimpi bisa terwujud di DKI Jakarta.

Kali Besar kini makin kekinian dengan dermaga terapung, juga bunga-bunga di pinggiran taman yang tampak serasi dengan bangunan kolonial Belanda di samping sungai. Tak heran banyak pengunjung yang mengabadikan momen dengan mengambil potret di Kali Besar. Ada yang mengambil foto di tengah jembatan, ada yang berdiri di sisi jembatan, maupun duduk di pinggir jembatan agar bisa memperlihatkan pemandangan Kali Besar yang sangat cantik dan Instagramable.

Selain itu, ada pula figure patung, di antaranya anak SD, petugas kebersihan, hingga bapak yang membaca buku di bangku. Ada pula figure manusia besi, seperti di Taman Fatahillah. Figure-figure ini menjadi sasaran pengunjung untuk berfoto bareng.

Jembatan kayu yang terbentang luas di tengah sungai juga sangat bermanfaat bagi warga untuk berkumpul maupun sekadar menikmati pemandangan khas Kota Tua. Anak-anak bisa bermain skateboard atau menikmati pagelaran musik dan budaya yang sewaktu-waktu tersaji di sini.

Di kawasan ini juga tersedia tempat parkir yang memadai. Siapa pun yang datang tidak akan kesulitan menemukan tempat parkir. Selain itu, untuk menjaga kebersihan lingkungan,tempat sampah juga dapat ditemukan dengan mudah. Ada tiga tong sampah. Tong berwarna merah untuk sampah B3, warna oranye untuk sampah anorganik, dan warna hijau untuk sampah organik.

Jika lapar, Anda pun tak akan kesulitan menemukan makanan. Kantin maupun tukang makanan (street food) berjejer di sekitar Jalan Kali Besar Timur. Berbagai menu pun tersedia, mulai dari soto mi, sosis bakar, hingga menu khas Betawi seperti kerak telor.

Bosan di Kali Besar, Anda bisa singgah sejenak ke Magic Art 3D Museum Jakarta. Museum yang terletak di Gedung Kerta Niaga, Jalan Kali Besar Timur ini, memang sedang happening di kalangan anak zaman now yang menggemari tempat wisata dengan fasilitas laik Instagram (Instagramable). Terdiri atas dua lantai dan tujuh zona lukisan, Anda akan sangat menikmati petualang berfoto di museum yang baru dibuka tahun 2018 ini.

3D Trick Art Museum di Jalan Kali Besar Timur jadi perhatian baru wisatawan

Wajah baru Kali Besar Kota Tua ini menambah pilihan wisata di DKI Jakarta serta mendukung milenial tourism yang digadang-gadang Kementerian Pariwisata. Saya menyarankan, dengan satu aplikasi khusus, pengunjung bisa mendapat informasi dari setiap bangunan bersejarah yang ada di Kota Tua, lokasi parkir, tempat makan hingga jadwal pertunjukan. Hal itu akan memudahkan pengunjung maupun turis yang ingin mengetahui lebih dalam soal Kota Tua Jakarta.

Meski demikian, menikmati pemandangan sore di Kali Besar akan memberi perasaan damai yang menentramkan. Sayup-sayup terdengar suara gambang kromong membawa ingatan masa lalu saat kanal Kali Besar hidup dengan beragam aktivitasnya.

 

 

Kirim Tanggapan