Orang Betawi Melawan Stigma

0
573
Kojek Rap Betawi merupakan anak muda yang concern menyebarkan citra positif soal Betawi.

Stereotip seringkali membutakan karena menaruh kita pada suatu syakwasangka. Stereotip dilanggengkan melalui pencitraan yang masif melalui media, seperti surat kabar, televisi, layar lebar, media daring, maupun media sosial. Stereotip juga sejak dulu juga diwariskan melalui pola asuh dari orangtua kepada anaknya. Misalnya, warna biru untuk anak laki-laki dan warna pink untuk anak perempuan.

Stereotip seringkali membuat kita tak mampu menelaah dengan kritis karena tanggapan atas individu atau golongan tertentu sudah dikenai prasangka. Stereotip ini paling sering terjadi pada etnis tertentu atau kelompok tertentu. Padahal, seringkali antara stereotip dan kenyataan sangat berbeda. Stereotip salah satunya memberitahukan sifat atau ciri-ciri kelompok sosial yang dipercaya untuk dibagikan.

Salah satu etnis yang seringkali dikenai stereotip buruk adalah orang Betawi. Sebagai penghuni asli Kota Jakarta, orang Betawi justru seringkali dicitrakan sebagai liyan alias yang terpinggirkan (the others). Dalam karya sastra sejak zaman kolonial hingga dalam roda pemerintahan kini, orang Betawi seringkali menjadi korban dari stereotip yang negatif dan tidak adil.

Hal itu pun sempat mengemuka pada diskusi soal Stigma Negatif Orang Betawi dalam Film di Taman Ismail Marzuki pada awal Agustus lalu. Para pembicara non-Betawi, yakni Hikmat Darmawan dan Ade Irwansyah, sepakat bahwa film-film yang bercerita tentang orang Betawi pada saat ini tidak memberikan gambaran utuh tentang konstruksi Betawi yang mereka kenal sehari-hari.

Diskusi Stigma Negatif Orang Betawi dalam Film

Hikmat Darmawan, Ketua Komisi Film Dewan Kesenian Jakarta, dalam makalahnya “Orang Betawi dalam Film Kita: Masalah Stereotip dan Akses” mengatakan, muasal orang-orangan Betawi dalam film (dan media lain seperti novel atau cerpen) tentu berakar dari stereotip orang Betawi sejak masa Hindia Belanda. “Batavia” dalam khasanah literatur Belanda dan Hindia Belanda yang dominan mungkin mengacu pada sebuah kota di wilayah Khatulistiwa yang mengalami eksotisasi orang Eropa. Dalam lanskap imajiner yang dominan dalam bacaan resmi masa itu, orang Betawi adalah liyan, pribumi di pinggir arena.

Hikmat mengatakan, tentu saja, posisi imajiner orang Betawi itu berkaitan dengan stratifikasi sosial dan sistem kelas yang berlaku secara resmi di Hindia Belanda, dengan kaum “pribumi” berada di kelas terbawah masyarakat. Dalam struktur ruang bioskop pada masa itu, misalnya, orang pribumi hanya boleh menonton di tempat yang biasa disebut “kelas kambing”. Dan dalam bacaan resmi saat itu, muncul sebuah sosok orang Betawi yang menjadi sangat terkenal, tapi sesungguhnya hasil rekaan orang non-Betawi. Sosok itu adalah “Si Doel”.

Dalam penelitiannya, Hikmat Darmawan menyebut dia tidak melihat ada konstruksi tanda dalam film tentang Betawi yang mengacu pada konstruksi identitas orang Betawi di dunia nyata. Sebagai orang yang lama tinggal di Cilandak—yang merupakan wilayah kebudayaan Betawi pinggir—dia merasa terganggu akan hal itu. Senada, Ade Irwansyah, wartawan yang juga kritikus film, menyebut ada kesan Betawi dalam film yang berbeda dengan aslinya.

Salah satu penggambaran yang sangat salah tampak pada film Benyamin Biang Kerok karya Hanung Bramantyo. Disebutkan bahwa film itu sukar dinikmati, meski sangat artistik, karena gagasannya yang sangat buruk tentang apa itu orang Betawi.

Sang tokoh, yaitu Pengki, yang dicomot secara asal-asalan dari karakter utama Benyamin Suaeb, dalam film digambarkan berbicara dengan berisik, urakan, dan berpenambilan funky. Tentu sulit membayangkan orang Betawi mana yang direpresentasikan oleh karakter yang diperankan oleh Reza Rahadian itu.

