Menulis yang Menyenangkan ala Ben Sohib

0
82
Literary Ecosystem Lab

Apa yang bisa diberikan dari sebuah kelas menulis? Demikian Ben Sohib, pemateri kami pagi itu, mengajak berteka-teki di Ke kini, sebuah co-working space di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

Om Ben, demikian kami memanggilnya, mengajak kami kilas balik ke masa kecilnya. Tatkala menyadari bakat besar Ben dalam menulis, sang paman memberinya buku Mengarang Itu Mudah karya Arswendo Atmowiloto.

Lantas, apakah dengan menamatkan buku itu, belajar mengarang jadi benar-benar mudah. Nyatanya tidak. Ben Sohib mengatakan, yang ia janjikan pada kami adalah kesenangan dalam belajar. Selama empat hari Literary Ecosystem Lab, 13-16 Agustus 2019, ada beberapa tips yang dipaparkan oleh Ben.

Ben mengatakan persoalan 10 persen dalam kepengarangan adalah masalah teknis. Sementara sisanya adalah memaksa diri untuk terus menulis dan membaca. Bakat paling banyak hanya mengambil porsi 20 persen, 10 persen teknik, 35 persen membaca dan 35 persen menulis.

Lebih lanjut dia mengatakan agar tidak menjadi anggota sekte penyembah matahari: yang berarti tidak ada yang baru di bawah matahari. Buatlah sesuatu yang kreatif dengan kalimat memikat. Sebab, bahkan cerita yang tragis pun bisa ditulis dengan girang.

Ben berpendapat, kejelian melihat karya yang bagus dan buruk akan menentukan kepengarangan seseorang. Begitu juga komunitas tempat seorang penulis bergaul. Berada di komunitas bagus otomatis akan menghasilkan karya yang bagus.

Lantas, bagaimana caranya menciptakan karya yang bagus? Ada berbagai tips. Namun yang diulang-ulangnya adalah: mulailah membuka cerita dengan tengah cerita. Lead atau kalimat pertama adalah bagian terpenting suatu cerita karena akan menjadi pintu masuk untuk memasuki dunia cerita. Deskripsi klise dan tidak menarik akan dengan segera membuat cerita itu ditinggalkan pembaca. Cerita yang bagus, tentu saja, akan membuat pembaca bertahan sampai akhir untuk membacanya.

Adanya kebaruan memang selalu ditekankan oleh Ben. Sebab, bagi dia, deskripsi adalah pola yang banal. Begitu juga dialog-dialog yang rasanya  tidak efektif. Menurut Ben, dialog harus seringkas mungkin, bahkan dengan memberikan gambaran melalui cara yang tidak terang-terangan. Istilahnya, show it, don’t tell it.

Sebelum memulai penulisan, yang tersulit adalah menemukan ide. Setelah itu, memikirkan teknis untuk menulis. Ide boleh saja luar biasa, tapi yang penting bukan itu. Cerita yang sederhana, tapi diceritakan dengan menarik, sudah barang tentu akan menjadi cerita yang berhasil. Banyak inspirasi yang bisa diambil untuk ide. Tergantung bahan, apakah mengambil yang dekat atau jauh. Namun, prosa adalah kehidupan yang sudah dibuang bagian-bagian buruknya.

Dari sekian banyak ide, bagaimana akhirnya ide itu bisa dijadikan sebuah cerita. Ben memberi kiat: temukanlah sebuah konflik. Setelah itu, beri penutup dengan kalimat bagus untuk menimbulkan kesan. Jangan menulis sesuatu yang tidak Anda kuasai dan jangan terburu-buru ketika menulis. Endapkan dulu, sebelum Anda merevisinya. Lihat kembali apakah bahasanya sudah luwes apa belum atau ada pengulangan diksi dalam 1 paragraf.

Setidaknya menurut Ben, ada empat hal yang berpengaruh untuk mendapatkan sebuah ide: imajinasi, sense, penglihatan, dan bahasa.

Keempatnya lantas diramu dengan kecakapan khusus seorang koki, hingga mendapatkan formula yang pas untuk menghadirkan fiksi yang memikat. Misalnya menghindari kebetulan dalam sebuah cerita, membuat adanya karakter yang bulat, menampilkan transformasi karakter, serta alur yang tidak terlalu linier.

Empat hari rasanya tak cukup. Begitu banyak yang bisa dibagikan penulis Haji Syiah ini. Di balik penampilan kalemnya, ia guru yang sabar dan senang memberi semangat. Namun, tentu murid-muridnya tahu diri. Kini saatnya mempraktikkan apa yang diberi. Karena tentu percuma pelatihan menulis kreatif, kalau pada akhirnya kami tak menulis.

Kirim Tanggapan