Betawi Nyaba Kampus, Betawi Siap Hadapi Tantangan

0
539

Betawi merupakan wajah kebudayaan di Jakarta. Hal ini merupakan hasil dari lokakarya kebudayaan yang digelar oleh Gubernur Ali Sadikin pada sekitar 1970-an. Dari lokakarya itu dirumuskan bahwa Betawi bukanlah sebagai suku yang inferior, justru Betawi adalah citra yang menerangi Jakarta.

Hal itulah yang mendasari Lembaga Kebudayaan Betawi terus bergiat menjaga dan melestarikan budaya Betawi, salah satunya melalui kegiatan “LKB Nyaba Kampus”. Nyaba artinya adalah ‘berkunjung’. Melalui program ini, LKB ingin mengenalkan budaya Betawi kepada generasi milenial dan gen Z, termasuk juga tantangannya yang dihadapi orang Betawi ke depan.

Setelah sempat berkunjung ke kampus STT PLN dan UIN Syarif Hidayatullah, kali ini LKB berkunjung ke kampusnya Si Doel, yakni Universitas Pancasila, di Lenteng Agung. Kerja sama antara Universitas Pancasila dengan LKB memang cukup hangat. Sebelumnya sudah ada MoU mengenai pelestarian dan pengembangan kebudayaan Betawi. Salah satunya adalah melalui pembangunan gedung untuk menyalurkan sarana kreativitas mahasiswa.

LKB Nyaba Kampus di Universitas Pancasila dilaksanakan pada 10 Oktober 2019 pukul 09.00 – 12.00 WIB. Hadir sebagai pembicara Ketua Umum Astrabi Anwar Albatawi, Ketua Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Yahya Andi Saputra, dan pengurus LKB Fadjriah Nurdiarsih yang sehari-hari punggawa Liputan6.com.

Dalam kegiatan LKB Nyaba Kampus, Anwar Albatawi yang juga Ketua Bidang Pagelaran menyatakan budaya Betawi kini jadi kekuatan baru di bidang seni budaya. Bahkan, para pelaku kebudayaan bisa meningkat kesejahteraannya apabila mampu menghadapi tantangan, apalagi sekarang sudah ada Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Budaya Betawi.

Senada, Yahya Andi Saputra mengatakan bahwa implementasi mengenai pelestarian budaya Betawi juga harus lebih maksimal. Apalagi, sudah ada Pergub Nomor 11 Tahun 2017 tentang 8 ikon kebudayaan Betawi.

Adapun 8 ikon budaya Betawi itu adalah ondel-ondel, kembang kelapa, ornamen gigi balang, baju sadariah, kebaya kerancang, batik Betawi, kerak telor, dan bir pletok.

Pada Pasal 3 pergub itu tertulis tujuan pergub untuk meningkatkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap budaya Betawi. Selain itu, juga untuk sarana promosi kepariwisataan dan mendorong perkembangan industri kreatif.

Selain 8 ikon kebudayaan Betawi, Yahya juga menyinggung sedikit soal warisan budaya tak benda, yang sebenarnya juga memiliki falsafah tersendiri dalam kehidupan orang Betawi.

“Misalnya tentang dukun Betawi, gigi balang, atau kembang kelapa, semua itu ada artinya. Bahkan juga ondel-ondel. Kalau misalnya para pejabat itu tahu makna ondel-ondel, niscaya di depan kantornya akan dia pajang itu ondel-ondel,” sebut Yahya.

LKB Nyaba Kampus

Sementara saya yang didaulat bercerita terakhir dan mewakili generasi milenial mengingatkan bahwa Revolusi Industri 4.0 memberikan banyak tantangan dan peluang. Kuncinya adalah penguasaan digital dan teknologi. Seringkali disebutkan bahwa era Revolusi Industri 4.0 berfokus pada internet, sehingga disebutkan sebagai internet of things.

Pada era ini, banyak pekerjaan yang hilang, tetapi ada juga pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada, tetapi kini menjadi sangat popular. Salah satunya adalah content creator.

Menjadi vlogger, youtuber, podcaster, atau buzzer menjadi cita-cita bagi anak zaman now sekarang ini. Namun, tentu perlu kreativitas dan kemampuan berselancar di atas gelombang untuk menghadapi perubahan. Kuncinya adalah menyiapkan keterampilan baru yang sejalan dengan industri dengan tidak meninggalkan jati diri.

Kirim Tanggapan