Dalam hal ini, stereotip orang Betawi sebagai orang yang kasar dan tak berpendidikan sepertinya dikuatkan dengan gambaran-gambaran tertentu dalam dalam ruang tanda kita, sehingga akibatnya adalah persepsi yang salah. Orang Betawi seolah-olah tidak memiliki ciri lain selain yang tampak di media selama ini. Oleh karena itu, mengherankan bila kemudian didapati ada orang Betawi yang berpendidikan bagus atau bahkan memiliki jabatan tertentu yang sama sekali berbeda dengan stereotip yang selama ini berkembang.

Sebagai perempuan asli Betawi yang lahir dan besar di Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, saya merasakan betul stereotip itu menganggu. Selepas lulus SMA, banyak orang yang bertanya apakah saya akan melanjutkan kuliah atau menikah. Saya menjawab kuliah dan seorang saudara bapak saya memeluk saya sambil menangis terharu ketika saya diterima di Universitas Indonesia. Guru Antropologi saya di SMA bahkan sangat gembira karena di sekitar rumahnya di Jakarta Utara, kebanyakan orang-orang Betawi hanya berprofesi sebagai tukang becak.

Saat berkuliah, saya bertemu beberapa orang Betawi lain, termasuk para perempuan, sehingga tampaknya pameo bahwa perempuan Betawi hanya mengenal 3ur, yakni sumur, kasur, dan dapur benar-benar salah. Di kemudian hari saya tahu bahkan sempat ada organisasi Keluarga Mahasiswa Betawi. Organisasi ini pernah cukup aktif, tapi vakum cukup lama sejak saya berkuliah di awal 2000-an. Organisasi ini melahirkan alumni semacam Beki Mardani, kini Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi; Lahyanto Nadi, mantan wartawan Bisnis Indonesia, dan Syakur Usman yang aktif berkarier di Merdeka.com hingga saat ini.

Ketika kemudian akhirnya saya bekerja di media, salah seorang teman berkeluh kesah kepada saya mengenai tingkah laku ormas yang membawa nama Betawi, tapi menurut dia justru merusak citra Betawi. Pada akhirnya, teman saya ini berkesimpulan bahwa orang-orang Betawi hanya mengandalkan adu otot saja dan perasaan superior sebagai penduduk asli wilayah. Dia tampaknya benar-benar kesal, sehingga saya tak bisa memberi penjelasan apa pun terkait orang Betawi yang berbeda dari yang dilihat di sekitar wilayahnya di Bekasi, Jawa Barat.

Sejauh yang saya tahu, orang Betawi amat toleran dan egaliter. Orang Betawi, melalui Perhimpunan Kaum Betawi, termasuk dalam salah satu organisasi pemuda yang hadir dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Orang Betawi juga merupakan bagian dari massa yang datang ketika Sukarno berpidato di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) pada 19 September 1945. Di kemudian hari, orang Betawi menjelma menjadi pendukung utama pembangunan.

Banyak nama kampung hilang di Jakarta karena efek pembangunan yang masif. Di antaranya, seperti disebutkan arkeolog Candrian Attahiyat, adalah Kampung Petunduhan dan Pecandaraan. Pada 1960 penduduk Senayan digusur karena di kampungnya akan dibangun kompleks olahraga untuk Pesta Olahraga Asia 1962. Kemudian berdirilah Gelanggang Olahraga Bung Karno yang megah dan besar. Penduduk Senayan kemudian pindah ke Kuningan, lantas semakin ke selatan, seperti Jagakarsa, Lenteng Agung, Depok, dan Citayam. Salah satu adegan ikonis orang Betawi kehilangan kampung ini tampak dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan dalam fragmen ketika tokoh Babe, yang diperankan Benyamin Suaeb, mengajak keluarganya berziarah ke lapangan sepak bola di Senayan.

Contoh lain, pembangunan Taman Makam Pahlawan Kalibata pada sekitar 1953 yang kemudian diresmikan penggunaannya saat peringatan Hari Pahlawan 10 November 1954. Salah seorang rekan saya di Lembaga Kebudayaan Betawi mengatakan kala Taman Makam Pahlawan dibangun, orang tua dan paman-bibinya mengalah dan menerima ganti rugi dari pemerintah dengan jumlah yang tidak begitu besar. Hampir seluruh keluarganya terpaksa pindah dari kampung kelahiran. Kini hanya tersisa satu gedung sekolah dan Masjid Guru Amin di Jalan Raya Pasar Minggu, seberang Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Kedua hal tersebut membuktikan sebagai penduduk asli, orang Betawi sesungguhnya tidak antipatif terhadap perubahan. Orang Betawi memiliki sifat terbuka dan toleran terhadap keberadaan etnis lain di wilayahnya. Jika ada konflik, seperti yang akhir-akhir ini terjadi, sebenarnya bermula dari stereotip etnis yang berujung kepada prasangka sosial dan akhirnya membuat masing-masing kita lupa bahwa sebagai individu, kita membawa lebih dari satu identitas. Jika berhadapan dengan adanya potensi masalah, seharusnya kesamaan identitas inilah yang lebih dikedepankan. Meski demikian, ini membuktikan teori bahwa etnis barangkali lebih kuat daripada agama.

Babe Abdul Chaer, penulis Kamus Betawi, dalam diskusi Stigma Negatif Orang Betawi dalam Film.

Salah satu bukti lain ketoleranan orang Betawi tampak dalam disertasi Halimatus’sadiah perihal individu bicultural pada 2019. Menurut Halimatus’sadiah yang juga peneliti kajian komunikasi antarbudaya Puslit Masyarakat dan Budaya LIPI, dewasa ini semakin banyak generasi muda Jakarta, yang terlahir dari pernikahan antar-etnis, justru mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Betawi.

Hal ini seperti dikemukakan Jacqueline Knorr (2014) yang mengatakan, “Young people in Jakarta also tend to describe themselves as Betawi”. Menurut Knorr, selain dikenal sebagai etnik lokal Jakarta, Betawi juga telah menjadi pilihan bagi pemuda-pemuda migran yang lahir di Jakarta, untuk mengidentifikasikan dirinya.

Penelitian Halimatus’sadiyah mengemukakan para individu bicultural merasa nyaman mengidentikkan dirinya sebagai Betawi karena adanya proses asimilasi dari lingkungan sekitar. Bahasa, nilai-nilai budaya, dan tradisi Betawi akhirnya masuk dan membentuk pengalaman subjektif terhadap para individu bicultural. Sehingga akhirnya tercetuslah ungkapan “seperti pulang ke rumah sendiri” untuk menyatakan kedekatan yang terbangun. Bahkan salah satu informan dalam penelitian ini mengatakan, rasa persaudaraan dan keterbukaan orang Betawi membuat dia nyaman berada di tengah-tengah orang Betawi. Hal ini, diakuinya, seperti mengembalikan jati dirinya yang hilang dan ikatan kekeluargaannya yang mati obor.

Hal ini tidak mungkin terjadi jika orang Betawi bersifat intoleran. Bahkan, disebutkan oleh Halimatus’sadiyah, prinsip-prinsip orang Betawi, seperti egaliter, kultural, terbuka, dan religius justru makin merasuk ke dalam diri individu bicultural ini. Artinya, orang Betawi punya kemampuan untuk menularkan nilai-nilai budayanya karena sifat toleransinya yang sangat tinggi. Para individu bicultural ini mengaku kini menjadi lebih fleksibel ketika berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda. Malahan, dalam banyak situasi, orang-orang di luar peer group (outgroup) yang menyesuaikan diri dengan mereka.

Pada akhirnya, hoax perihal stereotip orang Betawi yang tidak toleran ini harus dilawan dengan kearifan lokal yang berasal dari ibu Betawi sendiri. Alkisah, seperti diceritakan orang-orang tua Betawi, kala bayi baru lahir, sang dukun Betawi akan menyemburkan mantra ke telinga si anak:

Bismillah…
Mate jangan seliat-liatnye
Kuping jangan sedenger-dengernye
Lidah jangan sengomo-ngomongnye.
Mulut jangan semakan-makannye.

Muke jangan semerengut-merengutnya.
Bibir jangan sedower-dowernye.
Perut jangan sebuncit-buncitnye.
Jidat jangan selicin-licinnye.
Pale jangan sebotak botaknye.
Tangan jangan sepegang-pegangnye.
Kaki jangan sejalan-jalannye.
Kulit jangan sebuduk-buduknye.

InsyaAllah… Wabarakallah…
Nangis jangan sejadi-jadinye
Marah jangan sengamuk-ngamuknye
Otak jangan selupe-lupenye.
Hati jangan sekosong-kosongnye.
Darah jangan sekotor-kotornye.

Puah! Alhamdulillah

 

 

 

Kirim Tanggapan